
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Sudah cukup masa penilaianmu. Ini bahkan sudah melebihi waktu yang telah ditentukan. Kapan kamu mulai mengambil kasus pertamamu?” oceh Luven.
“Ah, nanti saja.. aku masih perlu banyak belajar.” jawab Lindsey.
“Kamu ingat kasus pembunuhan berantai yang pernah aku tanyakan padamu?” tanya Luven.
“Yang kamu menjadi pengacara pembela tersangka?” tanya Lindsey.
“Iya.”
“Ingat, kok. Kenapa?”
“Aku berhasil membebaskan tersangka yang tidak bersalah itu.”
“Serius?!”
“Iya. Berkatmu.”
“Wah.. bagaimana dengan pembunuh aslinya?” tanya Lindsey.
“Masih dalam tahap penyelidikan. Dan kamu tahu? Kejaksaan mendapat banyak kritikan setelah itu. Aku jadi tidak enak, hahaha!” jawab Luven.
“Itu kesalahan mereka sendiri. Hebat sekali kamu, by the way.” balas Lindsey.
“Kok aku? Itu kan karena kamu. Aku membahas ini karena ingin kasih tahu ke kamu kalau kamu itu sudah cukup bisa menjadi pengacara tetap di GDP.” ucap Luven.
“Aku?”
“Iya. Oh, ya. Kamu sudah menelepon orangtuamu akhir-akhir ini? Mereka selalu mengkhawatirkanmu.” ucap Luven.
“Iya. Nanti akan aku telepon mereka.” balas Lindsey.
“Ajak makan bersama saja siang ini. Mau aku temani?” tanya Luven.
“Tidak usah. Kamu urus saja orangtuamu. Bagaimana? Mereka masih menentang hubungan kita?” balas Lindsey.
“Oh, ya! Aku lupa kasih tahu kamu! Masa orangtuaku menyuruhku membuat janji makan bersama kamu dan orangtuamu? Tapi tidak aku gubris karena kamu lagi sakit beberapa waktu yang lalu.” ucap Luven.
“Wah. Itu green light, Luven. Pasti orangtuamu telah mendengar kabar papaku mencalonkan diri sebagai presiden.” balas Lindsey.
“Bagaimana? Haruskah aku atur pertemuan orangtua kita?” tanya Luven.
“Ini sudah semakin dekat dengan tanggal pernikahanmu. Kalau tidak kamu atur secepatnya—” jawab Lindsey yang terpotong.
“Arghh, iya! Aku lupa! Baiklah aku akan mengaturnya!” Luven bergegas keluar dari ruangan Lindsey.
__ADS_1
“Eh, Lindsey. Bagaimana kalau kita malah disuruh menikah?” tanya Luven setelah keluar dan masuk kembali.
“Pikir saja. Aku sih tidak mau menikah denganmu, ya.” jawab Lindsey.
“ Hey, aku juga tidak mau kali!” Luven langsung keluar dari ruangan Lindsey.
Sepeninggal Luven dari ruangannya, Lindsey meraih ponselnya, mencari sebuah nama yang terdapat di kontaknya lalu menelepon orang tersebut. “Halo?”
“Halo, Lindsey! Akhirnya kamu menelepon mama! Bagaimana keadaanmu? Sudah sehat, nak?”
“Hehehe.. sudah kok, ma. Sudah kembali prima. Mama apa kabar?” balas Lindsey.
“Walah, syukurlah.. makanya kamu, tuh, jangan terlalu keras bekerjanya sampai drop gitu. Mama juga sudah ocehin Luven tuh!”
“Hahaha.. bukan salah Luven, kok, ma. Oh, ya, apa mama senggang siang ini?” balas Lindsey.
“Tentu saja. Ada apa, Lindsey?”
“Shopping, yuk, ma!” ajak Lindsey.
“ Wah! Ayuk! Akhirnya ada yang mengajak mama shopping!”
...****************...
Butik Chanelies
Jam 11.00
“Tubuh anda sangat cocok memakai pakaian yang ada di toko kami. Semuanya terlihat bagus di tubuh anda.” ucap seorang pelayan.
“Benarkah?” tanya Lindsey.
“Iya, tentu saja. Apa anda mau mencoba pakaian yang lainnya?” balas pelayan.
“Weleh weleh cantiknya... Anak siapa, sih, ini?” Suara bu William yang baru saja tiba di butik mengejutkan Lindsey.
“Mama?”
“Bagus sekali, loh, ini.. Sangat cocok di tubuhmu.” puji bu William.
“Yang benar, ma? Saya ambil ini 1, ya.” ucap Lindsey.
“Baik. Kami kemas pakaian anda yang tadi, ya..” balas pelayan.
“Memangnya anak mama yang cantik ini mai kemana, sih?” tanya bu William.
“Ayo, mama juga cari baju. Mau ketemu besan.” jawab Lindsey.
“Oh, ya? Jadi, orangtuanya Luven sudah berubah pikiran dan ingin bertemu dengan kita?” tanya bu William.
__ADS_1
“Berubah pikiran sih sepertinya belum. Ayahnya Luven belum membatalkan perjodohan itu.” jawab Lindsey sambil melihat baju satu persatu.
“Berarti ayahnya Luven masih memilih siapa yang paling menguntungkan untuk usahanya. Huh! Berani-beraninya dia menjadikan anak cantik mama sebagai pilihan!” balas bu William.
“Ma, coba pakai ini.” Lindsey mengambil sebuah baju yang digantung dan menyerahkan ke mamanya.
Sambil menunggu mamanya berganti pakaian, Lindsey duduk di atas sofa seraya membaca majalah, dan sesekali menyeruput teh yang disediakan untuknya.
“Lindsey, bagaimana?” tanya mamanya saat keluar dari ruang ganti.
“Coba tebak umur mama saya.” ucap Lindsey kepada pelayan.
“Hmm.. 35 tahun?” jawab pelayan ragu-ragu.
“Tuh, mama dengar, kan? Penampilan memang tidak bisa bohong, ma. Mama saya terlihat seperti 20 tahun lebih muda dengan pakaiannya sekarang, kan?” balas Lindsey.
“Hahahaha... Ok! Saya ambil yang ini, ya.” ucap bu William.
Bu William pergi ke kasir dan diikuti oleh Lindsey. Lindsey menyodorkan kartunya sebelum bu William mengeluarkan dompet. “Digabung sama punya saya, ya.” ucap Lindsey ke kasir.
“Eh? Kok kamu yang bayar? Jangan, jangan! Mama yang bayar!” balas bu William.
“Sudaahh.. tidak apa-apa.” Lindsey mendorong kembali tangan bu William.
“Kalau mama berterimakasih padaku, cukup suruh Luven bicara ke HRD untuk menaikkan gaji aku. Luven hanya menurut sama perkataan mama saja.” tambah Lindsey.
“Pasti! Orang sudah kerja banting tulang sampai masuk rumah sakit, masa gaji tidak dinaikkan?! Nanti mama bilang ke dia!” balas bu William.
Setelah membeli pakaian, Lindsey dan mamanya berjalan bersama menelusuri mall sambil melihat-lihat. Saat asyik berjalan, tiba-tiba mamanya Lindsey berhenti, teringat akan sesuatu.
“Eh? Sudah jam berapa ini?”
“13 menit lagi jam 12, ma. Mama ada janji?” balas Lindsey.
“Wah.. papamu pasti sudah menunggu. Ayo, Lindsey! Kita makan siang bersama, yuk!” ucap bu William.
Jadilah Lindsey, bu William, dan pak William makan bersama di sebuah restoran fine dining yang berbeda saat pertama kali mereka bertemu.
“Lindsey, kamu sudah sehat? Maaf papa tidak sempat mengabari. Kamu kurusan sekali.. pasti turun banyak ya karena sakit kemarin? Ayo pesan makan yang banyak!” ucap pak William memulai percakapan.
“Ah, hanya turun setengah kilo, kok, pa.” balas Lindsey.
“Aduh.. Sayang sekali.. Ayo, makan yang banyak! Papa sudah pesan makanan yang banyak untukmu.” ucap pak William kemudian mengangkat sebelah tangannya dan tidak lama beberapa pelayan datang mengantarkan makanan ke meja mereka.
“Makan yang banyak, ya, Sayang.” Bu William menaruh potongan lauk di atas piring nasi Lindsey.
Siang itu mereka kembali makan siang bersama sebagai keluarga. Pasangan suami istri itu selalu memberi perlakuan yang hangat untuk Lindsey. Sehingga membuat Lindsey merasa seperti anak yang sangat disayang oleh orangtuanya.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih