
“Lalu imbalan apa yang akan aku dapatkan?” tanya Lindsey.
“Apa yang kamu inginkan?” balas Luven.
“Apa yang bisa kamu berikan?” tanya Lindsey.
“Kamu pasti juga tidak tahu, kan, apa yang kamu inginkan? Pikirkan—” ucap Luven terpotong.
“Berapa persen tingkat kemenanganmu?” tanya Lindsey.
“Kamu ingin aku membela siapa?” balas Luven.
Aku. Dan gengku.
Jika suatu saat nanti kita ketahuan, kita membutuhkan seseorang untuk membantu kita bebas dari hukuman atau setidaknya hukuman kita bisa dikurangi. batin Lindsey.
“Baiklah. Siapapun itu orangnya, aku akan pastikan dia tidak mendekam di penjara. Jadi, bagaimana? Bisa kita mulai akting kita?” sambung Luven.
“Tentu.” balas Lindsey.
Haruskah aku bilang dulu ke Jarvis? Tapi sudah pasti 1000% dia tidak menyetujuinya. Nanti malahan nyawa Luven yang menjadi sasarannya. Terlebih, aku membutuhkan Luven untuk membantu gengku jika terjadi sesuatu dengan kita. Sudahlah, anggap saja ini misi rahasia. Jarvis tidak boleh mengetauinya. batin Lindsey.
...****************...
Di parkiran firma hukum GDP.
“Aku sudah menyewa fotografer spesialis paparazi.” ucap Luven.
“Hah? Untuk apa?” tanya Lindsey.
“Rencana pertama: aku akan mengirimkan hasil foto diriku bersama perempuan ke rumah orangtuaku. Dan melihat reaksinya seperti apa.” jawab Luven.
“Oh, ya. Jangan lupa pakai ini. Kamu harus terlihat misterius di foto nanti.” ucap Luven seraya memasangkan kacamata hitam untuk Lindsey.
Keduanya berjalan ke parkiran setelah keluar dari lift.
“Dimana fotografernya?” tanya Lindsey.
“Entahlah. Namanya juga paparazi. Nanti masuk ke mobilku dulu, ya, untuk mengambil beberapa foto.” jawab Luven seraya berjalan.
Lindsey menghentikan langkah kakinya. Sementara Luven masih berjalan.
“Luven.” panggil Lindsey. Luven berhenti berjalan dan berbalik badan ke arah Lindsey yang tertinggal di belakangnya.
“Iya?”
“Seharusnya kamu menggenggam tanganku saat berjalan. Kita kan tidak tahu fotografernya ada dimana? Setidaknya kita berpose mesra dimana saja.” ucap Lindsey.
Luven menghampiri Lindsey dan menggenggam tangannya. “Seperti ini?” tanya Luven.
“Kalau mau berakting, lakukanlah dengan benar.” ucap Lindsey.
“Iya iya. Kamu aktris, ya? Kok jago sekali, sih?” tanya Luven.
Aku memang jago kalau soal berakting. batin Lindsey.
Luven membukakan pintu mobilnya untuk Lindsey. Setelah itu barulah giliran Luven yang masuk ke dalam mobil. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Baiklah. Saatnya kita lakukan beberapa pose. Tapi, bagaimana?” ucap Luven.
“Pengacara Luven, anda pasti tidak pernah berkencan, ya?” tanya Lindsey meremehkan.
“Hah?”
“Pakaikan aku seatbelt.” ucap Lindsey.
“Huh?”
“Cepat lakukan.” pinta Lindsey.
Luven memajukan tubuhnya dan menarik seatbelt untuk dipakaikan ke Lindsey.
“Tahan tubuhmu sebentar. Lalu lihat wajahku.” ucap Lindsey.
Luven menuruti perkataan Lindsey. Dia menatap wajah Lindsey.
__ADS_1
“Miringkan kepalamu sedikit.” ucap Lindsey kemudian.
Luven memiringkan kepalanya.
“Sedikit saja.”
“Ini terlalu banyak.” Lindsey memegang kedua pipi Luven untuk membenarkan posisi kepalanya.
“Seperti sedang berciuman?” tanya Luven.
“Benar!” jawab Lindsey.
Tanpa perlu diarahkan lagi, seorang laki-laki pasti tahu apa yang harus dilakukan ketika ingin mencium bibir wanita.
“Dia pasti sudah mendapatkan banyak foto yang bagus, kan?” tanya Luven.
“Coba kamu tanya.” jawab Lindsey.
Luven kembali ke posisi duduknya dan menelepon si fotografer.
“Sudah dapat?”
“Sudah bos.”
“Baiklah. Kirimkan semuanya padaku.”
“Siap, bos!”
“Sudah, Lindsey. Terima kasih, ya. Aku akan mengatur rencana berikutnya.” ucap Luven kepada Lindsey.
“Baiklah. Sampai nanti.” Lindsey keluar dari mobil Luven dan berpindah ke mobilnya sendiri.
Triririring... Ponsel Lindsey berdering.
Jarvis is calling...
“Halo? Aku baru selesai kerja.” kata Jarvis.
“Aku juga. Baru masuk mobil mau pulang.” balas Lindsey.
Tok tok... Carlos masuk ke dalam ruangan Jarvis.
“Jarvis, tim arsitektur dari gedung XXX sudah tiba dari Penang. Mereka sudah menunggumu di ruang rapat bersama tim kita.” ucap Carlos.
“Sekarang?” tanya Jarvis.
“Iya.” jawab Carlos.
“Harus banget sekarang?” Jarvis mengulangi pertanyaannya.
“Mereka datang jauh dari Penang. Kita tidak bisa mengatur hari lain.” jawab Carlos.
“Ya sudah. Beri aku waktu 5 menit.” ucap Jarvis.
“Aku tunggu di luar.” balas Carlos lalu keluar dari ruangan Jarvis.
“Lindsey, sepertinya kita harus—” ucap Jarvis di telepon.
“Iya, aku dengar.” balas Lindsey.
“Kita tetap jadi makan malam bersama. Kamu bersedia menunggu sampai aku selesai rapat?” tanya Jarvis.
Jarvis menatap jam di tangannya. “Emm.. paling 1 jam saja..” sambung Jarvis.
“Iya, tidak apa-apa.” balas Lindsey.
“Atau kamu tunggu di ruanganku saja? Nanti ada Katie yang bisa menemanimu selama aku rapat.” ucap Jarvis.
“Iyaaaa.. aku akan ke kantormu sekarang.” balas Lindsey.
“Ok. Hati-hati ya menyetirnya.” ucap Jarvis.
“Iya. Sudah, sana rapat.” balas Lindsey.
“Eh kiss-nya dulu mana? Aku tidak mau mengakhiri panggilan ini kalau belum di-kiss.” ucap Jarvis.
__ADS_1
“Jarvis.. kamu kan sudah ditunggu.” balas Lindsey.
“Kiss kan tidak sampai 2 detik. Ayo.” Jarvis tidak pantang menyerah. Dia masih terus meminta kecupan singkat via telepon.
“Ya, sudah. Kalau aku kiss di sini, nanti pas ketemu tidak kiss lagi.” ucap Lindsey.
“Eeeehhhh!! Kiss nya pas ketemu saja! Aku rapat dulu!” Jarvis segera mengakhiri panggilannya.
Lindsey menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan bibirnya sedikit. “Ada-ada saja.”
...****************...
Lindsey mengendarai mobilnya menuju kantor Jarvis untuk menunggu sampai Jarvis selesai rapat. Sesampainya di sana, ternyata Katie masih standby di meja kerjanya.
“Hey, Jarvis sedang rapat. Sudah sekitar 20 menit yang lalu.” Katie menyambut kedatangan Lindsey ketika sampai di lantai ruangan Jarvis.
“Iya, aku tahu. Kamu kenapa belum pulang?” balas Lindsey.
“Kamu mau ke ruangannya? Jarvis titip pesan kepadaku untuk menemanimu di ruangannya.” ucap Katie.
“Baiklah, ayo.”
“Eh, mau minum apa?” tanya Katie.
“Ah, tidak usah! Tidak usah repot-repot.” jawab Lindsey.
“Tapi di kantor kan Jarvis atasanku dan kamu kekasihnya Jarvis.” balas Katie.
“Sudah, tidak usah! Nanti aku yang bilang ke Jarvis!” ucap Lindsey.
“Wih.. remote control-nya Jarvis nih..”
Katie dan Lindsey masuk ke ruangan Jarvis. Mereka memilih duduk di sofa.
“Katie, kemarin benar-benar banyak hal yang terjadi.” ucap Lindsey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa saja, tuh?” tanya Katie.
“Kemarin Jarvis sudah mengaku kalau dia seorang mafia.” jawab Lindsey.
“Serius?!” tanya Katie.
“Iya. Carlos sempat mencegahnya. Tapi dia tetap mengaku. Dia juga membongkar tentang hubungan kita di depan Carlos.” jawab Lindsey.
“Yah.. pasti potek sekali hati Carlos.. Pantas saja hari ini dia lebih banyak diam dan melamun.” balas Katie.
“Waktu badanku penuh luka karena penculikan itu, dia menitipkan obat salep ke firma. Lalu hari ini aku baru menerima titipan barang lagi darinya. Isinya coklat-coklat, permen manisan gitu. Aku sempat mengira kalau Jarvis yang memerintahkan, tapi sepertinya tidak.” ucap Lindsey.
“Aaa.. manisnya. Memang dari tatapannya Carlos ke kamu tuh sudah terlihat sekali dia menyukaimu.” balas Katie.
“Aku pasti sudah membuat hubungan mereka jadi renggang, kan?” ucap Lindsey.
“Ya, seperti itulah cinta segitiga. Tapi kamu tidak perlu merasa tidak enak, kan kamu akan meninggalkan Jarvis sebentar lagi. Setelah kita mendapatkan emas, kita akan langsung pergi dari negara ini. Itu jalan yang sangat adil untuk mereka.” balas Katie.
Lindsey mengangguk setuju. “Benar.”
“Lindsey, apa kamu tahu? Tatapan Carlos ke kamu itu seperti tatapan kamu ke Jarvis.” ucap Katie.
Lindsey mengernyitkan alisnya.
“Iya. Seperti perasaan yang selalu ditahan. Namun mata tidak bisa berbohong. Matamu selalu tersenyum saat melihat Jarvis.” ucap Katie.
“Jujur padaku. Kamu sudah memiliki perasaan dengan Jarvis, kan?” Katie menginterogasi Lindsey.
“Apa menurutmu aku adalah orang yang memiliki perasaan?” balas Lindsey.
“Kamu kan manusia! Pasti kamu memiliki perasaan, lah. Vampir, goblin, dan makhluk lainnya saja bisa jatuh cinta, dengan manusia pula.” ucap Katie.
“Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu aku memiliki perasaan atau tidak. Bagaimana cara mengetahuinya?” balas Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1