Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Keluarga


__ADS_3

halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Nah, seperti itu. Mommy tidak mungkin memarahi Noah meskipun Mommy kesal sama Noah. Jadi, kalau Mommy sedih, Mommy tidak mungkin menangis di depan Noah. Tapi Noah harus tahu kapan Mommy kesal, kapan Mommy sedih.” balas Jarvis.


Setelah selesai mandi, Noah turun dengan seragam yang rapi dan tas dipunggungnya. Diikuti Jarvis di belakangnya.


“Mommy, Noah minta maaf ya karena sudah buat Mommy sedih. Besok Noah mandinya sama Mommy, deh.” Noah menghampiri Lindsey dan memeluknya.


“Sebenarnya Mommy tidak sedih, malah Mommy senang kalau Noah mandinya sama papa. Tapi Noah tidak lihat waktu, sebentar lagi terlambat tetapi kekeh mau mandinya sama papa.” balas Lindsey.


“Noah senang ya sama papa?” tanya Katie.


Noah mengangguk.


“Tetapi Noah tidak boleh menjadi anak yang keras kepala.” ucap Katie kemudian.


“Darah memang lebih kental daripada air, Katie. Jadi kusarankan kamu menikah dengan laki-laki yang tidak keras kepala.” sahut Lindsey.


“Ya, aku akui aku memang keras kepala apalagi untuk menyatukan keluargaku. Keras kepala itu harus. Tanpa keras kepala ini sulit untuk menyatukan keluargaku.” balas Jarvis.


“Kamu yakin mau kembali sama dia?” tanya Katie kepada Lindsey.


“Noah, Noah semalam bilang ingin punya adik berapa? Tiga, ya? Bagaimana kalau empat saja? Seperti umur Noah sekarang. ’Kan Noah suka kalau rumahnya ramai.” sahut Jarvis.


“Mau!” jawab Noah.


“Bilang sama Mommy.” ucap Jarvis.


“Mommy, Noah mau adik empat.” ucap Noah.


“Papa Jarvis, jawabannya adalah Noah.” balas Lindsey.


“Hm?”


“No, ah.”


“Wah, kamu benar-benar kreatif dalam memberi nama, ya. Nanti adik Noah aku yang berikan nama. Tidak mau tahu.” ucap Jarvis.


“Memangnya adik Noah kapan datangnya, pa?” tanya Noah.


“Noah, cepat habiskan sarapannya. Sebentar lagi terlambat, lho.” sahut Lindsey.


17.00


Nit nit nit nit cklek!


“Kenapa rumah ini sepi sekali? Lindsey? Noah?” Piter, Kapten, dan Luven sudah tiba di Jakarta, khususnya di rumah markas.

__ADS_1


Lindsey keluar dari kamar Noah. “Sstt... Noah sedang tidur. Kalian sudah kembali. Bagaimana pekerjaan di LA?”


“Beres. Bayaran juga sudah sampai. Aku mau mandi dulu, ya.” ucap Piter lalu naik ke kamarnya.


“Lindsey, kita harus bicara.” ucap Kapten.


“Kapten mandi dulu saja. Aku mau bersiap untuk makan malam.” balas Lindsey lalu berjalan ke dapur.


19.00.


“Ih, apaan sih Jarvis aku yang buka pintu kamu yang masuk!” protes Katie. Katie dan Jarvis pulang bersamaan namun Katie yang lebih dulu memasukkan PIN. Begitu pintu terbuka, Jarvis langsung menyerobot Katie dan masuk ke dalam.


“Noah, papa pulang! Loh, kalian sudah kembali?” ucap Jarvis sesampainya di dalam dan bertemu dengan Kapten, Luven, dan Piter.


“Papa!” Noah dengan muka bantalnya dan masih memeluk guling, membuka pintu kamarnya dari dalam dan berlari menuju Jarvis.


“Hey, baru bangun?” tanya Jarvis lalu menggendong Noah.


“Lebih tepatnya terbangun karena kamu.” sahut Lindsey dari dapur.


“Yah, maaf, ya.. lihat papa bawa apa?” Jarvis memberikan sekantong plastik es buah.


“Wah! Es buah!” seru Noah.


“Tunggu, tunggu. ‘Papa’?” sahut Piter.


“Om, ini papanya Noah. Papa Apis. Lihat hidung kita, mirip ’kan? Kita juga sama-sama suka buah, lho!” ucap Noah.


“Daddy juga papanya Noah. Papanya Noah ada dua sekarang.” ucap Noah.


“Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Kalian pasti sudah lapar, ’kan?” sahut Katie.


Mereka serempak makan bersama di meja makan. Meski agak canggung karena ada Jarvis dan membuat tiga laki-laki dewasa merasa kurang leluasa.


“Daddy, om, bawa pulang buah tidak?” tanya Noah.


“Bawa, dong. Tuh ada di kulkas.” jawab Luven.


“Yey! Habis ini kita semua makan buah, ya.” ucap Noah.


Selesai makan malam, Noah bersama Jarvis, Katie, Piter, dan Luven bermain konsol game di ruang tengah, Lindsey dan Kapten duduk di teras depan berbicara dua mata. Mata Jarvis tidak fokus menatap layar tv, terkadang matanya jelalatan ke arah teras depan.


“Aku minta maaf.. aku tidak berniat waktu itu.. aku pasti benar-benar sudah kehilangan akal.” ucap Kapten.


“Aku tidak ingin membebani Kapten lagi dengan pernikahan ini. Aku tahu betapa sulitnya menjadi ayah untuk anak yang bukan anak Kapten sendiri.” balas Lindsey.


“Linds—sumpah. Bukan seperti itu.” ucap Kapten.


“Untungnya Noah bisa memahami situasinya. Dia menerima kenyataan bahwa ada 2 orang yang menjadi ayah di dalam hidupnya.” balas Lindsey.

__ADS_1


“Jadi kamu sudah memutuskan? Untuk kembali bersama Jarvis?” tanya Kapten.


Lindsey mengangguk pelan.


“Bukan karena dia memberi perlakuan manis ke Noah, ’kan?” tanya Kapten.


“Aku sudah berkali-kali berpisah dengan Jarvis. Dan itu menyakitkan.” ucap Lindsey.


“Aku tidak mau hatiku merasakan sakit itu lagi.” sambung Lindsey.


“Jadi, Kapten. Mari kita bercerai. Ada atau tidaknya pernikahan ini tidak mengubah bentuk hubungan kita. Pernikahan ini hanya sebatas status saja untuk kita. Bukankah begitu?” ucap Lindsey kemudian.


Kenapa mereka lama sekali, sih? Bicarakan apa saja, ya? Perasaan, saat aku ingin bercerai dengan Gizella tidak selama ini pembicaraannya... batin Jarvis. Hatinya gelisah.


“Pa, aa!” Noah menyuapi Jarvis buah.


“Kapten selalu menjagaku dari sebelum adanya pernikahan ini, memperlakukan aku dengan begitu baiknya, namun jujur.. Aku tidak pernah melihat Kapten sebagai seorang laki-laki ataupun suami. Aku melihat Kapten seperti keluargaku, pengganti om Lexis.” ucap Lindsey.


“Aku tahu itu..” balas Kapten.


“Terima kasih telah membantuku membesarkan Noah selama ini, memberikan kasih sayang seorang ayah yang tidak bisa aku berikan untuk Noah, dan menjadi satu-satunya orang yang dapat aku dan Noah andalkan.” ucap Lindsey.


“Jika Noah bukan anakmu, misal anak Katie atau Luven, dan Piter, aku tetap melakukan hal yang sama seperti yang selama ini aku lakukan untuk Noah. Kita semua adalah keluarga.” balas Kapten.


“Betapa beruntungnya kita memiliki pemimpin seperti Kapten.” ucap Lindsey.


“Berbahagialah, Lindsey. Supaya ayahmu juga bahagia di sana. Mulai sekarang, jangan hanya memikirkan Noah saja. Kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri.” balas Kapten.


“Terima kasih, Kapt.” ucap Lindsey. Matanya berkaca-kaca namun dia dapat tersenyum malam itu.


Lindsey dan Kapten kembali masuk ke dalam, bergabung bersama di ruang tengah.


“Noah, sudah malam.” ucap Lindsey.


“Sebentar lagi, ya, Mommy.” balas Noah.


“Ok. 10 menit.” ucap Lindsey.


“Tunggu. Kalian tidak mungkin tidur bersama, ’kan?” tanya Jarvis yang merujuk pada Lindsey dan Kapten.


“Aku akan tidur bersama Katie.” jawab Lindsey.


“Nah, bagus. Kebetulan tulang belakangku sakit kalau tidur di sofa. Jadi aku akan tidur di tempatnya Lindsey.” ucap Jarvis.


“Kapt, Kapten yakin mau tidur bersama orang ini?” tanya Piter.


“Yakin, lah.. ayo!” Jarvis merangkul Kapten dan berjalan bersama ke kamarnya.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2