
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Bagaimana pun juga, Kapten adalah pemimpin bagi kami semua, yang dapat membimbing, mengarahkan, menjaga dan dapat kami semua andalkan, terutama untuk aku dan Noah.
Sampai sini, kalian semua pasti dapat mengerti maksudku. Ya, Kapten bukanlah ayah biologis Noah. Dan kalian pasti tahu siapa ayah biologisnya. Saat malam terakhir itu, aku dan Jarvis bercinta tanpa menggunakan pengaman. Aku tenggelam dalam perasaanku sendiri dan tidak terpikirkan lagi soal pengaman.
Kalau “Noah”, nama itu aku yang pilih sendiri. Yang artinya ketenangan dan bisa juga damai. Karena selama Noah berada di dalam perutku, Noah memberikan ketenangan untukku sendiri, Noah tidak pernah membuatku ngidam yang aneh-aneh. Kehadiran Noah mengobati kerinduanku terhadap Jarvis. Karena seiring pertumbuhannya, hidung Noah menjadi persis sekali dengan hidung Jarvis, mengingatkan aku pada Jarvis.
Selain itu, jika kalian bertanya-tanya dalam 5 tahun ini apakah kami masih melakukan pekerjaan yang sama atau tidak, jawabannya adalah ya. Profesi kami masih tetap, pekerjaan kami masih sama, yaitu menawarkan jasa berbayar pada klien yang membutuhkan jasa kami. Dan jumlah bayaran kami di sini juga berlipat-lipat lebih besarnya.
Formasi kami tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Bedanya hanya kami kedatangan anggota baru, yaitu Luven sebagai aktor yang memilih untuk meninggalkan pekerjaannya di firma hukum besar dan ikut bersama kami. Namun selama 3 tahun terakhir, Katie terpaksa kembali ke Jakarta dan meneruskan perusahaan ayahnya.
Kami sedih dan merasa kurang. Tetapi di sisi lain kami juga bahagia dan puas karena Katie menduduki kursi CEO. Tempat yang lebih pantas dan seharusnya untuk Katie berada. Dan dalam 5 tahun ini juga, ada seseorang yang perlu mendapat apresiasi dan penghargaan.
Yaitu Piter. Setelah kami bujuk selama 3 tahun lamanya, Piter akhirnya mau berkuliah dengan penjurusan Programmer. Yang patut diapresiasi adalah Piter mengikuti tes beasiswa secara diam-diam di belakang kami karena tidak ingin membuat kami khawatir soal biaya.
Niat baiknya membuahkan hasil. Dia berhasil memasuki kampus dengan beasiswa full, membuat kami bangga dan menyadari Piter bukanlah anak kecil lagi. Tahun ini usia Piter 24 tahun meski aku masih menganggapnya sebagai remaja 19 tahun.
Dan juga Piter berkuliah sambil bekerja bersama kami. Dia sering begadang untuk mengerjakan tugas kuliahnya, dan selalu mendapat nilai A, membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh dalam berkuliah. Meski keahliannya tidak perlu diragukan lagi, namun Kapten menyarankan Piter tetap harus berkuliah.
“Noah! Noah!” Aku berjalan keluar rumah, menghampiri anakku yang berlarian di atas pasir bersama Kapten dan Luven. Sudah berjam-jam lamanya aku mendengar suara cekikikannya sambil berlari dari kejaran Kapten dan Luven. Anak itu memang tidak ada capeknya.
“Bhaaa..! Ketangkap kamu, ya!” Kapten berhasil menangkap Noah dan menggendongnya.
Tawa Noah semakin kencang. Aku datang menghampirinya seraya membawa botol minumnya.
“Minum dulu. Daritadi berlarian sambil teriak-teriak, memangnya tidak capek?” ucapku seraya menyerahkan botol minum untul Noah.
__ADS_1
“Hayoloh, diomelin mami, loh..” sahut Luven
Noah pun menyedot air putih dengan begitu kuatnya. Melihat keringat yang membasahi dahi dan rambutnya, sudah pasti anak ini kehausan. Tanganku pun tergerak mengelap dahinya yang basah itu.
Tririring...
Perhatian kami langsung tertuju pada suara ponsel yang berdering dari dalam saku Luven.
Luven segera mengeluarkan ponselnya.
“Nah! Opa melakukan panggilan video, nih!” ucap Luven.
Aku tidak melupakan orangtua angkatku, begitu juga dengan mereka yang tidak pernah melupakan aku. Mereka menghargai keputusanku untuk menetap di LA. Komunikasi kami juga tidak pernah terputus. Bahkan setiap akhir tahun, mereka selalu datang ke LA dan bisa menetap bersama kami di sini sampai 2 bulan lamanya saking tidak ingin berpisah dariku dan Noah.
Oh, ya. Papa telah berhasil memenangkan pemilu dan menjadi presiden. Setelah 1 periode alias 5 tahun berlalu, papa memilih berkebun di halaman belakang rumah untuk menikmati masa tuanya.
Luven langsung menjawab panggilan tersebut dan mengarahkan ponselnya ke Noah yang sedang berada di gendongan Kapten. Aku pun spontan bergerak mendekat karena ingin melihat wajah papa angkatku. Ada juga mama angkatku di sana.
“Lindsey, kok papa telepon tidak diangkat?” tanya papa.
“Opa! Oma!” Noah memanggil mereka.
“Noah!Yaampun Noah cucu oma yang ganteng. Keren sekali nak rambutmu klimis begitu. Mau kemana sih memangnya?” sahut mama.
Kami semua pun refleks tertawa. Mengingat klimisnya rambut Noah itu karena keringat. “Itu keringat, tante. Hahahha...” jawab Luven meluruskan.
“Oh! Hahaha... Ada-ada saja.” balas mama.
“Biasa, ma... Anak kecil kalau belum tidur tidak akan berhenti main.” Aku menimpali.
“Tidak apa-apa yang penting sehat ya nak keluar keringat terus. Kalian semua bagaimana? Sehat kan disana? Fabio?” tanya papa.
Tentu saja aku mengenali Kapten sebagai ayah dari anakku. Karena mereka tahu Kapten adalah suamiku—menantu mereka, mereka pun menganggap Kapten sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
“Sehat kok, ma. Kan diajak berlarian terus sama Noah.” jawab Kapten.
“Hahhaha.. syukurlah kalau sehat semua. Kapan main ke sini? Sudah lama sekali kalian tidak kembali.” tanya mama.
Kami semua pun dibuat mati kutu oleh pertanyaan yang barusan diajukan mama. Karena kami tidak ingin kembali, kami sudah nyaman tinggal di LA. Jika kami kembali pun, kami akan menjadi incaran Jarvis, terutama aku.
“Aduh, nanti dulu deh, tan. Harga tiket sedang muahallll!” jawab Luven. Untung saja ada Luven. Luven telah menyelamatkan kami semua dari pertanyaan mama.
“Loh iya ya. Nanti saja ya tunggu harganya sudah turun. Tapi mama sudah kangen sekali dengan kaliaannn!” balas mama.
“Kalau tidak ada halangan, beberapa hari lagi kita akan kembali. Doakan ya, ma.” Tiba-tiba mulutku tercetus mengeluarkan kalimat itu.
Luven dan Kapten langsung menoleh ke arahku. Sebelum akhirnya terdengar seruan bahagia dari mama.
“Waahh..! Amin amin, mama doakan kalian segera kembali dengan selamat.” kata mama.
“Tan, bateraiku mau habis, nih!. Nanti kita sambung lagi, ya.” ucap Luven.
“Ok. Bye, Noah..”
Noah melambaikan tangan ke arah ponsel sebelum Luven mengakhiri panggilan videonya. Sesuai dugaanku, itu pasti karena mereka terkejut mendengar apa yang aku sampaikan ke mama di telepon tadi.
“Aku tidak salah mendengar, ’kan?” tanya Luven.
“Kamu yakin, Lindsey?” tanya Kapten.
Aku mengambil Noah dari Kapten. “Ya, kenapa tidak? Aku merindukan ayah kandungku.” jawabku.
Luven melirik Kapten. “Ayah kandung?”
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih