
Prince yang masih tak sadarkan diri tergeletak di sebuah ruangan bercahaya remang-remang dengan tangan dan kaki terikat, darah dari kepalanya yang terluka terus merembes keluar.
Empat orang lelaki bertubuh tegap termasuk kurir dan orang yang memukul Prince tadi berdiri di setiap sudut ruangan yang berdebu dan lembab itu. Seorang lelaki berwajah rupawan sedang duduk di sebuah kursi kayu usang, dia memandang Prince sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Siram dia!" pinta nya tegas.
Salah satu anak buahnya datang membawakan seember air dan langsung menyiramkannya kearah Prince, seketika tubuh lemahnya basah kuyup dan kesadarannya mulai kembali.
Perlahan Prince membuka matanya sambil meringis sakit, kepalanya masih pusing dan berdenyut.
"Aku di mana?" tanya Prince saat matanya menangkap suasana yang asing dan cenderung gelap. Dia masih mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan.
"Bagaimana rasanya? Sakit?" tanya lelaki yang duduk di hadapan Prince.
"Siapa kau?"
"Aku calon suaminya Queen." jawab lelaki itu yang tak lain adalah Kaisar.
"Haa? Apa mau mu?"
__ADS_1
"Mau ku adalah, kau menjauhi calon istriku." sahut Kaisar santai, dia beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Prince.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang Prince.
Bugh ... bugh ....
Kaisar menendang wajah Prince dengan kuat berkali-kali, bahkan sepatu pantofel mahalnya berhasil membuat hidung mancung Prince patah dan berdarah.
"Itu yang aku mau!" ujar Kaisar setelah puas menendangi wajah Prince.
"Cuma segitu?" ejek Prince. "Aku tidak akan mundur sedikit pun." tegas Prince dan membuat emosi Kaisar semakin tinggi.
"Hajar dia!" Kaisar memberi titah kepada anak buahnya.
Keempat lelaki berbadan besar itu langsung menghajar Prince hingga babak belur, Prince tak bisa melawan, dia hanya pasrah dengan kaki dan tangan yang terikat. Pikirannya melayang jauh, terbayang wajah Queen dan juga sang Ibu.
"Aku sangat menyayangi kalian." batin Prince.
Melihat Prince sudah tak berdaya, Kaisar pun memerintahkan anak buahnya untuk berhenti. "Hentikan!"
__ADS_1
Keempat lelaki itu pun berhenti memukuli Prince dan menjauh. Kaisar tersenyum sinis saat melihat Prince terbatuk-batuk dan muntah darah.
"Bagaimana? Kau masih belum jera?"
Prince mencoba tertawa meskipun sekujur tubuhnya terasa sakit dan rasa amis darah begitu mengganggu. "Walaupun aku mati, Queen tidak akan pernah bisa melupakan ku. Karena kami saling mencintai dan sekarang dia sedang hamil anakku."
Kaisar semakin geram mendengar ucapan Prince itu, dengan rahang yang mengeras dia meraih kursi kayu yang dia duduki tadi lalu menghantamnya ke arah Prince. "Matilah kau, bajingan!"
Prince langsung tak sadarkan diri lagi dengan seluruh tubuh yang dipenuhi luka dan darah.
"Bawa dia! Dan buang ke jalanan. Pastikan tidak ada yang melihat kalian melakukannya." pinta Kaisar.
"Baik, Bos."
Kaisar pun melenggang pergi meninggalkan Prince yang terkulai tak berdaya, hatinya benar-benar geram mendengar ucapan terakhir lelaki itu. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan melesat pulang ke rumah untuk berganti pakaian, lalu setelah itu baru dia akan ke kediaman Ravindra, tempat di mana keluarganya sedang berkumpul.
Dia mencengkeram setir mobil dengan sangat kuat, sampai buku-buku tangannya memutih. Rahangnya mengeras sebab menahan amarah yang menguasai dirinya, rasa sakit dan kecewa karena pengkhianatan.
"Aaargh ... berengsek!" teriak Kaisar penuh emosi sambil memukul-mukul setir mobilnya.
__ADS_1
***