Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Ruang Interogasi


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Selamat membaca 🤗🤗


Lindsey pun ikut mengintili Rivan ke kejaksaan. Bahkan hingga ke ruang interogasi. Pasalnya, sesampainya di kejaksaan, Rivan langsung membawa Ferdi ke ruang interogasi.


“Et! Pengacara Lindsey ngapain mengikuti saya sampai ke sini?” Rivan menghalangi Lindsey agar tidak ikut masuk ke ruang interogasi.


“Saya ingin segera menemui Ferdi, lah! Minggir.” balas Lindsey. Lindsey berusaha masuk ke dalam untuk menemui Ferdi. Namun Rivan mencegatnya.


“Et! Tidak bisa. Saat ini Ferdi di bawah pengawasan kami. Kami ingin segera menginterogasi dia. Kalau pengacara Lindsey ingin bertemu Ferdi, tunggu sampai kami selesai menginterogasi.” ucap Rivan.


“Hey, anda lupa siapa yang sudah menemukan nark*ba itu?!” balas Lindsey.


“Tetap saja tidak bisa. Tunggu di sini, ya.” ucap Rivan kemudian menaruh sebungkus lolipop di tangan Lindsey. Lalu dia langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu agar Lindsey tidak bisa masuk.


Lindsey menghembuskan napas kasar. “Jaksa itu! Dan apa pula ini?!” Lindsey melihat sebungkus lolipop yang berada di tangannya.


Triririring.. Ponsel Lindsey berbunyi.


Luven is calling...


“Ya, halo?”


“LINDSEY KAMU DARIMANA SAJA KENAPA TELEPONKU DARITADI— ” Suara Luven terdengar kencang sekali dari telepon sampai Lindsey menjauhkan ponselnya dari telinga. Kemudian diusapnyalah telinga itu.


“Aku di kejaksaan.” ucap Lindsey.


“Kembali ke firma sekarang.” balas Luven.


“Aduh, tidak bisa. Aku ingin menemui penyelundup itu.” ucap Lindsey.


“Hey, penyelundup itu bukan urusanmu. Cepat kembali ke firma!” balas Luven.


“Kalau ingin memarahiku lewat telepon saja. Ada yang lebih penting dari firma sekarang. Sudah ya, kututup dulu! Bye...” ucap Lindsey.


“Lind—Linds—apa? Sudah dimatikan?! Matilah. Bagaimana aku menghadapi para petinggi di firma yang memanggil aku dan Lindsey sekarang?” ucap Luven.


Di satu sisi, Luven sedang pusing 7 keliling berada di ruang sidang pendisiplinan, sendirian menghadapi 3 petinggi.


“Dimana pengacara Lindsey? Apa dia tidak bisa datang?” tanya petinggi yang duduk di tengah.


“Maaf, pak. Pengacara Lindsey masih belum sampai.” jawab Luven dengan menundukkan kepala.


“Apa masih lama?” tanya petinggi itu lagi.

__ADS_1


“Sepertinya iya. Dia terjebak macet karena memasuki jam pekerja berangkat kerja.” jawab Luven.


“Baiklah, kita mulai saja. Pengacara Lindsey mendadak menjadi sorotan publik saat ini karena aksi heroiknya memecahkan guci yang terdapat nark*ba di dalamnya.” ucap petinggi yang berada di kursi bagian kiri.


“Iya, betul. Apalagi dia baru bergabung dengan kita dan menjadi pengacara tetap di GDP.” tambah petinggi yang berada di kursi bagian kanan.


“Maafkan saya. Seharusnya saya tidak membiarkan dia—” ucap Luven yang terpotong.


“Loh kok jangan membiarkan? Aksi heroik pengacara Lindsey itu mendapat komentar positif dan menarik perhatian publik. Apalagi sekarang banyak yang mencari siapa pengacara Lindsey dan nama firma hukum kita juga terseret. Kami kebanjiran klien setelah berita itu ditayangkan dan sampai saat ini telepon masuk terus berdatangan.” ucap petinggi yang berada di tengah.


“Hah?”


“Jadi tujuan kami ingin berbicara dengan kalian adalah ingin mengapresiasi anda sebagai mentornya dan pengacara Lindsey yang sudah berani melakukan aksinya tadi. Dan juga, kami meminta penjelasan dari pengacara Lindsey mengapa dia bisa ada di sana. Karena itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Mengungkap tindakan kriminal bukan pekerjaan seorang pengacara.” tambah petinggi di sebelah kanan.


“Soal itu...”


“Kami membutuhkan penjelasan itu tapi jika pengacara Lindsey belum datang, tidak apa-apa. Anda bisa menyuruh pengacara Lindsey mendatangi kami setelah dia sampai di firma. Dan ini ada sedikit hadiah sebagai bentuk apresiasi untuk kalian.” Petinggi yang duduk di sebelah kiri memberikan 2 kotak kepada Luven.


“Sebaiknya kalian juga bersiap-siap untuk menerima puluhan klien secara bersamaan mulai sekarang.” tambah petinggi di bagian kanan.


“Dan satu hal lagi. Setelah kejadian ini, pasti banyak firma hukum lainnya yang mulai melirik pengacara Lindsey dan berusaha menggaetnya. Pengacara Luven harus memastikan pengacara Lindsey tidak akan terpengaruh dan setia pada firma hukum ini.” tambah petinggi yang duduk di tengah.


Kemudian 3 petinggi itu keluar meninggalkan ruangan. Luven pun membuka isi kotak miliknya dan mendapati 3 gepok uang kertas berwarna biru berjajar ke samping. Mulutnya pun langsung ternganga dan langsung cepat-cepat menutup kotak sebelum ada yang melihatnya.


Luven keluar dari ruangan dengan berhati-hati sambil menjaga 2 kotak di pelukannya itu.


“Ada apa lagi sih?” tanya Lindsey yang sewot.


“Serius, Lindsey! Kamu harus segera kembali ke firma sekarang!” jawab Luven.


“Aduh tidak bisa.” balas Lindsey.


“Sumpah, kamu harus lihat ini! Sebentar aku fotokan dulu.” ucap Luven lalu memfoto isi kotak yang baru dia dapat itu dan mengirimkannya ke Lindsey.


“Sudah, tuh! Coba kamu lihat!” ucap Luven.


Lindsey melihat foto yang dikirim Luven. Dan seketika dia langsung menutup mulutnya yang ternganga itu.


“I-ini untukku?” tanya Lindsey.


“Iya! Barusan aku dipanggil para petinggi. Aku pikir akan kena marah, tapi malah diberikan ini, Linds. Ada jatah untukmu juga.” jawab Luven.


“Wah! Aku akan segera kembali tapi tidak sekarang. Jagakan kotak itu untukku!” balas Lindsey lalu menutup telepon.


Dia masih setia menunggu di depan ruang interogasi. 1 jam, 2 jam, 3 jam berlalu... Dari yang duduk tenang, berjongkok, berdiri, segala macam gaya sudah Lindsey terapkan. Rivan pun akhirnya keluar dari ruang interogasi.


”Kamu sudah gila, ya? 3 jam?” Lindsey mengocehi Rivan.

__ADS_1


“Mulai berbicara santai denganku?” balas Rivan.


“Sebenarnya masih belum selesai. Tapi ini sudah jam makan siang. Aku lapar, Ferdi juga lapar.” sambung Rivan.


“Apa aku sudah bisa bertemu dengan dia?” tanya Lindsey.


“Melihat kegigihanmu menunggu di depan pintu selama 3 jam, aku perbolehkan. Tapi tidak boleh lama.” jawab Rivan.


“Baiklah.” Lindsey langsung masuk ke dalam ruang interogasi sebelum Rivan mempersilahkan.


Lindsey masuk menemui Ferdi dengan tangan yang sudah terborgol duduk di sebuah kursi. Sedangkan Rivan mengawasi dari ruangan lain melalui cermin satu arah, sedangkan Lindsey dan Ferdi hanya dapat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin di ruang interogasi.


Rivan mematikan kamera CCTV di dalam ruang interogasi.


Saat yang Lindsey tunggu-tunggu sudah tiba. Duduk berhadapan dengan Ferdi. Sambil menghisapp lolipop yang diberikan Rivan tadi.


“Siapa anda?” tanya Ferdi.


“Cobalah berpikir terlebih dahulu.” jawab Lindsey.


“Kenapa anda bisa datang dan mengetahui tentang guci itu?” tanya Ferdi lagi.


“Kenapa? Anda kaget, ya?” balas Lindsey.


“Siapa anda sebenarnya?!” tanya Ferdi meninggi.


Lindsey memperlihatkan kartu tanda pengenalnya sebagai pengacara di GDP.


“Kita langsung saja. Anda yang menaruh nark*ba itu di sebuah kotak jam tangan, ’kan?” tanya Lindsey.


“Wanita gila. Apa yang kamu bicarakan?” ucap Ferdi.


“Jadi bukan anda?” tanya Lindsey.


“Bukan.” jawab Ferdi.


Lindsey mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Halo? Masukkan 5 kilogram lagi ke dalam daftar barang bukti. Supaya hukumannya berubah menjadi seumur hidup.” ucap Lindsey di telepon.


“Wanita gila!” Ferdi bangkit berdiri lalu melempar ponsel Lindsey dengan kedua tangannya. Dan mendapati ponsel itu ternyata berlayar hitam saja. Lindsey pura-pura menelepon.


“Saya hanya melakukan apa yang anda lakukan. Bagaimana rasanya dijebak?” ucap Lindsey.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2