Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Sebuah Mantra


__ADS_3

halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Memang yang memberikan jam tangan itu seorang wanita?” tanya Lindsey yang ke triggered. Padahal tadinya Lindsey biasa saja.


“Kalau iya?”


“...” Lindsey terdiam sejenak.


“Aku akan membelikan yang lebih mahal.” ucap Lindsey yang tidak mau kalah.


Jarvis tersenyum. “Yang memberikan adalah seorang laki-laki. Aku memiliki hubungan bisnis dengannya.” ucap Jarvis.


“Apa hubungan kalian berjalan lancar?” tanya Lindsey.


“Lancar, sih.” jawab Jarvis.


“Yakin?”


“Jadi, gini. Di hari kita mengakhiri hubungan kita di kafe, sebenarnya aku harus menghadiri rapat di jam yang sama di sebuah galeri seni. Tapi karena aku ingin datang ke kafe itu, aku menyuruh Carlos mengatur hari lain. Dan pemilik galeri seni itu tidak mau. Dia ke Bali karena ada urusan lain. Aku dan Carlos mendatangi dia. Lalu akhirnya dia setuju untuk menandatangani perjanjian pembelian galeri itu. Karena kita akan berpisah, dia memberikan aku jam tangan itu.” Jarvis menjelaskan kronologinya.


“Jadi, galeri seni itu kini berpindah kepemilikan menjadi milik dia?” tanya Lindsey.


“Iya.”


“Berapa harga galeri seni itu?” tanya Lindsey.


“100 Miliar awalnya. Tapi dia menawar ke 95. Ya sudah, aku setuju akhirnya.” jawab Jarvis.


“Jadi dia memberikan 95 Miliar dan 1,02 kilogram sebagai ganti 5 Miliar itu..” balas Lindsey.


“Br*ngs*k. Aku lebih memilih uang daripada nark*ba.” umpat Jarvis.


“Apa nama galeri seninya?” tanya Lindsey.


“Art Spring. Oh, ya. Besok pameran galeri seni itu, dia mengundangku. Kamu mau ikut menemaniku?” balas Jarvis.


“Setelah 2 bulan? Baru mengadakan pamerannya besok?” tanya Lindsey.


“Mengembangkan bisnis galeri seni tidak mudah, Sayang. Mungkin butuh waktu untuk menghasilkan karya seni yang akan dipamer.” jawab Jarvis.


“Apakah kamu tidak merasa rekan bisnismu itu menjebakmu, Jarvis?” tanya Lindsey.


“Aku merasa. Tapi aku juga berpikir apa sebenarnya dia tidak tahu kalau di dalamnya ada nark*ba? Karena dia mengirimkan undangan ke pamerannya besok. Kalau dia menjebakku, bukankah seharusnya dia kabur jauh dariku?” jawab Jarvis.


Lindsey menaruh tangannya di dagu. Hmm.. Jarvis bisa berpikir juga ternyata.. batin Lindsey.


“Baiklah. Aku akan datang bersamamu ke pameran itu besok.” balas Lindsey.


“Lindsey, apa kamu yakin akan kasus ini?” tanya Jarvis.


“Sebelum ke GDP, aku sudah ke 2 firma lain dan cara kerja mereka lamban. Sudah 2 kali sidang tapi posisiku masih tidak menguntungkan. Bagaimana kalau di siang ketiga nanti posisiku juga tidak menguntungkan? Aku terancam 5 tahun penjara, Lindsey.” ucap Jarvis kemudian.

__ADS_1


“Jarvis, GDP adalah firma hukum terbesar di negara ini. Kamu tidak akan menyesal sudah memilih GDP.” balas Lindsey.


Kenapa Lindsey memamerkan firma hukumnya? Bukan dengan kemampuan dia sendiri? batin Jarvis.


“Bagaimana denganmu? Apa aku tidak akan menyesal sudah memilihmu?” tanya Jarvis.


“Tidak akan.” jawab Lindsey.


“Baiklah. Aku sedikit lebih tenang sekarang.” balas Jarvis.


Krruukk.. kruukkk.. krrrukk...


Perut Jarvis bergetar karena lapar. Sudah hampir jam 10 namun Jarvis belum sarapan. Lindsey akhirnya menemani Jarvis sarapan di sekitar firma.


Lindsey memesan menu sarapan untuk Jarvis sedangkan Jarvis duduk di kursi dengan meja panjang yang menghadap ke jalanan. Tidak lama kemudian, Lindsey datang membawa nampan berisi roti sandwich dengan isi irisan steak lembut dan tumisan bawang bombai, paprika hijau di atasnya, serta lelehan keju. Juga ice americano sebagai minumannya.


“Yey! Terima kasih! Kamu mau?” tanya Jarvis.


Lindsey menggeleng. “Makan sampai habis.” Jarvis langsung menyerbu roti sandwich dan memakannya dengan lahap.


“Kamu ini aneh-aneh saja. Kenapa tidak sarapan dulu sebelum ke sini? Memangnya kamu bisa beraktivitas dengan perut kosong?” Lindsey mengoceh.


“Aku lupa.”


“Habis dari sini, kamu ke kantor minta jemput Carlos, atau—” tanya Lindsey yang belum selesai.


“Aku bawa mobil sendiri.” jawab Jarvis.


Karena berbicara sambil mengunyah, terdapat sisa roti di pinggir mulut Jarvis. Lindsey mengambil sisa roti tersebut dengan tangannya.


Jarvis melihat ke sekeliling. Tampak beberapa mata tertuju pada mereka. Jarvis langsung menarik kursi yang Lindsey duduki agar duduk dekat dengannya.


“Memangnya setiap hari kamu bekerja dengan secantik ini? Dengan pakaian sebagus ini? Hm, dulu sepertinya tidak. Kamu ingin bekerja atau tampil di sebuah catwalk?” oceh Jarvis.


“Jadi, kamu tidak suka aku tampil cantik?” balas Lindsey.


“Banyak yang melihatimu!” ucap Jarvis lalu cemberut.


“Ya sudah, besok aku tidak usah pakai baju saja, deh.” balas Lindsey dengan sengaja.


“Lindsey! Uhuuk uhuk...!! Uhukkk!!” Jarvis tersedak.


“Makanya, makan dulu jangan berbicara.” balas Lindsey lalu mengarahkan sedotan minuman ke mulut Jarvis.


Setelah berhasil menelan, Jarvis kembali berbicara. “Kamu jangan memancing nafsuku—eh amarahku maksudnya. Apa-apaan tidak pakai baju?! Kamu mau aku belah tubuhmu menjadi beberapa bagian?!”


“Memangnya aku ayam potong?!” balas Lindsey.


“Makanya jangan cantik-cantik. Aku pusing menjaga kamunya.” ucap Jarvis.


“Belum lagi mentor kamu tadi tuh. Pegang pegang hidung segala, apa maksudnya coba?!” tambah Jarvis.


“Ughh gemes..!!!” Lindsey mencubit kedua pipi Jarvis kuat-kuat. Rasa gemasnya tidak tertahankan lagi saat melihat Jarvis sedang cemburu posesif. Tidak berani menyalahkn Lindsey, Jarvis malah menyalahkan kecantikannya.

__ADS_1


“Tapi kan yang bisa lihat dalamnya hanya kamu.” ucap Lindsey meredakan kecemburuan Jarvis.


“....” Jarvis kehabisan kata-kata.


“Bagaimana aku tidak cinta sama kamu kalau kamu sepintar ini mengambil hatiku?” ucap Jarvis.


“I love you.”


Sebuah mantra cinta berhasil lolos dari mulut Jarvis hari ini. Mantra itu berhasil tembus ke telinga dan hati Lindsey.


Dunia seakan berhenti seketika. Dan mungkin jantung Lindsey akan berhenti setelah mendengar 3 kata sakral itu.


“Aku baru sadar setelah kita berpisah kemarin kalau aku tidak pernah mengatakan hal itu.” ucap Jarvis kemudian.


Kata-kata tanpa aksi nyata memang sia-sia. Namun aksi nyata tanpa kata-kata juga terasa hampa. Keduanya memiliki kedudukan yang penting karena sama-sama menerjemahkan perasaan cinta. Cinta yang tulus memang diperlihatkan dari perbuatan. Namun, kata-kata yang terucap, jika benar-benar diperhatikan, bisa menunjukkan seberapa besar perasaan seseorang. 


Ungkapan ini memang terdengar klise. Namun, jika dilakukan dengan tulus, maknanya akan sangat mendalam. Kita harus berusaha memastikan orang yang penting bagi kita, tahu bagaimana perasaan kita kepadanya.


Dan wanita akan merasa romantis adalah ketika melihat usaha kecil yang diperlihatkan laki-laki demi dirinya, atau kata-kata dan perbuatan yang seperti bukan apa-apa. Karena dari situlah wanita akan tahu bagaimana perasaan laki-laki.


“I love you, too.” balas Lindsey.


“Jangan mengatakan ‘i love you, too’. Itu terdengar seperti kamu asal setuju saja denganku.” ucap Jarvis.


“I love you, Jarvis.” ucap Lindsey.


Jarvis tersenyum. Kemudian dia merangkul bahu Lindsey sekaligus memamerkan bahwa Lindsey adalah miliknya.


...****************...


“Hati-hati menyetirnya. Jangan ngebut.” ucap Lindsey saat keduanya sudah tiba di parkiran firma. Jarvis mengantar Lindsey kembali ke firma sebelum dia ke JM Buildings.


“Ngebut? Memangnya aku ini kamu?” ledek Jarvis.


“Kamu ingin memulai perang denganku?” balas Lindsey.


“Perang? Aku tidak bisa berperang selain di atas ranjang. Bagaimana?” balas Jarvis.


“Jarvis! Bagaimana kalau ada yang dengar?” Lindsey segera memperhatikan sekitarnya.


“Hehehe.. nanti selesai bekerja jam berapa?” tanya Jarvis.


Lindsey mengerdikkan bahunya. “Tidak tahu.”


“Jangan sampai kelelahan. Ingat, nanti malam kamu masih harus—” ucap Jarvis yang terpotong karena Lindsey segera menutup mulut Jarvis dengan tangannya.


“Iya, iya, iya! Sudah ah! Sana, pergi!” balas Lindsey.


“Kiss dulu di sini.” Jarvis memonyongkan bibirnya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2