Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Kesempatan Untuk Jujur


__ADS_3

halo semuanya, jumpa lg di episode kedua yg aku upload hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Hey, sudah datang?” Lindsey membukakan pintu. Jarvis masuk ke dalam lalu melepas jas, mengendurkan ikatan dasi dan menaruhnya di sofa.


Setelah membukakan pintu, Lindsey berjalan menuju dapur karena haus.


“Lindsey, aku pinjam charger ponsel, dong. Ponselku sudah mati, habis baterai.” ucap Jarvis seraya mengambil tas Lindsey.


Lindsey yang sedang minum pun langsung meletakkan gelasnya dan berlari ke arah Jarvis untuk mencegahnya mengambil tas.


Namun terlambat sudah. Jarvis keburu membuka tas Lindsey dan melihat foto-foto dia bersama Luven saat berada di parkiran.


“Foto siapa ini?” tanya Jarvis.


Untungnya, wajah Lindsey sama sekali tidak terlihat di 5 lembar foto itu.


“Emm.. ini.. Pasangan yang sedang berselingkuh. Ini bukti untuk kasus yang sedang aku tangani.” jawab Lindsey.


“Oh...”


“Ini.” Lindsey memberikan chargernya dan mengambil foto itu dari tangan Jarvis.


“Kamu habis buat kue?” balas Jarvis.


“Tidak. Aku baru saja pulang.” jawab Lindsey.


“Kok bau adonan kue, ya, di sini..” balas Jarvis.


“Oh! Itu.. kemarin aku buatnya. Mungkin baunya masih tertinggal.” ucap Lindsey.


“Memangnya kemarin kamu ke sini?” tanya Jarvis.


“Huh? Oh, iya..” jawab Lindsey.


“Jam berapa?” tanya Jarvis.


“Hmm.., jam..” Lindsey memutar bola matanya sambil berpikir.


“Jangan bohong padaku, Lindsey.” ucap Jarvis meninggi.


“Wanita mana yang dari pagi sampai malam menghabiskan waktu untuk bekerja, lalu sepulang ke rumah malah membuat kue?” sambung Jarvis.


****. Jarvis benar sudah curiga padaku. batin Lindsey.


“Ok, kalau kamu buat kue. Sekarang kuenya mana?” tanya Jarvis lagi.


“Aduh! Jarvis tidak sepayah itu, ternyata.” ucap Piter dengan suara yang berbisik dari dalam kamar.


Mereka bertiga sedang menempelkan telinga mereka di pintu, menguping percakapan Lindsey dan Jarvis dari dalam.


“Aku memberikan ke kakakku. Kamu tidak percaya? Ok, Aku akan menyuruh dia mengirim foto untukmu.” jawab Lindsey lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazer.


“Alright! Lindsey kita sangat pintar!” ucap Piter kemudian.


Jarvis menahan tangan Lindsey.


“Tidak perlu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” ucap Jarvis.

__ADS_1


“Silahkan.” balas Lindsey.


“Malam terakhir kita bertemu, saat makan malam di restoran, kamu pulang terlebih dahulu karena ada urusan mendesak. Urusan apa itu?” tanya Jarvis.


“Kenapa kamu menanyakan itu?” balas Lindsey.


“Aduh! Seharusnya Lindsey tidak bertanya balik saat ditanya..” ucap Kapten berbisik.


Jarvis duduk di sandaran sofa, menyeimbangi wajah mereka.


“Aku kan kekasihmu. Bukankah aku berhak menanyakan kemana kekasihku pergi malam-malam? Menyetir sendiri pula?” tanya Jarvis.


“Aku ke bandara.” jawab Lindsey.


“Oh my God.” ucap Katie berbisik.


“Ngapain?” tanya Jarvis.


Lindsey menghembuskan napas berat.


“Menyelamatkan seseorang.” jawab Lindsey.


“Oh, tidak!” ucap Katie berbisik.


“Dari?” tanya Jarvis.


“Sebuah kelompok mengejarnya.” jawab Lindsey.


“Tidak, Lindsey!” ucap Piter berbisik.


“Siapa yang kamu selamatkan?” tanya Jarvis.


“Lindsey, please!” ucap Katie berbisik.


Hem. Jadi, kakaknya Lindsey.. Carlos dan aku kecolongan untuk mencari tahu kakaknya Lindsey. batin Jarvis.


Sejauh ini aku tidak berbohong. Tapi tidak tahu setelah ini. Kumohon jangan bertanya lagi, Jarvis.. Itu karena aku tidak ingin membohongimu. batin Lindsey.


“Memangnya kakakmu kenapa sampai dikejar di bandara?” tanya Jarvis.


“Aku juga tidak tahu, Jarvis. Kenapa kamu terus mencecarku? Aku tahu aku salah karena telah pulang lebih dulu malam itu, aku minta maaf.” jawab Lindsey dengan memainkan emosinya.


“Hey, bukan seperti itu, Lindsey... Bukan.. aku tidak berniat mencecarmu. Aku hanya khawatir.” balas Jarvis.


“Tapi kamu tidak apa-apa? Karena di malam itu terjadi kecelakaan dan lokasinya tidak jauh dari bandara.” sambung Jarvis.


“Seperti yang kamu lihat. Aku tidak apa-apa.” balas Lindsey.


“Lindsey..” Jarvis memanggil nama Lindsey. Tangannya meraih tangan Lindsey dan menggenggamnya, membuat Lindsey bergerak maju, mengikis jarah di antara mereka.


“Tidak adakah yang ingin kamu ceritakan padaku?” tanya Jarvis kemudian.


Mata Jarvis dan Lindsey saling bertemu, menatap dengan tatapan yang dalam.


Kalau seperti ini, pasti ada yang baru saja Jarvis ketahui tentangku. batin Lindsey.


“Apa yang ingin kamu ketahui dariku, Jarvis?” tanya Lindsey.


“Semua. Semuanya. Semua tentangmu.” jawab Jarvis.

__ADS_1


Lindsey menyatukan kedua bibir mereka dan meninggalkan kecupan hangat di sana.


“Tidak apa-apa.. Masa kecilku juga sangat tragis. Tapi aku berhasil berbagi cerita denganmu.” ucap Jarvis.


“Kalau kamu ditinggal orangtuamu saat usiamu 6 tahun, aku tidak tahu ditinggal saat usiaku berapa. Aku besar di panti asuhan. Sesuai namanya, panti asuhan adalah tempat mengasuh anak-anak yang ditinggal orangtuanya.” Lindsey mulai bercerita.


“Pengasuhan di sana pasti bagus sekali. Mereka berhasil menciptakan wanita yang kuat sepertimu.” ucap Jarvis.


“Ketika kamu merindukan orangtuamu, kamu bisa mengunjungi makam mereka. Bagaimana denganku? Aku yakin sekali mereka masih hidup, tapi aku tidak tahu dimana mereka sekarang.” balas Lindsey.


“Hey..” Jarvis mengusap pipi Lindsey.


“Untuk apa merindukan orang yang sudah meninggalkanmu?” tanyanya.


“Aku tahu. Tapi tetap saja.. aku—” ucap Lindsey terputus begitu Jarvis mendekapnya.


“Percaya padaku, setiap hari mereka hidup dengan penuh penyesalan.” ucap Jarvis.


“Lalu, bagaimana caranya kamu bisa keluar dari panti asuhan?” tanya Jarvis kemudian. Dia melepas dekapannya.


“Seseorang seperti malaikat datang menjemputku. Membawaku keluar dari sana, dan memainkan peran sebagai waliku.” jawab Lindsey.


Apakah yang dimaksud Lindsey adalah Lexis? batin Jarvis.


“Benarkah? Tuh, untuk apa kamu memikirkan orangtua biad*bmu itu jika kamu sudah memiliki malaikat di hidupmu?” balas Jarvis.


“Tapi malaikat itu sudah kembali ke tempat dimana seharusnya dia berada.” ucap Lindsey.


“Hm?”


“Dia sudah pergi ke Surga, Jarvis.” ucap Lindsey.


“Maaf.. aku tidak tahu..” balas Jarvis.


Dan kamu yang membunuhnya, Jarvis. batin Lindsey.


“Tapi kini Tuhan sudah memberi malaikat pengganti untukmu.” ucap Jarvis.


“Aku. Bukankah aku seperti malaikat di hidupmu? Hehehe...” sambungnya.


“Hahaha... Sudah, kan? Aku sudah menceritakan padamu bagian terpedih di dalam hidupku.” ucap Lindsey.


“Sudah itu saja? Tidak ada lagi yang ingin kamu ceritakan padaku?” tanya Jarvis.


“Kamu ingin tahu apa dariku, katakan saja. Atau kamu ingin mengonfirmasi sesuatu tentangku, lakukan saja.” jawab Lindsey dengan nada meninggi.


“Aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk mengatakannya padaku tapi kamu membuang kesempatan itu.” balas Jarvis.


“Apa, Jarvis? Apa yang ingin kamu ketahui dariku?” tanya Lindsey.


“Kamu bergabung ke kelompok kriminal?” balas Jarvis.


My Godness. Jarvis sudah mengetahuinya. batin Lindsey.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


halo semuanya, hari ini aku berniat update lebih dari 1 episode, jadi tolong di like episode yang ini dan yang sebelumnya ya kak ☺️☺️ terima kasihh ❤️❤️


__ADS_2