
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Kamu mau aku berikan tips agar hubungan kita langgeng?” tanya Lindsey.
“Boleh.” jawab Carlos.
“Tutup rapat mulutmu.” balas Lindsey.
Triring... Ponsel Carlos berdering.
Lindsey menaikkan sebelah alisnya sebagai isyarat agar tidak apa-apa jika Carlos mengangkat teleponnya.
“Jarvis.” ucap Carlos.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan?” tanya Lindsey.
Ponsel Carlos berhenti berdering sebelum dia menjawab telepon dari Jarvis. Bergantian, ponsel Lindsey yang kini berdering.
Lindsey menjauh dari keramaian dan mencari tempat yang agak sepi untuk menjawab teleponnya. Carlos pun mengekorinya.
“Dimana, Sayang? Kok aku kembali kalian semua tidak ada? Kamu, Katie, Carlos, menghilang semua.” ucap Jarvis.
Lindsey menatap Carlos sejenak. Carlos melepaskan jasnya dan memakaikannya untuk Lindsey. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Lindsey dari belakang.
“Jawab dong telepon dari pacar yang pertama.” bisik Carlos.
“Emm.. iya. Aku mendadak ada urusan. Katie dan Carlos tidak ada di sana?” ucap Lindsey di telepon.
“Tidak ada. Katie, mungkin sudah waktunya pulang. Kalau Carlos, sepertinya dia diam-diam sudah memiliki pacar, deh. Dia sering mangkir dari rapat, pergi di jam kerja.” balas Jarvis.
“Oohh... Tentu saja. Carlos kan juga laki-laki. Tidak apa-apa memiliki pacar, asal tidak mengkhianatimu saja.” ucap Lindsey.
Carlos tersenyum mendengar kalimat Lindsey.
“Hahhaha... Setuju..” ucap Jarvis.
“Jarvis, sudah dulu, ya. Nanti aku telepon lagi.” ucap Lindsey sebelum mengakhiri panggilannya.
“‘Mengkhianati’, ya?” ucap Carlos.
“Itulah yang sedang kita lakukan sekarang.” balas Lindsey.
“Benar juga.” ucap Carlos.
“Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sekarang berikan fotoku.” balas Lindsey.
“Oh, ya. Ada di sana.” ucap Carlos seraya menunjuk jasnya yang terpasang di tubuh Lindsey.
Lindsey melepas jas Carlos dan merogoh saku yang ada di dalam jas itu.
Didapatinyalah selembar foto dan cincin. Lindsey menatap tajam Carlos.
“Pakai cincin itu supaya aku tahu kalau kamu menganggapku sebagai pacarmu.” ucap Carlos.
“Kalau aku tidak ingin?” tanya Lindsey.
“Berarti aku bukan pacarmu.” jawab Carlos mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari telunjuk kanan Lindsey.
“Di jari telunjuk, tidak begitu ketara, kan?” tanyanya.
__ADS_1
“Hartaku tidak sebanyak Jarvis dan mungkin juga tidak sebanyak pacarmu yang kedua tapi hanya aku yang memasangkan cincin di jarimu, kan? Ini emas asli, kalau kamu marah denganku, kembalikan saja cincin ini padaku. Jangan dibuang apalagi dijual.” ucap Carlos kemudian.
“Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Lindsey lalu berjalan pergi.
Namun Carlos menahan tangannya. “Sering-sering main ke kantor.” ucap Carlos.
“Baiklah.” balas Lindsey lalu berjalan pergi.
Lindsey berjalan keluar dari gedung dan masuk ke dalam mobil Kapten yang juga sudah ada Katie di dalamnya. Kapten pun melajukan mobilnya menuju rumah markas.
...****************...
Rumah markas
Jam 23.30
Lindsey membantingkan dirinya ke atas sofa saking lelahnya. Katie juga duduk di sofa membantu menghapus riasan wajah Lindsey.
“Cieee Lindsey! Selamat, ya!” sambut Piter sesampainya mereka di rumah.
“Guys, ada berita penting yang ingin aku sampaikan.” ucap Kapten.
“Apa itu?” tanya Piter.
“Sebenarnya, misi kita hari ini berjalan mulus karena ada seseorang yang membantu kita.” ucap Kapten.
“Siapa?” tanya Katie.
Tiba-tiba masuklah seorang laki-laki di ruang tengah.
Lindsey yang sedang tiduran pun langsung bangun dan berdiri saking terkejutnya.
“Dia telah resmi bergabung dan menjadi anggota gelap geng Morex. Dia juga sudah membantu kita tadi.” ucap Kapten.
“Membantu kita?” tanya Lindsey.
Flashback ON.
“Itu benar. Dan sepertinya Luven tidak pernah sebahagia sekarang sejak bersama Lindsey, ya, ma.” sahut Roland.
“Ah, papa bisa saja. Eh, sebentar ya. Aku mengangkat telepon dulu.” ucap Luven lalu meninggalkan meja makan.
Ponsel Luven bergetar. Dia melihat nama seseorang di layar ponselnya.
Kapten is calling..
“Ya, Kapt.” Luven menjawab telepon.
“Sudah cukup makan malamnya. Carlos sudah menunggu di pesta dansa.” ucap Kapten.
“Baik, Kapt.”
“Sama satu lagi. Turunkan Lindsey di tengah jalan dan kamu langsung menuju ke pesta dansa. Biar nanti Lindsey pergi bersamaku.“ ucap Kapten.
“Ok.”
Panggilan berakhir.
“Maaf ya aku tinggal sebentar. Oh, ya. Sudah malam, aku harus mengantar Lindsey pulang. Dia kan tuan putrinya keluarga Verwils sekarang.” ucap Luven.
“Ehm, Luven.. kamu turunkan aku di depan saja, ya. Aku harus pergi ke suatu tempat.” ucap Lindsey.
__ADS_1
Luven menepikan mobilnya dan Lindsey turun dari mobil.
...****************...
“Hey, tidak aku sangka kamu jauh lebih tampan dengan topeng.” ucap Lindsey.
“Luven, sekarang!” ucap Kapten melalui earbuds.
Jreng! Jeng.. jeng..
Lampu di hall tiba-tiba mati dan berubah menjadi cahaya remang. Suara piano mulai terdengar. Dan menjadi alunan musik pengiring dansa.
Flashback OFF
“Hm, sepertinya aku tidak perlu mengenalkan diriku lagi. Kalian semua sudah mengenalku, ‘kan?” ucap Luven.
“Kok bisa, Kapt?!” tanya Katie.
“Luven, waktu dan tempat dipersilahkan untukmu.” ucap Kapten.
“Hmm, bermula dari Lindsey yang memindahkan ‘tepung’ di hari kampanye sekaligus penangkapan Zoe, aku curiga kalau Lindsey tidak mungkin melakukannya sendiri. Jadi aku menyelidiki Lindsey dan bertemulah dengan seseorang yang bernama Kapten ini. Kita melakukan penawaran, dan karena hidupku terlalu membosankan sedangkan pekerjaan geng ini sangat seru, aku jadi tertarik untuk masuk ke dalam geng ini.” ucap Luven.
“Tapi kan kamu tahu sendiri geng ini melakukan tindak kriminal dan kalau ketahuan profesimu sebagai advokat akan dicabut dan dihentikan selamanya.” sahut Lindsey.
“Iya, benar. Kalau ketahuan profesiku sebagai advokat akan dicabut, tapi itu kan ‘kalau ketahuan’. Kalau tidak ketahuan?” balas Luven.
“Luven sudah mengetahui misi kita saat ini. Dia juga tahu tentang identitas palsu yang Lindsey gunakan agar bisa menjadi pengacara.” ucap Kapten.
“Hey, CV kamu itu terlalu ketinggian. Jika kamu lulusan sekelas Harvard dengan nilai tinggi, kamu tidak lagi bekerja di GDP.” ucap Luven.
“Salahkan dia. Dia yang membuatnya.” Lindsey menunjuk Piter.
“Tapi tenang saja. Aku sudah mengganti data identitasmu di GDP untuk meminimalisir kecurigaan.” balas Luven.
“Baiklah. Kita mulai saja rapat kita. Lindsey, kamu mungkin belum tahu tapi ditemukan ini di buket bunga yang diberikan Jarvis. Piter berhasil mematikannya untuk sementara.” ucap Kapten seraya menaruh alat penyadap suara di atas meja.
Mata Lindsey membulat. “Carlos. Itu Carlos. Dia yang membeli bunganya.” ucap Lindsey.
“Hey, Carlos juga tadi memberikan cincin, kan?! Coba dicek apakah ada sesuatu juga di sana.” sahut Katie.
“Oh, ya. Nih.” Lindsey melepaskan cincinnya. Piter mengambilnya dan menyalakan senter lalu mengecek sekeliling cincin.
“Ada?” tanya Katie.
Tiba-tiba Piter melempar cincin tersebut ke lantai dan lapisan terluar cincin itupun lepas. Piter mengambilnya kembali.
“Penyadap lokasi.” ucap Piter seraya menunjukkan alat yang super kecil.
Lindsey menghela napasnya.
“Wah, Carlos..! Wah! Tidak habis pikir! Carlos pasti memiliki motif, Kapt!” sahut Katie.
“Secara logika memang tidak mungkin orang sepintar Carlos tiba-tiba menyatakan perasaannya, meminta berpacaran dengan Lindsey. Karena perasaan yang tulus tidak mengharapkan apapun, apalagi balasan atas perasaannya.” sahut Luven.
Kapten mengangguk. “Pasangkan kembali penyadap itu di cincin.” perintah Kapten.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1