Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 93.


__ADS_3

Mitha dan Queen sudah duduk di sofa dalam ruang perawatan Kenedy, tadi Mitha datang membawakan baju ganti dan perlengkapan mandi untuk Queen dan Sandra, dia tahu mereka tidak ada waktu untuk pulang ke rumah. Jadi dia berinisiatif untuk mengambilkan pakaiannya.


"Kau sudah dengar berita kematian Elsa dan Jovan?" tanya Mitha.


"Apa? Elsa dan Jovan meninggal? Kenapa? Aku belum ada dengar kabar apapun." jawab Queen yang terkejut bukan main. Begitu juga dengan Sandra dan Kenedy yang duduk di atas ranjang.


"Beritanya sedang ramai di TV dan sosial media, viral mereka." lanjut Mitha.


Memang dari semalam Queen beserta kedua orang tuanya sama sekali tidak melihat TV ataupun sosial media, bahkan ponsel Queen saja tak tahu dimana rimba nya.


"Ma, cepat nyalakan TV!" pinta Kenedy.


Sandra segera menyalakan TV flat berukuran 32 inci, yang melekat di dinding dan siarannya langsung menampilkan berita yang diceritakan Mitha tadi.


"Tersangka berinisial J nekad mengakhiri hidupnya setelah dikepung pihak kepolisian. Sebelumnya J menembak mati seorang wanita dan pria di dalam lift sebuah apartemen mewah, diduga wanita berinisial E adalah kekasih J yang tertangkap basah sedang selingkuh."


"Tersangka J juga menjadi buronan karena kasus penculikan terhadap pewaris Kingdom dan juga karyawan Emperor, serta pembakaran cafe milik anak salah satu pengusaha terkenal. Diduga motif tersangka adalah balas dendam."


"Aku tak menyangka Jovan senekat itu." Queen menutup mulutnya yang ternganga setelah mendengar reporter TV itu berbicara.


"Dia sudah mendapatkan balasannya." sela Mitha.


"Karma hidup sudah berjalan." balas Sandra.


"Apa yang dia tabur, itulah yang dia tuai. Keburukan akan dibalas dengan keburukan, begitu juga sebaliknya." sahut Kenedy.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kafe mu?" Queen beralih ke Mitha.


Mitha hanya menaikkan bahunya. "Mau gimana lagi? Tersangkanya saja sudah ke neraka, mau minta pertanggung-jawaban apa lagi? Lagipula kafeku sudah ditangani pihak asuransi, kok."


Tiba-tiba ponsel Mitha berdering, dia buru-buru mengeluarkannya dari dalam saku. Mitha menghela nafas saat melihat ID yang tertulis adalah ULAT PENGGANGGU. Siapa lagi kalau bukan Rafael.


"Hem, ada apa?" tanya Mitha ketus, begitulah nada bicaranya setiap kali menjawab telepon dari Rafael.


"Kau di mana?"


"Di rumah sakit. Kenapa?"


"Kau sudah dengar berita kematian Jovan dan Elsa?"


"Sudah."


"Ada yang ingin kau katakan lagi?"


"Hem, aku mau ajak kau makan siang."


"Aku sudah makan! Ya sudah ya, aku sedang sibuk!" Mitha langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Rafael.


"Ehem, pasti Rafael, iya kan?" tebak Queen.


Mitha hanya mengangguk dengan wajah yang masam.

__ADS_1


"Sepertinya kalian cocok." ledek Queen sembari mengerlingkan matanya.


"Kau ini bicara apa, sih? Jangan sembarangan!" sungut Mitha.


"Hey, dia lumayan ganteng, pewaris tunggal Emperor lagi. Dan aku rasa dia menyukaimu."


"Sudah diam lah!" bentak Mitha, dan Queen malah terkekeh melihat wajah sahabatnya itu semakin masam.


Setelah puas tertawa, kini Queen beralih memandang Kenedy yang sedang disiapin makan oleh Sandra.


"Oh iya, Pa. Aku penasaran deh, kenapa sih Papa dan Om Steven itu musuhan?" tanya Queen penasaran.


Kini giliran wajah Kenedy yang berubah masam. "Kenapa kau harus tanyakan itu sih? Buat selera makan Papa hilang saja!"


Tapi tanda disangka justru Sandra yang menjawab pertanyaan Queen itu.


"Dulu sebenarnya Papa dan Steven itu bersahabat, tapi suatu saat gadis yang disukai oleh Steven ternyata jatuh cinta dengan Papa dan mereka pacaran. Steven tidak terima, dia marah. Hingga suatu saat Steven merebut job Papa dengan cara yang curang, dari situlah permusuhan dimulai hingga sekarang."


"Mama, kenapa harus diceritakan?" protes Kenedy. Tapi Sandra tak menghiraukannya.


"Oh, jadi karena masalah wanita hingga akhirnya jadi musuh bebuyutan?" ujar Queen. "Lalu sekarang, di mana gadis itu, Ma?"


Sandra tersipu-sipu malu. "Ini, di samping Papa."


"Haa ...? Jadi gadis itu Mama?" Queen mendelik kaget. Begitu juga dengan Mitha.

__ADS_1


Sejurus kemudian, ketiganya tertawa. Mengabaikan Kenedy yang sudah cemberut.


***


__ADS_2