Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Kembali


__ADS_3

halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Om Lexis menulis surat itu tepat di usiaku yang menginjak 25 tahun, 10 tahun sejak om Lexis membawaku keluar dari panti asuhan. Aku tidak pernah merasa ada yang spesial dengan hari ulang tahunku, sampai om Lexis mengucapkan selamat ulang tahun untukku melalui surat itu. Dan hari dimana om Lexis menulis surat itu, menjadi hari terakhir om Lexis hidup di dunia.


Sedih, benci, dan bahagia bercampur menjadi satu. Aku semakin membenci Jarvis atas apa yang telah dia perbuat pada om Lexis—pada ayahku. Ayah yang aku sayangi seumur hidupku.


Di sisi lain aku juga bahagia karena mengetahui bahwa om Lexis ternyata adalah ayahku. Ingin aku ucapkan terima kasih karena tidak pernah melupakanku, sudah menjemputku kembali dari panti, dan.. sudah mengaku kalau dia ayahku—aku anaknya. Itu sebabnya aku ingin kembali ke Jakarta, menemui om Lexis setelah membaca surat itu, mengizinkan om Lexis menjadi ayahku. Karena memang itu impianku sedari dulu.


Selain itu, jika kalian bertanya-tanya apakah tidak ada rasa bersalah dan kasihan terhadap Jarvis, kali ini aku akan menjawab tidak. Atas perbuatan kejamnya, menutup mata dan telinganya terhadap penderitaan yang korban rasakan, kebahagiaan korban dan keluarga yang direnggut, dan juga atas kematian om Lexis, aku sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah aku perbuat pada Jarvis.


Rasanya tidak adil sekali jika aku harus kehilangan ayah kandungku, sedangkan pelakunya hidup bahagia di atas tumpukan hartanya. Aku yakin—meski tidak sepenuhnya, kalian semua paham, rasa sakit yang Jarvis rasakan ketika kehilangan seluruh harta tidak sepadan dengan rasa sakit yang: aku rasakan ketika kehilangan om Lexis, para korban yang kehilangan bagian tubuhnya, keluarga yang ditinggalkan korban yang meninggal. Harta bisa dicari, tapi nyawa dan anggota tubuh yang cacat tidak bisa. Belum lagi ditambah dengan kebahagiaan yang pergi dan mental para korban yang terguncang, rasa sakit yang kami rasakan—tidak dapat dibayar dengan apapun.


“Kalau kamu mau kembali ke Jakarta, aku ikut!” ucap Luven.


“Aku juga! Mana bisa aku biarkan kamu kembali sendiri.” sahut Kapten.


“Lalu bagaimana dengan Piter?” tanyaku. Karena kami sudah terbiasa bersama-sama dimanapun kami berada, tidak mungkin jika kami meninggalkan Piter sendirian di LA.


“Aku juga ikut!” Tiba-tiba Piter masuk ke dalam rumah sehabis pulang kuliah.


“OOMM!” Noah langsung kegirangan dan berlari ke arah Piter.


Noah langsung berada di dalam gendongan Piter setelah satu kali angkatan.


“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Kapten.


“Memangnya kalian berniat menetap di Jakarta? Tidak, ’kan? Lagi pula ujianku sudah selesai dan aku sudah libur pergantian semester. Anggap saja kita ke Jakarta untuk berlibur. Ya ’kan, Noah? Noah mau liburan?” jawab Piter dengan entengnya. Enteng sekali Piter bicara, apakah dia tidak tahu bahwa tiket pesawat sedang mahal?


“MAU!” jawab Noah dengan penuh semangat.


“Kalau semuanya ikut ke Jakarta...” Niatku membicarakan soal biaya yang akan kita keluarkan untuk tiket pesawat, namun Luven tiba-tiba menyeletuk.

__ADS_1


“Ya sudah, malam ini kan bayaran kita atas klien kemarin akan turun. Besok kita pesan tiket pesawatnya.” ucap Luven, seolah mengerti maksudku.


“Benar. Malam ini bayaran kita akan turun $120.000 dan dari klien sebelumnya kita masih memiliki $50.000. Jika ditukar ke rupiah itu banyak sekali.” tambah Kapten.


“Lagi pula kita tidak akan menetap selamanya di Jakarta. Ya ’kan, Noah?” sahut Piter.


Noah malah mengangguk.


“Sekalian kita bertemu Katie. Sudah lama aku tidak mendengar ocehan dari congornya yang berisik itu.” ucap Piter.


Noah tertawa, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Piter.


Malamnya, kami semua melakukan panggilan video dengan Katie. Aku yang memulainya. Awalnya aku ingin memberitahu bahwa kami semua akan ke Jakarta, namun para laki-laki dewasa yang berada di sampingku menyuryg untuk tetap diam. Agar kedatangan kami menjadi kejutan dan membuat Katie menangis kejer.


Tetapi kami lupa berkompromi dengan laki-laki yang kecil.


“Noah, kangen aunty tidak? Aunty sudah kangen sekali sama kamu, tahu!” ucap Katie.


“Kangen ontiiii..” balas Noah.


“Besok ontiii.” Dengan polosnya anakku menjawab.


“Hah? Besok? Yang benar? Kalian semua akan ke Jakarta besok?” tanya Katie yang langsung menyerbu kami.


Saat itu aku memilih untuk diam saja, membiarkan para laki-laki dewasa yang menanganinya.


“Ah, kamu kan tahu Noah masih kecil. Masih 4 tahun lebih dikit. Bicaranya masih ngasal.” ucap Luven.


“Noah, sudah malam. Bobo yuk sama om?” Piter langsung menggendong Noah.


“Sama om?” tanya Noah.


“Iya, yuk!” Piter langsung mengamankan Noah dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Meski masih kecil dan terlihat tidak peduli, anak kecil itu dapat merekam kejadian/kata-kata di otaknya. Aku yakin Noah sudah bisa mengerti sedikit-sedikit yang para orang dewasa bicarakan. Maka dari itu kami selalu berhati-hati dalam berbicara mengingat ada Noah bersama kami di rumah ini.

__ADS_1


“Yaampun! padahal aku sudah senang mendengarnya loh! Ayo dong sekali-sekali main ke sini. Jarvis sepertinya sudah tidak dendam lagi dengan kita. Sudah 3 tahun perusahaanku berinvestasi dalam jumlah yang besar di perusahaannya.” ucap Katie.


Hatiku langsung terheran, apakah mungkin dendam itu bisa hilang? Mengingat kami telah menipu dan merampas semua harta miliknya.


“Oh, ya? Perusahaannya masih JM Buildings itu ya?” balas Luven.


“Iya. Karena itu aku jadi sering bertemu Jarvis. Setahun dua kali lah kira-kira. Pertemuan pertama memang tidak baik, dia sampai mencekik leherku.” ucap Katie.


“Jarvis mencekikmu?” tanyaku spontan.


“Iya. Tapi itu sudah lama. Sudah 3 tahun yang lalu saat aku kembali ke Jakarta. Dia langsung menemuiku setelah aku menjadi penerus di perusahaan papaku.” jawab Katie.


“Kok kamu baru cerita sekarang?” tanyaku lagi.


“Sekarang sudah tidak ada masalah kok. Dia langsung memerasku dengan memintaku untuk berinvestasi besar-besaran di mantan tempat kerjaku.” jawab Katie.


Aku menjadi diam. Begitu juga dengan Kapten dan Luven.


“Makanya ayo ke sini. Rumah markas masih sama seperti dulu, kok. Sudah 3 tahun aku tinggal sendiri di rumah markas yang penuh kenangan ini.” ucap Katie kemudian.


Setelah Katie mengatakan hal itu, aku jadi merindukan rumah markas. Rumah yang mencetak banyak sejarah bagi kami, dimana kebahagiaan, canda tawa, kehangatan kekeluargaan yang ada di rumah itu membekas di hati kami.


“Jarvis juga sudah jinak kok. Pernah aku tidak sengaja melihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Lagi pula kalau dia berani macam-macam denganmu, pawangmu kan banyak, Lindsey.” Tidak henti-hentinya Katie menggencarkan kata-kata marketingnya agar kami tertarik untuk ke Jakarta.


Namun ada satu kalimat yang Katie membuatku sedikit terkejut.


“...Pernah aku tidak sengaja melihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya.”


Itu artinya Jarvis sudah menikah. Cukup membuatku terkejut karena rupanya kami bernasib sama. Kami telah menikah dengan pasangan kami masing-masing meski kami pernah memiliki rasa cinta yang sangat deras bagaikan hujan terhadap satu sama lain. Namun sederas-derasnya hujan, pasti akan berhenti juga, ’kan? Dan hidup harus terus berjalan, bukan?


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2