
“Biar aku saja yang menyetir.” ucap Jarvis lalu merebut kunci mobil dari tangan Lindsey.
Jarvis mengemudikan mobil Lindsey menuju apartemen yang dimaksud. Setelah keduanya sampai, mereka memasuki salah satu unit di lantai 16 dan terdapat nama Lindsey di pintu yang menandakan bahwa unit apartemen itu adalah milik Lindsey. Lindsey membuka pintu apartemen itu dengan kartu tanda pengenal GDP dan mempersilahkan Jarvis masuk.
“Apartemen ini kosong, tidak ada apapun. Aku tidak pernah menempatinya.” ucap Lindsey berbohong. Padahal dia baru saja mendapat unit itu beberapa hari yang lalu.
“Tidak apa-apa. Yang penting ada ranjang. Aku hanya akan numpang tidur saja.” balas Jarvis.
“Baiklah.” ucap Lindsey lalu keluar. Jarvis menahan pintu sebelum pintu itu tertutup.
“Lindsey..” ucap Jarvis dengan nada yang manja.
“Hm?”
“Kamu tahu kan aku tidak bisa tidur tanpa kamu. Apalagi setelah menyaksikan mayat dengan penuh darah dan mata melotot..” rengek Jarvis.
“Oh, ya. Coba cek di kamar ini apakah ada mayatnya atau tidak.” Lindsey sengaja menjahili Jarvis yang sedang ketakutan itu.
“Lindsey!”
“Ah tidak mau ah! Pokoknya aku mau ikut kamu! Mau kamu tidur dimana saja, terserah! Yang penting aku ikut!” rengek Jarvis.
Laki-laki ini benar-benar. Menggemaskan. batin Lindsey.
Lindsey tersenyum puas setelah menjahili Jarvis lalu kembali masuk ke dalam. Lindsey duduk di atas sofa.
“Yey! Aku punya hadiah untukmu! Sebentar lagi hadiahnya datang. Tunggu, ya.” ucap Jarvis.
“Hadiah apa?” tanya Lindsey.
“Tunggu saja. Paling sebentar lagi sampai.” jawab Jarvis.
“Ngomong-ngomong, kamu masih menggunakan pakaian kemarin. Saat pesta perayaan ulang tahun JM Buildings.” ucap Lindsey.
“Ouh, ya. Aku baru sadar. Itu karena aku tidak pulang semalam.” balas Jarvis.
__ADS_1
“Kamu kemana?” tanya Lindsey mencurigai.
“Menjaga di depan perumahan seseorang. Aku khawatir dengannya.” jawab Jarvis.
“Oh, ya?”
“Iya. Dia menepis tanganku dan mengabaikanku kemarin. Kepalaku mau pecah memikirkan sikapnya.” ucap Jarvis.
“Oh, begitu ya?”
“Aku berjaga di mobil dan menurunkan kaca jendela sedikit karena panas. Eh aku jadi bahan santapan para nyamuk. Mereka main keroyokan, aku sendiri. Habislah aku. Lihat nih bentol-bentol merah. Gatal sekali.” Jarvis menaikkan lengan kemeja untuk memperlihatkan bekas gigitan nyamuk.
Lindsey tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Jarvis.
“Hahahaha...!!! Wah, berani sekali nyamuk itu. Kalau aku bertemu dengan mereka, aku akan membunuhnya!” balas Lindsey.
Ting.. tong.. Seseorang membunyikan bel apartemen Lindsey.
“Itu pasti hadiahnya!” Jarvis berjalan ke pintu untuk mengambil hadiahnya.
“Ini bukan hotel yang bisa memesan wine lalu diantar.” balas Lindsey.
“Ini bukan wine, Sayang.” ucap Jarvis.
Jarvis mengeluarkan sebuah botol kaca berisi air penuh berwarna kuning. Lindsey masih menerka-nerka apa isi botol itu.
“Ini ginseng asli dari Korea. Di dalamnya terdapat kandungan avanafil sedikit. Hanya sedikit.” bisik Jarvis lalu membuka tutup botol dan meneguk air itu langsung dari botolnya.
“Hanya sedikit. Tapi aku tidak tahu kalau dicampur dengan ginseng akan seperti apa jadinya. Kamu mau?” ucap Jarvis kemudian dan menawari Lindsey.
Lindsey jelas bukan gadis polos. Dia tahu betul apa itu avanafil dan ginseng. Beserta kegunaannya.
“Ha-hadiah macam apa itu, Jarvis?” tanya Lindsey.
“Hadiah ini akan lebih terasa maknanya jika kamu juga meminumnya.” ucap Jarvis.
__ADS_1
“Wah, Lindsey.. aku sudah merasakan hangatnya efek samping dari ginseng ini.” ucap Jarvis.
Jarvis terus meneguknya dengan lahap. Wajahnya kian memerah seperti tomat.
“Panas. Bagaimana ini, Lindsey?” ucap Jarvis.
“Jarvis..”
Jarvis mendekatkan wajah Lindsey, hingga ******* napasnya beradu dengan napas Lindsey. Jarvis mulai tak dapat menahan hasrat yang sudah meronta-ronta dalam jiwanya. Dan, hap! Jarvis menyerbu bibir merah Lindsey. Dia begitu membabi buta memagut bibir Lindsey, hingga membuat tubuh Lindsey jatuh ke sofa.
Jarvis merasa saat kulit mereka bersentuhan dan saling bertemu, seolah-olah ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengat dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Seolah-olah sudah kehilangan akal sehatnya, Jarvis menyambar leher Lindsey. Dia menjelajahi seluruh area leher dan telinga Lindsey. Jarvis bergerak menggila dan agresif.
Di sisi lain, Lindsey merem kenikmatan kala Jarvis menciumi telinganya. Tubuhnya menggeliat kenikmatan. Dan satu hasrat luar biasa kembali menyerang Jarvis ketika tidak sengaja dengkul Lindsey menabrak “gajah kecil” milik Jarvis di bawah sana. Jarvis benar-benar berada diluar kendali nya. Hasrat nya meningkat begitu tinggi. Semakin sulit dikendalikan.
Tidak ada obat yang bisa meredam hasratnya. Jika Jarvis belum menuntaskan pelampiasannya maka dia tidak akan berhenti. Namun Lindsey bangkit dari sofa, mengarahkan kedua kaki mereka ke kamar mandi dengan kedua bibir yang sibuk bertaut. Mereka terus saling menautkan bibir, dari sapuan manis di bibir pada akhirnya membawa lidah Jarvis mulai menyeruak masuk ke rongga mulut Lindsey.
Tangan kanan Jarvis menahan tengkuk Lindsey membuat ciuman mereka semakin mendalam, mereka bersama menikmati dibawah guyuran air shower yang mengucur di atas kepala mereka, membasahi seluruh tubuh mereka. Hingga menerawang kulit mereka di balik kemeja putih yang mereka gunakan.
Awalnya mereka hanya berciuman dan belitan lidah, kini tangan kanan Jarvis membuka kancing kemejanya dan kemeja Lindsey lalu melempar asal ke lantai tanpa basa-basi.
Setelah puas bermain di bagian bibir kekasihnya, Jarvis menyerang beberapa titik leher milik Lindsey, serangan demi serangan dilancarkan Jarvis di sepanjang leher jenjang Lindsey. Dan tanpa di sadari serangan tersebut berpindah ke bagian dada Lindsey yang sintal, dipenuhi air yang mengalir.
“Terima hadiah dariku, Lindsey.” ucap Jarvis lalu mengangkat tubuh Lindsey, membawanya keluar dari kamar mandi seraya menyatukan kedua bibir mereka.
Jarvis membaringkan Lindsey perlahan di atas ranjang yang berwarna putih kemudian kembali memagut bibir Lindsey. Ranjang yang belum pernah digunakan, sekalinya digunakan langsung menjadi tempat Jarvis melampiaskan hasratnya. Dan lagi-lagi terjadi, tidak sengaja Lindsey menyenggol “gajah kecil” Jarvis. Membuat Jarvis segera membuka ikat pinggangnya.
“Puaskan aku, Lindsey.” pinta Jarvis kemudian bangkit berdiri di atas ranjang.
Lindsey bangun dari posisi baringnya dan duduk. Tangannya meraih si “gajah kecil” Jarvis yang sudah menegang dan memainkannya dengan mulutnya. Jarvis merasakan sesuatu yang membuat adrenalin nya meningkat drastis menghantam dirinya. Matanya terpejam menengadah ke atas saking nikmatnya.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1