
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
“... Bahkan untuk menggadai perusahaan kesayanganmu saja kamu tidak bisa. Sungguh sangat sangat sangat hebat sekali kekasihmu. Eh, apa sekarang tidak menjadi kekasih lagi? Hahahah... Aku tidak peduli. Pembalasan dariku baru saja dimulai, Jarvis. Aku akan menonton penderitaanmu dari jauh. Jangan lupa untuk selalu tersenyum.”
Panggilan berakhir.
Jarvis mengepalkan tangannya yang masih dibalut perban erat-erat dan menonjok meja kerjanya yang terbuat dari kaca itu pecah. Jarvis kemudian melihat bercak merah di perban tangannya. Matanya tertuju pada sebuah tulisan “Punya Lindsey !!!” di sana.
Dengan geram, Jarvis mencabut kasar perban itu hingga lepas dari tangannya dan melempar kasar ke udara. Tidak peduli dimana perban itu akan jatuh.
Jarvis segera berlari menuju rak buku dan membuka kamar rahasianya, tujuannya ada pada brankas yang terletak di kolong ranjangnya. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan brankas itu dan membukanya. Mencari sebuah dokumen di antara emas batang dan tumpukan uang bermata uang asing itu.
“AARGHHH...!” Jarvis melempar brankasnya itu saking emosinya.
“Kenapa, Jarvis?” tanya Carlos.
“.... Bahkan untuk menggadai perusahaan kesayanganmu saja kamu tidak bisa. Sungguh sangat sangat sangat hebat sekali kekasihmu...”
Jarvis teringat potongan kalimat yang diucapkan pamannya tadi di telepon. “Br*ngs*k! Selama ini kita tertipu! Lindsey adalah tikus kecil yang bekerja untuk pamanku! Sekarang dia telah pergi dan membawa semuanya!”
Dada Jarvis pun naik turun saking emosinya. Nafasnya memburu.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Jarvis?” tanya Carlos.
Jarvis keluar dari kamarnya, kembali berjalan ke meja kerjanya. “Cari Lindsey dan bawa dia ke hadapanku sekarang!” ucap Jarvis sambil berjalan.
Jarvis mengangkat gagang telepon di kantornya. “Ada dimana?!” tanya Jarvis.
“Wetss.. pelan-pelan, dong. Kamu ini bicara dengan pamanmu, lho.”
“Cepat katakan padaku! Ada dimana sertifikat perusahaanku!?” Jarvis berteriak.
“Datanglah ke Italy dan temui aku. Kita selesaikan secara kekeluargaan. Kita ’kan keluarga.”
Brak!
__ADS_1
Jarvis membanting gagang telepon itu.
“Siapkan pesawat dengan penerbangan tercepat ke Italy!” ucap Jarvis.
“Jarvis, bagaimana dengan para pemegang saham?” tanya Carlos.
“Katakan pada mereka rapat diadakan 2 hari lagi! Kamu ikut denganku sekarang!” jawab Jarvis.
...****************...
Di pesawat menuju Roma.
“Aksi kelompok kecil itu memang mulus. Mereka bisa menciptakan latar belakang seseorang dan memainkan peran tanpa celah. Meski hanya terdiri dari 4 orang, tapi mereka dapat berkoordinasi dengan baik. 1 orang memimpin, 1 orang ahli peretas, dan 2 orang berperan menipu kita. Apa tidak ada gelagat aneh yang kamu curigai dari Lindsey selama ini?” tanya Carlos.
“Aku tidak mencurigai Lindsey sama sekali. Justru yang aku curigai adalah Katie. Anak konglomerat mau bekerja di perusahaan properti biasa menjadi sekretaris yang tugasnya aku suruh-suruh?” balas Jarvis.
“Itu juga yang aku bingungkan darimu. Kenapa kamu terima?” tanya Carlos.
“Lindsey yang meminta. Dan aku juga melihat Katie seperti benalu yang mengintili Lindsey terus. Apalagi dia melepaskan diri dari ayahnya, darimana lagi uang kalau bukan dari Lindsey?” jawab Jarvis.
“Lindsey, Lindsey, Lindsey. Akar dari ini semua adalah Lindsey. Tidak, kebodohanmu karena sudah terjebak dalam tipu muslihatnya dia. Sekarang semuanya sudah habis, Jarvis. Habis. Karena wanita penipu itu.” ucap Carlos.
“Wait, what? Kamu pernah bertemu dengan Lindsey sebelumnya?” tanya Carlos.
“Lupakan. Aku sudah muak mendengar namanya. Bawakan saja dia padaku!” ucap Jarvis.
...****************...
Castillos del Vales, Rome.
Kediaman paman Jarvis.
Jarvis dan Carlos berjalan memasuki kediaman pamannya Jarvis dengan dikawal oleh beberapa penjaga di sana. Mereka berdua dibawa ke sebuah tempat yang gelap dengan bernuansa merah.
Dua penjaga masing-masing memegang lengan Jarvis dan memaksa Jarvis untuk berlutut tepat di hadapan pamannya yang duduk di kursi yang tinggi. Meski sempat melawan, tapi akhirnya Jarvis pun menekuk kedua kakinya. Sedangkan Carlos diseret paksa untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan Jarvis dan pamannya berdua saja.
Pintu ruangan yang terbuat dari besi itu tertutup.
“Selamat datang, keponakanku.” ucap pamannya Jarvis.
__ADS_1
“Apa yang paman inginkan lagi dariku? Aku sudah tidak memiliki apa-apa sekarang.” balas Jarvis.
“Menyenangkan. Menyenangkan sekali melihat wajahmu yang putus asa itu. Biasanya wajahmu selalu sombong dan merendahkanku. Nada bicaramu juga selalu angkuh.” ucap pamannya Jarvis.
Jarvis memalingkan wajahnya sejenak dan menghela napasnya.
”Kalau seperti ini jadinya, lantas, untuk apa paman mengancamku akan membunuh Lindsey, menyekap aku dan Carlos, menghajar, menikam kita, menabrakkan truk padaku, membuat kita berdua sekarat dan nyaris mati? Lebih baik paman matikan saja kita.” balas Jarvis.
“Untuk memberimu peringatan. Bahwa pembalasanku akan segera dimulai.” ucap pamannya.
“Paman, aku tidak masalah jika paman mengambil semua emas itu karena aku tahu itu semua memang bukan milikku sepenuhnya, itu warisan dari kakek. Dan aku tahu aku tidak sedarah dengan kalian. Tapi perusahaanku itu adalah milikku sendiri, bukan warisan.” ucap Jarvis.
“Oh, ya? Aah, kelompok kecil itu benar-benar cerdik. Aku juga kehilangan semua emas itu, Jarvis. Bagaimana, ya?” balas pamannya Jarvis.
“Apa?!” Jarvis mengerutkan alisnya.
“Iya, mereka membuat perjanjian denganku yang mengharuskan aku menyetujui untuk menyerahkan emas sebanyak 3 ton itu ke mereka. Selain 3 ton, emas, ada 4 atau 5 rekeningmu di bank asing yang mereka ambil juga, ’kan? Mereka benar-benar pandai mengambil keuntungan setinggi-tingginya.” ucap pamannya Jarvis.
“Apa paman sudah gila?! Paman menyerahkan semuanya?!” Suara Jarvis meninggi.
“Mereka memiliki kelemahanku dan mau tidak mau aku harus mengikuti keinginan mereka. Aku akui itu memang kesalahanku. Tapi aku tidak menyesal. Yang penting pada akhirnya kamu jatuh miskin, melarat, dan tunduk padaku. Selama kamu memiliki hartamu, kamu akan selalu bersikap angkuh padaku. Masa kejayaanmu sudah berakhir, Jarvis.” ucap pamannya Jarvis.
“Ya, ya, ya, baiklah. Aku tidak peduli sekarang. Berikan sertifikat perusahaanku sekarang.” ucap Jarvis dingin.
“Kamu tahu? Sebelum kerja samaku dengan kelompok itu berakhir, mereka menyampaikan sebuah saran padaku. Saran yang menarik.” balas pamannya Jarvis.
“Ya, ya, ya. Tapi aku tidak peduli lagi. Berikan saja sertifikat perusahaanku.” ucap Jarvis.
“Mengubah kelemahan menjadi kekuatan.” ucap pamannya Jarvis.
“Terserah. Aku hanya ingin sertifikatku kembali. Jangan buang waktuku.” balas Jarvis.
“Ah, Jarvis. Kamu sudah jatuh miskin dan melarat masih saja bersikap angkuh. Kamu ingin sertifikat perusahaan kembali?” Setelah itu, pamannya Jarvis mengambil map file yang sedang dia duduki.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1