
halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Hubungan mereka seperti hubungan yang saling menguntungkan. Di satu sisi ada sepasang orangtua yang merasa kesepian meski memiliki banyak anak, dan di satu sisi ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua.
Setelah selesai makan siang, Lindsey berkeliling di sekitar ruang tamu sambil menggigit buah apel di tangannya. Lindsey mengamati foto-foto yang terpajang di dinding, hingga di meja tv.
“Ini saat kita ke Jerman untuk menemani abangmu yang kedua mencari universitas. Papa dan mama mencuri waktu untuk liburan.” William menjelaskan kejadian di balik foto yang Lindsey lihat.
“Orang asing kalau melihat ini pasti mengira kalian sedang bulan madu.” balas Lindsey.
“Ah, kamu bisa saja.” ucap William.
“Kalau ini saat abangmu yang pertama mengikuti studi wisata ke pedesaan, papa dan mama juga ikut lalu kita berkebun.” ucap William.
“Kalau yang ini siapa, pa? Rekan kerja papa?” Lindsey bertanya mengenai foto yang lain.
“Iya, itu rekan kerja papa. Tapi dulu. Dia sekarang sudah menjadi anggota dewan.” balas William.
“Dan dia akan menjadi saingan papa di pemilihan presiden nanti. Makan ini, nak. Aaaa...” sahut bu William yang tiba-tiba datang menyuapi anggur untuk Lindsey.
“Oh? Dia mencalonkan diri sebagai presiden juga?” tanya Lindsey.
“Iya... Paslon nomor urut 3. Zoe Todd-Oki.” jawab William.
“Padahal dulu orang ini dan papa berteman baik. Setiap akhir pekan selalu main golf bersama, memancing, bahkan mama ingat sekali saat mau melahirkan abangmu yang kelima, mama diantar supir ke rumah sakit karena papa sedang pergi memancing bareng orang ini. Nih, Aa lagi Sayang..” sahut bu William sambil mengarahkan sebulat anggur ke mulut Lindsey.
Triririring... Ponsel Lindsey berdering.
Papa Luven is calling...
“Sebentar ya, ma, pa.” ucap Lindsey lalu menepi untuk mengangkat telepon.
“Halo, om?”
“Lindsey, om sudah kepikiran sebuah nama.”
“Oh, baik, om! Aku segera ke rumah om.”
Panggilan berakhir.
“Ma, pa, sepertinya aku harus pergi dulu. Tidak perlu mengantarku sampai keluar. Sampai nanti.” pamit Lindsey lalu pergi ke luar.
“Sering-sering datang ke sini, ya, Lindsey!” teriak bu William yang berharap Lindsey masih bisa mendengarnya.
“Iya, ma!” balasan dari Lindsey yang juga berteriak.
Lindsey mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Papanya Luven setelah mendapat telepon singkat darinya.
__ADS_1
“Bagaimana, om?” tanya Lindsey.
“Ada seseorang yang menurut om dia akan merasa diuntungkan dengan kasus yang menimpa om sekarang. Dan bisa jadi dia adalah orang yang sudah menjebak om.” jawab Roland.
“Siapa om?”
Roland membisikkan sebuah nama di telinga Lindsey. Mata Lindsey membulat seketika. “Zoe Todd.”
“Dia adalah seorang anggota dewan dan bekerja di komisi yang sama dengan om. Tapi kami berbeda partai. Dia sedang maju dalam pencalonan presiden. Banyak yang menentang pencalonannya, termasuk partai om.” ucap Roland.
“Tapi kenapa hanya om yang dijebak? Kan banyak yang menentang dia?” tanya Lindsey.
“Yang menentang awalnya sedikit. Sekarang menjadi banyak karena om berhasil mempengaruhi yang lain.” jawab Roland.
“Apa Luven tahu soal ini?” tanya Lindsey.
“Belum. Baru kamu yang tahu.” jawab Roland.
“Baiklah. Aku akan bicara dengan Luven.” balas Lindsey.
Dari kediaman Roland, Lindsey beralih ke rutan untuk menemui Ferdi kembali.
“Kunjunganku tidak akan lama. Aku hanya ingin mengonfirmasi seseorang saja.” ucap Lindsey.
“Orang ini.. dia seorang pengedar sepertimu juga, ’kan?” Lindsey menunjukkan foto Zoe Todd di ponselnya.
“Apa keuntungan yang aku dapatkan jika menjawabnya?” tanya Ferdi.
“Ya. Dia adalah seorang pengedar baru. Baru 7 bulan.” balas Ferdi.
“Siapa namanya?” tanya Lindsey.
“Pengacara Lindsey memiliki fotonya namun tidak tahu namanya? Hahhah—Tunggu, apa pengacara Lindsey tidak percaya dengan saya?” balas Ferdi.
“Jawab saja siapa namanya.” ucap Lindsey.
“Zoe. Namanya Zoe Todd. Dia seorang anggota dewan yang sedang mencalonkan diri. Dia butuh dana untuk kampanye. Maka dari itu dia bergabung ke bisnis kami. Karena bisnis kami memiliki keuntungan yang besar.” balas Ferdi.
Semuanya menjadi masuk akal dan nyambung. batin Lindsey.
“Baiklah. Kembalilah ke tempatmu. Dan buka tutup pelindung benda baru di tempatmu.” ucap Lindsey.
Ferdi kembali ke tempatnya di kamar tahanan. Di sana dia mendapatkan AC yang baru terpasang di kamarnya. Sesuai perintah Lindsey, Ferdi membuka tutup pelindung bodi AC dan menemukan sebungkus plastik kecil berisi bubuk berwarna putih. Dibukalah plastik tersebut dan memasukkan bubuk berwarna putih itu ke dalam mulutnya dengan rakus.
...****************...
Selepas dari rutan, Lindsey mengemudikan mobilnya menuju firma. Dan tempat yang dia datangi pertama kali setelah sampai di firma adalah ruangan Luven.
“Kemungkinan terbesar adalah papamu dijebak oleh orang ini. Zoe Todd, seorang anggota dewan yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden. Dia menjebak papamu karena papamu adalah salah satu dan orang yang terkuat menentang pencalonannya.” ucap Lindsey.
__ADS_1
Luven sedang duduk di sofa dan sedang memperhatikan Lindsey yang sedang berdiri di papan tulis kaca bening berkaki.
“Dia menjebak papaku dengan nark*ba? Gila!” tanya Luven.
“Dia masuk ke dalam dunia pernark*baan sudah 7 bulan dengan tujuan ingin mengumpulkan dan yang besar untuk kampanye.” jawab Lindsey.
“Orang gila. Aku pastikan dia tidak akan menjadi presiden!” balas Luven.
“Untuk itu, yang pertama, kita harus membuktikan kalau papamu dijebak oleh Zoe Todd, dan yang kedua, kita harus membuktikan kalau Zoe Todd terlibat dalam bisnis nark*ba.” ucap Lindsey.
“Tapi kamu yakin atas validitas informasi yang kamu dapat? Kalau Zoe sudah 7 bulan terlibat dengan bisnis nark*ba?” tanya Luven.
“Aku yakin.” jawab Lindsey.
“Baiklah. Aku akan memantau gerak-geriknya Zoe. Dan ada satu hal yang harus aku sampaikan padamu.” balas Luven.
“Apa itu?” tanya Lindsey.
“Aku harus mundur dari pengacara pembela papaku. Jadi, aku percayakan papaku ke kamu.” jawab Luven.
“Kamu sudah gila, ya, Luven?” tanya Lindsey.
“Jadwal persidangan papaku sudah keluar. Dan ternyata bentrok dengan persidangan klienku yang lain.” jawab Luven.
“Tapi, tetap saja—ah! Aku harus membela papamu sendirian di persidangan nanti?” protes Lindsey.
“Iya. Aku pikir kasus klien pertamamu kemarin bisa sampai persidangan, tapi kamu berhasil menyelesaikannya sebelum itu. Jadi anggaplah kasus papaku ini kasus yang pertama kali membawamu ke persidangan.” ucap Luven.
Lindsey kembali ke ruangannya dan duduk bersandar pada kursi. Punggungnya terasa nyaman sekali saat bersandar di kursi. Setelah seharian bolak-balik ke sana ke sini, akhirnya Lindsey bisa duduk santai di ruangannya.
Kemudian Lindsey mengetikkan sesuatu di grup gengnya.
^^^Lindsey.^^^
^^^Piter, Kapten.^^^
^^^Zoe Todd, seorang anggota dewan yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden. Paslon nomor urut 3. Terlibat dengan nark*ba.^^^
^^^Ikuti pergerakan dia. Kabari aku jika ada pergerakan yang mencurigakan.^^^
Piter.
Siap, laksanakan!
Kapten.
Siap, laksanakan!
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih