Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Jam 2 Pagi


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Baru saja sekitar 10 menit berjalan saat Lindsey duduk tenang sambil membaca, suara ketukan lembut terdengar dari luar ruangannya. Kali ini bukan Luven, karena ketukan Luven sangat barbar dan grasak grusuk.


Lindsey menekan sebuah tombol di meja kerjanya untuk membuka pintu ruangannya secara otomatis. Dan di balik pintu terdapatlah Anna dengan setumpuk berkas di lengannya.


“Maaf, pengacara, Lindsey. Ini ada berkas baru untuk anda.” ucap Anna.


Hah? Jadi ada 4 total berkasku?! batin Lindsey.


“Kalau begitu, saya permisi dulu.” pamit Anna lalu keluar dari ruangan Lindsey.


1 jam kemudian...


Lagi-lagi, Anna mengetuk pintu ruangan Lindsey di saat Lindsey sedang fokus membaca berkasnya, mencari tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengurus permasalahan kliennya. Dan lagi-lagi juga Anna datang dengan membawa 3 tumpuk berkas.


Tubuh Lindsey mulai melemas seketika melihat berkas yang dibawakan Anna.


“Lagi? 3 sekaligus?” tanya Lindsey.


“Oh, Pengacara Lindsey, hanya ada 2 klien baru dan ini berkasnya. 1 nya lagi ini milik pengacara Luven. Kalau begitu saya permisi.” ucap Anna lalu pergi setelah meninggalkan 2 tumpuk berkas baru.


3 jam kemudian..


Lindsey sudah tidak terkejut lagi saat Anna datang ke ruangannya dengan membawa berapapun itu berkas yang akan diberikan untuknya.


“4 berkas untuk pengacara Lindsey. Terima kasih, saya permisi dulu.” ucap Anna.


Jadi sekarang total klien yang mendaftarkan diri untuk Lindsey ada 10. Namun Lindsey ingat sekali perkataan Luven bahwa dalam penerimaan klien itu harus berdasarkan hati nurani dan tidak boleh berdasarkan uang. Maka dari itu sekarang Lindsey berusaha menyeleksi, meminimalkan klien yang akan dia terima atas dasar hati nurani. *Bukan karena dia malas*


Setelah waktu tepat menunjukkan jam 7 malam, Lindsey keluar dari ruangannya, meninggalkan semua hal yang menjadi penyebab kepala pening dan stressnya, lalu kembali pulang. Berbeda dengan Luven yang jam pulangnya adalah jam 11 malam.


Lindsey pulang ke rumah markas untuk makan malam, lalu kembali ke apartemen untuk tidur. Karena jarak apartemen ke firma lebih dekat dari rumah markas ke firma. Dan di esok hari, Lindsey memiliki jadwal bertemu klien di pagi hari, jadi dia tidak mau terlambat ke firma.


Sudah dikatakan bahwa Lindsey akan memberikan seluruh malamnya untuknya, Jarvis juga datang ke apartemen Lindsey untuk menemui wanitanya. Setiap ada waktu sedikit, pasti Jarvis pergi menemui wanita itu, terlebih Lindsey sudah memperingatkan betapa minimnya waktu mereka untuk bersama sekarang ini.


Dan mereka melakukan aktivitas yang di malam hari bersama. Yaitu tidur. Dengan sifat manjanya Jarvis yang mengatakan “tidak bisa tidur jika tidak ada Lindsey”, dia tidur dengan memeluk perut Lindsey dan membenamkan wajahnya di pundak wanita kesayangannya itu.


Begitu nyaman posisinya hingga Jarvis tertidur dengan pulas bersama Lindsey hingga suatu ketika..


Jam 02.00

__ADS_1


Seseorang membunyikan bel apartemen Lindsey secara terus menerus, menggedar-gedor pintu apartemen dan terus memanggil nama Lindsey. Hal itu membuat Lindsey dan Jarvis terbangun dari tidurnya dengan keadaan yang terkejut.


“Siapa sih itu? Tidak sopan sekali!” ucap Jarvis dengan mata yang masih menyipit karena terpaksa bangun.


“Tidak tahu. Biar aku lihat dulu.” balas Lindsey lalu keluar dari kamar.


Lalu Lindsey melihat dari monitor LCD dari dalam apartemen yang ketika seseorang menekan tombol bel dari luar ruangan, monitor dalam ruangan akan menyala, berdering dan menampilkan video di luar. Dan ternyata yang menyebabkan kegaduhan di subuh hari yang tenang itu ialah Luven.


Lindsey kemudian menekan tombol pada monitor untuk membuka kunci dan mempersilahkan Luven yang sedang di luar untuk masuk.


”Linds! Tolong, Linds! Tolong aku!” ucap Luven dengan nada yang bergetar dan ketakutan.


Lindsey mengernyitkan dahinya. “Apaan, sih?” tanya Lindsey kebingungan.


“Linds, seseoang kembali dijebak atas nark*ba!” jawab Luven.


“Apa?!”


“Kamu harus ikut aku sekarang. Ganti bajumu.” ucap Luven.


“I-iya tapi sekarang?!” tanya Lindsey.


“Iya! Cepat, Lindsey. Kita tidak punya waktu banyak!” jawab Luven.


“Tapi siapa?!” tanya Lindsey.


Lindsey pun kembali ke kamarnya untuk mengganti gaun tidurnya dengan pakaian saat mau bekerja yang sudah dia bawa dari rumah markas.


“Kamu harus pergi? Kemana? Yang benar saja?! Ini jam 2 pagi, Lindsey.” ucap Jarvis saat Lindsey mengganti pakaiannya.


“Ada seseorang yang dijebak juga sepertimu.” balas Lindsey.


“Itu siapa yang datang dengan gedar-gedor di luar?” tanya Jarvis.


“Mentorku. Aku pergi dulu, ya. Sampai nanti.” jawab Lindsey sembari pamit.


“Men-mentor?!” Lindsey keburu pergi. “Lindsey, hati-hati!” ucap Jarvis.


Di jalan, mobil yang disetir Luven melaju dengan kecepatan tinggi,


“Luven, kita mau kemana?” tanya Lindsey.


“Ke kejaksaan.” jawab Luven.

__ADS_1


“Kejaksaan lagi? Aku hampir muak ke sana. Kenapa kita harus ke sana?” balas Lindsey.


“Dia sudah dibawa ke ruang interogasi.” jawab Luven.


“Lalu kenapa tidak kamu saja yang menjadi pengacaranya? Rekam jejak kamu kan lebih banyak dariku.” balas Lindsey.


“Aku membutuhkan partner. Aku tidak bisa membela dia seorang diri.” ucap Luven.


“Memangnya siapa orang itu? Kenapa tidak cukup dirimu?” tanya Lindsey lagi.


“Karena dia seorang anggota dewan.” jawab Luven.”


Lindsey terdiam dan tidak bertanya lagi. Sepertinya Lindsey tahu siapa anggota dewan yang membuat Luven mendatangi apartemen dan membawanya pergi menemui orang itu di jam 2 dini hari.


Sesampainya di ruang kejaksaan...


“Pengacara Lindsey? Kita bertemu lagi.” ucap Rivan.


“Anda masih bekerja di jam sekarang ini?” tanya Lindsey.


“Anda juga.” jawab Rivan.


Lindsey melihat ke arah kaca yang menampilkan seorang anggota dewan yang duduk di kursi dengan ruangan yang gelap. Lindsey masuk ke ruangan itu bersama Luven dan duduk berhadapan dengan anggota dewan itu. Dan anggota dewan itu tidak lain adalah ayahnya Luven, Roland Gourman.


“Kejaksaan tiba-tiba datang ke rumah dengan surat perintah penggeledahan lalu menggeledah rumah papa dan ditemukan ini di kamar papa dan mama.” Luven menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Foto yang menunjukkan gambar sebuah kotak yang berisi 15 plastik bubuk berwarna putih dengan masing-masing berat sebesar 1 kg.


“Total 15 kg.” ucap Luven kemudian.


“Dan ini semua bukan milik papa. Ada pihak yang menjebak papa.” tambah Luven.


“Apa ada pekerja di rumah om yang om curigai? Melihat tempat ditemukannya kotak ada di kamar, sepertinya ini ulah orang di dalam rumah.” ucap Lindsey.


“Tidak ada yang mencurigakan sampai saat ini. Namun om sudah menyuruh semua pekerja untuk pulang dan tante pergi ke rumah orangtuanya.” balas Roland.


“Apakah ada lawan om atau seseorang yang sedang berseteru dengan om?” tanya Lindsey.


“Kami semua di luar tampak senyum ramah dan saling menyapa tapi tidak tahu di dalam hatinya” jawab Roland.


“Baiklah. Setelah ini aku akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan untuk om. Baru aku akan memikirkan cara untuk membuktikan kalau om dijebak.” ucap Lindsey.


“Tetapi interogasinya belum selesai. Jaksa Rivan masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi.” balas Luven.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2