
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
20.00
Lindsey sedang menemani Noah tertidur di kamarnya.
“Om Apis kenapa belum pulang, Mi?” tanya Noah.
“Oh, om Jarvis sedang banyak kerjaan di kantornya.” jawab Lindsey.
“Noah, menurut Noah, bagaimana kalau Mommy dan Daddy berpisah?” tanya Lindsey.
“Berpisah?”
“Iya. Tapi kita tetap menjadi mama dan papanya Noah.” ucap Lindsey.
“Oh, tidak apa-apa.” balas Noah.
“Mommy, menurut Mommy, om Apis itu orangnya gimana?” Noah bergantian bertanya.
“Om Jarvis? Hm, om Jarvis baik, sayang sama Noah, perhatian sama Noah.” jawab Lindsey.
“Menurut Noah, om Apis lebih dari itu. Kalau sama Daddy, Noah bercerita dan Daddy mendengarkan Noah. Tapi kalau sama om Apis, om Apis selalu bertanya dulu ke Noah ‘Bagaimana sekolahnya hari ini?’ baru deh Noah cerita.” ucap Noah.
“Hm...” Lindsey berpikir sejenak.
“Mommy tidak mengerti?” tanya Noah.
“Sebentar, Mommy pikir dulu, ya.” jawab Lindsey.
“Maksudnya Noah tuh, ya, kalau Daddy itu mungkin saja pura-pura mendengarkan cerita Noah, tapi om Apis itu sudah pasti mendengarkan Noah karena penasaran ingin tahu loh, Miiiii... Om Apis juga membelikan Noah buah kelengkeng karena Noah bilang Noah tidak pernah melihat.” balas Noah.
“Noah, Noah diajarkan siapa bicara seperti itu? Kok sudah seperti orang dewasa saja, sih?” tanya Lindsey.
“Ih, Noah ’kan memang sudah besar. Sebentar lagi Noah mau punya adik.” jawab Noah.
“Kata siapa?” tanya Lindsey.
“Kata om Apis tadi pagi. Mommy juga bilang Tuhan itu mendengar doa semua orang. Semalam Noah sudah berdoa mau punya adik. Malam ini Noah mau berdoa lagi.” jawab Noah.
Glek!
Lindsey menelan ludahnya.
“Mommy..” ucap Noah.
“Apa, Noah?”
“Kenapa hidung Noah mirip seperti hidung om Apis? Mommy dan Daddy tidak begitu suka buah tetapi Noah suka semua buah, om Apis juga suka semua buah yang dipotong, dibuang kulit dan bijinya. Om Apis juga suka menjilat es krim yang ada di tutupnya seperti Noah. Kenapa om Apis memandikan Noah, memakaikan sepatu untuk Noah, dan selalu menjemput Noah pulang sekolah tepat waktu padahal om Apis bekerja?”
“Noah..”
__ADS_1
“Kata Mommy om Apis sayang sama Noah, perhatian sama Noah, kenapa? Kita kan baru bertemu. Kenapa om Apis tahu Mommy suka steak salmon?”
Bahkan Noah bisa merasakannya.. batin Lindsey.
“Noah.. maafin Mommy, ya.. Karena sudah memisahkan Noah sama om Jarvis. Om Jarvis itu papanya Noah. Karena Mommy pindah ke rumah kita yang dekat pantai, Mommy melahirkan Noah di sana. Sedangkan om Jarvis di sini. Mommy, Daddy, om Piter, om Luven, aunty Katie tidak ingin Noah tumbuh besar tanpa seorang papa, jadi Daddy menjadi papanya Noah.”
“Jadi, om Apis itu papanya Noah?”
“Iya, Noah.”
Cklek. Jarvis membuka pintu kamar Noah.
“Om Apis!” Noah segera turun dari ranjang dan berlari ke arah Jarvis.
Jarvis menggendong Noah. “‘Papa’. Panggil om Apis ‘papa’ sekarang.”
“Papa.” ucap Noah.
“Iya, Noah.”
Jarvis tersenyum, matanya berkaca-kaca. Tidak pernah dia merasakan rasanya memiliki keluarga dan hidupnya selengkap ini.
21.30
“Papa, Noah jadi punya adik ’kan?” tanya Noah.
“Tidur, Noah. Sudah malam.” ucap Lindsey.
“Jadi, dong. Noah mau berapa?” jawab Jarvis.
“Dua? Atau tiga?” Noah menjawab dengan ragu-ragu.
Selepas berbicara panjang, akhirnya Noah tertidur juga. Jarvis dan Lindsey keluar dari kamar Noah.
“Lindsey, aku minta maaf. Aku masih harus bekerja.” ucap Jarvis selepas menutup rapat pintu kamar Noah.
“Selarut ini?” tanya Lindsey.
“Iya.”
“Pekerjaanmu pasti menumpuk karena beberapa hari ini fokus mendekati Noah.” ucap Lindsey.
Jarvis mengangguk. “Aku harus bekerja keras. Karena Noah menagih tiga orang adik.”
“Jarvis!”
“Jangan kencang-kencang. Nanti Noah kebangun dan malah ingin menyaksikan proses mencetak adiknya.” ucap Jarvis.
“Kamu tuh benar-benar, ya!”
“Selamat, ya. Konon katanya tidak ada yang bisa melepaskan ikatan keluarga. Aku senang kalian bersatu kembali. Jangan lupa untuk menyelesaikan pernikahan kalian yang sebelumnya.” ucap Katie yang menghampiri mereka di depan kamar Noah.
“Oh ya kapan mereka bertiga pulang?” tanya Jarvis.
“Mereka sudah di pesawat. Tunggu saja. Mungkin besok sore sampai.” jawab Katie.
__ADS_1
07.00
“Noah mau mandinya sama papa Noah!”
Pagi-pagi bocah itu sudah membuat kehebohan tidak mau mandi kalau bukan Jarvis yang memandikannya. Padahal 30 menit lagi dia sudah harus ke sekolah.
“Tapi papa masih tidur. Papa masih capek karena pekerjaannya banyak, Noah. Semalam Noah tidak ingat papa pulangnya terlambat karena pekerjaannya banyak?” Lindsey terus membujuk Noah.
“Pokoknya Noah mau mandi sama papa, Mommy! Mandi sama papa lebih seru! Karena main tembak-tembakan. Kalau sama Mommy pasti Noah dimarahi.” ucap Noah.
“Noah kenapa?” tanya Katie yang masuk ke kamar Noah.
“Tahu, tuh. Maunya mandi sama Jarvis.” jawab Lindsey.
“Uluh uluuh.. manjanya sama papanya. Noah, nanti terlambat sekolah, loh. Ayo buruan mandi. Nih, aunty Katie saja sudah mandi.” ucap Katie.
“Tidak mau. Aku cuma mau mandi sama papa!” Noah melipat tangannya di dada dan membuang wajahnya.
Alih-alih kesal, Noah malah semakin menggemaskan.
“Iya, iya sama papa.” Jarvis masuk ke kamar Noah.
Kehebohan anak itu berhasil membuat semuanya masuk ke kamarnya.
“Maaf ya papa baru bangun. Semalam papa bekerja keras untuk me—” Lindsey segera menutup mulut Jarvis.
“Untuk mencari nafkah? Apa yang salah?” ucap Jarvis lagi.
“Sudah, sana mandikan Noah. Jangan lama-lama. Sebentar lagi terlambat ke sekolah. Aku tunggu di bawah.” balas Lindsey lalu keluar dari kamar.
“Gimana semalam? Kerjaannya lancar?” tanya Katie.
“Lancar dong. Noah, yuk mandi.”
“Noah, kita main tembak-tembakkannya sebentar saja, ya. Sebentar lagi Noah terlambat. Noah juga belum sarapan, ‘kan?” kata Jarvis sambil menyabuni tubuh Noah.
“Ok, pa.”
“Noah nanti harus minta maaf, ya, sama Mommy. Noah tahu ‘karena apa?” ucap Jarvis.
“Karena Noah tidak mau mandi sama Mommy.” jawab Noah.
“Iya, itu salah satunya. Tapi yang paling penting, Noah sudah membuat Mommy sedih.” balas Jarvis.
“Tapi Mommy tadi tidak menangis kok, pa.” ucap Noah.
“Noah pernah dimarahi Mommy?” tanya Jarvis.
“Tidak pernah. Tapi Noah pernah melihat Mommy kesal.” jawab Noah.
“Nah, seperti itu. Mommy tidak mungkin memarahi Noah meskipun Mommy kesal sama Noah. Jadi, kalau Mommy sedih, Mommy tidak mungkin menangis di depan Noah. Tapi Noah harus tahu kapan Mommy kesal, kapan Mommy sedih.” balas Jarvis.
Setelah selesai mandi, Noah turun dengan seragam yang rapi dan tas dipunggungnya. Diikuti Jarvis di belakangnya.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih