Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Perawat Pribadi


__ADS_3

halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya..


‼️SPOILER‼️sedikit: bbrp bab ke depan isinya full keuwuan Lindsey & Jarvis 🥰🥰🥰❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥 nikmatin aja ya tanpa mikirin apa2 dulu 🤭🤭🤭


simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke bab sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Serrrtt....


Lindsey membuka gordyn dengan lebar sehingga sinar matahari masuk dengan bebasnya membuat Jarvis terbangun dari tidurnya.


“Kamu bermimpi apa? Sampai senyum-senyum, gitu.” tanya Lindsey seraya membuka rantang makanan 3 tingkat.


“Memimpikan kehidupan berumah tangga yang bahagia.” jawab Jarvis.


Setelah sekian lamanya, aku kembali merasakan tidur nyenyak sampai bermimpi. Dan mimpi itu terasa sangat nyata sekali.. batin Jarvis.


“Ini aku buatkan sarapan untukmu.” ucap Lindsey dan meletakkan makanan yang dia buat dari rumah.



Jarvis memajukan kepalanya untuk melihat lauk yang dibuat Lindsey lebih dekat lagi. Betapa gemasnya.


“Wah! Selamat makan!” ucap Jarvis lalu hendak mengambil sendok. Namun Jarvis kembali mundur.


“Kenapa? Tidak suka?” tanya Lindsey.


“Suapi aku.” jawab Jarvis.


Lindsey mengerutkan alisnya.


Jarvis membalasnya dengan menunjuk tangan kanannya yang luka.


Lindsey menghela napas kemudian duduk di tepi ranjang dan mulai menyuapi Jarvis dengan penuh kesabaran dan cinta kasih.


“Aaaa.... hap. Good boy..”


“Kenapa telur hatinya hanya ada satu? Cintamu untuk aku sangat sedikit sekali, huh!” protes Jarvis.


“Hati aku ’kan hanya ada satu!? Kamu harusnya bersyukur, yang di rumah aku buatkan bentuk bola.” balas Lindsey.


“Lain kali buatkan yang banyak untukku! Aku suka! Mulai sekarang, ini, ini, ini, menjadi menu favoritku!” ucap Jarvis dengan menunjuk telur, sosis, dan bubur.


“Baik, tuan..” ucap Lindsey.


Bubur di mangkok telah habis Jarvis makan dengan dibantu Lindsey. “Hah sudah habis?! Tidak dapat dipercaya. Kamu diam-diam makan makananku, ya?!” protes Jarvis.


“Jelas-jelas aku duduk di depanmu, menyuapimu!?” balas Lindsey. Lindsey bangkit berdiri untuk mengambil obat di atas nakas di samping ranjang Jarvis. Sementara Jarvis? Dia menjilati pingggiran mangkok bubur hingga bersih mengkilap.


“Sekarang waktunya minum obat.” ucap Lindsey dan kembali ke duduk di tepi ranjang. Lindsey mengeluarkan obat-obat yang harus diminum Jarvis dan memasukkannya ke dalam mulut Jarvis lalu membantu menyuapi gelas berisi air untuk Jarvis.


“Lindsey.. kepalaku gatal. Aku ingin keramas.” ucap Jarvis.


“Biar aku bantu.” Lindsey membantu Jarvis turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Lindsey menyiapkan kursi untuk Jarvis duduk dan menaruh kepalanya di wastafel. Kemudian Lindsey mulai mengeramasi Jarvis, memijat kulit kepala Jarvis dengan lembut.


“Ahh segarnya.. ah nyamannya..” ucap Jarvis.


Jarvis membuka matanya. Menatap wajah Lindsey yang tepat berada di atasnya, sedang mengeramasi kepalanya.


“Kenapa melihati aku?” tanya Lindsey.

__ADS_1


“Aku melihat masa depan kita di matamu.” jawab Jarvis.


“Sepertinya kemarin kamu tidak dipukuli di bagian mulut, ya? Bagaimana kalau aku saja yang melakukannya?” tanya Lindsey.


“Hey, aku ini bukan dipuk—Ah, baiklah...”


“Tutup matamu.” ucap Lindsey.


Terserah mataku, dong.” jawab Jarvis.


“Kenapa? Apa tatapan mataku membuatmu menjadi salah tingkah?” tanya Jarvis kemudian.


“Jarvis.. tanganku sedang berbusa, lho. Bagaimana kalau matamu—”


Jarvis langsung menutup matanya. Dia langsung mengerti maksud dari ancaman Lindsey.


Zsrasshhh..


Lindsey membilas rambut Jarvis hingga bersih dan tidak ada busa yang tertinggal. Setelah itu Lindsey mengeringkan rambut Jarvis dengan pengering rambut. Dan membantu Jarvis berjalan kembali ke ranjangnya.


“Lindsey, aku mau makan buah.” pinta Jarvis.


Lindsey mengambil buah dan duduk di tepi ranjang dekat dengan Jarvis sambil memotong buah apel.


“Potong buahnya jangan besar-besar.” ucap Jarvis.


“Aku tidak mau kulitnya. Kulitnya dibuang, ya. Bijinya juga jangan lupa dikeluarkan.” tambah Jarvis.


Lindsey memotong buah apel sesuai dengan keinginan Jarvis.


“Lindsey, aku kebelet. Bantu aku ke kamar mandi.” pinta Jarvis.


“Lindsey, aku tidak bisa menaikkan celanaku!” ucap Jarvis.


“Jarvis, tolong deh.”


“Aku yang seharusnya minta tolong. Lindsey, tolong akuuu..!!” balas Jarvis.


“Tidak mau! Usaha sendiri!” ucap Lindsey.


“Hm, tega.” Jarvis berusaha menaikkan celananya sendiri meski terdengar beberapa kali jeritan dan rintihan karena kesakitan di luka jahitannya.


“Lindsey, aku bosan. Bawa aku ke taman.” pinta Jarvis yang kesekian.


Lindsey membawa Jarvis ke taman dengan membantu membawa infus.


Perhatian mereka tertuju pada 2 bocah yang di seberangnya, sedang berebut es krim.


“Lindsey, aku mau es krim yang diperebutkan kedua bocah itu.” pinta Jarvis.


Hadeh. Bocah ini juga mau ikutan. batin Lindsey.


“Baiklah, sebentar ya.” Lindsey pergi mencari es krim. Tidak lama kemudian, Lindsey datang membawakan beberapa es krim yang Jarvis inginkan. Dia berikan satu untuk Jarvis, dan sisanya dia berikan untuk bocah itu.


“Wah.. akhirnya aku menghirup udara segar.” ucap Jarvis.


“Sebentar lagi kita harus kembali. Jangan lama-lama berada di luar. Nanti kamu masuk angin.” balas Lindsey.


“Hey, memangnya aku ini bocah?” tanya Jarvis.


“Memangnya tidak? Hari ini kamu seperti bocah.” jawab Lindsey.

__ADS_1


“Hey, aku ini sedang sakit—”


“Ya, ya, ya. Aku mengerti.” ucap Lindsey.


Jarvis tiba-tiba menggenggam tangan Lindsey. “Terima kasih sudah merawatku. Tidak bisa aku bayangkan apa jadinya aku jika tidak ada kamu.” ucap Jarvis.


Lindsey mengangguk. “Iya. Cepat sembuh, ya. Supaya tidak merepotkan aku lagi.” balas Lindsey.


Ting... Ponsel Lindsey berbunyi.


Kapten.


Jadwal baru: 2 hari lagi, tengah malam.


Ting.. PESAN BARU


Kapten.


Kali ini membutuhkan waktu lebih lama.


^^^Lindsey.^^^


^^^Apakah 1 malam cukup?^^^


Kapten.


Sangat cukup.


“Hm.. Jarvis, setelah kamu dibolehkan pulang, bagaimana kalau kita ke refreshing? Aku sedang ingin refreshing. Semalam saja.” ucap Lindsey.


“Ide bagus. Aku juga butuh refreshing. Baiklah, kita akan pergi.” balas Jarvis.


“Lindsey, aku punya satu permintaan lagi.” ucap Jarvis.


“Apa? Katakan.” balas Lindsey.


“Sebelum kamu datang ke rumah sakit, belikan ponsel untukku, ya. Pakai kartu kreditku.” ucap Jarvis.


“Siap, laksanakan!”


Mereka kembali ke kamar rawat setelah puas berada di luar.


“Waktunya mengganti perban.” ucap suster yang masuk ke kamar rawat Jarvis.


“Letakkan saja di sana. Saya memiliki perawat pribadi.” balas Jarvis.


Lindsey menunjuk dirinya dan bertanya. “Maksudmu itu aku?”


“Baiklah. Saya permisi dulu.” ucap suster dan keluar dari kamar rawat.


“Memangnya kamu bersedia kalau aku disentuh wanita lain? Tidak, ’kan? Cepat gantikan perbanku.” ucap Jarvis.


Lindsey membuang napasnya dengan kasar.


Laki-laki ini menyebalkan tapi ada benarnya juga! batinnya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2