
Mitha meminta Queen datang ke cafe miliknya, karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang lelaki itu." Ucap Mitha.
"Oh iya? Sekarang ceritakan apa yang kau dapat!" Pinta Queen antusias.
"Namanya Prince Rainer Rathanaporn, dia COO di Emperor, dia orang kepercayaan disana karena dia selalu berhasil merebut tender dari pesaing. Dia masih lajang dan hobinya bercinta dengan semua wanita yang dia temui di Devil Club. Ternyata dia bajingan." Ungkap Mitha.
"Menjijikkan! Nama itu tidak pantas untuk manusia sepertinya. Dia lebih pantas di panggil pangeran iblis." Cibir Queen. Seketika dia merasa jijik membayangkan wajah Prince.
"Hmmm ... kau benar. Aku jadi penasaran, seperti apa wujud pangeran iblis itu." Sahut Mitha.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk membalas perbuatannya?" Tanya Queen.
"Aku ada ide. Sini aku bisikkan!" Mitha mendekatkan mulutnya ke telinga Queen dan membisikkan rencananya.
"Bagaiamana? Ide yang bagus bukan?" Mitha mengembangkan senyuman.
"Apa aku harus melakukannya? Tapi aku tidak ingin bertemu dia lagi." Queen mendadak ragu dengan rencana Mitha.
"Queen, hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa mendapatkan informasi darinya. Kau harus bertemu dengannya agar kau bisa berperang melawannya."
"Hmmm ... baiklah. Tapi kau harus menemani ku!" Pinta Queen.
"Ok, sip!" Mitha mengacungkan jempolnya. "Oh iya, kemarin Jovan dan Elsa datang kesini." Ucap Mitha.
"Mau apa mereka?"
"Mereka hanya duduk dan mengobrol. Sepertinya mereka tidak tahu jika ini cafe milik ku, karena saat aku mengatakannya, mereka tampak terkejut." Sahut Mitha.
"Kau menemui mereka?" Queen menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Iya. Bahkan aku juga menyiram dan mempermalukan mereka. Hahaha ... aku puas sekali saat melihat wajah kesal mereka." Mitha tergelak senang.
"Ya ampun, kau ini. Sayang sekali aku tidak ada disini saat itu." Balas Queen.
"Itu belum seberapa. Jika ada kesempatan, aku akan balas mereka lebih dari ini, karena mereka sudah menyakiti sahabatku." Ujar Mitha.
"Hmmmm ... terimakasih ya, Mit. Kau memang sahabat terbaikku."
"Sama-sama, Queen sayang. Kau juga sahabat terbaikku." Mitha menangkup kedua pipi Queen dan tertawa.
***
Steven sedang sumringah membaca berkas yang akan mereka ajukan ke penyelenggara tender.
"Bagus, Prince. Kau memang selalu bisa diandalkan. Aku yakin kali ini kita akan memenangkannya lagi." Puji Steven. Prince hanya membalasnya dengan senyuman.
Sedangkan Rafael yang mendengar pujian untuk Prince itu merasa panas, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Untuk apa aku bersusah payah belajar, bukankah sudah ada dia, orang yang selalu menguntungkan perusahaan ini?" Sinis Rafael sembari melirik Prince.
"Kau tidak bisa terus-terusan mengandalkan Prince, sebagai calon penerus Emperor, kau harus bisa sehebat dia atau paling tidak setengah darinya." Ujar Steven dengan nada sedikit mengejek.
"Cukup, Pa! Aku muak mendengar semua ini!" Bentak Rafael dan segera keluar dari ruangan Steven.
"Rafael ...! Papa belum selesai bicara!" Steven berusaha menahan Rafael, tapi sang putra tidak menggubrisnya.
"Anak itu selalu saja bertingkah sesuka hatinya, kapan sih dia dewasa dan mengerti, bahwa yang aku lakukan ini untuknya." Protes Steven.
"Sabar, Pak. Suatu saat Rafael pasti mengerti. Dia hanya tidak bisa terima jika Anda memuji saya, jadi jangan lakukan itu lagi di hadapannya." Sahut Prince.
"Cckk ... bocah itu terlalu kekanak-kanakan." Steven melengos.
__ADS_1
Sementara itu, Rafael yang kesal memutuskan untuk pergi dari Emperor. Dia meraih ponselnya dari saku lalu menghubungi seseorang.
***
Rafael sedang duduk di sebuah cafe, dia memutar-mutar sedotan di dalam gelasnya. Tiba-tiba seorang wanita seksi datang menghampirinya lalu bergelayut manja.
"Hai, Sayang?" Bisik wanita itu mesra di telinga Rafael.
"Elsa sayang, akhirnya kau datang juga." Rafael berbalik dan mencium pipi wanita yang ternyata adalah Elsa.
"Ada apa kau memanggilku kesini?" Tanya Elsa yang duduk di samping Rafael.
"Aku sedang kesal sekali. Papaku selalu saja memuji karyawan emasnya itu dan meremehkan aku. Aku ini kan anaknya, tapi dia selalu membanggakan Prince." Adu Rafael yang merubah posisi duduknya menghadap Elsa.
"Kau yang sabar ya, Sayang." Elsa mengelus mesra tangan Rafael.
"Selama ini aku selalu sabar, tapi selama Prince masih ada di Emperor, Papa akan terus meremehkan aku."
"Kalau begitu kau harus membuatnya keluar dari Emperor." Sela Elsa.
"Bagaimana caranya?"
"Akan aku beritahu nanti. Sekarang kita bersenang-senang dulu yuk." Ajak Elsa.
Seketika bibir Rafael melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Kau selalu tahu apa yang membuat aku bahagia." Rafael mencubit gemas hidung Elsa.
Keduanya pun meninggalkan bar dan segera memesan kamar hotel seperti biasanya.
***
__ADS_1