
✨ Happy Eid Mubarak! ✨
Meskipun jarak memisahkan raga kita, namun jarak tak bisa menghalangi jiwa kita untuk saling mengasihi dan memaafkan. Selamat hari kemenangan! Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya. Selamat berlebaran!
...****************...
Jarvis.
Dimana?
Kenapa teleponku tidak diangkat?
Lindsey.
Aku di firma.
Jarvis.
Aku jemput. Kebetulan aku pulang melewati firma.
Lindsey.
Baiklah.
“Putar balik. Kita lewat firma hukum GDP saja.” Jarvis memerintahkan Carlos untuk memutar balik dan mengganti rute jalan pulang. Padahal bisa dibilang kurang dari 1 kilometer lagi mereka akan tiba di hotel. Ternyata bukanlah kebetulan Jarvis pulang melewati firma, melainkan atas dasar kesengajaan.
...****************...
“Kapt, aku akan pulang bersama Jarvis. Tidak perlu menjemputku.” ucap Lindsey di telepon sambil membereskan meja kerjanya.
“Jangan menginap. Ada yang harus kita diskusikan.” balas Kapten.
“Baiklah. Aku akan pulang ke rumah markas.” ucap Lindsey.
“Jangan sampai Jarvis dan Carlos tahu mengenai keberadaan rumah markas kita.” balas Kapten.
“OK.”
Lindsey mengakhiri panggilannya dan turun ke lobi untuk menunggu Jarvis. Setelah mobil Jarvis sampai, Lindsey masuk ke dalamnya.
“Hai, Lindsey. Kamu ke hotel juga?” tanya Carlos.
“Aku sudah tidak tinggal di hotel. Kamu bisa mengantarku pulang. Rumahku di perumahan Great Village.” ucap Lindsey kepasa Carlos.
Sementara Jarvis menatap Lindsey dengan penuh kebingungan. Yang dia inginkan adalah Lindsey ikut bersamanya ke hotel.
“Aku belum makan malam.” ucap Jarvis. Kodenya begitu terasa di telinga Lindsey.
“Benarkah? Carlos, setelah mengantarku pulang, antar bosmu makan malam ya.” ucap Lindsey kepada Carlos.
Jarvis menghembuskan napas panjang. Dan penyebabnya adalah Lindsey. Jarvis masih berusaha menahan kekesalannya, padahal ingin sekali dia meluap-luap dan menyerbu bibir Lindsey.
“Oh, ya. Besok malam aku mengadakan pesta perayaan ulang tahun JM Buildings ke 10. Ini undangan untukmu.” ucap Jarvis seraya memberikan sebuah undangan.
__ADS_1
“Wah...” Lindsey menerima undangan itu dengan wajah yang sumringah.
“Padahal aku bisa saja datang tanpa undangan, kan aku pa—” Lindsey hampir saja keceplosan mengatakan bahwa dia adalah pacarnya Jarvis. Seketika dia tersadar dan menutup kembali mulutnya rapat-rapat.
Jarvis tersenyum lebar. Dia tidak bisa menunjukkan rasa senangnya yang kala itu melihat Lindsey hampir keceplosan. Padahal Lindsey lah yang paling gencar menutupi hubungan mereka.
“—Partner di bidang hukum JM Buildings.” sambung Lindsey.
“Apa Katie juga datang?” tanya Lindsey.
“Tentu saja. Dia sudah menjadi bagian dari JM Buildings.” jawab Jarvis.
“Melihat bosnya sendiri begitu menerima kehadiran Katie di JM Buildings, sepertinya hari ini Katie bekerja dengan baik.” balas Lindsey.
“Tentu saja.” ucap Jarvis.
“Bekerja dengan baik, apanya. Dia tidak bisa apa-apa tanpa diriku.” sahut Carlos.
“Benarkah begitu? Aku lihat kamu masih tidak akur dengan Katie. Apa karena dia sudah membohongimu saat kencan buta?” tanya Lindsey.
“Bukan! Bukan karena itu! Aku jelas senang dia tidak menghadiri kencan buta itu dan aku malah bertemu denganmu.” jawab Carlos.
“Bagaimana kalau aku melarang kalian untuk mengikuti kencan buta? Itu kegiatan paling konyol yang ada di dunia ini. Sekedar membahasnya juga tidak boleh. Aku muak mendengarnya.” sahut Jarvis.
“Tuan Jarvis, apakah anda pernah berkencan di dalam hidup anda?” tanya Lindsey.
“Wah.. sering.” jawab Carlos.
“Benarkah? Berapa kali?” tanya Lindsey. Pertanyaan Lindsey berubah menjadi introgasi.
“Hati-hati dengan mulutmu, Carlos. Setiap kata yang keluar dari mulutmu akan mengurangi setiap lembar gajimu.” balas Jarvis.
“Untung aku gajiannya ditransfer.” ucap Carlos.
“Jangan percaya dia, Lindsey. Aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.” balas Jarvis.
“Ya, itu benar. Jarvis sangat introvert dan kaku. Tidak ada wanita yang betah meski kekayaannya melimpah. Karena wanita juga butuh kenyamanan.” sahut Carlos.
“Apa kamu tidak berniat menjalin hubungan dengan wanita? Atau jangan-jangan.. kamu sudah tidak tertarik dengan wanita?” tanya Lindsey.
Lindsey memang hebat memancing amarah Jarvis. Dia tidak tahu seberapa besar amarah yang tersimpan di dada Jarvis.
“Lindsey, jangan bicara seperti itu. Aku jadi merinding. Aku yang selalu bersamanya setiap hari.” sahut Carlos.
“Untuk saat ini aku tidak tertarik.” jawab Jarvis dengan penuh kesabaran.
“Kenapa? Kamu tidak akan melajang selamanya, kan?” tanya Lindsey.
“Ada hati yang harus kujaga.” jawab Jarvis.
“Oohh..” Untuk pertama kalinya Lindsey tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Jarvis berhasil menskakmat Lindsey setelah beribu pertanyaan dilontarkan padanya.
“Omong kosong. Hati siapa? Kamu saja tidak tertarik dengan wanita. Mengaku sajalah.” sahut Carlos.
__ADS_1
“Hmm, Carlos, kamu turunkan aku di depan minimarket itu saja. Ada sesuatu yang harus aku beli.” ucap Lindsey.
Carlos menepikan mobilnya.
“Terima kasih.” Lindsey turun dari mobil.
“Aku juga ingin beli sesuatu untuk keperluan di hotel. Tunggu disini.” ucap Jarvis lalu menyusul Lindsey turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket.
“Kenapa turun?” tanya Lindsey.
“Kenapa tidak ke hotel?” tanya Jarvis tanpa menjawab pertanyaan Lindsey.
“Aku bisa jatuh miskin jika tinggal di hotel setiap hari.” jawab Lindsey.
“Siapa bilang? Kan tinggal di hotelku.” balas Jarvis.
“Carlos bisa curiga.” ucap Lindsey.
“Kenapa kamu hanya memikirkan Carlos? Kamu tidak memikirkan aku?” tanya Jarvis.
“Bukan begitu. Hari ini aku lelah sekali, Jarvis.” jawab Lindsey.
“Sepertinya kamu salah paham. Aku tidak memintamu ke hotel untuk bercinta.” balas Jarvis.
“Lantas? Untuk apa aku ke hotel?” tanya Lindsey.
“Apa kamu lupa aku pernah bilang kalau aku tidak bisa tidur tanpa kamu di sampingku?” balas Jarvis.
Lindsey terdiam.
“Jadi selama ini kamu tidak pernah menganggap serius perkataanku, ya?” tanya Jarvis.
“Baiklah. Meskipun kamu tidak pernah menganggap serius perkataanku, bukankah hubungan kita sudah berubah? Bukan lagi sebatas partner bercinta, iya kan?” sambung Jarvis.
“Iya, aku tahu. Tapi aku sedang tidak bisa menemanimu ke hotel. Pekerjaanku sedang menumpuk, Jarvis.” ucap Lindsey.
“Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku pulang.” balas Jarvis lalu berjalan keluar dari minimarket.
“Mana barang belanjaanmu?” tanya Carlos saat Jarvis kembali masuk ke dalam mobil.
“Di tempat ini tidak menjual merek yang biasa aku pakai. Kita ke hotel saja.” jawab Jarvis.
Setelah mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan minuman kalengan, Lindsey pergi ke kasir untuk membayar barang belanjaannya.
“Totalnya 238.000 dan sudah dibayar oleh pria tadi. Ini kembaliannya 262.000.” ucap sang kasir.
Hah? Jarvis yang membayarnya? batin Lindsey.
Lindsey keluar dari minimarket dengan menjinjing kantong plastik yang berisi barang belanjaannya. Dia berjalan kaki untuk pulang ke rumah yang jaraknya tidak jauh. Tangannya yang lain mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan mengetikkan sesuatu.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih