Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Semu


__ADS_3

halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Kalau pakai baju seperti ini mah lebih baik aku tidak usah pakai baju!” balas Lindsey lagi.


“Oh boleh. Aku suka itu.” ucap Jarvis.


“Beli banyak baju tapi semuanya tidak karuan! Tidak ada satupun yang bisa aku pakai!” protes Lindsey lagi.


“Ya sudah, pakai dalaman doang juga oke, kok. Aku juga beli banyak, tuh.” balas Jarvis.


“Jarvis! Oh! Aku tahu.. Jangan-jangan kamu beli ini semua dengan banyak supaya bisa memberikan untuk wanita yang datang ke sini, iya?!” tanya Lindsey.


“Hm, salah. Supaya bisa nyetok buat kamu.” jawab Jarvis.


“Aku tidak percaya kalau buat aku saja!” balas Lindsey.


“Ya, memangnya aku punya wanita mana lagi? Wanitaku itu cuma satu. Yaitu kamu. Lican. Lindsey Cantik.” ucap Jarvis.


“Ah, masa bodolah! Aku tidak mau pakai ini semua!” balas Lindsey lalu kembali naik ke kamar.


“Lho? Jadi tidak mau pakai baju? Asyikkk!!” Jarvis mengikuti Lindsey ke kamar.


Rupanya Lindsey menggeledah lemari baju Jarvis lalu mengambil sebuah kaos berwarna putih dan memakainya. Kaos tersebut tampak kebesaran dan kepanjangan di tubuh Lindsey.


“Lho? Kok pakai baju aku?” tanya Jarvis.


“Sayang, kamu tidak lihat baju di bawah itu banyak tali-talinya, modelnya aneh-aneh, nanti kalau kamu kesulitan membukanya, bagaimana?” balas Lindsey dengan nada bicara yang menggoda.


“Oh.. mancing kamu, ya..” Jarvis meraih pinggul Lindsey, mengikis jarak di antara mereka. Kini kedua manik mereka saling beradu, tangan Jarvis merangkum pipi Lindsey, mulai mengusapnya.


“Jarvis..” ucap Lindsey pelan.


“Lindsey..” balas Jarvis.


Mereka saling memajukan wajah mereka hingga kedua bibir mereka bersatu, saling melumaat dengan rakus bibir satu sama lain. Jarvis dengan kasar melepas kancing kemeja yang dikenakannya satu persatu, melempar kasar kemeja ke sembarang tempat seraya bibir mereka yang aktif melumaat.


Langkah kaki mereka menuntun mereka ke ranjang besar yang berada di dekatnya yang akan menjadi medan bertempur mereka. Lindsey jatuh terduduk di atas ranjang. Di hadapannya sudah terpampanglah tubuh Jarvis dengan polos tanpa lapisan kain, otot kekar dan otot perutnya yang kuat dan kencang yang sering disebut ‘six-pack’ membangkitkan gairah Lindsey.

__ADS_1


Lindsey mulai menelusuri tubuh Jarvis dengan bibirnya. Dimulai dari di balik telinga Jarvis. Perlahan ia mulai menciumi telinga Jarvis, leher dan bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke dada bidang Jarvis. Jarvis memejamkan matanya dan sesekali mengeluarkan erangann-erangann kecil.


Satu tangannya merangkum kepala Lindsey. Tubuhnya tidak dapat berbohong. Dia terlena dan terbuai dengan bibir Lindsey yang nakal menjalar di permukaan kulit tubuhnya. Jarvis mulai terangsangg.


Tidak mau kalah, Jarvis melepaskan kaos kepunyaannya yang dikenakan Lindsey dengan satu tarikan. Sia-sia sudah mereka berdebat akan pakaian tidur yang Lindsey gunakan, hingga akhirnya Lindsey memilih kaos Jarvis untuk dia pakai. Tapi belum sampai 5 menit kaos itu dipakai, tubuhnya kembali terekspos.


Benar kata Lindsey, mengenakan kaos lebih mudah dalam memperlancar aksinya daripada gaun tidur yang minim bahan itu. Buktinya, kini tinggallah sepasang dalaman yang masih terpasang di tubuh Lindsey.


Lindsey membuka pengait branya di belakang, bibir Jarvis langsung menyosor leher dan sekitarnya lalu turun bertemu gundukan bukit yang kenyal. Bibirnya pun mmengemut, memainkan put*ng dengan lidahnya hingga desahaan pertama lolos dari mulut Lindsey. Sedangkan dada bagian kanannya tetap ia rremas-remas.


“Emmh.. aarghh.. Jarvis..!” Lindsey mendesahh hebat ketika Jarvis dengan jahilnya menggigit put*ngnya.


Jarvis tersenyum nakal. Bibirnya pun turun seraya meninggalkan jejak. Lindsey mulai terangsangg. Terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jari Jarvis mengarahkan ke selangkangannya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsangg.


“Aargghh.. eemhh.. Jarvis..” Lindsey meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tubuh Lindsey semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Tubuhnya kian menegang dan wajahnya memerah bercucuran keringat, pertanda Lindsey sudah mau mencapai klimaksnya. Jarvis mempercepat gerakan jarinya di dalam.


“Ohh.. arghh.. Jarvis..” desahh Lindsey dengan napas yang tersengal-sengal dan tiba-tiba..


“Jarvis.. aahh..!” Lindsey mendesahh hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi.


Lindsey membuka ikat pinggang yang melingkar di pinggang Jarvis dengan terburu-buru. Dengan alat pengaman andalannya, Jarvis merobek kasar bungkus itu dan dia pakai. Jarvis mensejajarkan tubuhnya di atas tubuh Lindsey. Dengan otomatis, Lindsey membuka lebar pahanya untuk mempermudah jalan masuk.


“Arghh.. emhh..” desahh Lindsey terputus-putus dengan mata merem-melek.


Jarvis percepat gerakannya dan terdengar suara berkecipak dari penyatuan mereka.


"Emhh.. aahh.. mmhh.. arghh.." Lindsey meracau tak karuan.


Keringat mereka bercucuran deras sekali. Wajah Lindsey semakin memerah.


“Enak?” tanya Jarvis saat bagian bawahnya beroperasi.


"Jarvis.. enak.. emhh.. ahh.. aahh.. aahhh.." jawab sambil mendesahh panjang, tubuhnya bergetar.


“Cantik.” ucap Jarvis sebelum dia mempercepat gerakannya dan.. Jarvis mencapai klimaksnya.


Lindsey pun mengambil alih operasi pertempuran mereka. Bergantian Lindsey yang memimpin. Ia duduk di atas tubuh Jarvis setengah telentang yang bersandar pada dipan. Lalu Lindsey mulai melakukan gerakan naik turun. Mula-mula pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.


Jarvis melihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat ke arah laki-laki di hadapannya. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexyy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan.

__ADS_1


“Cantik.” ucap Jarvis.


“Wajah cantikmu seperti ini hanya boleh aku yang lihat.” sambungnya.


Wajah Lindsey terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut panjangnya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tangan Jarvis merremas-remasnyaa. Desahaannya tambah mengeras ketika jari-jari Jarvis memelintir put*ngnya.


“Aahh.. emhh.. aah.. emhh.. aahh.." itulah kata-kata yang keluar dari mulut Lindsey.


“A..ku ti..dak ku..at la..gi, Jarvis.. aahh..” ucap Lindsey. Jarvis kembali mengambil alih, dia menggerakkan pinggulnya dan membiarkan Lindsey diam di atasnya.


“Aaahh.. Jarvis...!!” jerit Lindsey saat Jarvis mempercepat gerakannya.


“Aaahhh...!”


Lindsey terjatuh ke dalam pelukan Jarvis di hadapannya yang duduk bersandar dengan dipan. Napasnya terengah-engah.


Jarvis mengusap kepala Lindsey dengan lembut, mengesampingkan rambutnya, kemudian memberi kecupan mesra di kening Lindsey.


...****************...


Lindsey kini terlelap seraya memeluk perut Jarvis yang masih duduk bersandar di dipan sambil merokok. Tangan kanannya memegang puntung rokok dan menghisapnya lalu menghembuskan asap ke udaranya. Kemudian membuang abunya di asbak yang terletak di atas nakas samping ranjang. Sedangkan tangan kirinya sibuk membelai rambut Lindsey. Pandangannya terkunci pada sosok wanita yang tidur di sampingnya dengan tubuh yang telan*ang polos tanpa sehelai kain.


Jarvis kemudian menyingkirkan tangan Lindsey yang memeluk erat perutnya dengan perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan wanita itu. Jarvis menarik selimut tebalnya hingga ke atas untuk menutupi tubuh Lindsey. Kemudian dia bangkit dari ranjang, memakai celananya dan bergerak ke ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar.


Jarvis berjalan melewati meja kerjanya, dan memilih merokok di depan jendela seraya memandangi suasana di tengah kota pada malam hari. Ditemani dengan sebotol bir dan beberapa kotak rokok. Cukup banyak hal yang memenuhi isi kepala Jarvis, beban pikirannya terasa semakin berat dan satu-satunya yang dia butuhkan untuk melampiaskan stress-nya hanyalah bir dan rokok.


Sesaat Jarvis berbalik badan. Memandangi meja kerjanya yang berantakan dan tambah membuatnya sakit kepala. Di atas meja kerjanya, penuh dengan clipboard, kertas-kertas yang berantakan yang memperlihatkan CV, latar belakang, riwayat pendidikan, keluarga, teman seseorang.


LINDSEY SKY LEXIS


Siapa kamu sebenarnya, Lindsey?


...****************...


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2