
“Ganti knalpot?” tanya Kapten.
“Iya.” jawab Lindsey.
Kapten menggeleng.
“Kalau tidak ganti, tidak bisa sengebut tadi mobilnya.” ucap Lindsey.
“Ya sudah. Sekarang semuanya naik. Tidur. Sudah malam.” ucap Kapten.
...****************...
Keesokan harinya..
Di JM Buildings,
Ruangan Jarvis.
“Dari 7 orang yang ditugaskan semalam di bandara, mereka melihat utusan pamanmu bertemu orang ini.” Carlos melaporkan kejadian semalam dan menyertakan 2 foto dari CCTV. Foto pertama memperlihatkan Kapten sedang berinteraksi dengan utusan pamannya Jarvis dan memberikan sebuah file. Lalu foto kedua memperlihatkan Kapten sedang berlari di bandara.
“Namun anak buah kita gagal mengejar mereka. Utusan pamanmu berhasil masuk ke pesawat menuju Italy sedangkan orang ini memasuki mobil ini.” Carlos memberikan selembar foto lagi dari CCTV di bandara yang memperlihatkan mobil Lindsey.
Jarvis mengambil foto yang memperlihatkan mobil Lindsey karena dia langsung mengenalinya. “Lho, ini kan...?”
“Warna, jenis dan plat mobilnya sama seperti mobil Lindsey. Dan aku sudah mengecek, memang mobil itu terdaftar atas nama Lindsey dan yang mendaftarkan adalah GDP Law Firm.” ucap Carlos.
Tiba-tiba Jarvis teringat semalam Lindsey pulang terlebih dahulu saat makan malam dengan tergesa-gesa dan mengatakan ada urusan mendadak.
Urusan mendesaknya... Apakah ini..? batin Jarvis menerka-nerka.
“Jadi, orang ini masuk ke dalam mobil Lindsey? Dan anak buah kita mengalami kecelakaan saat mengejar mobil Lindsey?” tanya Jarvis.
“Iya. 2 orang anak buah kita mengalami kecelakaan saat mengejar mobil ini. Mobilnya tertabrak mobil pengendara lain dan terpental sejauh 600 meter. Kondisi keduanya saat ini kritis, masih belum sadarkan diri.” jawab Carlos.
“Bagaimana dengan mobil Lindsey?” tanya Jarvis.
“Mobil Lindsey saat itu melaju sebelum lampu berubah warna menjadi merah. Jadi, dia aman.” jawab Carlos.
“Pengemudinya adalah Lindsey?” tanya Jarvis.
Foto yang berhasil dicetak itu tidak memperlihatkan dengan jelas siapa pengemudinya karena efek dari pencahayaan yang kurang akibat sudah malam, ditambah lagi kualitas gambar yang sangat rendah karena kamera CCTV menangkap seluruh mobil di jalan raya, sehingga harus diperbesar dan hanya menangkap tangan pengemudi.
“Dari CCTV terlihat kalau itu seperti tangan wanita. Jadi, kemungkinan besar pengemudinya adalah Lindsey.” jawab Carlos.
“Bagaimana bisa 7 orang kalah dengan 2 orang? Baiklah, aku mengirim 3 mobil, berarti ada 3 pengemudi, bagaimana bisa tiga tiganya kalah dengan 1 orang? Wanita pula?” balas Jarvis.
“Menurut pengakuan mereka, mobil Lindsey melaju dengan kecepatan tinggi dan jalanan agak padat sehingga anak buah kita kesulitan untuk menghentikan mobil Lindsey.” ucap Carlos.
__ADS_1
Jarvis kemudian berpikir sejenak.
“Tunggu. Mobil Lindsey.. aku yakin ada yang dimodifikasi. Karena saat aku mengemudikan mobil Lindsey, di kecepatan 40 saja aku merasa lebih kencang dari mobil biasa. Iya! Aku yakin sekali. Mobil biasa tidak seperti itu kecepatannya.” balas Jarvis.
“Apa maksudmu mobil Lindsey dimodifikasi? Apa menurutmu Lindsey mengerti hal semacam itu?” tanya Carlos.
“Atau jangan-jangan ada orang lain yang juga menggunakan mobil Lindsey?” balas Jarvis.
“Sepertinya tidak. Mobil ini Lindsey gunakan untuk sehari-hari, itu artinya dia sudah terbiasa dengan mobilnya sendiri yang kecepatan tinggi.” ucap Carlos.
“Hm.. Untuk apa Lindsey memodifikasi mobilnya, ya? Dan kenapa juga Lindsey bersama orang yang berinteraksi dengan utusan pamanku? Siapa orang yang bersama Lindsey ini? Apa hubungannya dengan pamanku? Apakah Lindsey juga terhubung dengan pamanku?” Jarvis berpikir.
“Sepertinya mereka tidak saling terhubung. Lindsey saja masih menganggap kalau Caesta menculiknya karena api cemburu, bukan suruhan pamanmu.” balas Carlos.
“Benar. Lindsey sepertinya tidak tahu apa-apa. Bahkan dia tidak tahu kalau dirinya terlibat dengan orang yang terhubung ke pamanku.” Jarvis menghembuskan napas berat.
“Cari tahu siapa pria di balik topi dan masker hitam ini yang bersama Lindsey. Dan kirim beberapa orang untuk berjaga di sekitar Lindsey.” Jarvis memberikan titah.
“Baik.”
“Oh, ya. Aku minta kamu cari tahu sebanyak-banyaknya mengenai hidup Lindsey sebelum bertemu aku, apa saja peristiwa yang pernah terjadi di dalam hidupnya, misal seperti kecelakaan atau apa. Lakukan ini secara diam-diam.” pinta Jarvis.
“Kecelakaan? Kamu mencurigai sesuatu?” tanya Carlos.
“Ya. Ada bekas jahitan di lengan kiri dan paha kanannya.” jawab Jarvis.
“Iya. Ditutupi oleh tato tapi dari tekstur kulitnya kelihatan.” jawab Jarvis.
“Oh... Kenapa tidak tanya langsung saja?” tanya Carlos.
“Kalau aku bertanya akan merusak suasana saat berhubu—” jawab Jarvis terpotong. Dia kembali menutup mulutnya sebelum mengatakan “berhubungan”. Mengingat Carlos seperti memiliki perasaan khusus terhadap Lindsey, Jarvis merasa harus berhati-hati dalam kalimatnya.
“Baik. Akan aku coba cari tahu.” balas Carlos.
“Oh, ya. Satu lagi! Setelah ini panggil Katie ke ruanganku. Aku ingin mencoba cari tahu melalui Katie, apa yang Lindsey lakukan semalam.” Jarvis kembali memberikan perintah.
“Baik.”
“Lalu, apakah kamu tahu apa yang diberikan orang ini ke utusan pamanku?” tanya Jarvis.
“Terlihat seperti sebuah dokumen. Tapi aku tidak tahu dokumen apa itu.” jawab Caros.
“Apakah utusan pamanku sudah tiba di Italy?” tanya Jarvis.
“Belum, Jarvis.” jawab Carlos.
“Kalau begitu, kerahkan anak buah kita secara diam-diam untuk mengepung bandara tempat utusan pamanku mendarat. Pastikan langsung menangkapnya begitu dia baru keluar dari pesawat. Jangan sampai gagal lagi seperti semalam.” Jarvis memberikan perintah.
__ADS_1
“Baik.”
“Tidak ada lagi. Kamu boleh pergi.” ucap Jarvis.
Carlos melangkah keluar dari ruangan Jarvis. Masih pagi, namun kepala Jarvis sudah dibuat pening atas hal yang terjadi semalam. Dia menghela napasnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Aku baru sadar ternyata aku tidak mengetahui apapun tentang Lindsey. Aku tidak tahu kenapa dia memodifikasi mobilnya agar bisa melaju dengan kecepatan lebih tinggi padahal dia seorang wanita yang seharusnya tidak membutuhkan itu. Lalu urusan mendadak? Kenapa dia ke bandara dan membantu seseorang kabur? pikir Jarvis.
Pintu ruangan Jarvis terbuka sempurna begitu Katie menempelkan kartu. Katie berjalan lurus mendekati Jarvis yang sedang duduk di mejanya.
Sebelum Katie mendekat, buru-buru Jarvis menyingkirkan foto CCTV itu dari mejanya dan memasukkannya ke dalam laci.
“Ada apa, Jarvis?” tanya Katie.
“Lindsey sudah berangkat kerja?” tanya Jarvis.
Kenapa tiba-tiba Jarvis menanyakan itu? batin Katie.
“Sudah. Dia berangkat sebelum aku.” jawab Katie.
“Apa dia orang yang suka terlambat?” tanya Jarvis.
Hah? Pertanyaannya semakin aneh. Apa Jarvis ingin mengenal Lindsey lebih dalam lagi? batin Katie.
“Tidak, dia paling disiplin waktu nomor 1. Kecuali alarmnya tidak bunyi.” jawab Katie.
Jadi, untuk apa Lindsey memodifikasi mobilnya agar bisa dibawa ngebut? batin Jarvis.
“Apa Lindsey punya hobi lain yang tidak terduga? Kebut-kebutan misalnya..?” tanya Jarvis.
Oh. Aku mengerti sekarang. Jarvis pasti sudah tahu mengenai semalam. batin Katie.
“Iya, dia suka ngebut di jalan tol kalau sedang stress dan banyak pikiran. Terkadang juga pergi menembak untuk melampiaskan stress.” jawab Katie.
Oohohh... Pantas saja... batin Jarvis seraya menganggukkan kepalanya.
“Kenapa? Ada lagi yang ingin kamu ketahui tentang Lindsey?” tanya Katie.
“Ada satu hal yang ingin aku ketahui. Mengenai tato di lengan kiri dan paha kanan Lindsey.” jawab Jarvis.
Mati. Tato itu kan Lindsey buat untuk menutupi bekas jahitan akibat luka tembak. Sepertinya Jarvis mulai menaruh curiga ke Lindsey. batin Katie.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1