
Keduanya tiba di depan sebuah ruang ICU yang dijaga seorang anggota kepolisian, tapi sama sekali tidak terlihat Chaiyya disana. Entah kemana perginya wanita itu?
"Maaf, Pak. Ibu yang tadi disini, kemana ya?" tanya Channa kepada polisi yang berjaga itu.
"Tadi katanya izin ke kamar mandi, Pak."
"Oh. Terima kasih ya." balas Channa. Polisi itu hanya mengangguk.
"Paman? Kenapa mengajakku kesini? Siapa yang sebenarnya sakit?" Hati Queen semakin resah tak menentu.
"Lihatlah!" Channa berjalan mendekati kaca yang membatasi ruang ICU. Dari balik kaca itu dapat terlihat seseorang sedang terbaring tak berdaya dengan selang oksigen yang membentang di wajahnya serta beberapa selang dan alat medis lain yang menghiasi tubuhnya.
Queen memandang sosok itu dengan seksama, seketika jantungnya seperti berhenti berdetak saat menyadari ayah dari anak yang dia kandung sedang tergolek di dalam sana. Tubuhnya gemetar dengan air mata yang turun tanpa permisi.
"Apa yang terjadi?" Queen memandang Channa dengan air mata yang berderai.
Channa menghembuskan nafas berat lalu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keponakannya itu. Queen benar-benar terpukul mendengar kondisi Prince, tangisnya semakin menjadi. Berulang kali Channa berusaha menenangkannya, tapi kesedihannya tak bisa dia bendung.
"Ini minum dulu, biar lebih tenang." Channa memberikan sebotol air mineral yang dia beli tadi. Queen meraih botol itu lalu membuka tutupnya dan kemudian meminumnya dengan perlahan sambil masih terisak-isak.
__ADS_1
"Kita semua sedih dengan apa yang menimpa Prince, tapi kita tidak boleh ikut hancur. Prince butuh kita untuk memberinya semangat! Terutama kau dan anak itu, Prince pasti berjuang untuk kalian. Jadi kau harus kuat demi Prince." Channa menasihati.
"Tapi aku takut, Paman. Aku takut Prince tidak bisa bertahan."
"Berdoalah. Di saat kita resah dan tertimpa musibah, hanya pada Tuhan kita memohon pertolongan. Percayalah, semua yang terjadi ini karena Tuhan ingin kita semakin dekat dengan Nya."
Queen hanya mengangguk sambil menyusut hidung dan matanya, dadanya benar-benar sesak melihat Prince di dalam sana.
"Kau sendiri, sedang apa malam-malam disini?" kali ini Channa yang balik bertanya.
"Papa terkena serangan jantung saat mengetahui aku hamil anak Prince." jawab Queen dengan kepala yang tertunduk menyesal.
Queen terdiam tak berani menatap Chaiyya, tak mendapat jawaban, Chaiyya kembali bertanya.
"Apa benar kau hamil anaknya Prince? Ayo jawab, Nak!"
Akhirnya Queen mengangguk masih dalam keadaan tertunduk. "Maafkan aku, Tante."
"Nong Saw, ini semua bukan salah Queen. Ini terjadi karena kesalahan, mereka juga baru tahu saat terperangkap di kampung." Channa berusaha menengahi.
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" sungut Chaiyya kecewa. Channa dan Queen kembali terdiam tak memiliki alasan yang tepat untuk jadi jawaban.
Chaiyya menghembuskan nafas untuk menenangkan diri. "Baiklah, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Kesalahan apa yang kalian maksud?"
Queen pun mulai menceritakan kejadian mengerikan di malam itu yang menjadi awal mula petaka ini, suaranya bergetar dan terbata-bata. Air matanya mengalir deras demi mengingat semua itu.
"Ya Tuhan, Prince!" Chaiyya mengusap wajahnya. Tak menyangka sang putra akan mengulang kembali kejadian yang pernah dilakukan ayah kandungnya. Dia tentu tahu pasti apa yang Queen rasakan, mendadak hatinya ikut sakit melihat wanita itu menangis dengan begitu pilu.
Chaiyya menggenggam tangan Queen dan menatapnya bersalah. "Tolong maafkan Prince. Tante mohon!"
Kini Chaiyya pun ikut terisak-isak, tubuhnya berguncang hebat, tak bisa dia tahan rasa bersalah atas perbuatan sang putra.
"Tante ...." ujar Queen tertahan dan langsung memeluk tubuh Chaiyya. Kedua wanita itu menangis sambil berpelukan, Channa menyeka sudut matanya yang basah.
Chaiyya menjauhkan dirinya dari Queen dan menatap wanita itu. "Masuklah! Bicara dengan Prince. Tante yakin dia bisa mendengarkan mu."
"Iya, Tante." Queen pun beranjak dan masuk ke dalam ruang ICU.
***
__ADS_1