Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Ayah Kandung part 2


__ADS_3

halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Noah melambaikan tangan ke arah ponsel sebelum Luven mengakhiri panggilan videonya. Sesuai dugaanku, itu pasti karena mereka terkejut mendengar apa yang aku sampaikan ke mama di telepon tadi.


“Aku tidak salah mendengar, ’kan?” tanya Luven.


“Kamu yakin, Lindsey?” tanya Kapten.


Aku mengambil Noah dari Kapten. “Ya, kenapa tidak? Aku merindukan ayah kandungku.” jawabku.


Luven melirik Kapten. “Ayah kandung?”


Aku membawa Noah kembali masuk ke dalam rumah dan membiarkan Noah bermain di ruang tengah dengan mainannya yang berantakan.


Aku yang tadinya sudah memutuskan untuk tinggal di LA dan tidak ingin kembali ke Jakarta lagi berubah pikiran setelah semalam—setelah aku dan Kapten menidurkan Noah di kamarnya, Kapten mengajakku ke teras. Ditemani secangkir kopi dan rokok untuk Kapten, malam itu kami berbincang banyak.


Kapten berpikir Noah sudah memiliki umur yang cukup untuk memulai sekolah. Kami mulai membicarakan dimana kiranya kami akan menyekolahkan Noah, aku ingin Noah bersekolah di sekolah A yang terkenal akan kualitasnya namun jaraknya cukup jauh dari rumah kami. Kapten berbeda, menurutnya itu hanya akan membuat Noah lelah di perjalanan dan menjadi malas bersekolah. Menurutnya lebih baik Noah bersekolah di sekolah B, sekolah yang dekat dengan rumah.


Noah telah banyak mengubah hidup kami, terutama aku. Bagaimana menjadi orangtua yang ingin memberikan yang terbaik dari sudut pandang anaknya, bukan dari orangtuanya. Karena yang terbaik menurut orangtua, belum tentu itu menjadi yang terbaik untuk anaknya. Beruntung ada Kapten yang mendampingiku dalam mengasuh Noah, membesarkannya dan memberikan kasih sayang seorang ayah hingga Noah tidak merasa kekurangan.


Akhirnya aku mengajukan sebuah saran pada Kapten bagaimana jika kita membawa Noah ke kedua sekolah itu dan melihat mana yang lebih membuat Noah nyaman. Kapten pun setuju.

__ADS_1


Namun pembicaraan kami tidak berhenti sampai di situ. Mungkin awalnya Kapten kelepasan, namun menurutnya sudah waktunya aku untuk tahu. Kapten mengatakan bahwa dia ingin menjadi ayah seperti om Lexis. Namun setahuku om Lexis tidak memiliki istri apalagi anak, yang dia miliki hanyalah adik dan keponakan.


Lantas aku bertanya, siapakah anak om Lexis? Menanyakan hal itu cukup membuat hatiku perih. Karena aku iri dengan anak om Lexis yang memiliki ayah seperti om Lexis.


Dan Kapten menjawab anaknya itu adalah aku.


“Kamu, Lindsey. Kamu anaknya Lexis. Satu-satunya anaknya.”


Jantungku langsung memompa dengan cepat—sangat cepat, tenggorokanku seperti tercekik, membuatku sulit mengeluarkan satu katapun.


Kapten kemudian bercerita lagi. Bahwa ibu kandungku meninggal tepat setelah melahirkanku karena kecelakaan. Saat itu om Lexis tidak ada pilihan lain selain meninggalkanku di panti asuhan. Namun om Lexis diam-diam selalu memantau perkembanganku, dan menjemputku kembali saat aku berusia 15 tahun.


Yaa, Kapten dan om Lexis sudah saling mengenal sejak lama. Meski Kapten selalu membantah jika mereka bersahabatan, Kapten mengklaim mereka seperti kakak adik. Karena perbedaan usia mereka 11 tahun, Kapten merasa dia masih terlalu muda untuk bersahabatan dengan om Lexis. Mengetahui banyak cerita dari om Lexis, aku yakin om Lexis sudah menganggap Kapten sebagai sahabat baiknya


Dan ternyata om Lexis meninggalkan sebuah surat untukku yang dititipkan ke Kapten. Kapten memberikan surat itu padaku. Surat yang masih terlipat mulus dan rapi, Kapten pasti menjaganya dengan baik selama ini. Perlahan kubuka surat yang terlipat dua itu.


Untuk putriku tersayang,


Kalimat pertama yang aku baca setelah membuka surat itu berhasil membuat mataku dipenuhi gumpalan air.


Kemudian aku membaca kalimat berikutnya.


Selamat ulang tahun yang ke 25. Doaku hanya semoga keadaanmu selalu baik-baik saja dimana pun kamu berada, bibirmu selalu tersenyum bahagia, dan kamu selalu dikelilingi oleh orang-orang baik karena kamu pantas untuk mendapatkan itu. Aku sangat gugup menulis surat ini. Karena kamu akan kecewa, marah, dan mungkin mengusirku dari kehidupanmu setelah membaca surat ini.


Mana mungkin... kecewa, marah, mengusir om dari hidupku, mana mungkin aku melakukan itu pada om.. batinku langsung berkata seperti itu setelah membaca kalimat itu.

__ADS_1


Lindsey putriku, aku minta maaf jika kamu harus melewati masa kecilmu berbeda dengan anak pada umumnya, berada di panti asuhan, tidak dapat dan merasakan kasih sayang orangtua, dan masa kecilmu tidak bahagia, wajahmu selalu murung, tidak dapat tertawa lepas seperti anak kecil pada normalnya. Akulah orang yang harus kamu salahkan karena aku seharusnya bertanggung jawab atas hidupmu.


Air mataku semakin banyak dan tidak dapat kubendung lagi. Aku menjatuhkan air mataku..


Tapi aku bersyukur kamu tumbuh menjadi gadis yang ceria, tangguh, pemberani, dan hebat. Persis seperti ibumu. Ibumu di atas sana pasti bangga denganmu. Karena aku merasa begitu. Kamu telah membuatku merasa dan ingin terus hidup, untuk selalu berada di sisimu, menjagamu, mengepang rambutmu, menghajar laki-laki yang membuatmu menangis, seperti yang dilakukan seorang ayah untuk putrinya.


Aku menangis. Air mata itu terus berjatuhan membasahi pipiku. Bahkan aku tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri.


Aku belum pernah menjadi sosok ayah yang baik untuk anakku. Setelah ini aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya untukmu. Aku ingin mendengar suaramu memanggilku dengan sebutan “papa”. Menghabiskan sisa hidupku bersamamu, melakukan semua hal yang ingin kamu lakukan. Aku ingin menebus 15 tahunmu yang terlewat tanpa kasih sayang dari orangtua. Itupun jika kamu mengizinkan... Dan semesta merestui.. Temui aku setelah kamu membaca surat ini jika kamu mengizinkan aku menjadi ayah untukmu.


^^^Ditulis oleh ayahmu yang buruk,^^^


^^^Lexis.^^^


Aku pun menangis terisak-isak setelah selesai membaca surat yang ditulis om Lexis. Surat itu kupeluk di dadaku dengan air mataku yang deras terus bercucuran. Hatiku terasa sakit sekali. Benar-benar sakit. Aku sampai berpikir bagaimana cara menghilangkan rasa sakit itu karena aku tidak kuat merasakannya.


Kapten membawaku ke dalam dekapannya, memelukku, mengusap kepalaku tanpa mengatakan apapun. Membiarkan aku menangis di dadanya, membasahi bajunya. Sekarang aku mengerti, mengapa Kapten menyimpan surat sampai selama ini.


Om Lexis menulis surat itu tepat di usiaku yang menginjak 25 tahun, 10 tahun sejak om Lexis membawaku keluar dari panti asuhan. Aku tidak pernah merasa ada yang spesial dengan hari ulang tahunku, sampai om Lexis mengucapkan selamat ulang tahun untukku melalui surat itu. Dan hari dimana om Lexis menulis surat itu, menjadi hari terakhir om Lexis hidup di dunia.


Sedih, benci, dan bahagia bercampur menjadi satu. Aku semakin membenci Jarvis atas apa yang telah dia perbuat pada om Lexis—pada ayahku. Ayah yang aku sayangi seumur hidupku.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2