Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Wanitaku


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku mau up banyak sekaligus.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya (masih dikit nih likenya 😭😭) supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Lalu kalau mereka bertanya kenapa aku memecahkan guci itu?” tanya Lindsey.


“Itu karena kamu sulit mengendalikan emosimu. Dan kamu kebablasan. Mengaku salah saja sedikit, toh kamu sudah diberi hadiah.” jawab Luven.


“Baiklah. Tapi, posisiku di GDP.. masih aman, kan..?” tanya Lindsey.


“Wah.. aman dan damai sejahtera, Lindsey.” jawab Luven.


“Bagus deh. Aku pergi menemui mereka dulu, deh. Sampai nanti.” pamit Lindsey.


“Hey, jangan lupa kembali lagi. Klien banyak berdatangan untukmu.” balas Luven.


Hah? Banyak klien? Lebih baik aku kaboorrr..!!! batin Lindsey.


“Iya.” ucap Lindsey singkat lalu pergi dari ruangan Luven dengan membawa kotak hadiahnya.


Lindsey menemui petinggi dan menjelaskan sesuai skenario yang sudah dia buat bersama Luven tadi. Untungnya Lindsey masih dimaklumi meski mendapat peringatan karena caranya mengungkap tindak kriminal itu termasuk dalam membuat onar. Tapi Lindsey masih dimaklumi karena mendapat komentar positif dari publik.


Dan karena hal itu pula, Lindsey mendapat info bahwa banyak klien baru mendaftar ingin bertemu dengan Lindsey. Seperti yang dikatakan Luven. Hari-hari Lindsey ke depannya akan sibuk. Dia mulai merasa risau.


Mungkin saja dia akan bekerja dari pagi hingga ke pagi lagi seperti Luven dan pengacada lainnya. Kemungkinan terburuknya adalah Lindsey tidak dapat menikmati hidupnya, bermain dan bersenang-senang seperti sedia kala.


Lindsey pun berpikir untuk menemui Jarvis, si klien pertamanya. Lindsey datang ke JM Buildings, dan memanggil Katie untuk dijemput naik ke atas karena lift untuk ke lantai ruangan Jarvis hanya lift satu arah dan membutuhkan kartu akses untuk menaiki lift tersebut.


“Oh, jadi, aksi kamu di tengah keramaian itu untuk membongkar pelaku penyelundupan?” tanya Katie.


Katie dan Lindsey sedang berada di dalam lift menuju ke lantai paling atas.


“Untuk membuktikan kalau Jarvis dijebak lebih tepatnya.” jawab Lindsey.


“Kamu tahu tidak, sih? Aksi kamu tadi pagi itu keren. Keren buuaangeett..!” ucap Katie.


“Aku malu, nih. Pasti banyak yang menonton tv di pagi hari, kan?” balas Lindsey.


“Buahaahaha..!!! Lagi pula memangnya kamu tidak sadar bahwa di sana dikelilingi oleh kamera?” tanya Katie.


“Bahkan aku yang menyuruh Kapten untuk mengirim pasukan reporter dan kameramen itu. Oh, ya. Aku mendapatkan ini karena aksiku tadi pagi.” ucap Lindsey seraya mengeluarkan kotak hadiah miliknya.


“What?!?! Emas 25 gram, Lindsey?!” Katie terkejut saat melihat isi kotak tersebut.


“Iya. Luven mendapatkan uang tunai 15 juta sebagai mentorku.” balas Lindsey kemudian menyimpan lagi kotak hadiahnya ke dalam tas.


“Firma hukum terbesar nomor 1 memang beda, ya.” ucap Katie.


Lift yang dinaiki Katie dan Lindsey tiba di lantai paling atas.


“Oh, ya, Jarvis sedang ada rapat di bawah. Kamu mau menunggu di luar atau di dalam ruangan dia?” tanya Katie.


“Di dalam saja, deh. Rapatnya masih lama?” balas Lindsey.


“Kalau sesuai jadwal sih seharusnya 20 menit lagi selesai.” ucap Katie.


“Aku menunggu di dalam saja. Tolong bukakan pintu ruangannya untukku.” balas Lindsey.

__ADS_1


“Aku tinggal, ya. Aku masih harus menyusun rapat pleno.” ucap Katie.


“Ok.”


Lindsey menunggu di ruangan Jarvia yang besar itu seorang diri. Ruangan itu masih sama, mulai dari tata letak mejanya, bahkan hingga tempat salah kecil. Lindsey berjalan menuju rak buku yang tedapat kamar rahasia di baliknya. Lindsey masih mengingatnya. Dia menggeser beberapa buku untuk memastikan apakah masih ada sensor kunci keamanan untuk membuka kamar rahasia itu. Dan ternyata masih ada.


Dia kembali menggeser beberapa buku agar kembali ke tempatnya yang semula. Ponselnya pun berbunyi. Banyak notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab yang sengaja Lindsey hindari seperti dari mamanya, Kapten, dan termasuk Jarvis. Namun kali ini ponselnya berbunyi karena Jarvis mengiriminya sebuah pesan.


Jarvis.


Lindsey, aku melihatmu di televisi.


Kamu keren sekali!


Jarvis sent a photo.


Jarvis sent a photo.


Jarvis sent a photo.


Jarvis sent a photo.


Lihat deh fotonya.


Wanitaku.


----------- Yang terbaru -----------


Sedang apa?


Lindsey tersenyum lebar ketika membaca pesan dari Jarvis termasuk foto-foto dirinya saat di televisi yang berhasil diabadikan oleh Jarvis.


^^^Lindsey.^^^


Jarvis.


Kenapa belum makan?


Ini kan sudah lewat dari jam makan siang?


^^^Lindsey.^^^


...Aku harus bertemu dengan klienku....


^^^Laki-laki.^^^


Jarvis yang tengah duduk di kursi rapat bersama timnya, kian berdiri dan menggeprak meja saat membaca balasan terakhir dari Lindsey. Aksinya berhasil mengagetkan seisi ruang rapat, termasuk salah seorang tim yang sedang presentasi di depan.


Beberapa orang yang mulai memejamkan mata karena mengantuk pun terbangun hingga loncat dari kursinya. Tidak sedikit orang yang memegangi dadanya, memastikan bahwa jantungnya masih ada dan tidak copot.


“Jarvis, ada apa?” bisik Carlos.


Sesaat Jarvis menyadari kalau semua mata sedang tertuju padanya.


“Oh, maaf.” Jarvis kembali duduk di kursinya dengan sejuta amarah yang menumpuk di dalam dada. Tangannya pun mencengkram kuat ponsel yang sedang digenggamnya.


Klien laki-laki seperti apa yang Lindsey temui hingga dia rela melewatkan makan siangnya?! batin Jarvis.

__ADS_1


“Cukup. Kita re-schedule saja rapat hari ini. Masih banyak yang perlu diperbaiki dari materi presentasi.” ucap Jarvis dan langsung keluar dari ruang rapat


Carlos pun mengikuti langkah kaki Jarvis.


“Ada apa sih, Jarvis? Rapat sudah mau berakhir kok malah di re-schedule?” tanya Carlos.


“Siapkan mobil sekarang. Aku akan turun ke bawah setelah mengganti jas di ruanganku.” ucap Jarvis seraya berjalan dengan cepat memasuki lift dan ke ruangannya.


Carlos pun menuruti perkataan Jarvis. Dia menyiapkan mobil sesuai yang Jarvis perintahkan.


Di dalam lift, Jarvis menelepon Lindsey..


“Dimana kamu sekarang?” tanya Jarvis.


“Di hatimu.” jawab Lindsey.


Lift yang dinaiki Jarvis sampai di lantai ruangannya. Dia pun berjalan cepat menuju ruangannya dan bahkan menghiraukan Katie yang berdiri di tempatnya.


“Aku sedang tidak mau bercanda. Katakan dimana kamu sekarang.” ucap Jarvis.


“Hmm, memangnya aku tidak ada di dalam hatimu?” tanya Lindsey.


“Lindsey. Aku bilang aku tidak ingin ber—”


“Duuaaarrrrr..!!”


Lindsey mengejutkan Jarvis dari samping saat pintu ruangan Jarvis terbuka. Jarvis pun terkejut hingga tubuhnya tersentak.


“Lindsey!” pekik Jarvis.


“Hehehehe..” Keduanya langsung berpelukan. Pintu ruangan Jarvis tertutup.


“Kamu kok tidak bilang kalau mau ke sini?” tanya Jarvis.


“Sengaja. Untuk memberimu kejutan.” jawab Lindsey.


“Dan kamu berhasil membuatku marah.” ucap Jarvis.


“Loh? Kok marah?” tanya Lindsey.


“Karena kamu bertemu dengan klien laki-laki hingga rela melewatkan makan siang.” jawab Jarvis.


“Berarti kamu marah dengan dirimu sendiri. Karena klien laki-laki yang membuatmu harus merelakan makan siangku adalah kamu.” balas Lindsey.


“Ayo, makan siang. Aku tidak mau kamu sakit.” ucap Jarvis lalu menarik tangan Lindsey untuk pergi bersamanya.


“Tunggu!” Raut wajah Lindsey berubah menjadi tertekuk.


“Ada apa, Sayang?” tanya Jarvis.


“Kamu tidak mau mengatakan apa-apa gitu ke aku?!” tanya Lindsey.


Gawat. Lindsey memaksa otak Jarvis untuk bekerja yang kesekian kalinya. Meskipun tidak ada laki-laki yang bisa membaca pikiran seorang wanita, sekeras apapun mereka berusaha.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2