Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Fakta Baru


__ADS_3

“Dari hasil pencarianku, Lindsey dibesarkan di sebuah panti asuhan sampai tepat menginjak usia yang ke 15, Lexis menjadi walinya untuk mengeluarkan Lindsey dari panti asuhan.” ucap Carlos.


“Apa? Siapa? Lexis si pengkhianat itu?!” tanya Jarvis dengan terkejutnya.


“Aku juga sama terkejutnya denganmu. Lexis memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Lindsey. Singkat cerita, Lindsey bergabung ke dalam kelompok kriminal yang bernama ‘Morex’. Dan Katie juga ada di dalamnya.” Carlos melanjutkan penjelasannya.


“Kelompok kriminal????!!! Kamu yakin akan hasil pencarianmu itu?!” sela Jarvis.


“Aku yakin. Sudah 5 tahun kelompok itu berjalan. Mengenai jumlah anggotanya aku belum tahu. Tapi aku yakin Lindsey memiliki peran yang besar di sana.” jawab Carlos.


“Tunggu, tunggu, tunggu. Apa yang Lindsey lakukan di kelompok kriminal itu?” tanya Jarvis.


“Menurutku Lindsey memberikan ‘pekerjaan’ kepada kelompok kriminal itu demi mendapatkan bukti dalam kasus yang dia kerjakan. Karena Lindsey ’kan seorang pengacara.” jawab Carlos.


“Lalu? Peran Katie di sana apa?” tanya Jarvis.


“Katie dan anggota yang lainnya bergerak mendapatkan bukti yang Lindsey inginkan. Katie adalah anak konglomerat. Ayahnya pendiri perusahaan YES. Kamu tahu perusahaan itu bergerak di bidang pakaian yang sudah memiliki banyak cabang di luar negeri.” jawab Carlos.


“Lalu kenapa Katie memilih masuk ke kelompok kriminal itu?” tanya Jarvis.


“Dia selau menentang orangtuanya.” jawab Carlos.


“Kembali lagi ke Lindsey. Tadi katamu, Lexis menjadi walinya dan akulah yang telah membunuh Lexis. Apakah ini hanya kebetulan yang tidak disengaja? Atau jangan-jangan Lindsey sengaja mendekatiku dan memiliki motif tersembunyi? Balas dendam misalnya?” balas Jarvis.


“Memangnya darimana Lindsey tahu kalau kamu pembunuhnya?” tanya Carlos.


“Siapa yang tahu?” balas Jarvis.


“Secara logika, tidak ada wanita yang bersedia tidur dengan orang yang telah membunuh kerabatnya.” ucap Carlos.


“Kecuali kalau wanita itu sudah jatuh cinta dengan si pembunuh.” balas Jarvis.


“.....”


“Aku bisa tamat kalau Lindsey sengaja mengincarku. Apalagi dia seorang pengacara dan sangat gencar ingin memenjarai kita karena kasus pembunuhan Caesta kemarin.” ucap Jarvis.


“Oh, ya. Benar katamu. Lindsey memodifikasi knalpotnya agat lebih halus dan cepat saat mengemudi.” ucap Carlos.


“Katie mengaku kalau mobil Lindsey semalam dipinjam oleh temannya Lindsey.” balas Jarvis.


“Coba kamu lihat kembali foto CCTV mobil Lindsey.” ucap Carlos.


Jarvis mengeluarkan selembar foto CCTV yang menangkap mobil Lindsey. Carlos menunjuk tangan yang memegang setir mobil.


Jarvis memutar bola matanya dan berpikir. Jam tangan yang di foto CCTV ternyata sama seperti jam tangan yang Lindsey pakai kemarin. Jarvis jelas mengingatnya, karena kemarin Jarvis terus memegang tangan Lindsey bahkan menciumi punggung tangan Lindsey sepanjang perjalanan menuju restoran.


“Jam tangan ini!” seru Jarvis.


“Apakah mungkin kalau mobil Lindsey dipinjam temannya?” tanya Carlos.


“Br*ngs*k. Katie membohongiku!” jawab Jarvis.


“Jadi, Lindsey yang mengendarai mobil itu.. apa hubungannya dia dengan pamanku..” ucap Jarvis.


“Anak buah yang ditugaskan menjaga Lindsey melaporkan kalau tidak ada yang mencurigakan di sekitar Lindsey. Kemarin dia ke mall, restoran, dan ke rumah kenalannya bersama orang ini. Ini fotonya.” Carlos memberikan amplop berisi foto-foto yang diambil anak buah Jarvis saat mengikuti Lindsey.


“Siapa laki-laki ini?! Kenapa dia bersama Lindsey di mall?!” kritik Jarvis saat melihat foto-foto itu.

__ADS_1


“Rekan kerjanya. Mereka bekerja di GDP.” jawab Carlos.


Jarvis menghembuskan napas kesal.


“Loh, ini bukannya restoran yang kemarin kita datangi ketika bertemu klien di jam makan siang?!” tanya Jarvis.


“Sudah aku bilang kemarin. Aku mendengar ada orang yang memanggil Lindsey.” sambung Jarvis.


“Tapi kita tidak melihatnya kemarin.” balas Carlos.


“Ini laki-laki juga! Siapa sih?! Kenapa pergi dengan Lindsey terus?!” oceh Jarvis. Jarvis melempar semua foto itu ke depannya karena kesal.


“Tambahkan anak buah untuk menjaga di dekat Lindsey. Tugas berubah, tidak lagi menjaga tetapi memata-matai.” Jarvis memberikan perintah.


“Bagaimana dengan Katie?” tanya Carlos.


“Biar aku yang mengawasinya langsung. Katie kan selalu bekerja di depan ruanganku.” jawab Jarvis.


...****************...


Jam 18.00


Di apartemen


“Kira-kira berapa lama lagi, ya, Lindsey pulangnya?” tanya Piter yang sedang tiduran di atas sofa. Sedangkan Kapten sibuk di dapur.


“Paling sebentar lagi.” ucap Kapten.


Dua laki-laki pengangguran itu sudah mempersiapkan kejutan untuk Lindsey dengan mendekor apartemen seperti pesta ulang tahun, membuat kue dengan gambar wajah Lindsey.


“Eh, ya. Jangan-jangan Lindsey pulang ke rumah markas?” tanya Piter.


“Terus Lindsey jawab apa?” tanya Piter.


“Ok, katanya.” jawab Kapten.


“Oh, ya, suruh Katie pulang ke apartemen saja. Di rumah markas tidak ada orang.” ucap Kapten.


“Ok.”


Piter.


Katie, pulang ke apartemen Lindsey.


Di rumah markas tidak ada orang.


Nit, nit, nit, nit. Cklek!


Piter langsung bangkit berdiri. Tuan rumah sudah datang sedangkan Kapten dan Piter belum memakai topi ulang tahun yang berbentuk kerucut.


“Kalian ngapain disini?” tanya Lindsey.


“Surprise!” Kapten datang dari dapur membawa kue hasil rancangan mereka seharian.


“Weh! Jarvis sebentar lagi mau datang ke sini!” balas Lindsey.


Alih-alih memberi kejutan, malah Kapten dan Piter yang terkejut karena Jarvis mau datang ke apartemen.

__ADS_1


“Cepat, cepat! Sembunyi!” ucap Kapten.


“Sembunyi dimana?!” tanya Piter.


“Di kamarmu, ya, Linds?” tanya Kapten.


“Iya, iya! Sana cepetan!” jawab Lindsey.


Ting.. tong..


Mata Lindsey, Kapten, dan Piter membulat saat mendengar bunyi bel di apartemen. Piter terpaksa mencabut komputer dan peralatan lainnya untuk dibawa sembunyi bersamanya. Kapten pun juga bersembunyi dengan membawa kue di tangannya.


“Sepatu kalian!” Mereka berhasil bersembunyi namun lupa membawakan sepatu.


Lindsey dengan cepat mengambil kedua sepatu mereka dan melemparnya masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru. Kemudian dia membukakan pintu.


“Katie! Astaga! Kita semua sudah panik!” ucap Lindsey.


“Kemana dua lelaki pengangguran kita?” tanya Katie.


“Di kamarku. Cepat kamu gabung juga ke sana.” jawab Lindsey.


“Ngapain?”


“Ngumpet.”


“Hah?”


“Jarvis mau datang ke sini!”


Buru-buru Katie berlari ngibrit masuk ke dalam kamar.


“Lindsey, memangnya kamu tidak mau tidur sama Jarvis di sini?” tanya Katie.


“Iya, tuh. Kalau kita ngumpet di sini, kalian tidur dimana?” tambah Piter.


“Aku akan membawa Jarvis keluar dari apartemen. Lagi pula kalian kenapa tiba-tiba datang ke sini, deh?” balas Lindsey.


Ting.. tong..


“Tuh, tuh, tuh! Jarvis, tuh!”


“Kunci pintu dari dalam.” ucap Lindsey lalu menutup pintu kamar dan berjalan untuk membukakan pintu.


“Hey, sudah datang?” Lindsey membukakan pintu. Jarvis masuk ke dalam lalu melepas jas, mengendurkan ikatan dasi dan menaruhnya di sofa.


Setelah membukakan pintu, Lindsey berjalan menuju dapur karena haus.


“Lindsey, aku pinjam charger ponsel, dong. Ponselku sudah mati, habis baterai.” ucap Jarvis seraya mengambil tas Lindsey.


Lindsey yang sedang minum pun langsung meletakkan gelasnya dan berlari ke arah Jarvis untuk mencegahnya mengambil tas miliknya.


Namun terlambat sudah. Jarvis keburu membuka tas Lindsey dan melihat foto-foto dia bersama Luven saat berada di parkiran.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2