
“Kita juga harus menaiki kapal pesiar Wonder of the Seas, kapal pesiar terbesar di dunia.” ucap Kapten.
“Ah, tentu saja!” ucap Lindsey.
“Lindsey, jangan lupa kita harus mampir ke Paris. Kita harus ke pusat perbelanjaan barang bermerek kelas atas.” ucap Katie.
“Benar. Kita bisa melakukan dan membeli semua yang kita inginkan dengan harta Jarvis.” balas Lindsey.
“Oh, ya. Sebelum itu, aku akan memberikan sebuah ‘penyemangat’ untuk kalian.” ucap Lindsey lalu mengambil tasnya.
“Apa?”
“Taraaa!” Lindsey mengeluarkan sebuah emas batang yang diberikan Jarvis tadi.
“Oh my God! Lindsey! Emas dengan berat 1000 gram.” Katie menghampiri Lindsey dan mengambil emas itu dari tangan Lindsey.
“Setara dengan 90 juta di tanganmu, Kat.” balas Piter.
“Kamu melakukan simulasi pencurian?” tanya Katie.
“Enak saja. Jarvis memberikan ini padaku. Sebagai gantinya aku harus tutup mulut atas perbuatan Jarvis dan Carlos.” jawab Lindsey.
“Pantas saja..” ucap Piter.
“Kenapa?” tanya Lindsey.
“Apa kamu belum dengar beritanya?” tanya Kapten.
“Berita apa?” balas Lindsey.
Kapten mengambil remote dan menyalakan televisi.
“Breaking news. Dini hari, kejaksaan wilayah XXX berhasil menangkap pelaku pembunuhan yang terjadi pada 2 hari yang lalu di sebuah hotel bintang lima di kawasan XXX. Pelaku berinisal O ini ditangkap di rumah terbengkalai yang diduga sedang bersembunyi. Atas pemeriksaan lebih lanjut, pelaku mengakui atas perbuatannya dan kejaksaan sedang memproses penahanannya. Motif pelaku diduga karena sang korban terus menolak untuk berhubungan se*s. Atas perbuatannya, pelaku akan dituntut 8 tahun penjara. Sekian sekilas info pada pagi hari ini. Selamat beraktivitas dan tetap jaga kesehatan anda.”
“Sshh.. Sudah aku duga Jarvis akan melakukan ini. Aku sudah membodohi Jarvis dengan mengatakan bahwa rekaman CCTV itu dikirim ke emailku secara anonim. Kita tinggal lihat saja apa yang dia lakukan. Paling-paling dia akan menyerang pamannya lagi.” ucap Lindsey.
“Jika klien kita diserang secara terus-menerus, lama-lama klien kita akan kalah. Kamu ingat kan kalau kita ini berada di kubu siapa?” tanya Kapten.
“Aku ingat. Tapi jika kita tarik benangnya, semua berawal dari pamannya Jarvis yang membunuh orangtua Jarvis hanya karena ingin merebut hartanya. Jarvis tidak akan menjadi sekejam sekarang kalau bukan karena pamannya.” jawab Lindsey.
“Ingat. Misi kita bukan mendamaikan mereka. Perselisihan di antara mereka bukan urusan kita. Misi kita hanyalah mengalihkan harta Jarvis ke klien kita.” ucap Kapten.
“Lindsey, biar aku tanya sekali lagi padamu. Kamu bisa melakukannya atau tidak?” tanya Kapten.
“Aku sudah melakukannya sejauh ini. Bukankah sekarang saatnya kita memulai rencana untuk mencuri 3 ton emas Jarvis?” balas Lindsey.
__ADS_1
“Tapi bagaimana caranya? 3 ton itu pasti banyak dan berat sekali.” kata Katie.
“Coba deh kalian pikirkan. Bagaimana cara yang mudah dan masuk akal untuk mencuri 3 ton emas?” tanya Kapten.
“Kita cicil saja. Jadi tidak langsung membawa 3 tonnya.” jawab Piter.
“Tidak. Itu membuang waktu dan tenaga. Belum lagi kalau ketahuan saat pengambilan keberapa?” balas Kapten.
“Hm. Jadi kita harus mengambil semuanya dalam sekali aksi. Untuk mengurangi risiko ketahuan.” ucap Lindsey.
“Betul.” kata Kapten.
“Bagaimana kalau mengambilnya dengan menggunakan truk?” tanya Katie.
“Tapi apa mungkin mengambil 3 ton emas di sekali aksi? Bahkan 24 jam saja rasanya tidak cukup.” sahut Lindsey.
“Dan apakah 1 truk saja cukup? Bagaimana kalau ada beberapa truk memasuki tempat itu? Apa tidak ada yang curiga?” tanya Piter.
“Dari yang aku lihat sih tempat itu sangat sepi dan tidak berpenghuni. Atau karena masih subuh, ya?” balas Lindsey.
“Tidak. Sepertinya itu pulau pribadinya Jarvis. Makanya sepi.” ucap Kapten.
“Jadi cara apa yang akan kita lakukan untuk mengambil emasnya, Kapt?” tanya Piter.
“Jadi...”
“Kita akan mengubah emas itu menjadi uang.” ucap Kapten.
“HAAAHHHH??!!!!”
Ketiga anak geng terkejut mendengar cara yang akan mereka lakukan untuk mencuri emas itu.
“Jarvis harus mengubah emas itu menjadi uang dan memasukkan uangnya ke dalam rekening.”
“Setelah menjadi uang, hanya dengan satu ketikan jari, uang itu akan langsung berpindah ke kita. Bagaimana?” ucap Kapten.
“3 ton emas?! Diuangkan?! Itu terlalu banyak, Kapt.” balas Katie.
“Itu mudah bagi Jarvis. Aku yakin Jarvis juga tidak mungkin membiarkan emas itu tetap di sana selamanya. Dia pasti punya rencana.” jawab Kapten.
“Tinggal bagaimana caranya kita membuat Jarvis mengubah emas itu menjadi uang?” tanya Lindsey.
“Coba kamu pikirkan, Linds, kira-kira apa kelemahan Jarvis. Kita bisa menggunakan kelemahan itu agar Jarvis mengubah emasnya menjadi uang.” sahut Piter.
“Kelemahan Jarvis?” tanya Lindsey.
__ADS_1
“Iya.”
Lindsey mengerutkan dahinya, mengingat-ingat kembali apa kelemahan Jarvis yang diketahuinya. Namun tiba-tiba otak Lindsey kembali memutar kepingan momen ketika masih berada di markas bersama api unggun. Ketika Jarvis mengatakan hal yang membuat hatinya tersentuh.
“Aku tidak takut kehilangan 3 ton emas itu, JM Buildings, aset propertiku, semuanya. Tidak masalah bagiku...”
“...namun ketahuilah, aku hanya takut kehilanganmu...”
“...aku tidak takut semuanya itu pergi dariku...”
“... asal bukan kamu yang pergi dariku.”
Tetapi Lindsey langsung menggeleng-gelengkan kepalanya begitu teringat bahwa Jarvis hanya mengetesnya.
“Barusan aku mengetesmu. Apakah kamu tulus mencintaiku atau tidak.” ucap Jarvis.
Lindsey menghembuskan napas berat. Kekecewaan terlihat di wajahnya karena ternyata kalimat yang Jarvis ucapkan hanya untuk mengetesnya saja. Padahal sudah terdengar sungguhan di telinga Lindsey.
“Bagaimana? Tidak ada?” tanya Piter.
Otak Lindsey kembali teringat sebuah kalimat yang diucapkan Jarvis.
“Linds—Kumohon.. Ini tidak adil bagiku. Mana bisa aku berpisah darimu? Aku mohon kamu pertimbangkan lagi, ya?”
“Tidak mungkin.” ucap Lindsey.
“Hm? Tidak mungkin apa?” tanya Piter.
“Tidak, tidak. Aku tidak tahu apa kelemahan Jarvis. Dan sepertinya kita tidak bisa menggunakan kelemahan Jarvis. Nanti Jarvis bisa mengetahui rencana kita.” jawab Lindsey.
“Memangnya kamu ada cara lain?” tanya Piter.
Knit knit.. knit knit.. knit knit..
Suara dering ponsel hadir di tengah mereka, dengan otomatis menghentikan rapat diskusi penting mereka.
“Sebentar. Klien meneleponku.” ucap Kapten.
Rupanya ponsel Kapten yang berdering. Dan yang meneleponnya adalah pamannya Jarvis. Mereka bertiga langsung menerka-nerka, apa tujuan pamannya Jarvis menelepon Kapten kali ini?
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1