Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Perasaan Yang Terungkap


__ADS_3

halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Carlos tiba-tiba berjalan menuju meja kerjanya. Dia menarik laci di meja kerjanya, mengambil sesuatu dan kembali ke Lindsey.


“Aku telah menemukan ini sejak 2 bulan yang lalu.” Carlos memperlihatkan selembar foto yang memperlihatkan seorang wanita bertopi dan masker hitam di sekitar markas yang dipenuhi kobaran api.


Dan itu adalah Lindsey. Saat dia bersama Piter dan Kapten merencanakan pengambilan emas di markas Jarvis, namun ternyata markas itu kosong dan terjadi ledakan yang menghanguskan markas itu.


“Ada dua orang laki-laki yang wajahnya tidak berhasil aku identifikasi. Hanya seorang wanita ini saja yang berhasil aku kenali.” ucap Carlos kemudian.


“Kamu berniat mencuri emas Jarvis saat itu?” tanya Carlos kemudian.


Mamp*s. Carlos sudah mengetahui sampai ke pencurian emas. batin Lindsey.


“Bukankah sudah jelas? Aku memang mengincar hartanya Jarvis. Makanya kalau kamu meminta aku untuk putus dengan Jarvis dan berpacaran denganmu, aku tidak bisa. Kecuali hartamu setidaknya sama dengan Jarvis.” ucap Lindsey.


“Tapi emas yang kamu idam-idamkan itu sudah berpindah tempat. Dan yang tahu tempatnya hanya aku dan Jarvis. Kamu bisa apa?” balas Carlos.


“Kamu bilang Jarvis hanya menyukai tubuhku saja, kan? Aku hanya perlu menggodanya saja.” ucap Lindsey.


“Wah.. menarik sekali. Menarik sekali untuk Jarvis dengar. Kalau soal identitas palsu kamu tidak takut lagi, bagaimana dengan foto ini?” balas Carlos.


Tririring...


Suara telepon berdering dari meja kerja Carlos berhasil memecah suasana di antara mereka.


“Imbalan yang aku inginkan masih sama. 1×24 jam.” ucap Carlos berbisik di telinga Lindsey sebelum dia berjalan ke meja kerjanya untuk mengangkat telepon.


Lindsey keluar dari ruangan Carlos dengan emosi yang memuncak. Lalu dia bertemu dengan Katie di depan ruangan Carlos yang berhasil menguping pembicaraan mereka sedaritadi.


“Berkumpul di rumah markas sekarang.” ucap Lindsey lalu pergi.


Melihat Lindsey yang sepertinya marah besar, Katie segera menelepon Kapten dan menginfokan agar semuanya berkumpul di rumah markas.


...****************...


Rumah markas.


Semua anak geng berkumpul di ruang tengah, kecuali Lindsey yang memilih untuk mandi setelah sampai di rumah. Mereka bertiga berkumpul di ruang tengah, dengan tenang mendengarkan rekaman suara dari ponsel Katie. Ternyata tidak hanya menguping, Katie juga merekam pembicaraan Carlos dan Lindsey tadi.


Sementara Lindsey, berdiri di bawah guyuran air shower yang deras, membiarkan air tersebut membasahi dirinya. Banyak hal yang sedang memenuhi isi kepalanya sekarang.


Tidak mungkin. Pasti ada solusi, kan? Pasti ada cara lain. Meninggalkan Jarvis? Berpacaran dengan Carlos? Itu adalah dua hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Mana mungkin aku melakukan kedua hal itu? Tidak, tidak. Pasti ada cara lain. Aku yakin.


Lindsey menyelesaikan mandinya dan segera turun ke bawah, bergabung bersama anak geng di ruang tengah.


“Tidak disangka, Carlos diam-diam terobsesi dengan Lindsey.” ucap Piter.


“Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan.” ucap Katie.


“Kita telah salah langkah. Kita mengira kita sudah mendapatkan kelemahan Carlos, namun ternyata Carlos yang mendapatkan kelemahan kita.” ucap Kapten.


“Bagaimana, Kapt? Aku tidak mungkin mengikuti keinginannya Carlos, kan?” tanya Lindsey.

__ADS_1


“Apa tidak ada keinginan lain darinya?” balas Kapten.


Lindsey menggeleng.


“Masalahnya di sini, Carlos sudah memegang 1 kelemahanmu. Yaitu foto kamu di markas Jarvis.” ucap Kapten.


“Lalu?” tanya Lindsey.


“Jika foto itu sampai ke Jarvis, tamat kita. Kamu tidak berpikir soal itu?” sahut Piter.


“Jadi, tidak ada cara lain?” tanya Lindsey.


Semuanya pun terdiam.


“Kenapa kalian semua diam? Come on, guys. Geng Morex tidak pernah kehabisan cara. Masa kita tunduk begitu saja dengan Carlos?” ucap Lindsey.


“Memangnya kenapa jika harus meninggalkan Jarvis dan berpacaran dengan Carlos? Bukankah tadi Carlos bilang dia juga mengetahui keberadaan emasnya? Itu pertanda baik, dong! Kalau berpacaran dengan Carlos, kamu juga bisa mengetahui keberadaan emasnya. Kan tujuan kita adalah emas itu.” balas Piter.


“Iya, Lindsey. Kenapa? Kamu tidak bisa meninggalkan Jarvis? Apa karena kamu sudah mencintai Jarvis?” sahut Katie.


Lindsey terdiam. Juga dengan ketiga anak gengnya yang melihat Lindsey.


“Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Katie. Kamu memiliki rasa dengan Jarvis? Targetmu sendiri?” Kapten mencecarnya.


Lindsey masih terdiam.


“Peringatan pertama untuk Lindsey karena sudah melibatkan perasaannya dalam menjalankan misi. Lindsey dikeluarkan dari diskusi untuk sementara waktu. Peringatan ketiga Lindsey akan dikeluarkan dari misi.” ucap Kapten.


“Kembali ke kamarmu.” Kapten memberikan perintah untuk Lindsey.


“Kapt!” seru Katie.


“Kalian tahu peraturan geng kita yang paling penting. No feelings. Tidak melibatkan perasaan dalam menjalankan misi.


Sekarang kita lanjutkan diskusi kita tanpa Lindsey.” ucap Kapten sepeninggal Lindsey.


“Setelah kupikir lagi, Lindsey tidak bisa mengikuti keinginan Carlos begitu saja. Carlos sudah menyimpan foto itu selama 2 bulan. Tidak dapat dipungkiri kalau Jarvis juga sudah tahu soal Lindsey yang mau mencuri emasnya. Bisa saja ini semua rencana Jarvis dan Carlos. Untuk apa juga Carlos menyimpan foto itu selama 2 bulan tanpa diberitahu ke Jarvis?” ucap Kapten.


“Melihat dari pengakuan perasaan Carlos, sepertinya dia tidak ingin Lindsey kenapa-kenapa makanya Carlos memilih untuk menyimpannya saja.” balas Katie.


“Tetap saja sebaiknya kita jangan mengikuti keinginannya Carlos. Benar kata Lindsey. Kita harus pakai jalan lain.” ucap Kapten.


“Jalan apa, Kapt? Kita sudah buntu sekarang.” sahut Piter.


“Bagaimana kalau kita gunakan Luven sebagai pacarnya Lindsey?” sahut Kapten.


“Bagaimana caranya, Kapt?” tanya Katie.


...****************...


Kamar Lindsey.


Katie mengantarkan makan malam untuk Lindsey ke kamarnya. Sejak diperintahkan naik ke kamar, Lindsey berdiam diri saja dan tidak keluar dari kamar sekalipun.


“Makan malam untukmu.” ucap Katie.

__ADS_1


“Terima kasih.” balas Lindsey.


“Kita sudah berdiskusi dan tidak akan mengikuti keinginan Carlos. Kita memiliki cara lain.” ucap Katie.


“Cara apa?” tanya Lindsey seraya memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.


Katie mendekat ke Lindsey. “Kita akan memanfaatkan Luven.” bisik Katie.


“Hubungan kalian masih berstatus pacaran, kan?” tanya Katie kemudian.


Mata Lindsey seketika membulat. “Hey! Kenapa kalian baru bilang? Aku dan Luven sudah ingin mengakhiri hubungan kita, tahu.” ucap Lindsey. Lindsey kemudian langsung berdiri dari ranjang, mengambil ponselnya dan menelepon Luven.


“Hah? Kenapa berakhir?” tanya Katie dengan polosnya.


“Karena perjodohan Luven sudah batal. Jadi tidak ada alasan untuk kita masih lanjut lagi.” jawab Lindsey.


“Luven.. ayo angkat teleponnya, dong..” gumam Lindsey seraya berjalan mondar-mandir bak setrika sambil menggigit ujung jarinya.


“Halo, Lindsey. Kenapa?” Luven menjawab teleponnya.


“Luven, kita masih pacaran, kan?” tanya Lindsey.


”Hah?” Luven menjawab spontan.


“Hey, masa nanya-nya begitu?” bisik Katie.


“Kita masih pacaran, kan? Masa kita tiba-tiba putus? Orangtuamu pasti kaget.” balas Lindsey.


“Oh.. iya. Kamu masih mau pacaran?” tanya Luven.


“Tentu saja kita masih harus pacaran.” jawab Lindsey.


“Ya sudah.”


“Ok. Bye. Kututup ya teleponnya..” Lindsey mengakhiri teleponnya.


“Hey, masa kamu langsung nanya begitu, sih, ke Luven? Luven juga kaget kali kalau kamu tiba-tiba meneleponnya dan bertanya soal itu.” tanya Katie setelah Lindsey kembali duduk di ranjang.


“Aku dan Luven sudah membahas alasan kita putus tadi. Tapi untung saja belum putus.” ucap Lindsey lalu lanjut makan.


Katie merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Hubungan kamu dan Luven lucu, ya. Kamu dan Luven sepakat untuk berpacaran, sepakat juga untuk putus.” ucap Katie.


“Memang seperti itu dari awalnya. Kita berpacaran hanya untuk misi penyelamatan Luven dari perjodohannya.” balas Lindsey.


“Lantas kenapa dengan Jarvis kamu tidak bisa seperti itu? Kamu berpacaran dengan Jarvis hanya untuk misi juga, kan.” sahut Katie.


“Setelah diperintahkan ke kamar, aku merenungkan satu hal.” ucap Lindsey.


Katie mengubah posisinya menjadi menyamping menghadap Lindsey, sambil satu tangannya menopang kepalanya. “Apa itu?”


“Sepertinya.. aku mencintai Jarvis.” ucap Lindsey.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2