
“Kalau otakmu seencer ini terus, aku yakin bentar lagi kamu akan naik pangkat, Lindsey.” sahut Piter.
“Hey kalian semua! Bisa berhenti mencemoohku?” balas Lindsey.
“Sekarang tinggal bagaimana caranya kita menemukan bukti yang kuat untuk mengubah asumsi Lindsey menjadi fakta.” ucap Kapten.
Kapten, Lindsey, dan Katie pun menatap ke Piter dengan tatapan menyudutkan. Lindsey mendekati Piter. “Bisakah kamu mendapatkan rekaman CCTV di lantai VVIP dekat kamar Jarvis?” tanya Lindsey.
“Aargh.. baiklah.” Piter beralih ke meja komputernya dan duduk di sana. Kemudian Piter mengepalkan tangan, lalu membuka tangan untuk meregangkan jari-jarinya. Agar tidak kaku atau nyeri saat jarinya bertempur.
Jari-jari Piter mulai mengetik di komputernya dengan kecepatan tinggi dan tidak memiliki jeda. Linddey, Katie, dan Kapten hanya bisa menyaksikan layar komputer yang berisi codingan . Hanya kaum programmer lah yang mengerti. 5 menit, 10 menit, jari Piter masih mengetik. Keringat Piter pun mulai keluar. Sesekali Katie mengelap keringat yang keluar di dahi Piter.
“Susah sekali ya sepertinya..” ucap Lindsey.
“Kita serahkan saja pada Piter.” balas Kapten.
“Nasib Lindsey bergantung padamu. Dan juga uang muka 100 juta.” ucap Katie.
Setelah jarinya bertempur dengan komputer hingga air keringat bercucuran, betapa kecewanya Piter begitu melihat sebuah kalimat di layar komputernya.
❌ Rekaman tidak tersedia ❌
Kapten, Lindsey, dan Katie juga melihatnya. Semangat mereka seketika memudar.
“Pasti Jarvis telah menghapusnya.” ucap Kapten.
“Untuk apa dia hapus? Bukankah itu satu-satunya bukti yang dapat membuktikan kalau dia tidak bersalah?” tanya Katie.
“Apa jangan-jangan Jarvis yang membunuhnya?” sahut Piter.
“Jarvis pun bisa membunuh om Lexis, dan membakar gudang yang masih ada 3 orang di dalamnya. Tidak menutup kemungkinan kalau Jarvis yang membunuh Caesta, kan?” lanjut Piter.
Tririring... Bunyi ponsel Lindsey memecah ketegangan di antara mereka. Dan yang meneleponnya adalah Aiden.
“Halo, Lindsey. Kamu tidak ke firma? Hari ini jadwal kita menemui mentor, loh.” ucap Aiden.
“Sepertinya aku harus ke firma. Surat izin sakit yang kalian buat tidak berguna.” ucap Lindsey kepada anak gengnya.
Suasana hati Lindsey mendadak memburuk ketika melihat rekaman CCTV tidak tersedia. Memang benar perkataannya, memikirkan kasus ini membuat kepalanya langsung pening. Lindsey naik ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, dia mengendarai mobilnya menuju ke firma.
Sesampainya di firma, Lindsey menerima sebuah barang yang dititipkan untuknya di lobi. Isinya adalah beberapa macam obat salep.
“Dari siapa?” tanya Lindsey kepada resepsionis.
“Di sini tertulis Carlos Scott. Dia juga memberikan nomor ponselnya.” jawab resepsionis.
Carlos memberikan obat salep? Apa suruhan Jarvis?
“Oh, aku mengenalnya. Terima kasih.” Lindsey mengantongi obat di dalam tasnya dan segera ke ruangan mentornya yang kebetulan berbeda dengan Aiden. Lindsey dengan terpaksa harus mengikuti pengajaran yang diberikan mentornya.
__ADS_1
“Untuk kasus pemerkosaaan, pelecehan, kekerasan seksual dalam hubungan sepasang kekasih, biasanya persidangan tidak berpihak kepada wanita sebagai korban. Karena dianggap itu adalah hubungan atas dasar suka sama suka, mau sama mau. Maka dari itu, jika kita menerima klien sebagai korban, kita harus membuktikan kalau korban tidak menyukai atau menginginkannya.
Jika kita kesulitan mencari bukti, cobalah untuk memeriksa kembali kronologi kejadian tersebut dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Karena informasi tersebut akan memberikan petunjuk tentang bukti apa yang harus dicari.” ucap mentornya.
Ternyata tidak sia-sia juga Lindsey mengikuti pengajaran yang diberikan mentornya. Dia mendapatkan ilmu baru yang pas sekali dia sedang kesulitan mencari bukti. Setelah dari ruangan mentornya, Lindsey kembali ke ruangannya dan membaca buku yang diberikan Kapten sebagai bekalnya menjalani akting profesi sebagai pengacara.
Tiba-tiba terlintas di benaknya mengenai berbagai macam hal yang akhirnya dia tuangkan di atas sebuah kertas. Lindsey mengambil pena dan buku catatan di atas meja kerjanya.
Jarvis menyuruhku mampir ke hotel.
Seseorang ditemukan tewas → Caesta. Mata-mata yang dikirim pamannya Jarvis.
Cara Caesta mati dicekik sama seperti aku yang dia cekik → Jarvis membalas dendamnya untukku?
Jarvis mengaku dijebak
Jarvis membunuh om Lexis. Dia membakar 3 orang hidup-hidup.
Kenapa di hotel jarvis? Jarvis berpura-pura?
CCTV lantai VVIP di Grand Mansion tidak ada →Jarvis yang punya Grand Mansion
Pembunuhnya antara paman Jarvis → karena Caesta ketahuan memata-matai dan sudah tidak berguna lagi / atau Jarvis → karena kesal dan ingin membuat pamannya ketar-ketir
Ting... Ponsel Lindsey berbunyi.
Kapten.
Lindsey.
Ulah Jarvis?
Kapten.
Aku rasa, iya.
Lindsey memijat dahinya dan menyandarkan bahunya di sandaran kursi. Apalagi yang kamu rencanakan, Jarvis..? batin Lindsey.
Flashback On.
Di bab 45: Mengepung — (Jarvis memberi perintah pada Carlos untuk mengumpulkan aset berharga yang dimiliki pamannya)
Setibanya Carlos dan Jarvis di JM Buildings, Carlos mengikuti Jarvis hingga ke ruangannya untuk memberikan hasil penelusuran aset yang dimiliki pamannya Jarvis.
“Setelah melakukan penelusuran, aku hanya menemukan ini yang merupakan aset fisik pamanmu di Italy.” ucap Carlos seraya memberikan dokumen yang berisi gambar:
6 unit rumah tinggal
2 hotel
__ADS_1
1 apartemen
Ladang minyak sawit
Ladang perkebunan tembakau
“Kira-kira menurutmu yang mana yang asyik untuk kita saksikan saat melenyapkannya?” tanya Jarvis.
“Kita tidak boleh menyentuh rumah tinggalnya apalagi hotel dan apartemen yang terdapat banyak penghuni di dalamnya.” jawab Carlos.
“Biarkan saja. Memangnya kenapa? Ini akibatnya jika dia berani menyentuh Lindsey.” balas Jarvis.
“Penghuni di dalamnya tidak bersalah, Jarvis.” ucap Carlos.
“Jika para penghuni meninggal dan keluarganya menuntut pamanku, pasti pamanku akan hancur saat itu juga.” balas Jarvis.
“Kita akan menjadikan itu sebagai kartu emas saja dan akan dikeluarkan di saat yang tepat. Lagi pula, jika kamu ingin memberinya peringatan, melenyapkan rumah, hotel atau apartemennya terlalu berlebihan.” ucap Carlos.
“Baiklah. Bersiap malam ini kita bakar ladang minyak sawitnya.” Jarvis memberikan perintah.
“Baiklah.” ucap Carlos menuruti perintah Jarvis.
“Oh, ya. Sama satu lagi...” ucap Jarvis.
Flashback off.
Setelah waktunya jam pulang, Lindsey pulang ke rumah markas dengan mobil yang dikendarainya sendiri. Kala itu jalanan cukup padat dan tidak macet parah. Sepanjang perjalanan Lindsey memikirkan mengenai bukti yang harus dia dapatkan untuk mengetahui kebenarannya. Karena jujur saja, saat ini pun Lindsey tidak bisa mempercayai Jarvis sepenuhnya. Semuanya masih abu-abu.
Sesampainya di rumah markas, Lindsey bergabung dengan anak gengnya di ruang tengah. Lindsey langsung memakan space paling besar di sofa karena dia merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas paha Kapten.
“Capek sekali, ya? Kasihan..” ucap Kapten seraya merapikan rambut Lindsey.
“Rekaman CCTV-nya masih tidak ada, Piter?” tanya Lindsey.
“Iya. Aku juga bingung.” jawab Piter.
“Bagaimana kalau kita masuk ke ruang keamanan Grand Mansion? Seperti yang biasa kita lakukan biasanya, Linds. Menyusup.” sahut Katie.
“Wah, itu gila. Sama saja seperti masuk ke kandang singa. Jarvis kan pemilik Grand Mansion.” balas Piter.
“Hah iya?! Grand Mansion milik Jarvis??” tanya Katie yang terkejut.
“Iya. Sertifikat kepemilikannya ada di safety box.” jawab Piter.
“Bisa saja kita menyusup. Tapi Jarvis dan Carlos tidak boleh ada di sana.” sahut Lindsey.
“Iya, benar itu. Begini saja, seperti biasa, Lindsey menangani Jarvis, Katie menangani Carlos, aku yang akan menyusup ke dalam.” ucap Kapten.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih