
“Penyadap lokasi.” ucap Piter seraya menunjukkan alat yang super kecil.
Lindsey menghela napasnya.
“Wah, Carlos..! Wah! Tidak habis pikir! Carlos pasti memiliki motif, Kapt!” sahut Katie.
“Secara logika memang tidak mungkin orang sepintar Carlos tiba-tiba menyatakan perasaannya, meminta berpacaran dengan Lindsey. Karena perasaan yang tulus tidak mengharapkan apapun, apalagi balasan atas perasaannya.” sahut Luven.
Kapten mengangguk. “Pasangkan kembali penyadap itu di cincin.” perintah Kapten.
“Kapt, aku tidak mau memakai cincin itu.” ucap Lindsey.
“Loh, sayang sekali. Padahal katanya ini emas asli. Bagaimana kalau Luven saja yang pakai?” balas Kapten.
“Dengan senang hati.” ucap Luven.
“Loh kok jadi Luven yang memakainya?” tanya Katie.
“Keberadaan Luven pagi sampai malam di firma, kadang keluar bertemu klien atau ke pengadilan, habis itu malamnya pulang ke rumah. Pacar ketiga Lindsey pasti kena mental kalau tahu posisi Lindsey saat malam ada di rumah Luven.” ucap Kapten.
“Hahahaha mantap, tuh!” sahut Piter.
“Lalu bagaimana kalau Carlos melihat Lindsey tidak memakai cincin?” tanya Katie.
“Piter.” panggil Kapten.
“Oh, tenang saja. Aku sudah menghubungi seseorang dan minta dibuatkan cincin yang serupa dengan ini.” ucap Piter.
“Eh, Piter, itu komputer kamu kenapa, tuh?” tanya Lindsey saat tidak sengaja menengok ke samping dan mendapati ada sesuatu yang mencuat muncul di layar komputernya.
Piter langsung menghadap ke belakang untuk melihat komputernya. Saat melihatnya, Piter langsung berlari ke komputernya.
“Kapt, Jarvis mencairkan uang sebesar 4 miliar dari bank ABC!” ucap Piter.
“Untuk apa uang sebanyak itu..” sahut Kapten.
“Mungkin untuk membeli properti?” sahut Katie.
“Tidak. Jarvis tidak pernah memakai uang pribadinya untuk membeli properti. Dia memakai dana perusahaan.” ucap Kapten.
“Kita cari tahu sendiri saja? Bagaimana?” sahut Luven.
...****************...
Keesokan harinya.
Misi Penyelamatan 4 Miliar.
Sebuah kapal pesiar kecil melaju menuju sebuah pulau. Piter menelusuri uang sebanyak 4 miliar yang Jarvis cairkan dan hasilnya didapati Jarvis membawa uang itu ke sebuah pulau. Dan di pulau itu terdapat tempat yang berisi judi. Lindsey dan Katie sampai lebih dahulu di sana dan menyamar bergabung bermain kartu bersama.
“Kapt, di sini tidak terlihat Jarvis dan Carlos.” ucap Katie melalui earbuds.
“Ok. Berarti aman. Bagaimana dengan Lindsey?” balas Kapten.
“Sudah mulai berakting menjadi seorang penjudi yang hampir tidak terlihat kalau dia sedang berakting.” ucap Katie.
“Ya iyalah, itu kan adalah hobi yang sangat disukai Lindsey.” sahut Piter.
“Lindsey suka berjudi?” tanya Luven.
Kapten berdiri di ujung kapal, melihat pulau dari kejauhan dengan kacamata teropongnya.
“2 kilometer lagi kita akan sampai. Bersiap.” ucap Kapten.
“Yes, Kapt!”
__ADS_1
...---...
Di sebuah meja, duduklah Lindsey, Katie, seorang bos besar kaya yang gila judi dan seorang bandar. Di atas meja sudah tertata rapi kartu milik pemain Lindsey dan bos itu. Serta 2 buah tas hitam yang dipertaruhkan orang kaya itu.
“Lindsey, kamu yakin bisa menang?” bisik Katie.
“Sstt.. diam dan lihat saja.” balas Lindsey.
Salah seorang bos besar kaya berhasil dikalahkan oleh Lindsey. 2 tas berwarna hitam itu diberikan ke Lindsey semua. Dengan raut wajah penuh bahagia, Lindsey menerima kedua tas itu. Namun ternyata orang kaya itu tidak menerima atas kekalahannya.
Dia menodongkan pistol ke arah Lindsey. Seisi tempat itu menjadi heboh ketakutan, beberapa wanita berteriak.
“Lindsey..” ucap Katie pelan dan berdiri di belakang Lindsey.
Kapten, Piter dan Luven akhirnya tiba di pulau itu dan langsung mendatangi tempat yang dijadikan perjudian. Tempat itu merupakan sebuah vila yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga milik orang kaya itu.
“Kami dari kejaksaan wilayah XXX menerima informasi adanya perjudian ilegal di sini.” ucap Kapten yang menyamar memakai jas formal dan kartu tanda pengenal seorang kejaksaan palsu yang dibuat oleh Piter.
“Sepertinya informasi itu salah. Bos kami hanya bertemu dengan teman-temannya.” balas penjaga itu.
Bang..!
Ada suara tembakan. Lindsey tertembak. Darah pun mengalir dari bahu Lindsey. Lindsey pun jatuh pingsan. Seisi tempat itu menjadi heboh, semua orang berteriak histeris ketakutan yang dipimpin oleh teriakan Katie terlebih dahulu.
“Apa orang kaya membawa pistol saat bertemu teman?” ucap Kapten dan langsung masuk bersama Piter dan Luven.
“Tuan, anda harus pergi sekarang. Ada kejaksaan di sini.” bisik seorang penjaga kepada orang kaya itu.
“Angkat tangan di kepala!” seru Kapten saat berhasil memasuki tempat itu.
“Pembunuhan dalam perjudian ilegal? Anda akan dikenakan pasal berlapis. Tangkap mereka semua yang ada di sini!” ucap Kapten.
Namun orang kaya itu kabur lewat jendela. “Piter, tangkap dia.” ucap Kapten.
Piter mengejar orang tersebut.
Orang kaya beserta penjaga dan anak buahnya kabur menaiki kapal yang Kapten dan geng tumpangi saat mendatangi pulau itu.
“Cepat jalankan kapalnya! Cepat! Cepat!” seru orang kaya itu.
Piter dan Luven berlari mengejar mereka. Namun naasnya mereka keburu menaiki kapal dan kapal itu pergi melaju meninggalkan pulau dengan cepat. Piter dan Luven kembali ke tempat perjudian.
“Bagaimana dengan yang kabur?” tanya Kapten.
“Kami gagal menangkapnya.” jawab Piter.
“Gagal?”
“Iya. Dia pergi sangat jauh dengan kapal kita.” jawab Piter.
“Sangat jauh?” tanya Kapten.
“Iya. Sangat jauh.” jawab Piter.
Kapten melepas kacamata hitam yang dikenakannya. “Berarti mereka tidak akan kembali.” ucapnya.
Piter, Luven dan Kapten saling melempar senyuman.
“Oke. Tamunya sudah pergi. Mari selesaikan ini semua dan pergi.” ucap Kapten.
“Horeee..!!!” Semua bertepuk tangan dan bersorak. Lindsey bangkit berdiri dari tidurnya dengan mengeluarkan beberapa kantong berisi cairan berwarna merah yang ditaruh di dalam pakaiannya.
Dia juga mengeluarkan koper dan tas hitam berisi uang yang didapatkannya dari hasil bermai. tadi. “Jumlah uangnya kurang lebih 4 milyar.” ucap Lindsey.
“Kerja bagus.” ucap Kapten.
__ADS_1
Mereka berlima pun pulang ke rumah markas dengan mengantongi 4 miliar yang berhasil mereka rebut. Ini membuktikan bahwa mereka tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan harta Jarvis. Meski 4 miliar tidak ada apa-apanya dengan total kekayaan Jarvis.
...****************...
Keesokan harinya.
Jam 21.00
Di hotel Jarvis.
Lindsey tiba terlebih dahulu di hotel yang Jarvis tempati. Kala itu mereka sepakat untuk pulang masing-masing karena Jarvis masih memiliki urusan pekerjaan. Lindsey menunggu di hotel sambil menonton tv.
Tririring...
Ponselnya berbunyi. Muncul nama Jarvis di layar ponselnya. Lindsey dengan senang menjawab panggilan dari Jarvis.
“Halo?”
“Halo? Dimana?” balas Lindsey.
“Di jalan. Sedang apa?” tanya Jarvis.
“Menonton tv.” jawab Lindsey.
“Sudah makan?” tanya Jarvis.
“Belum.” jawab Lindsey.
“Hm, pas sekali. Tebak aku bawa apa?” tanya Jarvis.
Carlos di kursi pengemudi melirik Jarvis yang duduk di belakang dengan kaca di mobil.
“Bawa apa?” balas Lindsey.
“Makanan kesukaanmu.” ucap Jarvis.
“Apa, tuh? Aku menyukai semua makanan.” balas Lindsey.
“Hahhahah.. tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi aku sampai.” ucap Jarvis.
“Jarvis.. kamu beli makanannya sendiri, ’kan?” tanya Lindsey.
“Hm, tidak. Bareng Carlos, dia sekalian membeli untuk dia sendiri.” jawab Jarvis.
Aduh. batin Lindsey seraya memejamkan matanya.
“Baiklah. Cepat pulang, aku sudah lapar.” ucap Lindsey.
“Iya, Sayang.”
Panggilan mereka berakhir.
“Pasti besok Carlos akan mengungkit kebaikan yang telah dia lakukan untukku. Lagi pula kenapa harus bareng Carlos, sih? Hadeh..” gerutu Lindsey.
Ting.. tong... Bel di hotel berbunyi.
“Hm? Cepat sekali dia sampainya.” ucap Lindsey. Lindsey bangkit berdiri dari sofa dan hendak membukakan pintu.
Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti.
“Tunggu. Kenapa Jarvis membunyikan bel?” gumamnya.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih