Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Teman Baru


__ADS_3

Tok tok..


Seseorang dari luar mengetok pintu ruangannya.


“Permisi.” Seorang laki-laki menampakkan wajahnya setelah membuka pintu ruangan Lindsey.


“Iya, ada apa?” tanya Lindsey.


“Perkenalkan aku Aiden, pengacara baru di sini. Kita menandatangani kontrak di hari yang sama.” ucap laki-laki itu.


Lindsey segera berdiri dari kursinya. Kemudian dia menghampiri Aiden dan menjulurkan tangannya.


“Aku Lindsey.” ucap Lindsey seraya menjulurkan tangannya.


Biar Lindsey tebak, Aiden pasti seumuran dengannya, parasnya masih terlihat muda dan fresh. Orang yang ramah namun tidak juga karena Lindsey bisa merasakan dinginnya Aiden.


Aiden menjabat tangan Lindsey. “Karena hanya kita yang berhasil lolos seleksi, aku harap kita bisa berteman baik dan saling membantu ke depannya.” ucap Aiden.


“Tentu saja. Aku pasti membantumu.” balas Lindsey.


Kamu meminta bantuan pada orang yang salah, Aiden. Aku tidak mengerti apa-apa di sini. Hahahaha... batin Lindsey menertawai Aiden.


“Apa kamu sudah mendapat jadwal persidangan?” tanya Aiden.


“Sudah. Hari ini aku kebagian 2 jadwal.” jawab Lindsey.


“Hahahaha semangat. Aku satu. Wilayah mana?” tanya Aiden.


“Barat.” jawab Lindsey.


“Aku juga. Mau berangkat bersama?” balas Aiden.


“Boleh. Tunggu sebentar.” ucap Lindsey. Lindsey kembali ke mejanya untuk mengambil tas.


“Ayo.”


Lindsey dan Aiden pergi bersama untuk menghadiri agenda persidangan mereka. Mereka berjalan menuju lift untuk sampai ke parkiran.


“Bukankah menurutmu mobil dan apartemen terlalu berlebihan untuk kita?” tanya Aiden kepada Lindsey yang kala itu memasuki lift kosong. Hanya ada mereka berdua saja di dalamnya.


“Aku juga merasa seperti itu. Mereka pasti mengharapkan sesuatu yang besar dari kita.” jawab Lindsey.


“Ya, kan! Tidak ada di dunia ini yang mau memberikan secara cuma-cuma. Eh, naik mobilku saja ya. Biar aku yang menyetir.” balas Aiden.


“Baiklah.” ucap Lindsey.


Lindsey menaiki mobil Aiden yang merupakan pemberian dari kantor. Warna dan tipe mobilnya sama persis dengan mobil Lindsey, yang membedakan hanyalah platnya saja.


Aiden mulai mengendarai mobilnya keluar dari parkiran menuju ke pengadilan.


“Ngomong-ngomong, Lindsey, kamu lulusan universitas apa?” tanya Aiden agar suasana di mobil tidak canggung.


Matilah. Waktu itu Piter menuliskan apa ya di CV? Harvard atau Stanford, ya??? batin Lindsey. Salahnya dia tidak menghafal “identitas” yang dibuatkan Piter untuknya.


“Aku? Aku lulusan luar negeri.” jawab Lindsey.


“Aku juga berkuliah di luar negeri. Tapi terputus dan kuliah lagi di sini.” balas Aiden.


“Oh..”


“Eh aku bingung deh. Kenapa kamu kuliah di luar negeri tapi menjadi pengacara di sini? Bukankah setiap negara memiliki sistem hukum yang berbeda-beda? Kalau kamu kuliah di luar negeri, belajar hukum di negara tersebut bukankah berbeda dengan hukum di negara ini?” tanya Aiden.

__ADS_1


Benar juga. Kenapa sih, Piter harus menuliskan universitas luar negeri? batin Lindsey.


“Tidak jauh berbeda, kok. Karena pada dasarnya sistem hukum merujuk pada keadilan. Lagi pula aku juga sudah mengikuti magang selama 2 tahun di advokat negara ini, mengikuti penyetaraan ijazah luar negeri, dan lulus dari ujian profesi advokat.” jawab Lindsey.


Lindsey hanya menjawab asal sepengetahuannya saja sesuai dengan buku yang diberikan Kapten untuknya.


“Oh, kalau harus melalui hal seribet itu, kenapa tidak berkarir di luar negeri saja?” tanya Aiden.


“Aku tidak bisa meninggalkan kakak dan adikku di sini. Aku adalah tulang punggung keluarga. Orang tua kami sudah tiada.” jawab Lindsey.


Di sisi lain dengan waktu yang sama, Kapten, Katie dan Piter menggaruk telinganya secara bersamaan. Tiba-tiba telinga mereka merasa gatal.


“Oh.. maaf jika aku menyinggungmu..” balas Aiden.


“Tidak apa-apa. Kamu sendiri kenapa kuliah di sini? Padahal sempat kuliah di luar.” ucap Lindsey.


“Papaku bangkrut. Dia tidak bisa membiayai kuliahku di luar negeri. Alhasil, aku kuliah di sini dan dibantu paman.” balas Aiden.


“Oh.. berarti kamu mendapat ilmu dobel.” ucap Lindsey.


“Iya, itu termasuk salah satu hal yang aku syukuri. Aku bersyukur bisa kuliah di sini sampai tamat.” balas Aiden.


“Tapi aku yakin ilmuku masih kalah jauh denganmu.” tambah Aiden.


Lindsey terheran. Atas dasar apa Aiden mengatakan hal itu? Apa jangan-jangan Lindsey berhasil memasang tampang seperti orang yang berpengetahuan meskipun otaknya kosong?


“Kenapa kamu bicara seperti itu?” balas Lindsey.


“Firasat. Firasatku mengatakan hal itu.” jawab Aiden.


“Bagaimana kalau kenyataannya tidak seperti itu?” tanya Lindsey.


“Firasatku tidak pernah salah.” jawab Aiden.


“Persidanganmu mengenai apa, Aiden?” tanya Lindsey.


“Kekerasan seksual. Kamu?” jawab Aiden.


“Kekerasan dalam rumah tangga.” balas Lindsey.


“Berarti ruang persidangan kita beda, yah.” ucap Aiden.


“Iya. Kalau begitu kita berpisah di sini.” balas Lindsey.


“Sampai bertemu di firma.” ucap Aiden.


Lindsey menuju ruang persidangan yang sudah dijadwalkan untuknya. Begitu juga dengan Aiden. Masih tersisa 15 menit, Lindsey merasa bosan menunggu. Tiba-tiba notifikasi di ponselnya berbunyi.


Kapten.


Mengirim sebuah link.


Lindsey.


Apa itu?


Kapten.


Hanya game penghasil uang yang Piter buat. Kamu akan mendapat uang dari setiap soal yang kamu jawab benar.


Isi dalam waktu 15 menit.

__ADS_1


Lindsey pun tergiur. Dia membuka link yang dikirimkan Kapten. Rupanya isi link tersebut adalah soal pilihan berganda yang berkaitan dengan ilmu hukum. Kapten sengaja membuat dalam bentuk game penghasil uang karena tahu Lindsey memiliki kecintaan yang tinggi terhadap uang. Lindsey mengernyitkan dahinya setiap membaca soal yang tidak dia ketahui jawabannya.


10 menit berlalu, Lindsey berhasil mengisi semua soal dan mengirimkannya kembali ke Kapten. Kapten merasa bangga karena Lindsey mengisi soal lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Namun kebanggaannya seketika sirna begitu melihat hanya 4 soal yang dijawab benar dari 25 soal.


Lindsey.


Jadi berapa uang yang aku dapatkan?


Kapten.


Hanya benar 4 dari 25 soal. Kamu ngasal jawab, ya?!


Lindsey.


Benar 4? Hebat sekali aku. Padahal aku capcipcup dalam memilih jawabannya.


Kapten.


Mau ponsel atau kartu kredit yang disita? Tentukan pilihanmu.


Lindsey.


Ampun, Kapt!! Aku janji aku akan belajar lebih giat lagi!


Bahkan sekarang ini aku sedang berada di persidangan.


Selesai satu persidangan, Lindsey beralih ke persidangan yang kedua. Persidangan yng pertama menghabiskan waktu sekitar 3 jam, dan persidangan yang kedua menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Tangannya seakan mau lepas karena pegal mencatat setiap bagian yang penting selama persidangan berlangsung. Catatannya nanti akan mempermudah proses dia membuat laporan.


Selesai menghadiri dua persidangan, Lindsey masih harus kembali ke firma untuk membuat laporan yang nanti akan diserahkan ke mentornya. Lindsey berjalan keluar dari gedung pengadilan. Tiba-tiba ponsel Lindsey mengeluarkan bunyi notifikasi. Lindsey mengecek ponselnya.


Katie.


Temani aku ke suatu tempat.


Aku di depan gedung pengadilan.


Mata Lindsey langsung mencari dimana keberadaan mobil Katie. Lindsey memasuki mobil Katie begitu menemukannya.


“Kok kamu selalu muncul di saat aku butuh tumpangan, sih?” tanya Lindsey.


Lindsey tidak tahu saja kalau Katie memantau keberadaan Lindsey dari layar komputer Piter di rumah markas sebelum dia menjemput Lindsey. Itulah sebabnya Katie selalu muncul menjemput Lindsey.


“Kita ’kan ada ikatan batin.” jawab Katie seraya mengemudikan mobil.


“Ikatan batin, ndasmu. Ini sekarang kita mau kemana?” tanya Lindsey.


“Ada deh. Temani aku ke suatu tempat.” jawab Katie.


“Jauh? Aku tidak bisa lama-lama, loh! Aku harus kembali ke firma untuk membuat laporan.” balas Lindsey.


“Tidak, kok. Sebentar lagi sampai.” ucap Katie.


Mobil Katie berhenti di suatu tempat. Tempat tersebut adalah bangunan seperti kuil. Tempat yang tidak pernah Lindsey kunjungi sebelumnya.


“Tempat apa ini?” tanya Lindsey seusai turun dari mobil.


Namun bukan kuil yang mereka masuki. Namun sebuah bangunan di belakangnya. Katie membawa Lindsey masuk dan bertemu seseorang di dalam. Katie duduk di lantai, berhadapan dengan orang itu. Lindsey pun tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2