
Jarvis meraih lengan Lindsey, membantunya agar tidak terjatuh. Namun Lindsey menjauhkan lengannya. Dia tidak ingin Jarvis menyentuhnya. Ada apa dengan Lindsey? Kenapa tiba-tiba dia bersikap dingin pasa Jarvis? Apa ada hubungannya dengan penculikan yang dia alami tadi?
“Lindsey..” panggil Jarvis dengan suara yang pelan dan lembut.
Lindsey memilih untuk mengabaikannya dan berjalan bersama Piter ke mobil terlebih dahulu. Kapten masih di meja administrasi untuk mengurus kepulangan Lindsey. Tangannya memegang selembar kertas. Rupanya Kapten juga meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan visum terhadap Lindsey.
“Boleh aku lihat hasil pemeriksaan visumnya?” tanya Jarvis yang menghampiri Kapten di meja administrasi.
Kapten menyerahkan kertas yang sedang digenggamnya itu kepada Jarvis. Jarvis membaca hasil pemeriksaan visum itu. Bukan hanya membaca tetapi sekaligus menghafal jenis apa saja dan di bagian mana saja luka yang didapatkan Lindsey. Jarvis kemudian menyerahkan kembali kertas itu kepada Kapten dan berjalan cepat meninggalkan rumah sakit. Sambil berjalan, Jarvis mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
“Sudah tahu siapa dalangnya?”
“Ikat dia seperti yang dia lakukan terhadap Lindsey.”
Setelah mengatakan itu, Jarvis kembali menyimpan ponselnya dan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Tujuannya adalah kembali ke gudang itu. Carlos sudah menyiapkan apa yang diperintahkan Jarvis.
Sementara itu, setelah mengurus kepulangan Lindsey, Kapten kembali ke mobil yang sudah ada Piter dan Lindsey di dalamnya.
“Apa kamu yakin sudah mau pulang?” tanya Kapten pada Lindsey.
“Iya, Kapt.. Aku hanya mengalami luka biasa.” jawab Lindsey.
“Apa kamu ingat kejadiannya? Kenapa kamu bisa sampai disekap di gudang itu?” tanya Piter.
“Aku tidak ingat. Aku dibius.” jawab Lindsey.
“Baiklah. Kita pulang sekarang.” Kapten mengendarai mobil menuju ke rumah markas.
Lindsey berkata bohong. Sejujurnya, Lindsey sempat sadar dari pengaruh bius saat mereka berada di dalam mobil. Lindsey melakukan perlawanan meskipun kalah telak karena perbandingannya 4:1 orang. Itulah mengapa terdapat luka-luka di sekujur tubuh Lindsey. Tetapi Lindsey memilih untuk tidak menceritakannya. Karena jika dia menceritakannya, dia terpaksa harus mengingat kembali kejadian yang begitu mengerikan itu.
Di sisi lain, Jarvis sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke gudang tempat dimana Lindsey disekap. Di kepalanya terus memutar apa yang telah dia hafal dari kertas hasil pemeriksaan visum. Genggamannya pada setir mobil begitu erat karena sambil menahan amarah.
__ADS_1
Pada korban ditemukan luka:
1) Pada pipi kanan, dua sentimeter dari garis pertengahan depan, satu sentimeter dari sudut luar mata kanan, terdapat luka memar berwarna kebiruan dengan luas lima sentimeter kali tiga sentimeter
2) Pada lengan atas kiri sisi depan satu sentimeter dari lipat siku, terdapat beberapa luka lecet berwarna merah dengan ukuran terbesar tiga sentimeter kali nol koma tiga sentimeter dan ukuran terkecil nol koma satu sentimeter kali nol koma dua sentimeter meliputi area seluas tiga sentimeter kali tiga sentimeter
3) Pada leher kiri terdapat luka lecet berwarna merah dengan ukuran nol koma tiga sentimeter kali nol koma satu sentimeter
4) Pada bibir sebelah kanan, terdapat bentuk berupa robekan dengan batas tidak tegas, tepi luka tidak rata, arah luka mendatar, ukurannya panjang dua centimeter, lebar dua centimeter dan kedalaman luka nol koma tiga centimeter, luka bersifat memar
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di gudang, Jarvis membuka kasar pintu hingga mengejutkan semua orang di dalamnya, termasuk Carlos dan anak buahnya. Anak buah Carlos menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada bosnya yang baru saja datang.
“Kita hanya menemukan tiga orang ini.” ucap Carlos.
Di hadapan Jarvis sudah terdapat tiga orang laki-laki yang tidak sadarkan diri, duduk di kursi terpisah dengan tubuh yang diikat di kursi sesuai perintah Jarvis. Wajahnya penuh luka memar akibat perbuatan anak buah Jarvis.
Salah seorang anak buah Jarvis menyiapkan sebuah kursi di titik dimana Jarvis sedang berdiri sekarang. Jarvis duduk di kursi itu dan melipat tangannya di depan dada.
“Bangunkan mereka dengan air panas.” Jarvis memberikan titah.
__ADS_1
Anak buah Jarvis lantas menyiram ketiga laki-laki itu dengan air panas. Ketiga orang itu langsung tersadar dan merintih kesakitan akibat kulitnya yang melepuh.
“Siapa yang menyuruh kalian?!” tanya Jarvis.
Namun tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Jarvis. Mulut mereka masih terkatup rapat sehingga membuat Jarvis geram.
“Telanjangkan mereka.” Jarvis kembali memberikan titah. Anak buah Jarvis menurut dan melaksanakan titah yang diberikan bosnya.
“Letakkan arang itu di atas paha mereka.” Lagi-lagi Jarvis memberikan titah. Anak buah Jarvis mengambil arang yang panas dengan tongkat besi lalu melaksanakan titah dari Jarvis.
Ketiga orang itu mengerangg sekencang-kencangnya begitu merasakan panas yang dahsyat di paha mereka dari arang itu. Kulit di paha mereka terbakar.
“Kalian masih tidak mau menjawabnya?” tanya Jarvis.
Ketiga orang itu masih setia dalam diamnya. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengatakan siapa dalangnya. Jarvis pun tidak menyerah. Tidak menyerah menyiksa mereka.
“Cabut kuku kaki dan tangan mereka sebanyak tujuh belas jari.” Entah sudah keberapa kali Jarvis memberikan titah. Dan anak buah Jarvis selalu melaksanakan titah yang diberikan. Darah segar bercucuran mengalir keluar setiap anak buah Jarvis mencabut kuku kaki ketiga orang itu. Teriakan kesakitan bermunculan setiap kuku berhasil dicabut.
Jarvis memberikan titah untuk mencabut sebanyak tujuh belas kuku, sesuai dengan luka yang mereka sebabkan di tubuh Lindsey. Meski Lindsey hanya mengalami luka lecet dan memar saja, tidak sebanding dengan rasa sakit ketika kuku yang dicabut. Inilah akibatnya telah mengusik Jarvis dengan menyentuh wanitanya.
“Masih tidak ada yang ingin menjawab? Congkel mata mereka.” Jarvis tidak ingin menyerah. Dia terus memberikan titah untuk menyiksa ketiga orang itu.
“Tidak! Tidak! Jangan! Saya akan menjawabnya! Tolong jangan bunuh saya! Jangan!” ucap salah satu dari tiga orang itu.
“Saya juga! Jangan bunuh saya! Saya akan menjawabnya! Ampuni saya! Jangan bunuh saya!” Dua orang lainnya pun ikut meminta ampun dari Jarvis.
Jarvis tersenyum kecil. Dia berhasil membuat ketiga orang itu membuka mulut. Usahanya tidak sia-sia. Dia akan lebih mudah mendapatkan informasi jika menyiksa seseorang.
“Baiklah. Katakan siapa dan dimana orang yang memerintahkan kalian.” ucap Jarvis kepada ketiga orang itu.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih