Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Buket Bunga


__ADS_3

halo semuanya.. maaf br update lg krna kmrn lg kurang fit.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Saat ini pencarian emas kita nomor duakan dulu. Piter, awasi komputer Carlos dan Jarvis terus. Jika Carlos masih menyelidiki Lindsey, ubah hasil penyelidikan Carlos dengan identitas Lindsey yang sudah kita buat. Katie, bersiaplah untuk mengawasi Jarvis dan Carlos dari dekat. Jika ada sesuatu terjadi, kamulah yang maju paling pertama. Lindsey, alihkan perhatian Jarvis agar dia tidak penasaran dan terus menyelidikimu.” perintah Kapten.


“Baik, Kapt.”


“Baik, Kapt.”


“Baik, Kapt.”


Dan mereka berempat pun menjadi besar kepala. Mereka merasa sudah mendapatkan Carlos dan berada di bawah pengendalian mereka. Di sinilah kesalahan mereka dimulai.


...****************...


Jam 22.00


Lindsey sedang terbaring di atas ranjangnya dengan seluruh wajahnya yang tertutup masker berwarna putih. Dia sedang memanjakan diri dengan memakai masker wajah. Menikmati empuknya ranjang sambil memejamkan mata, merasakan sensasi dingin di wajahnya.


Ting...


Ponselnya berbunyi. Satu kali.


Jarvis


Dimana?


Namun dibiarkan begitu saja oleh Lindsey. Dia menoleh sebentar, namun kembali memejamkan matanya.


Ting... Ponselnya berbunyi untuk yang kedua kalinya.


Jarvis.


Bisakah kita bertemu?


Tetap tidak dihiraukan oleh Lindsey.


Ting... Ponselnya kembali berbunyi. Total sudah 3 kali.


Jarvis.


Sebentar saja.


Lindsey pun penasaran. Tangannya akhirnya meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan sampai 3 kali.


Satu pesan kembali masuk.


Jarvis.


Aku sudah di depan komplek rumahmu.


*Mengirim gambar gerbang Great Village*


Lindsey bangkit dari tidurnya. Mengakibatkan maskernya lepas dari wajahnya dan jatuh ke lantai.


Lindsey segera membilas wajahnya lalu turun dengan terburu-buru. Kapten sedang menonton tv di sofa, Piter sedang duduk di depan komputernya dan Katie berada di kamarnya.


“Jarvis sudah di depan komplek!” ucap Lindsey lalu langsung lari ke luar rumah.


Melihat pesannya sudah dibaca namun tidak ada balasan dari Lindsey, Jarvis semakin gelisah. Dia memberanikan diri untuk menekan icon dengan gambar telepon. Meski dibarengi dengan tarikan napas yang panjang. Terdengar nada dering dari ponselnya. Namun beberapa detik, nada dering itu hilang.


Di tengah berlarinya, ponsel yang digenggam erat di tangannya itu berdering. Menghentikan larinya. Melihat nama Jarvis yang meneleponnya, Lindsey pun mengangkatnya sambil berjalan biasa menuju gerbang komplek.


“Ha-halo? Lindsey? I-ini aku.” ucap Jarvis.

__ADS_1


“Siapa, ya?” tanya Lindsey. Terbesit di otaknya ingin menjahili Jarvis.


“Aku.” jawab Jarvis.


“Siapa?” tanya Lindsey.


“Kekasihmu.” jawab Jarvis.


“Ada apa kekasihku meneleponku?” tanya Lindsey.


“Apa kamu sibuk? Bisakah kita bertemu? Sebentar saja.” balas Jarvis.


Tiba-tiba langkah kaki Lindsey berdiri. Dari kejauhan dia melihat Lindsey berdiri dengan buket bunga besar yang didekapnya. Wajah Lindsey tercengang. Tangannya pun masih memegang ponsel di telinga.


Menyadari keberadaan Lindsey dari kejauhan, Jarvis melambaikan tangannya yang memegang ponsel. Keduanya berjalan saling menghampiri, mengikis jarak di antara mereka.


“Lindsey.” ucap Jarvis saat keduanya bertemu.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Lindsey.


“A--ak--aku ingin minta maaf.” jawab Jarvis.


“Atas?” tanya Lindsey dengan dahinya yang mengkerut. Dia tidak mengerti dengan sikap Jarvis sekarang.


“Atas sikapku tadi di kantor.” jawab Jarvis.


“Hah?” Lindsey kebingungan.


“Tadi aku sudah berpikir negatif tentangmu.” jawab Jarvis.


OH! Tentang itu. Padahal aku sudah lupa dan tidak mengingatnya lagi. batin Lindsey.


“Tentang itu, rupanya. Tidak apa-apa.” balas Lindsey


“Ouch! Besar sekali?!” balas Lindsey saat menerima bunga pemberian Jarvis.


“Kata Carlos ini mencerminkan kesalahanku. Besar.” ucap Jarvis.


Kenapa dia selalu mengatakan “Carlos bilang..”, “Kata Carlos..”. Hmm... batin Lindsey.


“Padahal aku tidak mempermasalahkannya lagi. Tidak apa-apa, kok. Kamu tidak perlu datang malam-malam memberikan bunga sebesar ini.” balas Lindsey.


“Tidak apa-apa. Sekalian.”


“Sekalian apa?”


“Melihat wajahmu.” Jarvis


“...”


“...”


“...”


“Oh, ya, apakah kamu memiliki jadwal kapan tidur di apartemen, kapan tidur di rumah? Aku tadi sempat ke apartemenmu.” ucap Jarvis.


“Oh, ya? Aku tidak ada jadwal, sih. Sesuai keinginan saja.” balas Lindsey.


“Sebaiknya mulai sekarang kamu harus membuat jadwal kapan tidur di apartemen, kapan tidur di rumah, dan kapan tidur di tempatku.” ucap Jarvis dengan tersenyum menyeringai.


“Aku pergi dulu.” ucapnya lagi dan mengecup kening Lindsey sebelum dia masuk ke dalam mobilnya. Mobil itupun akhirnya keluar meninggalkan komplek perumahan The Great Village.


Lindsey kembali berjalan ke rumah markas dengan menggendong buket bunga yang besar itu. Sesekali pandangannya lurus ke depan, namun sesekali pandangannya lurus ke bawah, memandangi kumpulan bunga yang telah dirangkai cantik.


Jadi seperti ini rasanya diberikan buket bunga yang besar dan cantik? Aku selalu bertanya-tanya selain membuang uang, apa spesialnya diberikan buket bunga yang besar? Namun kini aku menemukan jawabannya sendiri. batin Lindsey.

__ADS_1


Nit nit nit nit cklek!


Lindsey memasuki rumahnya dengan sebuket bunga pemberian Jarvis. Dan buket bunga itu berhasil mencuri perhatian anak gengnya.


“Malam-malam datang ternyata cuma mau kasih bunga?” respon Kapten.


“Bukankah akan lebih menyenangkan jika dibawakan makanan daripada bunga?” respon Piter.


“Tumben Jarvis bisa romantis.” respon Katie.


Katie tidak tahu saja kalau ide memberi bunga ini datangnya dari Carlos. batin Lindsey.


...****************...


GDP Law Firm


Ruangan Luven.


Lindsey sedang duduk manja di atas sofa ruangan Luven sambil bersantai menyeruput teh. Dia sangat tidak ingin kembali ke ruangannya sendiri karena di meja kerjanya sudah penuh dan bertumpuk akan berkas kasus.


Luven menghampiri Lindsey di sofa dan menyerahkan sebuah kotak perhiasan yang lumayan besar di atas meja.


“Ini. Ada hadiah tambahan dari papa.” ucap Luven lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Lindsey.


“Apalagi ini? Padahal transferan sudah lebih dari cukup.” balas Lindsey lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan mengambil kotak itu.


Dibukanyalah kotak yang berisi satu set perhiasan emas itu. Terdiri dari kalung, anting, dan gelang tangan.


Matanya pun langsung berbinar-binar.


“Ini sungguh buat aku?” tanya Lindsey.


“Kamu tidak mau? Sini berikan padaku.” balas Luven.


“Tentu saja mau dong! Sampaikan terima kasihku pada om Roland.” ucap Lindsey.


“Aku memiliki 1 kabar baik dan 1 kabar buruk. Mana yang ingin kamu dengar terlebih dahulu?” tanya Luven.


“Kabar baik.” jawab Lindsey.


“Perjodohanku dibatalkan. Tidak ada lagi pernikahan.” ucap Luven.


“Serius? Wah benar-benar kabar baik itu! Lalu kabar buruknya apa?” balas Lindsey.


“Papa menyuruhku untuk menikahimu akhir tahun ini.” jawab Luven.


“HAAH?! Bukannya orangtuaku kemarin sudah dengan jelas mengatakan—” ucap Lindsey terputus.


“Iya karena perkataan om William lah papa jadi menyuruhku untuk menikahimu akhir tahun ini. Karena papa tahunya kita pacaran normal, maka dari itu, papa bilang aku sebagai laki-laki yang harus menentukan kemana arah hubungan kita.” ucap Luven.


“Kamu tahu itu tidak mungkin, kan? Kalau begitu kita harus putus sebelum akhir tahun.” balas Lindsey.


“Alasannya?”


“Ada banyak alasan sepasang kekasih untuk putus dibandingkan alasan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Katakan saja bosan, atau bertengkar setiap saat karena sudah tidak ada kecocokan lagi. Karena kamu laki-laki, kamu yang harus menentukan alasan kita untuk putus. Aku kembali ke ruanganku dulu. Bye!” ucap Lindsey.


Lindsey kembali ke ruangannya sendiri. Tidak lupa dia membawa kotak berisi satu set perhiasan yang diberikan papanya Luven.


“Gila, gila, gila! Melihat Piter menyelipkan kartu namanya di tanganku saja Jarvis sudah marah besar. Bagaimana jika tahu aku akan menikah dengan laki-laki lain? Bisa-bisa Luven akan tinggal tulang saja.” oceh Lindsey setibanya di ruangan kerjanya sendiri.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2