Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Menggenggam Erat


__ADS_3

halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Cukup, Jarvis.”


“Aku salah. Aku tidak bilang padamu soal kehamilanku dan aku juga tidak bisa menjaga janinku sendiri dengan baik. Aku memang salah. Aku tahu. Hiks... Hiks..”


Tetesan air mata kembali jatuh mengalir membasahi pipi Lindsey.


“Tadi kamu bertanya sebenci itukah aku padamu? Tidak, Jarvis. Aku sama sekali tidak membencimu. Aku lebih membenci diriku sendiri yang tidak bisa menjaga kedua janinku dengan baik!” Lindsey bangkit dari duduknya.


“Jika kedatanganmu bermaksud untuk menyalahkanku, lebih baik kamu tidak usah datang. Karena aku dengan jelas sudah mengetahui dimana letak kesalahanku.” ucap Lindsey kemudian pergi meninggalkan taman dan seisinya.


“Lindsey... Arghh..” Jarvis mengacak-acak rambutnya. Kesalahpahaman kembali terjadi. Maksud kedatangan Jarvis sama sekali bukan untuk menyalahkan Lindsey. Seketika dia bertanya kepada dirinya sendiri atas apa yang telah dia ucapkan pada Lindsey tadi.


Lindsey kembali ke kamarnya. Kapten dan Piter jelas melihat telah terjadi pertengkaran di antara 2 manusia itu meski mereka tidak bisa mendengarnya. Tampak juga raut wajah Lindsey yang kembali sedih. Berbeda dengan ketika bersama Kapten dan Piter tadi.


“Hadeh... Kalau tidak bisa membahagiakan setidaknya jangan membuat sedih, dong!” ucap Piter pelan yang hanya bisa didengar oleh Kapten.


“Linds, main PS, yuk!” ajak Piter yang berinisiatif untuk menghibur Lindsey.


Kamar inap Lindsey memiliki fasilitas TV pribadi sehingga Piter membawakan konsol game PS5 mengingat Lindsey sangat suka bermain game.


“Tidak, ah. Kalian main saja berdua. Aku akan nonton kalian dari ranjang.” balas Lindsey.


“Ah, baiklah. Yuk, Kapt!” Piter mengajak Kapten bermain PS5.


Lindsey pun menonton permainan mereka di televisi.


“Kapt, kapt, kapt, please! Please, Kapt!” ucap Piter greget saat Kapten sedang membawa bola menuju gawang. Karena Piter adalah musuhnya, tentu dia tidak ingin Kapten berhasil mencetak gol.


“Arghhh!!!” seru Piter saat Kapten berhasil mencetak gol. Jelas Piter telah kebobolan.


Bergantian Piter yang kini membawa bola dan Kapten selalu gagal merebut bola itu. Rupanya Lindsey ikutan greget melihat Kapten yang tidak kunjung berhasil merebut bola. Alhasil, Lindsey turun dari ranjangnya dan menghampiri mereka yang sedang duduk di sofa.


“Sini lah, Kapt! Biar aku saja!” Lindsey merebut konsol game yang berada di tangan Kapten.


Kini Lindsey dan Piter yang bermain bersama.


“Gollll!!!!” Lindsey melompat kegirangan dan Kapten mengangkat, mengayunkan tubuhnya saat berhasil mencetak gol.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dan mengejutkan mereka.


“Wah, lagi main ya... Sudah makan malam belum?” tanya Katie.


“Belum dong!” Piter bangkit dari duduknya dan mencopet bungkusan makanan yang dipegang Katie.

__ADS_1


“Makan apa kita malam ini? Wah! Pecel ayam! Lets go, guys!” ajak Piter.


“Cuci tangan dulu!” seru Kapten.


Makan pecel ayam memang tidak afdol jika memakai sendok. Karena tahu mereka akan makan pakai tangan, Kapten menyuruh mereka untuk cuci tangan terlebih dahulu.


“Selamat makan semua!”


...****************...


Setelah selesai makan..


Jam 20.00


“Uh, kenyangnya.. Buurrrpp...” ucap Piter diakhiri dengan bersendawa.


“Oh, ya. Mana titipan martabakku?” tanya Lindsey.


Katie menepuk jidatnya. “Aduh! Lupa! Maaf, ya!”


“Memangnya kamu belum kenyang, Lindsey?” tanya Kapten.


“Kenyang, sih...” jawab Lindsey.


“Ya, sudah. Besok kan kamu pulang, kita pesta martabak di rumah, yaaa....” ucap Kapten.


“Kapt dan Piter pulang saja. Biar gantian aku yang menemani Lindsey di sini.” ucap Katie.


“Eh, kamu saja yang pulang. Kamu kan sudah seharian kerja. Pasti capek, kan, tuh. Aku dan Kapten seharian hanya bermain.” balas Piter.


“Iya. Kamu saja yang pulang.” ucap Kapten.


“Tidak apa-apa. Aku ingin menemani Lindsey di sini.” balas Katie.


“Sudah, sudah, sudah! Mending kalian semuanya saja yang pulang! Aku tidak perlu ditemani!” sahut Lindsey.


“Eh, jangan! Ya, sudah. Katie saja yang menemani di sini. Aku dan Piter pulang kalau begitu.” balas Kapten.


“Ya, sana.”


“Sampai jumpa. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, ya.” ucap Kapten.


“Linds, jangan biarkan Katie tidur di ranjangmu, ya. Nanti bisa-bisa kamu digusur sama dia.” sahut Piter.


“Dih! Siapa juga yang mau tidur di ranjang Lindsey! Kapt, cepat bawa manusia ini keluar dari sini!” balas Katie.


“Kita pulang, ya.” Kapten menyeret Piter untuk ikut bersamanya keluar dari kamar.

__ADS_1


“Akhirnya pulang juga mereka. Mau nonton TV?” tanya Katie.


Lindsey mengangguk mau. Katie mengambil remote TV dan menyalakan TV. Kemudian dia mencari saluran TV dengan acara yang menarik. Akhirnya terpilihlah sebuah saluran dengan acara drama.


Lindsey dan Katie menonton dengan seksama. Lindsey menonton dari ranjang pasiennya sedangkan Katie dari sofa.


Jam 22.00


Setelah beberapa jam menonton, Lindsey tertidur di ranjangnya. Katie menyadari saat drama tersebut telah berakhir. Dia pun mematikan TV dan menghampiri Lindsey.


Ditariknyalah selimut untuk menutupi tubuh Lindsey. Katie juga membenarkan posisi tidur Lindsey yang terlihat kurang nyaman. Setelah itu, Katie mematikan lampu di kamar dan keluar dari kamar.


“Dia sudah tertidur.” ucap Katie kepada seseorang.


“Baiklah. Aku tidak akan lama.” balas orang itu lalu masuk ke kamar Lindsey.


Dan orang itu tidak lain adalah Jarvis. Dia bersekongkol dengan Katie agar bisa bertemu Lindsey meski sudah tertidur.


Maafkan aku, Lindsey. Aku tahu saat ini kamu pasti membutuhkan Jarvis. batin Katie.


Jarvis membuka pintu dan masuk ke dalam kemudian menutupnya dengan penuh kehati-hatian agar Lindsey tidak terbangun.


Perlahan Jarvis menaruh parsel buah, bunga dan martabak di atas meja di kamar Lindsey. Semuanya itu dia bawa diperuntukkan untuk Lindsey. Kemudian dia menghampiri ranjang tempat dimana Lindsey tertidur dibalutkan selimut tebal.


Jarvis memilih untuk duduk di kursi yang berada di sisi ranjang, menatap Lindsey sepuasnya dengan penuh kasih. Sudah beberapa malam dia habiskan tanpa melihat wajah Lindsey dan dia ingin menggantikan malam-malam itu sekarang.


Jarvis meraih sebelah tangan Lindsey yang memeluk selimut. Tanpa ragu, digenggamnyalah dengan erat tangan Lindsey itu sekaligus menghangatkan tangan Lindsey yang dingin karena berada di ruangan ber-AC.


Maaf...


Beribu-ribu kali kata itu diucapkan Jarvis dalam hatinya. Lidahnya terasa kaku, tenggorokannya tercekat, bibirnya mengatup rapat saat ingin mengucapkan kata itu secara langsung.


Tanpa sadar, Jarvis tertidur dengan meletakkan kepalanya di sisi ranjang Lindsey sambil tangannya menggenggam erat tangan Lindsey.


...****************...


Jam 03.00


Setelah tertidur cukup lama dengan menggenggam tangan Lindsey, Jarvis terbangun dari tidurnya, dia kembali memandangi wajah yang sangat dirindukan. Tidak lama, Jarvis akhirnya mengakhiri kegiatannya. Jarvis memasukkan tangan Lindsey ke dalam selimut, mengatur selimut sedemikian rupa agar tubuh Lindsey tertutup dan hangat. Dan diakhir, Jarvis mengusap kening Lindsey sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana.


“Lekas pulih, Sayang. Aku akan segera menemuimu lagi.” ucap Jarvis dengan pelan.


Kemudian Jarvis keluar dari kamar dengan membuka dan menutup pintu secara berhati-hati dan pergi meninggalkan rumah sakit.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2