
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. bab kali ini isinya lebih panjang.. krna yg seharusnya 2 bab, aku jadiin 1.
‼️SPOILER‼️sedikit: sbntr lg akan ada titik terangnya dari misi Lindsey n the gang.
simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Lindsey turun sendiri dari mobil lalu dijemput dan dikawal oleh beberapa anak buah Jarvis menuju titik pertemuan.
Jarvis bahkan tidak menjemputku langsung. batin Lindsey.
Di pertengahan jalan, muncullah Carlos.
“Berpencar.” ucap Carlos dengan singkat, padat, dan jelas kepada para anak buah. Para anak buah mengikuti perintah Carlos, meninggalkan Lindsey bersama dengan Carlos.
“Tidak ada hal buruk yang terjadi, ’kan?” tanya Carlos seraya merangkum kedua lengan Lindsey.
“Kamu tahu saat ini adalah kesempatan terbaikmu untuk merebut hatiku karena sekarang aku sedang tidak percaya dengan Jarvis.” ucap Lindsey.
Carlos memakaikan jasnya untuk Lindsey.
“Bukan berarti aku dapat kamu percayai sekarang.” ucap Carlos.
“Ya, memang seharusnya aku tidak memercayai kalian. Kemarin kalian bilang cinta dan hari ini kalian mengkambing-hitamkan aku. Dasar pecundang.” balas Lindsey lalu berjalan lurus melewati Carlos.
“Aku akan menjelaskan bagianku setelah kamu bicara dengan Jarvis. Karena posisi urutan Jarvis sebagai kekasihmu lebih awal dariku. Itupun kalau kamu butuh.” ucap Carlos. Namun Lindsey tidak menghiraukannya. Dia tetap berjalan lurus.
Carlos mengejar langkah kaki Lindsey dan mengantarkannya pada sebuah mobil sedan hitam yang di dalamnya sudah ada Jarvis. Carlos membukakan pintu untuk Lindsey masuk duduk di samping Jarvis. Lindsey masuk, Carlos menutup pintu kembali lalu mencari jarak yang agak jauh dari mereka.
“Lindsey? Lindsey, kamu tidak apa-apa, ’kan? Semuanya aman, ’kan? Polisi tadi tidak menyebut namaku, ’kan?” tanya Jarvis saat Lindsey sudah masuk ke dalam mobil.
“Kenapa kamu sebegitu takutnya?” balas Lindsey.
“A-aku..”
“Apakah laki-laki sejati malah kabur dan meninggalkan pasangannya?” tanya Lindsey.
“Lindsey, aku.. Lindsey, kamu tahu sendiri aku tidak bisa terlibat dengan masalah hukum. Aku ini seorang mafia.” jawab Jarvis.
Plak!
Sebuah tamparan dilayangkan oleh Lindsey dan berhasil mendarat di pipi Jarvis.
“Jadi, itu sebabnya kamu mengkambing-hitamkan aku untuk menanggung semua perbuatanmu?”
“Siapa bilang kamu tidak bisa terlibat dengan masalah? Statusmu, keturunanmu, pekerjaanmu sebagai seorang mafia saja adalah masalah. Justru di sini aku yang tidak boleh terlibat dengan masalah!” Emosi Lindsey mencuat.
“Kamu lupa siapa aku?!” tanyanya lagi.
“Oleh karena aku tahu siapa kamu, aku tahu kamu bisa mengatasi masalah ini, maka dari itu—” Kalimat Jarvis terpotong.
“Maka dari itu kamu mengkambing-hitamkan aku?” ucap Lindsey.
“Iya. Tapi semuanya sudah clear, ’kan? Aku tahu sekali kecepat-tanggapanmu dalam mengatasi masalah.” balas Jarvis.
Plak!
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Jarvis.
“Bahkan tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutmu setelah mengkambing-hitamkan aku?” ucap Lindsey.
“Linds, aku tahu aku salah. Bahkan maaf saja tidak cukup. Aku tahu itu.” ucap Jarvis.
“Apa kamu benar mencintaiku?” tanya Lindsey.
“...” Jarvis terdiam.
“Jawab pertanyaanku.” ucap Lindsey.
“Apakah itu perlu dipertanyakan lagi?” balas Jarvis.
“Baiklah. Aku akan berasumsi kamu tidak benar-benar mencintaiku.” ucap Lindsey lalu keluar dari mobil.
Jarvis menyusul Lindsey ke luar.
“Carlos, aku ingin—” Kalimat Lindsey terpotong ketika Jarvis berhasil meraih tangannya lalu mendaratkan ciuman di bibir Lindsey.
Lindsey mendorong tubuh Jarvis dengan sekuat tenaga, menjauhkan tubuh Jarvis, melepas paksa kedua bibir yang sedang menyatu.
“Kamu pikir semuanya akan selesai dengan ciuman? Se*s?” ucap Lindsey.
“Itu nafsu namanya. Bukan cinta! Yang aku butuhkan adalah seseorang yang bisa memberikan cinta untukku, bukan memuaskan nafsu.” sambungnya lalu berbalik badan membelakangi Jarvis.
Jarvis kembali meraih tangan Lindsey, menariknya paksa masuk ke dalam mobil. “Ikut aku!”
Jarvis memasukkan Lindsey ke dalam mobil lalu masuk ke kursi pengemudi, mengendarai mobilnya sendiri.
__ADS_1
“Jarvis. Jarvis! Mau kemana? Jarvis!” tanya Carlos yang diabaikan.
Jarvis mengendarai mobilnya sendiri tanpa Carlos. Tidak ada yang tahu kemana tujuannya, hanya Jarvis lah yang tahu. Lindsey pun menanyakannya berkali-kali namun Jarvis tetap diam dan fokus mengemudi.
Cukup lamanya Jarvis mengemudi dengan kecepatan tinggi, hingga sampailah mereka di sebuah gerbang yang tidak asing lagi di mata Lindsey. Gerbang terbuka, mobil Jarvis pun masuk ke dalamnya.
Terdapat sebuah bangunan rumah besar dan mewah. Jarvis membuka pintu mobil dan menyuruh Lindsey untuk turun. Mata Lindsey kian mengamati rumah yang tampak tidak asing di matanya, menerka-nerka rumah apakah itu dan akhirnya menemukan jawabannya sendiri.
Mansion.
Ya, itu adalah mansion pribadi orangtua Jarvis. Jarvis membawanya ke sana. Dapat dikatakan Jarvis kembali mendatangi mansion lama itu setelah hampir dua dekade dia pergi meninggalkannya. Karena baginya itu seperti mansion terkutuk.
Dan kini dia kembali datang ke mansion terkutuk itu, membawa seorang wanita yang berhasil mempengaruhi hidupnya, masuk ke dalam dan memporak-porandakan hatinya. Wanita yang membuatnya bertindak gegabah dan sulit berpikir panjang. Membuatnya menjadi impulsif, mengikuti kata hatinya saja.
“Ikut aku.” ucap Jarvis kemudian berjalan memasuki mansion.
Lindsey mengikuti langkah kaki Jarvis dari belakang. Dia masih tidak percaya Jarvis membawanya ke mansion yang menjadi tempat tinggal semasa kecil Jarvis, seakan mengajaknya berwisata ke masa lalu.
Setelah masuk ke dalam, mansion itu masih tetap sebagaimana mestinya; bersih, rapi, seperti ada sebuah kehidupan di sana. Tidak ditemukan satu debu pun di sana meski Jarvis sudah tidak lagi tinggal. Tidak seperti bangunan tua yang menjadi tempat yang berkesan mistis.
Jarvis berhasil membiarkan mansion itu tetap hidup dengan membayar para pekerja.
Begitu sampai, kedatangan mereka langsung disambut oleh para pekerja wanita yang rapi berseragam, berdiri berjajar dan membungkukkan tubuhnya. Namun Jarvis berjalan begitu saja seraya menarik tangan Lindsey.
Menaiki tangga yang bertubi-tubi, Lindsey memperhatikan sekeliling isi mansion tersebut. Woah.. Ini seperti istana. batinnya.
Jarvis membuka sebuah pintu ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar. Masuklah mereka ke sebuah kamar yang luas, dengan desain interior bernuansa biru gelap, mewah, ranjang yang berukuran king size tertata rapi seperti tempat tidur seorang raja.
“Bermalamlah di sini. Aku akan segera kembali.” ucap Jarvis lalu menutup pintu kamar dari luar, meninggalkan Lindsey berada di kamar yang masih terasa asing baginya.
Jarvis kembali menuruni tangga, berpapasan dengan Carlos yang baru sampai di mansion, “Jangan biarkan dia keluar dari mansion.” Perintah Jarvis kepada Carlos lalu pergi dari mansion.
Carlos mendatangi kamar Jarvis, mengetuk pintu itu secara perlahan. “Lindsey, ini aku.” ucap Carlos seraya tangannya menggenggam handle pintu dan siap membukanya.
“Jangan masuk.” balas Lindsey dari dalam.
“Baiklah. Aku ingin menjelaskan bagianku padamu. Bolehkah?” ucap Carlos.
“Meski begitu, aku tetap akan menjelaskan.” ucap Carlos. Carlos mengambil posisi duduk di lantai, bersandar pada pintu kamar. Mereka saling berkomunikasi namun terhalang oleh pintu.
“Saat Jarvis menyuruhku untuk menyelidikimu, aku melakukannya dengan sangat baik. Aku menyelidikimu dengan menyeluruh, hingga ke akarnya, mengulitimu dan tak tersisa. Dari sekian banyak yang aku dapatkan tentangmu, entah mengapa Jarvis memilih untuk menggunakan rekeningmu yang sudah tidak terpakai. Seandainya aku bisa mencegahnya.. pasti aku tidak membiarkan Jarvis menggunakan rekeningmu.” ucap Carlos.
“Untuk apa?” tanya Lindsey.
“Untuk dijadikan wadah yang akan menampung aliran dana dari bisnis Jarvis yang lain.” jawab Carlos.
“Bisnis apa? Mengapa polisi mencurigainya?” tanya Lindsey.
Carlos terdiam. Teringat sebuah kalimat yang pernah Jarvis lontarkan padanya.
Flashback ON.
“Jadi, kamu dan Lindsey telah kembali bersama?” tanya Carlos.
“Yup. Kita seperti takdir yang tidak bisa dipisahkan.” jawab Jarvis.
“Eh.. jangan bilang.. kamu masih menyukai Lindsey?“ tanya Jarvis kemudian.
“Apakah itu pertanyaan yang masuk akal?” balas Carlos.
“Bagus jika kamu berkata demikian. Kita memang sudah sahabatan lama dan sering saling berbagi apa yang kita miliki. Tapi ada 3 hal yang tidak bisa aku bagi denganmu, yaitu; harta, tahta, wanita.” ucap Jarvis.
Flashback OFF.
“Itu adalah bagian Jarvis. Aku hanya menjelaskan bagianku saja.” jawab Carlos atas pertanyaan Lindsey.
“Meski aku bilang ‘hanya kamu yang dapat aku percaya saat ini’, kamu tetap tidak ingin memberitahuku?” tanya Lindsey.
“Jangan membuatku menjadi pengkhianat, Lindsey.” ucap Carlos.
“Tapi kamu sudah menjadi pengkhianat.” balas Lindsey.
“....”
Carlos memiliki kesempatan untuk memberitahu Lindsey apa bisnis lain yang dijalani Jarvis. Namun dia memilih untuk diam. Penyebabnya adalah kalimat yang Jarvis lontarkan. Dia termenung dan tersadar. Dia telah memberikan segalanya untuk Jarvis, namun lain hal dengan Jarvis.
Harta, Tahta, Wanita. Tiga hal yang tidak bisa Jarvis bagi dengan Carlos.
“Lindsey, kamu sudah bersahabatan berapa lama dengan Katie?” tanya Carlos.
__ADS_1
“Mungkin 4 tahun.” jawab Lindsey.
“Apa saja yang sudah kalian berikan atau kalian miliki bersama?” tanya Carlos.
“Banyak. Uang hasil kerja, dalaman kita juga terkadang gunakan bersama, sikat gigi, kita juga pernah mengencani pria yang sama.” jawab Lindsey.
“Umur persahabatanku dan Jarvis 5x lebih besar dari umur persahabatan kamu dan Katie. Aku bersahabat dengan Jarvis, bekerja dengannya, melayaninya lebih lama dari umur persahabatan kalian.” ucap Carlos.
“Kamu memang anjing yang setia. Ada pepatah mengatakan anjing lebih setia daripada manusia.” balas Lindsey.
“Tapi apa kamu tahu? Ternyata ada 3 hal yang tidak dapat kita miliki bersama. 3 hal yang menjadi tembok pembatas di antara kita.” ucap Carlos.
“Kamu bisa meruntuhkan tembok pembatas itu. Tembok pembatasnya hilang, selesai.” balas Lindsey.
“Kamu tahu apa tembok pembatasnya itu? Harta, tahta, wanita.” ucap Carlos.
Lindsey membuka pintu kamar, mengejutkan Carlos dan membuatnya terjungkal ke belakang.
Lindsey duduk berlutut, membantu Carlos bangun. “Carlos, kenapa kamu tidak hancurkan saja tembok pembatas itu?” tanya Lindsey.
“Apa maksudmu?” balas Carlos.
“Konon katanya orang terdekat adalah orang yang paling berbahaya.” ucap Lindsey.
“Lalu?” tanya Carlos.
“Kamu ’kan orang terdekatnya Jarvis. Kenapa kamu tidak bergabung bersamaku saja untuk menguras harta Jarvis? Kamu tahu dimana letak keberadaan emasnya, aset-aset propertinya, bank, kamu bisa mengambil alih hartanya. Dan juga tahta, kamu tahu segalanya tentang JM Buildings, kamu pasti bisa mengambil alih dan mengubahnya menjadi CS Buildings. (Carlos Scott). Dan wanita, aku, aku sudah menjadi pacarmu, apalagi yang kamu khawatirkan? Kamu bisa merebut 3 hal yang tidak bisa Jarvis bagi denganmu.” ucap Lindsey.
Carlos meletakkan punggung tangannya di dahi Lindsey. “Panas.”
“Hah? Masa sih? Tapi aku tidak merasa sakit.” balas Lindsey.
“Kamu sudah gila, Lindsey.” ucap Carlos.
“Kok gila? Aku memberikan jalan terbaik untukmu.” balas Lindsey.
“Sekarang aku tanya padamu. Apa Jarvis memiliki kesalahan padamu?” tanya Carlos.
“Hm?”
“Kenapa kamu bisa berbicara seperti tadi dengan entengnya tanpa memikirkan Jarvis sedikit saja?” tanya Carlos.
“Aku hanya ingin membantumu saja. Aku memberikan saran yang tepat untukmu.” jawab Lindsey.
“Lindsey, aku tidak tahu apa yang ada di otakmu, kesalahan apa yang Jarvis perbuat padamu, sampai kamu mengatakan hal seperti tadi, jika kamu tidak bisa mencintai Jarvis dengan tulus, setidaknya kamu jangan menghancurkan hidupnya. Bagimu tempat ini adalah istana, tapi bagi Jarvis tempat ini adalah tempat terkutuk. Ada alasan mengapa dia pergi meninggalkan tempat ini dan tidak pernah mendatanginya lagi sampai hari ini. Sampai hari ini, kamu membuatnya datang kembali, membuatnya mengingat kembali kenangan terpahit dalam hidupnya. Jarvis bilang dia menemukan orangtuanya tewas tertembak dengan mata yang melotot di dalam kamar. Aku lupa kamar yang mana, bisa jadi kamar yang sedang kamu tempati sekarang.” ucap Carlos lalu bangkit berdiri.
“Carlos! Eh, Carlos! Kamu mau kemana?” tanya Lindsey. Mendadak bulu kuduknya berdiri mendengar kalimat terakhir yang Carlos ucapkan.
“Kenapa? Kamu mau aku ikut masuk ke dalam menemanimu?” balas Carlos.
“Itu tidak mungkin, ’kan?” tanya Lindsey.
“Tentu saja. Bagaimana kalau Jarvis kembali dan melihat kita berada di dalam kamar yang sama?” balas Carlos.
“Ta-tapi.. kamar ini.. Hmm, begini saja! Bagaimana kalau pintunya dibiarkan terbuka saja? Kamu di luar, aku di dalam.” ucap Lindsey.
“Hm, boleh.” balas Carlos.
“Ngomong-ngomong, apa kamu memiliki kabel pengisi daya? Ponselku mati karena kehabisan baterai. Aku harus mengabari orang rumah.” ucap Lindsey.
“Tidak perlu. Aku sudah bilang ke Katie bahwa kamu berada di tempat yang aman.” balas Carlos.
“Kamu tidak menjelaskan dimana aku? Bagaimana kalau mereka masih khawatir denganku?” tanya Lindsey.
“Aku sudah mengatakan bahwa kamu berada di tempat yang aman. Itu sudah cukup untuk menghilangkan kekhawatiran. Lagi pula memangnya kamu ini anak kecil?” balas Carlos.
Yah. Gengku pasti tidak tahu keberadaanku. Ponselku mati sehingga tidak dapat dilacak. Dan Carlos juga tidak mengatakan keberadaanku ke Katie. batin Lindsey.
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku merasa ada bagian dari kesalahanku juga. Tapi sungguh, awalnya aku tidak tahu jika Jarvis ingin menggunakan rekeningmu itu untuk menampung dana gelapnya. Kalau aku tahu, aku pasti—” ucap Carlos terhenti. Dia tiba-tiba menyadari mulutnya telah mengeluarkan kata yang seharusnya tidak keluar.
“Dana gelap?” ucap Lindsey.
“Ya, ya, ya. Aku mengerti sekarang. Polisi sampai menyelidiki rekeningku karena isi rekening itu adalah dana gelap. Baiklah, aku mengerti.” sambung Lindsey.
“Aku tidak bisa mengatakan lebih lagi. Intinya aku minta maaf. Lalu, bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah itu hanya dalam hitungan jam?” balas Carlos.
“Oh, itu. Pacar keduaku membantuku menyelesaikannya. Wah, kurasa Tuhan itu sangat adil, ya. Di saat 2 pacarku memberi masalah untukku, Tuhan memberikan 1 orang pacar untuk menyelesaikan masalahku.” ucap Lindsey.
“Oh, begitu ya?” Carlos keluar dari kamar dan menutup pintu kamar.
“Carlos! Carlos, hey! Buka pintunya! Hey! Please! Carlos!” seru Lindsey.
Carlos membukakan pintu kamarnya. Sepertinya Lindsey takut dengan hal yang berbau mistis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih