
selamat malam semuanya.. maaf updatenya telat bgt hari ini.. otor lg meriang gaes 🥴🥴 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Tunggu. Kalian tidak mungkin tidur bersama, ’kan?” tanya Jarvis yang merujuk pada Lindsey dan Kapten.
“Aku akan tidur bersama Katie.” jawab Lindsey.
“Nah, bagus. Kebetulan tulang belakangku sakit kalau tidur di sofa. Jadi aku akan tidur di tempatnya Lindsey.” ucap Jarvis.
“Kapt, Kapten yakin mau tidur bersama orang ini?” tanya Piter.
“Yakin, lah.. ayo!” Jarvis merangkul Kapten dan berjalan bersama ke kamarnya.
“Aku juga mau tidur, deh.” sahut Noah.
Lindsey bersama Noah pun naik ke kamar Noah.
“Aku juga mau tidur. Besok kerja.” Katie juga naik ke kamarnya.
“Eh, kamu sudah bicara dengan Katie? Sejak pulang Katie tidak berbicara denganku. Menatapku saja juga tidak.” ucap Piter kepada Luven.
“Apa-apaan ini? Kenapa semuanya berpasangan tetapi aku tidak?” balas Luven.
...****************...
“Aahh, empuknya!” Jarvis berbaring di atas ranjang.
“Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan ranjang ini, ’kan?” balas Kapten.
“Hm?”
“Selama aku tidak ada, kamu tidurnya di sini, ’kan?” ucap Kapten.
“Bagaimana paman tahu? Apa jangan-jangan paman memasang CCTV di kamar ini? Wah, gawat itu!” balas Jarvis.
“Bau ranjang ini saja sudah berbeda. Eh, tunggu. Barusan kamu memanggilku apa?” ucap Kapten.
“Kamu adalah pamanku.” balas Jarvis.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.” ucap Kapten.
Jarvis terdiam. Dia melipat tangannya dan menaruh di bawah kepalanya. Wajahnya menghadap ke langit-langit.
__ADS_1
“Aku tidak bisa melawanmu. Bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih padamu, karena sudah menjaga Lindsey dan Noah selama aku tidak ada di sisi mereka.” ucap Jarvis.
“Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya bukan untukmu.” balas Kapten.
“Aku memang menderita setelah kehilangan hartaku, namun ketika melihat Lindsey, ternyata penderitaan yang aku rasakan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Belakangan ini, jika Lindsey tersenyum atau tertawa, aku sering bertanya di dalam hatiku, ‘Apakah dia benar-benar senang?’. Mimik wajahnya selalu datar, seolah tidak dapat merasakan emosi. Lalu aku tersadar, penderitaan Lindsey jauh lebih menyiksa. Mencintai orang yang telah membunuh ayahnya, malaikat di hidupnya.” ucap Jarvis kemudian.
“Namun berkatmu juga, Lindsey tersenyum lagi. Tadi saat berbicara denganku. Bibirnya tersenyum lebar karena sudah bebas dari pernikahan denganku dan akan hidup berkeluarga bersamamu dan Noah.” balas Kapten.
“Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk kebahagiaan keluarga kecilku. Seperti Lexis.” ucap Jarvis.
“Sudah seharusnya begitu. Jika ada setetes air mata yang keluar dari mata mereka, itu akan menjadi hari terakhirmu hidup di dunia.” balas Kapten.
“Ya, ya, ya.”
“Lexis adalah bawahan yang setia. Sangat sangat setia. Dia selalu bergerak mengikuti perintahku. Lalu ada satu hari dimana dia tidak dapat dihubungi. Ketika esok harinya aku bertanya, dia menjawab, dia habis mengajak anaknya piknik karena anaknya berulang tahun ke 15 waktu itu. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, sejak hari itu Lexis sering mengabaikan perintahku. Alasannya beragam namun dia selalu menyebut anaknya. Mendaftarkan anak SMA, menjemput dan makan siang dengan anaknya, anaknya sakit, dan lain-lain. Semua tentang anaknya. Dan aku membunuhnya, tanpa memikirkan anaknya.” ucap Jarvis.
“Dan kamu tahu apa penyebab kita semua datang ke sini? Karena Lindsey baru mengetahui Lexis adalah ayahnya. Niat kita hanya 7 hari di sini, namun di luar dugaan, Noah sakit.” balas Kapten.
“Lindsey seharusnya dendam padaku.” ucap Jarvis.
“Kamu saja tidak dendam pada orang yang telah membunuh orangtuamu.” balas Kapten.
“Kakakmu memang b*j*ng*n si*lan. Tapi dia satu-satunya keluarga yang aku punya.” ucap Jarvis.
“Berbahagialah, Jarvis. Setelah ini kamu akan merasakan rasanya memiliki keluarga.” balas Kapten.
...****************...
Jarvis keluar dari kamar karena tidak bisa tidur bersama Kapten yang mendengkur kencang. Dia hendak berjalan ke kamar Noah dan tidur di sana, namun dari atas Jarvis melihat lampu di ruang tengah masih menyala.
“Sedang apa, Lindsey?” tanya Jarvis saat melihat Lindsey sibuk membuka laci satu persatu.
“Akta lahir Noah hilang. Apa kamu melihatnya? Aku harus mengurus pendaftaran Noah di sekolah.” jawab Lindsey.
Jarvis menghampiri Lindsey. Menghentikan tangan Lindsey yang sibuk mencari.
“Aku lupa bilang. Aku sudah mengurus pendaftaran Noah. Dan akta lahir itu sedang digunakan untuk memproses penggantian nama belakang dan nama ayahnya Noah.” ucap Jarvis.
“Kamu mengambilnya?” tanya Lindsey.
“Sebentar lagi akta lahir Noah yang baru akan jadi. Kamu tidak perlu mencarinya lagi. Sudah malam, tidurlah.” jawab Jarvis.
“Baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa kamu keluar?” tanya Lindsey.
__ADS_1
“Aku tidak bisa tidur dengan orang yang mendengkur, kencang pula. Kamu kok bisa sih tidur dengannya?” jawab Jarvis.
“Kapten tidak mendengkur, kok. Aku tidak pernah mendengarnya.” ucap Lindsey.
“Lindsey, itu kencang sekali. Kamu pikir aku berhalusinasi?” balas Jarvis.
“Masa, sih? Apa karena obat tidur membuat aku tidur pulas sampai tidak mendengarnya, ya..” ucap Lindsey.
“Selama ini kamu minum obat tidur, Lindsey?” tanya Jarvis.
“Oh? I-iya. Aku tidak akan bisa tidur jika tidak ada obat tidur.” jawab Lindsey.
“Oh my God, Lindsey.” Jarvis memeluk Lindsey.
“Kenapa? Beberapa hari ini aku tidak meminumnya lagi. Sejak kapan, ya? Sepertinya sejak tidur denganmu, deh?” ucap Lindsey.
“Kalau begitu seterusnya kamu harus tidur denganku.” balas Jarvis.
“Apakah ini sebuah lamaran?” tanya Lindsey.
“Aku tidak akan melamarmu untuk yang kedua kalinya. Ayo, ikut denganku.” balas Jarvis.
“Eh, mau kemana?” tanya Lindsey.
Jarvis menarik tangan Lindsey dan membawanya ke kamar Noah.
“Kita akan tidur di sini?” tanya Lindsey dengan suara pelan.
“Iya. Kenapa? Kita tidak pernah tidur bersama. Ayo tidur.” jawab Jarvis.
Jarvis membuka selimut dan menyuruh Lindsey untuk masuk. Mereka tidur bertiga dengan Noah di tengah. Salah satu keinginan Jarvis selama ini dapat terwujud sekarang.
“Besok aku ingin mengajakmu dan Noah ke suatu tempat sehabis Noah pulang sekolah.” ucap Jarvis.
“Kemana itu?”
“Sstt.. tidur. Sudah malam. Kalau tidak bisa tidur biar aku kelonin. Atau pok-pok mau?” ucap Jarvis.
“Aku tidur. Bye!” balas Lindsey.
“Selamat malam, Lindsey.” ucap Jarvis.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih