Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Rencana Terakhir


__ADS_3

halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


‼️SPOILER‼️sedikit: sbntr lg akan ada titik terangnya dari misi Lindsey n the gang.


simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Syukurlah.” ucap Lindsey singkat.


“Hm?”


“Kamu masih memikirkanku di sela-sela kesibukanmu. Aku pikir wujudku sudah menghilang dari pikiranmu, tinggal—” Kalimat Lindsey terputus.


Tiba-tiba saja, kalimat Lindsey terputus. Dia tidak bisa melanjutkannya lagi. Karena Jarvis menutup mulut Lindsey dengan mulutnya sendiri.


“Bagaimana mungkin?” ucap Jarvis.


“Mengetahui jarak kita sedang berjauhan saja membuatku frustasi.” sambungnya.


“Lalu kenapa kamu mengurungku di mansion?” tanya Lindsey.


“Supaya kamu tidak pergi. Aku tidak kepikiran tempat lain lagi.” jawab Jarvis.


“Kamu sedang ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Lindsey.


“Tidak. Kenapa? Oh, Carlos pasti sudah memberitahumu. Itu hanya survei lokasi.” jawab Jarvis.


“Aku dengar belakangan ini Katie sering lembur hingga larut malam. Aku peringatkan padamu, ya. Jika Katie jatuh sakit, itu dapat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja. Aku akan menuntutmu dan aku pastikan kamu akan mengeluarkan uang kompensasi yang besar.” ucap Lindsey.


“Aahh Katie beruntung sekali memiliki teman sepertimu. Lalu bagaimana kalau aku yang jatuh sakit?” balas Jarvis.


“Hmm..” Lindsey memutar bola matanya untuk berpikir sejenak.


“Aku akan merawatmu..? Berada di sampingmu..?” jawab Lindsey.


“Sampai aku sembuh...?” tanya Jarvis.


“Sampai kamu sembuh.” jawab Lindsey.


“Kalau begitu, Tuhan.. aku ingin sakit sekarang..” ucap Jarvis.

__ADS_1


“Hey..!! Hahhahah...”


“Hhhaahaha..”


...****************...


“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.” ucap Jarvis.


“Aku ’kan bukan anak kecil.” balas Lindsey.


“Kabari aku kalau sudah sampai di rumah.” ucap Jarvis.


“Iya.. sampai bertemu dalam..?”


“3 hari. Akan aku selesaikan dan pulang dalam waktu 3 hari.” ucap Jarvis.


“Baiklah. Aku bisa menunggu selama 4 hari, artinya aku juga bisa menunggu selama 3 hari.” balas Lindsey.


Jarvis dan Lindsey berpelukan karena akan berpisah. Jarvis mengecup pucuk kepala Lindsey. “I love you. Hati-hati, ya.” ucapnya.


Lindsey tersenyum.


Lindsey masuk ke dalam mobilnya. Lalu mengemudikan mobil meninggalkan Jarvis dan parkiran.


Sadarlah, Lindsey. Jarvis yang sudah membunuh om Lexis. Bisa-bisanya kamu mencintai laki-laki yang sudah merenggut nyawa laki-laki yang berjasa dalam hidupmu? Di atas sana om Lexis pasti murka melihatmu.


...****************...


Rumah Markas


17.00


“Katie sudah mengirimkan salinan dari dokumen korban kecelakaan pabrik OBX. Aku dan Luven sedang mendalami lagi. Dari beberapa korban yang aku hubungi, mereka mengaku tidak mendapatkan kompensasi. Luven sedang mendatangi alamat beberapa korban untuk memeriksa apakah itu benar.” ucap Kapten.


“Hm, baiklah. Jarvis dan Carlos akan pergi ke Samarinda 1 jam lagi.” balas Lindsey.


“Kita akan memulai rapat setelah semuanya berkumpul di sini.” ucap Kapten.


“Aku ke kamar dulu.” balas Lindsey.


19.00

__ADS_1


Geng Morex berkumpul di ruang tengah.


“Dari beberapa korban yang aku datangi, mereka mengaku tidak mendapatkan kompensasi. Dan ini bukti surat PHK yang mereka dapatkan. Seluruh pegawai buruh dihentikan dari pekerjaan dengan alasan memiliki kecacatan fisik yang tidak memungkinkan untuk kembali bekerja. Dan dokumen ini masih belum mencakup semuanya. Ada 3.560 orang yang mengalami kecelakaan kerja.” ucap Luven.


“Penyebab kecelakaan kerja mereka adalah mesin tua yang sudah tidak berfungsi dengan baik, sedangkan mereka diharuskan menyelesaikan pembuatan emas hingga berton-ton dengan mesin tua itu. Para pegawai mengajukan tuntutan namun Jarvis menuntut balik atas kerusakan mesin. Sehingga para pegawai memilih mundur dan bungkam selama ini.” sahut Katie.


“Setelah ditelusuri juga, OBX adalah perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin boneka. Pemimpin sebenarnya adalah Jarvis. Dan dia sudah menutup OBX sejak 9 tahun yang lalu.” sahut Kapten.


“Jadi dia hanya menggunakan tenaga manusia untuk membuat emas, dan emas itu dijual, hasil penjualannya untuk mendanai pendirian JM Buildings?” Piter merangkum informasi.


“Iya.” jawab Kapten.


“Wah.. apakah Jarvis bisa dikatakan sebagai manusia? Para pegawai yang mengalami kecelakaan itu karena mesin tua di pabrik itu. Dan dia malah menuntut balik? Padahal mereka sudah kehilangan tangan dan kakinya. Bahkan nyawa.” balas Piter.


“Dan Lexis mengetahui semua hal ini. Karena awalnya Lexis adalah anak buah Jarvis dan pengikut yang setia. Namun ketika tahu ada penggelapan dana, dia mencuri buku kas itu yang menjadi bukti. Maka dari itu Jarvis membunuhnya.” sahut Kapten.


Lindsey menundukkan kepalanya. Kedua tangannya memegangi kepalanya sendiri. Suasana di ruang tengah itu kini menjadi melow. Semua turut prihatin apa yang dirasakan Lindsey.


Kasihan Lindsey... Di satu sisi dia sangat mencintai Jarvis. Namun di sisi lain, laki-laki yang dicintai sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bahkan tidak dapat disebut sebagai manusia. batin Katie.


“Misi kita tetap akan berjalan sesuai rencana. Namun, aku punya satu permintaan.” ucap Lindsey.


“Katakan, Lindsey.” balas Kapten.


“Seluruh harta Jarvis yang kita rampas, itu tidak akan kita gunakan sendiri.” ucap Lindsey.


“Lalu mau kamu apakan semua hartanya?” tanya Piter.


“Kita bagi rata untuk memberikan kompensasi kepada korban kecelakaann kerja di pabrik ini. Totalnya ada 3.560 orang.” jawab Lindsey.


Mereka semua merasa terenyuh mendengar apa yang Lindsey katakan barusan. Lindsey adalah satu-satunya anggota geng yang paling materialistis. Di otaknya seolah hanya ada uang, uang, dan uang. Terkadang Kapten terpaksa menolak permintaan klien jika bayarannya tidak sesuai dengan keinginan Lindsey.


Tapi tidak dengan kali ini. Berbanding terbalik dengan Jarvis, Lindsey justru memiliki hati yang besar. Bisa dibilang dialah yang paling banyak berusaha demi misi ini dapat berhasil, bahkan sampai mengorbankan perasaannya sendiri, namun dia memilih untuk menyelesaikan misi sampai garis akhir, dan membagikan harta Jarvis untuk kompensasi kepada orang yang menjadi korban dari kekejaman Jarvis.


Tidak ada yang tahu betapa perihnya hati Lindsey saat ini. Hati yang sudah terlanjur mencintai dengan tulus, harus mengetahui fakta betapa kejamnya orang yang dia cintai. Seolah nyawa tidak ada artinya. Penderitaan yang dirasakan seseorang bagaikan sebuah film yang dia tidak sukai. Dia hanya perlu menutup mata dan telinganya.


Dan orang yang begitu berarti bagi Lindsey telah menjadi bagian dari sekian korban atas kekejaman Jarvis. Bahkan, jika seluruh hartanya hilang, Jarvis masih bisa mencari lagi. Bagaimana dengan bagian tubuh seseorang yang tidak berfungsi, putus dan juga nyawa yang telah pergi? Semua itu tidak dapat kembali. Juga dengan keceriaan di wajah korban dan keluarganya. Sangat tidak mudah hidup di atas penderitaan.


Semua anggota pun setuju akan ide Lindsey. Meski akhirnya mereka tidak mendapatkan apa-apa, malah justru sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk misi ini, namun mereka berlapang dada dan berbesar hati. Bahwa ternyata ada ribuan orang yang lebih membutuhkan uang itu dan memiliki haknya di sana. Sia-sia? Tentu saja tidak.


Mereka menganggap yang sekarang mereka lakukan ini untuk meneruskan usaha om Lexis yang berjuang hingga mengorbankan nyawa demi mengungkap kekejaman Jarvis dan memberikan keadilan untuk para orang yang menjadi korban atas kekejaman Jarvis.

__ADS_1


“Baiklah. Kita akan mulai menjalankan rencana kita. Rencana yang terakhir dari misi dengan target Jarvis Morris.” ucap Kapten.


__ADS_2