
“Pembunuhnya pasti yang keluar dari jendela balkon kamar Jarvis dan dia juga memakai sarung tangan.” sahut Lindsey.
“Piter, coba diperbesar bagian wajahnya.” ucap Lindsey kepada Piter.
Piter menghentikan video dan memperbesar bagian wajah laki-laki itu meskipun hanya kelihatan matanya saja.
“Mata ini.. seperti tidak asing..” ucap Katie.
“Coba perbesar lagi.” pinta Lindsey.
Piter memperbesar lagi di bagian wajahnya hingga paling maksimal. “Ini sudah mentok.”
Lindsey mengambil alih mouse dari tangan Piter dan menggerakkan mousenya sedikit.
“Ada tahi lalat kecil di tulang pipi sebelah kiri. Aku tahu siapa orangnya.” sahut Lindsey.
“Carlos.” ucap Lindsey kemudian.
“Kamu yakin, Lindsey? Tahi lalat ini kan kecil sekali.” balas Katie.
“Tahi lalatnya memang kecil, tapi tetap terlihat di wajah Carlos yang putih.” ucap Lindsey.
“Tunggu. Sepertinya benar itu Carlos. Karena aku ingat di hari itu dan di jam yang sama Carlos bilang kepadaku mau ke hotel untuk mengambil setelan baju gantinya Jarvis. Katanya mereka tidak pulang semalaman.” balas Katie.
“Mereka tidak pulang semalaman karena berjaga di depan perumahan kita.” ucap Lindsey.
“Kalau yang keluar dari balkon adalah Carlos, bagaimana dengan yang keluar melalui pintu?” tanya Piter.
“Kalau yang itu aku tidak mengenalinya. Siapa tahu itu adalah anak buah Jarvis yang dia korbankan untuk dijadikan sebagai pembunuh.” jawab Lindsey.
“Itu hanya umpan. Karena mereka sudah melenyapkan CCTV yang di balkon, Jarvis berjaga-jaga jika CCTV yang di lorong terbongkar, yang kena adalah pembunuh palsu. Jarvis sudah mempersiapkan ini semua.” sahut Kapten.
“Si*l. Rapi sekali rencananya.” ucap Katie.
“Berarti pembunuhan ini adalah ulah Jarvis, bukan pamannya. Bagaimana, Lindsey? Kamu masih tetap ingin menjadi pengacaranya?” tanya Piter.
“Jarvis tidak boleh dipenjara. Kita masih belum menemukan aset harta dia yang lain.” jawab Kapten.
“Kapt, tapi masalah ini sudah sampai ke ranah hukum. Jarvis bisa saja ketahuan dan tamat di sini.” sahut Katie.
“Jarvis tidak akan dipenjara. Bukan Jarvis yang membunuh.” ucap Lindsey di tengah-tengah perdebatan.
“Pantas saja Jarvis bersikeras mengaku bukan dia yang membunuhnya. Tapi Carlos yang membunuhnya. Dan jika ketahuan pun, Carlos yang akan dipenjara. Bukan Jarvis.” ucap Lindsey kemudian.
“Sama saja. Jarvis yang menyuruhnya.” sahut Katie.
“Namun apakah Carlos akan menyebut nama Jarvis jika ketahuan nanti? Tidak akan.” balas Lindsey.
“Jadi, kamu akan tetap membela Jarvis sampai akhir?” tanya Piter.
“Ya. Mari berpikir realistis. Apa yang sekarang kita butuhkan dari Jarvis? Kita gunakan saja CCTV ini sebagai bentuk kelemahan Jarvis.” jawab Lindsey.
__ADS_1
“Tapi katamu Jarvis dan Carlos menunggu di restoran mana? Berikan alamatnya padaku.” tanya Lindsey kepada Katie. Lindsey kemudian melepas wig merah yang masih terpasang di kepalanya dan melepas ikatan rambutnya.
“Kamu mau mendatangi mereka sekarang? Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Kapten.
“Mengambil keuntungan.” jawab Lindsey.
“Katie, kirimkan alamatnya padaku. Dan Piter, kirim kedua video itu ke ponselku.” ucap Lindsey kemudian berjalan keluar dari rumah. Lindsey memilih menaiki taksi untuk ke restoran itu karena sedang malas membawa mobil.
Sesampainya di restoran, Lindsey mendapati Carlos dan Jarvis yang sudah menunggunya di sebuah meja. Lindsey menghampirinya dan mendapat tatapan seram dari Jarvis karena gaun hitam ketat selutut yang menampilkan lekuk tubuh beserta bokong dan dadanya yang bulat berisi, ditambah lagi lipstick yang dia gunakan yaitu warna merah merekah. Karena Lindsey langsung pergi ke restoran dan tidak sempat mengganti pakaiannya dan menghapus makeup-nya.
“Sudah menunggu lama, ya? Maaf, ya. Jalanan macet sekali.” ucap Lindsey.
“Oh, ya tidak apa-apa. Kalau begitu mari kita pesan makan dulu.” balas Carlos.
Jarvis mengernyitkan dahinya kepada Lindsey, memberi tatapan tidak senang.
“Ada yang ingin aku bahas dengan kalian.” ucap Lindsey.
“Apa itu?” tanya Carlos.
“Aku sudah menemukan cara untuk membebaskan Jarvis dari tuduhan.” jawab Lindsey.
“Oh, ya? Bagaimana caranya?” tanya Carlos.
Lindsey mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video rekaman CCTV. “Orang di dalam video ini... Itu kamu, kan, Carlos?”
Mata Carlos membulat. Carlos sempat menengok ke arah Jarvis yang berada di sampingnya.
Lindsey meraih wajah Carlos, menyentuh dagu Carlos dengan satu tangannya. Tangan satunya menutup area dari hidung hingga ke bawah. Menyisakan kedua mata saja. “Aku tidak salah lagi. Tahi lalat dan matamu mirip dengan di video.” ucap Lindsey.
“Katie bilang kamu ke hotel di hari dan jam yang sama saat pembunuhan itu. Untuk apa?” tanya Lindsey kepada Carlos dan menghiraukan Jarvis.
“Aku mengambil baju kerja Jarvis. Dia tidak sempat pulang ke hotel saat itu.” jawab Carlos.
“Tapi Jarvis masih mengenakan pakaian yang sama seperti di pesta perayaan JM Buildings. Ya sudah, tidak apa-apa jika ini bukan Carlos. Aku akan menyerahkan bukti ini ke kejaksaan dan biar saja kejaksaan yang mencari pemilik wajah di CCTV ini lalu otomatis Jarvis akan dibebaskan dari semua tuduhan.” ucap Lindsey lalu bangkit berdiri.
1... Lindsey mulai berhitung.
2...
“Lindsey, tunggu!” Jarvis bangkit berdiri dan menarik tangan Lindsey.
”Duduk dulu, ya? Kita bicara dulu. Iya, benar. Itu Carlos.” Lindsey kembali duduk.
“Kenapa?” tanya Lindsey.
“Hm?”
“Kenapa Carlos membunuh orang itu?” tanya Lindsey dengan memelankan suaranya di kata “membunuh” agar tidak di dengar orang lain di restoran itu.
“Aku akan sangat membenci kalian jika kalian membunuh dia untuk membalaskan perbuatan yang dia lakukan kepadaku.” tambah Lindsey.
__ADS_1
Jarvis membasahi bibirnya. “Aku yang memberi perintah. Jadi urusanmu hanya denganku.”
“Aku ingin Carlos juga di sini. Aku harus mendengar dari sisi dia.” ucap Lindsey.
“Lindsey, mungkin kamu akan terkejut dan tidak percaya setelah aku katakan ini..” ucap Jarvis.
“Jarvis!” Carlos menghentikan Jarvis.
“Sudah saatnya.” kata Jarvis ke Carlos.
“Tidak. Bukan ini saatnya.” balas Carlos.
“Aku seorang mafia.” ucap Jarvis dengan pelan kepada Lindsey.
Ok, Jarvis menerima umpanku. Dia sudah mengakui siapa dirinya di depanku. batin Lindsey.
“Bos mafia.” Jarvis mempertegas.
“Apa katamu?”
“Kamu tidak salah dengar.”
“Inilah aku dan cara kerjaku.”
Jarvis sudah mengakui tentang siapa dirinya kepada Lindsey. Dan mari lihat reaksi Lindsey.
“Ja-jadi.. maksudmu.. kamu..” Lindsey seakan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
“Ya. Aku selalu melakukan hal yang melanggar hukum. Hukum tidak pernah bisa memuaskanku. Benar katamu, aku tidak terima seseorang menyentuhmu apalagi melukai seluruh tubuhmu. Aku—”
“Cukup.”
“Cukup. Jangan teruskan lagi.” ucap Lindsey.
“Apa pembunuhan sangat biasa bagi kalian? Kalian bukan mafia kalau begitu. Kalian adalah pembunuh.” ucap Lindsey kemudian.
“Kita tidak pernah membunuh orang begitu saja. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api.” balas Jarvis. Nada bicaranya Jarvis tidak lagi lembut dan pelan seperti tadi. Nada bicaranya mulai dingin dan ketus.
“Kamu masih tidak merasa bersalah, Jarvis? Aku bisa membalas perbuatan wanita itu sendiri tanpa kamu yang harus bertindak!” ucap Lindsey.
“Dengan apa? Dengan hukum? Memenjarakannya? Bagaimana jka dia bertemu pengacara yang hebat sepertimu? Dia akan lolos dari jeratan hukum. Sama seperti kamu yang membebaskanku. Kamu tidak ingat? Kamu yang membebaskanku, loh?” balas Jarvis.
“Itu sebuah kesalahan. Aku akui itu salahku karena telah mempercayai orang yang salah. Dan aku berani bertanggungjawab atas kesalahanku sendiri. Aku akan mengungkapkan semuanya ke kejaksaan.” Lindsey kembali bangkit berdiri dari kursinya.
“Duduk. Aku belum selesai bicara.” ucap Jarvis dengan dingin.
Namun Lindsey menghiraukan Jarvis dan malah berbalik badan.
“Carlos, sebenarnya aku dan Lindsey..” ucap Jarvis yang berhasil menghentikan kaki Lindsey. Jarvis berbicara sambil menatap tubuh Lindsey dari belakang, berharap Lindsey kembali duduk.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih