
Queen memutuskan makan siang di sebuah restoran tak jauh dari kantor milik Tuan Luis, dia sengaja tak mengajak Jovan, karena dia malas berdekatan dengan lelaki itu.
Tapi sial, Jovan malah mengikutinya.
"Harusnya kau bilang jika ingin makan siang disini. Aku pasti akan menemani mu." Ucap Jovan sembari duduk di hadapan Queen.
"Aku justru tak ingin makan bersamamu." Balas Queen sinis.
"Ayolah, Queen. Sebentar saja kau berhenti memusuhi ku. Bukankah lebih baik jika menikmati kebersamaan ini, mumpung kita lagi berdua. Anggap saja ini liburan kita."
"Oh, jadi ini alasanmu sengaja mendesak aku agar menerima proyek ini? Kau sudah merencanakan semuanya, iya kan?" Tuduh Queen.
"Tebakan mu tepat sekali, Sayang. Aku merindukan saat-saat bersamamu." Jovan menggenggam tangan Queen dan pura-pura bersedih. Queen sempat terprovokasi tapi dia segera menguasai dirinya.
"Hentikan sandiwara mu ini! Aku tahu kau berpura-pura, kau hanya ...." Queen tak sempat melanjutkan kata-katanya karena kehadiran Prince.
"Wah ... kita bertemu lagi disini. Boleh aku bergabung?" Prince segera menarik kursi dan duduk di dekat Queen.
Queen dan Jovan jelas tidak suka dengan kehadirannya, tapi Prince tak perduli.
Ternyata dari tadi Prince sudah memperhatikan mereka dan saat Jovan menggenggam tangan Queen, lelaki tampan itu merasa cemburu dan segera mendekati mereka.
"Aku jadi tidak berselera makan!" Queen beranjak dari duduknya, tapi Prince menahannya.
"Duduk kembali atau seluruh dunia akan tahu tentang kita." Ujar Prince dengan nada mengancam.
Mau tak mau, Queen pun kembali duduk meski dengan perasaan yang geram.
"Nah ... begini kan bagus." Prince tersenyum, sementara Queen diam dengan wajah yang masam.
Jovan yang melihat situasi ini semakin yakin mereka punya hubungan, dia pun berpura-pura membela Queen.
__ADS_1
"Apa mau mu? Apa kau tidak bisa duduk di tempat lain?" Tanya Jovan ketus.
"Ini tempat umum, suka-suka aku dong mau duduk dimana saja. Sudahlah, ayo makan! Tidak usah memperdulikan aku." Jawab Prince santai. Queen dan Jovan semakin kesal dengan kelakuan tak tahu malu Prince itu.
Mereka pun makan dalam diam, Queen sebisa mungkin tidak menghiraukan kehadiran Prince walaupun dari sudut matanya, dia tahu lelaki itu terus memandangi nya.
Jovan yang menyadari hal itu sengaja memancing reaksi Prince, dia mengambil tisu dan mengelap sudut bibir Queen, membuat gadis itu terkejut dengan perlakuannya tapi tak ingin menolak.
"Ada kotoran di bibirmu. Aku takut itu akan merusak kecantikan mu." Ucap Jovan lembut sambil tersenyum manis. Sementara Queen membalasnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terimakasih." Jawab Queen singkat.
Prince yang melihat perlakuan Jovan itu merasa tidak suka, hatinya mendadak panas.
"Iya, asisten mu ini benar. Kecantikan mu itu harus terus dijaga agar kau bisa menggunakannya untuk menipu orang lain lagi. Tapi aku rasa kecantikan mu itu tidak berguna di proyek ini, karena yang akan menang adalah orang yang mampu dan berpengalaman saja, jadi jika tidak mampu dan mempunyai pengalaman, sebaiknya kau mundur sebelum kau malu karena kalah." Sindir Prince dengan sinis dan ucapannya benar-benar membuat Queen tersinggung dan marah.
Byuuuurrr ...
Queen sontak berdiri dan menyiramkan minumannya ke wajah Prince.
Prince terdiam di tempatnya, dia merasa malu sekaligus marah dengan ucapan Queen itu. Tapi entah mengapa dia juga merasa sedih karena Queen begitu membencinya.
***
Prince, Queen dan Jovan sudah berada di lahan proyek Tuan Luis. Tak jauh dari lahan proyek itu, dapat dilihat pantai Hua Hin yang indah dengan deretan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai karena tertiup angin.
"Ini lokasinya nanti. Pengunjung dapat menikmati keindahan laut dari sini." Tuan Luis menjelaskan dengan antusias.
"Pasti sangat indah dan menyenangkan sekali." Sahut Queen yang takjub melihat keindahan panorama alam di tempat itu.
"Hmmm ... cocok juga untuk tempat berbulan madu. Bukan begitu, Nona Queen?" Tanya Prince sok manis. Queen langsung melemparkan tatapan tajam.
__ADS_1
"Hahaha ... iya, kau benar Tuan Prince." Sela Tuan Luis. "Kalau begitu saya pergi dulu, ada rapat yang harus saya hadiri. Silahkan kalian melihat-lihat tempat ini. Dan saya tunggu proposal kalian di meja kerja saya besok." Lanjut Tuan Luis.
"Baik, Tuan." Jawab Queen dan Prince bersamaan dengan senyum semanis mungkin. Sementara Jovan hanya diam, karena dia sedang fokus dengan ponselnya.
Setelah kepergian Tuan Luis, mendadak senyum di bibir Prince dan Queen menghilang. Mereka kembali saling melemparkan tatapan sinis.
"Ayo, pulang!" Pinta Queen. Jovan segera mengalihkan pandangannya ke Queen.
"Tunggu!!!" Prince menghentikan Queen. Wanita itu sontak berbalik memandang malas ke arah Prince.
"Ada apa lagi?" Tanya Queen sinis.
"Ikut aku!" Prince menarik lengan Queen.
"Lepaskan aku!" Queen memberontak.
"Hey, lepaskan dia!" Jovan berusaha menghentikan Prince.
"Jangan ikut campur!" Prince menatap tajam Jovan. Kemudian kembali menarik Queen.
"Berengsek! Ku bilang lepaskan dia!" Bentak Jovan yang berusaha melepaskan tangan Queen dari cengkeraman Prince.
Buuughh ...
Prince meninju wajah Jovan, lelaki itu sampai terhuyung ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?" Queen terkejut melihat Prince memukul Jovan.
"Masuk!!! Atau aku akan membuat kau menyesal seumur hidup." Prince memaksa Queen masuk ke dalam mobilnya dan wanita itu pun menurut.
Kemudian Prince segera melesatkan mobilnya meninggalkan Jovan di tempat itu.
__ADS_1
"Ahh ... sialan kau Prince!" Jovan benar-benar kesal kepada Prince. Dia yakin ada sesuatu yang tidak biasa diantara kedua orang itu.
***