
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
“Noah, adik itu pemberian Tuhan. Noah tidak bisa meminta sama Mommy. Ayo naik ke kamar tidur, sudah malam.” balas Lindsey.
Dengan cemberut, Noah naik ke kamar bersama Lindsey.
“Ya Tuhan, Noah ingin punya adik, laki-laki atau perempuan apa saja tidak apa-apa, Noah tidak ingin om Apis tinggal sendiri lagi ya Tuhan. Amin.” ucap Noah lalu menarik selimutnya untuk tertidur.
“Selamat malam, Noah.” ucap Lindsey.
Tidak ada balasan dari Noah. Padahal Noah belum tertidur dan Lindsey tahu itu.
“Selamat malam, Noah.” Lindsey mengulanginya lagi.
“Selamat malam, Mommy.” balas Noah.
Lindsey keluar dari kamar Noah setelah Noah tertidur pulas. Dia kembali turun ke bawah untuk menemui Jarvis.
“Darah memang lebih kental daripada air, Lindsey. Noah pintar sekali, bahkan dia mengutarakan yang ada di otakku.” sahut Jarvis.
Lindsey mengambil tangan Jarvis dan mengangkatnya. “Lihat? Tangan kita masih sama-sama memakai cincin. Jangan berusaha mempengaruhi Noah dengan apapun itu.” ucap Lindsey.
Jarvis melepaskan tangannya dari cengkraman Lindsey. Kemudian dia melepas cincin yang masih dipakainya dan menarik paksa cincin yang dipakai Lindsey. Dilemparnya jauh kedua cincin itu ke luar jendela.
“Perse*an dengan cincin. Memakai cincin bukan berarti menjalani pernikahan yang bahagia, ’kan? Ayolah, Lindsey. Aku tahu kamu tidak senaif itu. Dan sepertinya Noah sudah bisa mengerti jika kita beritahu siapa aku.” ucap Jarvis.
“Jarvis! Anak empat tahun bisa mengerti apa? Jangan kamu pikir kamu dekat dengan Noah, kamu bisa menjadi ayahnya. Noah memang cepat akrab dengan orang yang baru dia temui.” balas Lindsey.
Jarvis tertawa kecil. “Kamu bicara seolah-olah ini semua adalah salahku. Padahal aku hanya ingin memperbaiki semuanya yang tidak beres, menyatukan manusia yang seharusnya menjadi keluargaku. Ini semua salahmu, Lindsey. Jika kamu tidak pergi malam itu, akankah semuanya akan menjadi seperti ini? Yang seharusnya dipanggil ‘papa’, aku malah menjadi salah satu omnya Noah.”
“Aku tidak menyalahkanmu. Aku tahu semuanya salahku, semuanya menjadi kacau dan berantakan karena aku. Tapi tolong, kamu sama sekali tidak memperbaiki. Kamu malah memperparah.” balas Lindsey lalu naik ke kamarnya.
2 hari kemudian...
21.00
Setelah menemani Noah tertidur, Lindsey kembali ke kamarnya. Dia berpapasan dengan Jarvis yang ingin masuk ke kamar Noah, namun mereka sama sekali tidak bertegur sapa sejak malam itu. Ponsel Lindsey berdering.
“Halo, Lindsey? Aku tidak pulang ke rumah markas karena ada acara di rumah papaku dan minum-minum. Tidak apa-apa, ’kan?” ucap Katie.
“Tidak apa-apa. Memang seharusnya kamu tidak pulang.” balas Lindsey.
“Jarvis tidak akan macam-macam, ’kan?”
“Tentu tidak.” jawab Lindsey.
“Kunci pintu kamarmu sebelum tidur.” balas Katie.
Ting.. tong...
“Iya. Eh, ada yang datang. Kita sudahi saja ya.” ucap Lindsey lalu keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
“Paket untuk Lindsey.”
“Terima kasih.” ucap Lindsey yang menerima paket itu.
Lindsey pergi ke ruang tengah untuk membuka paketnya.
Ponselnya kembali berdering.
“Lindsey, paketnya sudah sampai? Aku bawakan semua yang ada di brankas kita. Noah harus segera melengkapi data untuk sekolahnya.” tanya Piter.
“Iya, terima kasih.” jawab Lindsey.
“Baiklah. Kapten dan Luven sedang di luar. Kita sedang bekerja. Nanti aku telepon lagi.” ucap Piter.
“Baiklah.”
Di dalam dus paket itu terdapat tumpukan map file dengan judul masing-masing yang ditulis tangan oleh Kapten. Lindsey melihat satu persatu judul map tersebut.
AKTA KELAHIRAN NOAH
AKTA KELAHIRAN LINDSEY
BUKTI MUTASI PERPINDAHAN UANG UNTUK KORBAN
AKTA KELAHIRAN FABIO
AKTA KELAHIRAN PITER
KARTU KELUARGA
AKTA TANAH RUMAH MARKAS
SERTIFIKAT JM BUILDINGS
Betapa terkejutnya Lindsey, bahwa sertifikat JM Buildings ternyata disimpan oleh Kapten selama ini.
Dan Jarvis keluar dari kamar Noah, berjalan menuju sofa ruang tengah yang adalah tempat tidurnya.
“Jarvis.. ini.” Lindsey menyerahkan map file dengan judul “SERTIFIKAT JM BUILDINGS” itu.
“Wah! Akhirnya kalian kembalikan juga!” ucap Jarvis dan menerima map itu.
“Tapi kamu ikhlas, ’kan?” tanya Jarvis kemudian.
“Itu kan milikmu.” jawab Lindsey.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Jarvis.
“Tidak.” jawab Lindsey singkat.
Dan ada sebuah map coklat yang tidak berjudul. Lindsey pun mengeluarkan isinya. Dan melihat halaman pertama adalah surat dengan bahasa inggris yang telah diisi oleh Kapten. Lindsey tahu jelas bahwa surat itu adalah surat gugatan cerai. Disana tertera angka 2 tahun yang lalu. Kapten sudah berniat menceraikan Lindsey 2 tahun yang lalu meski dia urungkan kembali niatnya itu.
Tentu saja hal itu membuat Lindsey tercengang. Dia pikir pernikahannya baik-baik saja meski mereka hanya berlindung di balik pernikahan agar bisa menjadi orangtua Noah.
Lindsey meremuk surat itu sebelum dia mengambil sebotol anggur merah di dalam kulkas dan menenggaknya langsung dari botol.
__ADS_1
Jarvis yang berada di sofa bersamanya bingung dan penasaran dengan kertas yang diremuk Lindsey.
Meski tidak pernah melihatnya dalam bahasa inggris, namun Jarvis juga tahu apa surat itu. Setengah hatinya merasa senang karena ini menjadi bendera merah untuk pernikahan Lindsey dan Kapten, namun setengah hatinya merasa kesal karena Lindsey telah diperlakukan seperti itu.
Jarvis menghampiri Lindsey yang berada di dekat kulkas, dan mencegah Lindsey yang ingin menenggak kembali botol anggur itu. Jarvis merebut botol anggur dari tangan Lindsey. Kedua mata mereka saling bertemu. Mata Lindsey sangat berkilau malam itu, terlihat seperti akan menangis.
Jarvis mengusap bibir Lindsey secara perlahan. Dia menenggak botol anggur itu sebelum menaruhnya di meja. Kemudian Lindsey bergerak maju dan mencium bibir Jarvis. Kedua bibir itu akhirnya bertaut, saling merasakan anggur merah yang terasa manis dan pahit di bibir mereka.
Jarvis mengangkat tubuh Lindsey dan membawanya ke kamar Lindsey. Kembali berciuman dengan teramat dalam di atas ranjang besar, melampiaskan nafsu mereka dan kerinduan setelah sekian lama tidak bercinta.
“Aku tidak ingin melakukannya malam ini.” ucap Jarvis yang berhenti mencium Lindsey.
“Kamu dalam pengaruh emosi dan alkohol.” ucap Jarvis kemudian.
Lindsey segera bangun dari posisi tidurnya. “Emosi dan alkohol sama dengan keinginanku.” balas Lindsey lalu kembali mencium bibir Jarvis.
“Tunggu. Kunci pintu dulu, bagaimana kalau Katie masuk?” ucap Jarvis kemudian.
“Dia tidak pulang malam ini.” balas Lindsey lalu mendorong belakang kepala Jarvis dan menciumnya.
“Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama, Lindsey.” ucap Jarvis sambil membuka kancing kemejanya.
Setelah melempar kemejanya, Jarvis kembali menidurkan posisi Lindsey dan bibirnya bergerak ke balik telinga, turun ke leher dan sekitarnya. Membuka kain-kain yang menutupi tubuh Lindsey. Bibirnya menelusuri permukaan kulit Lindsey hingga ke bawah.
“Tanpa k*nd*m?” tanya Jarvis.
“Tanpa k*nd*m.” jawab Lindsey.
“Rezeki Noah akan memiliki adik.” ucap Jarvis.
“Aaahh...!”
...****************...
Lindsey terbaring di atas lengan Jarvis, sementara jari-jari Jarvis sibuk membelai rambut Lindsey tiada henti. Hasrat sekaligus kerinduannya terbayar lunas dan peluh keringat di sekujur tubuhnya menjadi saksi hasratnya yang sudah tertuntaskan.
“Boleh aku bertanya?” tanya Lindsey.
“Boleh. Apa?”
“Saat kamu kecelakaan 5 tahun yang lalu, dan Carlos sulit dihubungi, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Lindsey.
“Itu ulah pamanku. Fabero. Dia mengancamku dengan nyawamu. Ternyata itu hanya ancaman, si*l*n.” jawab Jarvis.
Lindsey terdiam.
“Dia bilang dia mendapatkanmu dan menyekapmu di sebuah gudang. Mereka juga mengancam aku tidak boleh membawa anak buahku satupun. Aku dan Carlos langsung ke sana, sesampainya di sana, kita dihajar habis-habisan. Saat itulah aku baru sadar. ‘Ah, ternyata sebesar ini rasa cintaku pada Lindsey. Nyawa saja kupertaruhkan’. Namun ada Carlos yang melindungiku. Dia menyuruhku pergi mencarimu sementara dia di sana sekarat ketika anak buahku datang. Kondisinya sangat parah, seharusnya dia masih terbaring di rumah sakit, namun begitu kamu pergi, dia bangkit berdiri dengan tongkat dan ikut menemaniku kemanapun.” ucap Jarvis.
“Kamu bodoh, Jarvis. Saat itu aku dalam perjalanan ke mansion untuk menyelesaikan misi.” balas Lindsey.
“Kembalilah bersamaku, Lindsey. Kamu tidak akan pernah mendapat surat gugatan cerai dariku.” ucap Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih