
“Apakah nantinya kita akan ketahuan?” tanya Piter.
“Entahlah. Bagaimana akhir dari misi kalian aku tidak bisa membacanya. Mungkin Tuhan dan dewa lainnya masih belum menentukan akhirnya.” jawab peramal itu.
Selesai sesi peramalan, Kapten dan Piter berjalan keluar.
“Tidakkah peramal itu kelihatan sekali bohongnya?” tanya Piter.
“Aku juga tidak yakin. Tapi banyak dari kalangan atas sudah berlangganan ke sini.” jawab Kapten.
“Sudahlah. Bagaimana kalau kita berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan saja dan meminta misi kita dilancarkan?” balas Piter.
“Bagaimana bisa kita meminta hal yang jahat dilancarkan? Kamu lupa kita sedang apa?” balas Kapten.
“Oh, iya!”
Kapten dan Piter masuk ke dalam mobil. Kapten mengemudikan mobil untuk kembali ke rumah.
“Ngomong-ngomong, Kapt. Apa Kapten sudah tahu dalang penculikan Lindsey semalam?” tanya Piter.
“Dalangnya adalah klien kita. Dia tidak tahu kalau Lindsey adalah bagian dari kita.” jawab Kapten.
“Pamannya Jarvis?! Wah! Parah sekali itu! Lindsey bahkan sampai pucat, ketakutan sekali dan tidak bisa tersenyum ceria seperti biasanya karena orang itu!” balas Piter.
“Iya. Ada kesalahpahaman di sini. Lindsey selalu bersama Jarvis, mungkin saja kalau klien kita curiga.” ucap Kapten.
“Curiga sih curiga. Tapi masa sampai menculik begitu?! Dan untuk apa?” tanya Piter.
“Untuk menguji apakah Lindsey adalah kelemahan Jarvis atau bukan. Dan benar saja. Sekarang Jarvis memiliki kelemahan. Yaitu Lindsey.” jawab Kapten.
“Eh, tunggu. Darimana klien kita tahu kalau Lindsey selalu bersama Jarvis? Klien kita mengawasi Jarvis?” tanya Piter.
“Iya. Jarvis tidak pernah lepas dari pengawasan klien kita sejak orangtuanya meninggal.” jawab Kapten.
“Wah.. sebegitunya sekali.. Tapi, Kapt. Bukankah ini sangat berbahaya bagi Lindsey? Jarvis aku tidak peduli, bagaimana dengan Lindsey?” tanya Piter.
“Aku sudah memperingatkan mereka untuk tidak menyentuh Lindsey. Lagi pula, ada kita yang selalu menjaga Lindsey. Dan sekarang aku yakin, Lindsey sedang berpura-pura lemah di depan Jarvis. Kamu tahu sendiri kan Lindsey seperti apa? Jago akting. Penyekapan kemarin sama sekali tidak ada apa-apanya bagi seseorang yang pernah mendapat luka tembak.” jawab Kapten.
“Eh, apa jangan-jangan kamu sudah tertipu dengan akting Lindsey?” lanjut Kapten.
“Hampir. Tapi berpura-pura lemah di depan Jarvis? Untuk apa?” tanya Piter.
“Entahlah. Kalau menurutku, ini ada sangkut pautnya dengan kematian om Lexis. Dendam Lindsey kan kuat sekali dengan Jarvis. Tidak mungkin dia menyerahkan dirinya untuk tidur dengan Jarvis secara cuma-cuma. Menurutmu sendiri apa?” jawab Kapten.
“Aku juga tidak tahu. Dari anggota geng kita, Lindsey lah yang paling sulit ditebak. Kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan Lindsey.” balas Piter.
__ADS_1
...****************...
“Hari ini melelahkan sekali, kan? Bagaimana kalau 1 botol dulu sebelum ke hotel?” tanya Katie.
“Boleh juga.” jawab Lindsey.
Katie menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Mereka berdua turun dari mobil dan membeli sebotol bir dari minimarket.
“Bukankah seharusnya ambil 2 botol? Kamu satu, aku satu.” ucap Katie.
“Tadi kamu bilang 1 botol. Lagi pula kan kamu harus menyetir. Jangan banyak-banyak.” balas Lindsey lalu pergi ke kasir.
“Hey, Lindsey. Bukankah kamu harus membeli ini?” tanya Katie seraya menunjuk k*nd*m yang terletak tidak jauh dari kasir.
Sang kasir menatap mereka secara bergantian. Terutama pada Lindsey, orang yang ditunjuk Katie untuk membeli pengaman itu.
“Ada lagi?” tanya kasir.
“Tidak, itu saja.” jawab Lindsey seraya menundukkan kepala.
“Harganya 60.000.” ucap kasir.
“Dia yang akan membayarnya.” ucap Lindsey lalu mengambil sebotol bir itu dan keluar dari minimarket.
“Dasar..” Katie kemudian mengambil satu botol bir dengan jenis yang sama dan beberapa bungkus pengaman.
“Kamu mengambil satu botol lagi?!” tanya Lindsey.
“Iya. Kalau tidak, kita tidak bisa bersulang. Oh ya, dan juga ini. Lebih baik kamu dengarkan saranku dari orang yang pernah kebobolan.” ucap Katie seraya memasukkan semua bungkus pengaman yang sudah dia beli tadi ke dalam tas Lindsey.
“Hey, kamu pikir aku dan Jarvis seceroboh itu?!” tanya Lindsey.
“Cheers.” Katie menyulangkan botolnya dengan botol Lindsey lalu meneguk bir dari botolnya langsung.
“Namanya kebobolan, kalian tidak akan sadar. Lagi pula aku melihat Jarvis bukan sosok orang yang akan bertanggungjawab. Dia akan menyuruhmu aborsi.” ucap Katie.
“Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan hal itu? Dukun sok kepintaran itu mengatakan omong kosong lagi saat aku sudah keluar?” tanya Lindsey.
“Sudah kubilang. Aku mengkhawatirkanmu. Sebagai orang yang pernah mengalami, aku tidak ingin kamu juga mengalami hal yang sama.” jawab Katie.
“Itu tidak akan terjadi. Kamu yang terlalu overthinking.” balas Lindsey lalu meneguk bir.
“Bagaimana kalau itu terjadi?” tanya Katie.
“Tidak akan.” jawab Lindsey.
__ADS_1
“Bagaimana kalau terjadi?” tanya Katie.
“Aku akan melahirkan dan membesarkannya.” jawab Lindsey.
“Sendirian?”
“Ya. Katamu Jarvis bukan orang yang akan bertanggungjawab.” jawab Lindsey.
“Berbicara memang mudah. Melakukannya yang sulit.” balas Katie.
“Aku tahu. Kan sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” ucap Lindsey.
“Aku tidak ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan.” ucap Katie dengan menatap Lindsey.
“Karena orangnya itu Jarvis. Kamu akan bernasib sama sepertiku. Tapi kalau orangnya itu Carlos, beda cerita. Dia pasti akan senang dan memperlakukanmu seperti ratu ketika tahu kamu hamil.” tambah Katie.
“Kamu sudah mulai mabuk, ya? Perkataanmu sudah melantur. Cepat antar aku ke hotel.” balas Lindsey.
“Satu botol tidak terasa. Baru beberapa kali teguk sudah habis.” ucap Katie lalu mengemudikan mobilnya.
Lindsey menyandarkan kepalanya di jok mobil. Pandangannya lurus ke jendela mobil yang memperlihatkan keadaan di luar dengan mata yang sendu.
“Bayangkan kalau Jarvis bukan target kita dan bukan seorang mafia. Kita bertemu secara alami, jatuh cinta, kencan, bertengkar lalu baikan, seperti pasangan pada umumnya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Kita pasti sudah bahagia sekarang ini, ya ’kan?” ucap Lindsey berandai-andai.
“Sepertinya kamu yang sudah mabuk.” balas Katie.
Lindsey menghembuskan napas berat.
Katie mengantarkan Lindsey ke hotel Grand Mansion. Satu botol bir tidak berpengaruh apapun pada Katie dan Lindsey. Keduanya masih sadar sepenuhnya. Sesampainya di hotel, Lindsey turun dari mobil.
“Hey! Suruh Jarvis pakai pengaman atau buang di luar ya!” teriak Katie dari dalam mobil kepada Lindsey yang sudah berjalan beberapa langkah.
“Aish! Pergi sana!” Lindsey mengusir Katie.
Setelah mobil Katie sudah meninggalkan lobi, Lindsey masuk ke dalam dan menaiki lift menuju lantai kamar hotel 3205 tempat Jarvis berada. Ketika lift yang ditumpangi Lindsey sampai di tujuan, Lindsey keluar dari lift dan berpapasan dengan Jarvis yang juga keluar dari lift di sebelahnya.
“Hey, jodoh sekali.” ucap Jarvis lalu mencium bibir Lindsey.
“Habis minum?” tanya Jarvis kemudian setelah merasakan rasa alkohol di bibir Lindsey.
“Sedikit.” jawab Lindsey lalu meraih tengkuk Jarvis dan kembali mencium bibir Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih