
Lindsey membenarkan rambutnya. Pipi Lindsey merah merona. Kelihatan sekali wanita itu sedang gugup. Padahal jelas sekali ciuman mereka lepas sebelum pelayan itu masuk. Tapi kenapa gugupnya seperti habis kepergok?
“Aku ke toilet dulu.” Lindsey pamit untuk pergi ke toilet saat pelayan menghidangkan makanan di atas meja.
“Jangan lama-lama. Nanti aku samperin kalau lama.” balas Jarvis.
Lindsey membulatkan matanya, dan mencubit lengan Jarvis karena berbicara tidak lihat situasi mengingat masih ada pelayan di dalam. Buru-buru Lindsey keluar dari private room mereka.
Jarvis hanya melemparkan senyuman melihat tingkah laku wanitanya. Bagaimana bisa cantik dan menggemaskan keduanya dimiliki Lindsey sekaligus?
“Selamat menikmati.” ucap pelayan sebelum mengundurkan diri dari private room mereka.
Tinggallah Jarvis di dalam sendirian, menunggu kembalinya Lindsey agar bisa makan bersama. Sesaat ponsel Lindsey yang berada di atas meja menyala dan berbunyi karena ada pesan masuk.
Ting..
Mentor.
Terima kasih untuk hari ini.
Ting.. Ting.. Ting.. Ting.. Ting..
Mentor.
Photo.
Photo.
Photo.
Photo.
Photo.
Ting.. Ting..
Mentor.
Aku sudah memilih 5 terbaik. Coba kamu lihat dulu.
Pada awalnya Jarvis tidak merasa terganggu, namun bunyinya terus berulang hingga membuat Jarvis penasaran. Jarvis mengambil ponsel Lindsey dan membacanya. Dahinya spontan mengerut. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya foto apa yang dikirimkan seseorang yang dinamai “Mentor” oleh Lindsey itu. Karena foto tidak dapat terlihat jika dari notifikasi saja. Dan kalimat “terima kasih....” membuat Jarvis semakin overthinking.
Tidak tahan lagi, Jarvis membuka ponsel Lindsey. Ternyata ponsel Lindsey membutuhkan fingerprint untuk membuka ponselnya. Dengan terpaksa, Jarvis mengurungkan niatnya untuk membuka ponsel Lindsey. Dia kembali menaruh ponsel Lindsey di atas meja dan memilih untuk menunggu Lindsey kembali.
Sampai Lindsey membuka pintu ruang pribadi mereka, kembali dengan melontarkan senyuman dan dibalas oleh Jarvis. Lindsey kembali duduk di samping Jarvis.
“Ada pesan masuk dari mentormu.” ucap Jarvis.
“Oh? Nanti saja aku balasnya.” balas Lindsey.
“Kamu habis darimana dengan mentormu?” tanya Jarvis.
“Hm?”
“Dia mengucapkan ‘terima kasih untuk hari ini’.” ucap Jarvis.
__ADS_1
Lindsey langsung mengecek pesan masuk dari Luven.
“Oh! Ini.. tadi aku membagikan pandanganku mengenai kasus yang sedang dia ambil. Dan dia bilang dia merasa terbantu.” balas Lindsey.
Lindsey kemudian membalas pesan Luven. Ibu jarinya mengetik dengan secepat kilat lalu menaruh kembali ponselnya agar tidak terlihat oleh Jarvis.
Lindsey.
Pastikan wajahku tidak ada yang terlihat.
“Ooh.. lalu dia mengirimkan foto untuk kamu pilih. Foto apa?” tanya Jarvis.
“Foto.. foto aku yang akan dimasukkan ke portal website di firma.” jawab Lindsey.
“Wow.. jadi wajahmu akan terpampang di website? Coba aku mau lihat dong wajah kekasihku di foto seperti apa.” ucap Jarvis seraya tangannya bergerak ingin mengambil ponsel Lindsey.
Matilah.
Jarvis tidak boleh sampai melihat ini.
“Aku ada di sampingmu tapi kamu malah ingin melihat wajahku di foto?!” Lindsey dengan cepat menyembunyikan tangannya yang memegang ponselnya.
“Eh?”
“Kalau begitu lihat saja aku dari fotoku, tidak perlu melihatku secara langsung.” ucap Lindsey.
“Eh? Bu-bukan begitu. Iya, iya. Iya deh iya. Aku lihat secara langsung saja..” balas Jarvis. Jarvis mengurungkan niatnya kembali untuk melihat foto yang dikirim Luven.
Huh. Untung saja kamu banyak akalnya, Lindsey. batin Lindsey.
“Oh, ya. Ini kartu akses apartemenmu aku kembalikan.” Jarvis menyerahkan kartu akses apartemen kepada pemiliknya.
“Aku pindah ke hotel.” jawab Jarvis.
“Grand Mansion?” tanya Lindsey.
“Bukan. Hotel Orion Star.” jawab Jarvis.
“Kenapa pindah?” tanya Lindsey.
“Harga diriku tidak ada jika terus menumpang di tempat wanita.” jawab Jarvis.
Lindsey menyunggingkan senyumannya. “Tidak apa-apa. Aku jarang ke apartemen juga.”
Ting...
Tiba-tiba ponsel Lindsey berbunyi.
Kapten.
Kamu dimana?
Klien tiba-tiba mengubah waktu bertemu di bandara menjadi jam 10 malam ini.
Lindsey membaca pesan tersebut lalu melihat jam yang ada di pojok kiri atas di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 20:47.
__ADS_1
Ini aneh. Perasaanku semakin tidak enak. batin Lindsey.
Lindsey.
Pergi denganku.
Sebentar lagi aku pulang.
Setelah mengirimkan pesan itu, Lindsey bangkit berdiri dan mengambil tasnya.
“Jarvis, aku ada urusan mendesak. Aku harus pergi sekarang. Kamu tidak apa-apa, kan, pulang sendiri?” ucap Lindsey dengan tergesa-gesa.
“I-iya tidak apa-apa, tapi kamu mau kemana? Biar aku antar saja.” balas Jarvis.
“Tidak usah. Aku pergi duluan, ya!” ucap Lindsey lalu keluar dari ruang makan mereka dengan terburu-buru karena dikejar waktu.
Lindsey mengendarai mobilnya menuju perumahan Great Village dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di sana, ternyata Kapten sudah menunggu di depan pintu masuk perumahan dan langsung masuk ke mobil Lindsey.
“Kenapa tiba-tiba pamannya Jarvis mengubah waktu?” tanya Lindsey sambil mengemudi.
“Takut bertemu anak buahnya Jarvis.” jawab Kapten.
“Jarvis tahu soal pamannya yang mengutus seseorang ke bandara?” tanya Lindsey.
“Seorang Jarvis pasti tahu.” jawab Kapten.
Lindsey mengantar Kapten sampai di depan pintu gate yang diperintahkan pamannya Jarvis sebelumnya. Mereka sampai di jam 21.51.
“Pakai ini.” Kapten memberikan earbuds untuk Lindsey.
“Aku akan menunggu di sini.” ucap Lindsey.
Kapten kemudian memakai topi dan masker hitam lalu turun dari mobil dengan tangan kosong. File sertifikat JM Buildings dia masukkan ke dalam kaos abu yang dikenakannya.
Kapten masuk ke dalam bandara. Mencari seseorang di tengah padatnya bandara. Ribuan orang berlalu lalang keluar masuk bandara. Kapten mencari hanya mengandalkan foto orang yang diutus kliennya untuk mengambil sertifikat itu.
Tidak lama kemudian, seseorang dari belakang menyentuh pundaknya. Kapten pun menoleh dan melihat orang yang sama seperti di foto. Tanpa basa basi, Kapten mengeluarkan file sertifikat dari dalam kaosnya dan menyerahkan kepada orang itu.
Tepat setelah file sertifikat itu berpindah tangan, datanglah segerombol orang yang diduga adalah anak buah Jarvis. Kapten dan utusan paman Jarvis berlari untuk kabur.
Kapten harus memastikan bahwa sertifikat itu sampai di tangan kliennya, itu sebabnya dia khawatir anak buah Jarvis akan menangkap utusan klien. Maka dari itu Kapten membantu utusan kliennya ke tempat yang aman yaitu di pesawat.
Tidak menyerah, anak buah Jarvis mengejar mereka hingga utusan pamannya Jarvis check-in. Beruntungnya utusan paman Jarvis bergerak lebih cepat dan tidak bertemu anak buahnya Jarvis. Namun tidak dengan Kapten.
Dia masih dikejar oleh anak buahnya Jarvis yang jumlahnya lebih dari 5 orang. Sedangkan Kapten hanya sendiri.
“Lindsey, aku dikejar anak buah Jarvis.” ucap Kapten melalui earbuds sambil berlari.
“Apa?!”
“Aku sekarang ada di pintu—.” ucap Kapten terputus.
“Kapt? Pintu apa, Kapt?! Kapt?! Dimana, Kapt?!” tanya Lindsey.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih