Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Butik


__ADS_3

“Keterangan saksi adalah apa yang saksi nyatakan disidang pengadilan mengenai hal: A. Yang dilihat sendiri oleh terdakwa. B. Yang dialami sendiri oleh saksi—Oh ini aku tahu jawabannya.” ucap Lindsey.


“Apa?” tanya Luven.


“B, kan?”


“Iya, benar.”


“Penyidik dapat menahan tersangka tanpa perpanjangan paling lama...” Lindsey membaca soal berikutnya.


“20 hari.” jawab Luven seraya menyetir.


Lindsey menandai jawaban yang benar di kertas soalnya.


Untung saja ada Luven. batin Lindsey.


“Lanjuuttt. Berapa lama waktu diperlukan bagi penyidik untuk menentukan sikap apakah seorang Tersangka yang ditangkap, akan diteruskan dengan penahanan atau tidak...”


“1 hari.”


“Peran Penasehat Hukum, mendampingi Tersangka pada pemeriksaan Penyidikan adalah... A. Ikut menentukan jalannya pemeriksaan. B. Bekerjasama dengan Penyidik. C. Melihat dan mendengar jalannya pemeriksaan. D. Memberikan jawaban kepada Penyidik.”


“C.”


“Tugas seorang Advokat adalah memberikan jasa hukum, antara lain meliputi hal-hal di bawah ini, kecuali... A. Memberikan Konsultasi Hukum. B. Memberikan Bantuan Hukum. C. Memberikan Pendidikan Hukum. D. Membela Kepentingan Hukum Klien. Oh, aku tahu jawabannya.” ucap Lindsey.


“Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat, sebagaimana diatur dalam Undang-undang dapat dipidana dengan pidana penjara .....” Jantung Lindsey berdetak sangat kencang saat membaca soal yang satu ini.


“Paling lama 5 tahun.” Luven menjawab soal tersebut.


“Huh?”


“Huh? Paling lama 5 tahun, itu jawabannya. Ayo, lanjut soal berikutnya.” ucap Luven.


“Oh. Iya..” ucap Lindsey kecil.


Demi apa 5 tahun?! Lama sekali! Matilah. Aku tidak boleh sampai ketahuan kalau begitu! batin Lindsey.


“Besarnya honorarium Advokat yang diterima dari kliennya ditentukan berdasarkan... A. Jumlah yang ditetapkan oleh Advokat dengan mempertimbangkan unsur senioritas dan popularitas Advokat. B. Kemampuan Klien. C. Kesepakatan Advokat dengan Klien. D. Jenis perkara yang ia tangani dan kebutuhan dalam menangani perkara itu. Kalau ini pasti yang C jawabannya.” ucap Lindsey.


“Bolehkah seorang Advokat menolak calon kliennya: A. Boleh, dengan pertimbangan tidak sesuai dengan keahliannya dan bertentangan dengan hati nuraninya. B. Tidak boleh, karena agama atau partai calon kliennya, berbeda dari yang dimiliki oleh Advokat tersebut. C. Tidak boleh, karena Advokat adalah sebagai pemegang profesi bebas. D. Tidak boleh, karena ada klien berarti ada rezeki. Kalau ini pasti yang D.” ucap Lindsey.


“Sembarangan. Yang A, lah. Wah, jangan-jangan nanti kamu akan menerima semua klien demi uang, ya?!” balas Luven.


“Loh, bukannya benar? ‘Ada klien, ada rezeki’? Kita kan tidak boleh menolak rezeki.” tanya Lindsey dengan polosnya.


“Oh, jadi misalnya klien kamu seorang laki-laki dan dituduh atas pelecehan, kamu tahu dia bersalah, hati nurani kamu tidak mau menerima klien seperti itu karena sebagai seorang wanita kamu harus berpihak ke korban, tapi kamu tetap menerima klien seperti itu karena uang?” balas Luven.


“Oh! Oh iya, ya. Ok, aku jawab yang A.” ucap Lindsey.


“Nanti kalau kamu sudah jadi pengacara tetap, jangan seperti itu, ya, Lindsey. Kamu harus mengikuti hati nuranimu.” Luven memberi wejangan.


“Iyaaa... Sudah, nih. Aku sudah tidak mau mengerjakan. Sisanya kamu yang isi.” Lindsey menyerahkan kertas soal ujiannya.

__ADS_1


“Ya sudah, taruh saja.” ucap Luven.


“Sekarang kita mau kemana, sih?” tanya Lindsey.


“Sebentar lagi sampai, kok.” jawab Luven sambil menyetir.


Mobil Luven akhirnya sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Luven membawa ke sebuah butik ternama yang sudah menjadi langganannya. Di sana, dia menunjuk pakaian yang ada dengan sesuka hatinya dan menyuruh Lindsey mencobai satu persatu. Mata Lindsey melotot saking banyaknya pakaian yang Luven tunjuk.


“Sudah gila kamu ya?!” umpat Lindsey.


“Cepat, cepat. Kita tidak punya banyak waktu. Mba, tunjukkan ruang ganti untuk dia.” balas Luven.


“Mari, bu.” Pelayan mengantarkan Lindsey ke ruang ganti.


Lindsey mencobai pakaian yang ditunjuk Luven satu persatu. Sedangkan Luven hanya duduk dengan kaki bersilang dan membaca majalah.


“Bagaimana?” tanya Lindsey setelah keluar dengan penampilan pertamanya.


“Coba yang lain.” komentar Luven dan menyuruh Lindsey mencoba pakaian yang lain. Lindsey pun menurut dan kembali ke ruang ganti.


“Kalau ini bagaimana?” tanya Lindsey dengan penampilan keduanya.


“Yang lain.” jawab Luven.


Lindsey kembali masuk ke ruang ganti.


“Ini?”


“....”


“Ini?”


Luven menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana dengan ini?”


“No, no.”


“....”


“Ini saja ya? Aku sudah capek.”


“Coba pakaian yang ketiga tadi.”


Lindsey menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sudah berapa pasang baju yang dicobainya, tapi Luven menyuruh pakaian yang ketiga. Akhirnya Lindsey kembali ke ruang ganti dan keluar lagi dengan pakaiannya yang ketiga.


“Nah, ok, mantap! Sekarang sepatu. Coba sepatu ini satu persatu. Aku ingin lihat mana yang cocok dengan kakimu.” ucap Luven dan menunjuk lantai yang dimana sudah ada setidaknya 5 pasang sepatu berjajar rapi.


Lindsey lagi-lagi menarik napas panjang. Ujiannya ternyata belum selesai. Baru memasuki babak kedua. Entah apalagi setelah ini yang akan Luven suruh coba.


“Yang ini saja.” ucap Luven kepada Lindsey saat mencoba sepatu kelima.


Luven berjalan ke kasir sedangkan Lindsey masih berdiri di depan kaca, mengamati penampilannya dari atas hingga ujung kaki.

__ADS_1


“Saya mau membayar semua yang dia pakai tadi.” ucap Luven di kasir.


“Baik.” balas kasir.


“Tolong antarkan ke alamat ini.” ucap Luven kemudian seraya memberikan secarik kertas.


...****************...


Jam 11.40


Rumah markas


Ting.. tong..


Seseorang membunyikan bel rumah markas. Piter berjalan keluar.


“Siapa yang datang?” tanya Kapten yang menghampiri Piter.


“Eh buseeettt! Banyak sekali?!” pekik Kapten saat melihat kedua tangan Piter menjinjing paperbag yang begitu banyaknya.


“Benar-benar, tuh, si Katie. Mentang-mentang anak konglomerat, belanja seenak jidat.” balas Piter.


“Tumben dikirim ke rumah...” ucap Kapten.


“Eh, tunggu. Ini bukan butik langganan Katie!” balas Piter.


“Coba lihat nama pembelinya.” ucap Kapten.


“Luvenius Gourman?! Ini, kan, mentornya Lindsey..” ucap Piter saat melihat struk pembayaran.


Betapa syoknya Kapten dan Piter ketika keduanya melihat struk pembayaran atas belanjaan Luven.


“What?! Dua koma satu juta, satu juta 299, tujuh juta 50, tiga juta 899, lima juta 390, sembilan juta, empat juta 799, dua juta 600, 989 ribu. Ini semuanya buat Lindsey? Wah, Luven gila.” Piter membaca harga dengan teliti dari atas sampai bawah.


“Kalau kita lagi mau makan enak, jual saja salah satu baju ini.” balas Kapten.


...****************...


...****************...


Seusai membayar, Luven berjalan menghampiri Lindsey.


“Sekarang apalagi?!” tanya Lindsey.


“Tidak ada. Ayo, kita bertemu calon orangtuamu.” jawab Luven.


Jantung Lindsey berdetak menjadi lebih kencang saat Luven mengatakan mereka akan bertemu calon orangtuanya. Sepanjang perjalanan pun Lindsey jadi tidak banyak bicara. Dia memikirkan nasibnya di kemudian hari ketika sudah memiliki orangtua angkat yang berprofesi sebagai ketua hakim. Sudah pasti orangtua angkatnya tidak akan menyetujui pekerjaan Lindsey yang sesungguhnya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2