Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 51


__ADS_3

Channa beserta anak dan sahabatnya itu masih setia mendengarkan cerita Prince tanpa bersuara untuk menyela, mereka membiarkan lelaki berdarah campuran Thailand itu meluapkan semua perasaannya tentang Queen, wanita yang dia cintai sejak pandangan pertemuan pertama mereka.


"Jadi begitulah ceritanya, Pak. Aku dan Queen hanya terlibat kesalahan satu malam, tapi semuanya menjadi rumit begini." ucap Prince sembari tertunduk malu dan penuh penyesalan. Entah apa yang mendorongnya untuk menceritakan kejadian memalukan akibat perbuatan bejatnya itu.


"Tadinya aku pikir kalian pasangan suami-isteri yang saling mencintai." balas Channa, anak dan sahabatnya ikut mengangguk.


"Aku juga. Tadinya aku mengira kau suaminya dan tak tahu jika istrimu hamil." sela gadis yang dipanggil Nong itu. Sementara lelaki berkumis tebal dan bertubuh jangkung itu hanya diam mendengarkan.


Prince menghembuskan nafas berat sembari menggelengkan kepala. "Aku memang mencintainya, tapi dia justru membenciku. Bahkan sangat membenciku."


"Itu wajar, karena kau telah melakukan kesalahan besar padanya. Kau merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya dan sekarang dia harus menanggung semua ini. Tapi jika kau mencintainya, kau tidak boleh menyerah! Tunjukkan tanggungjawab mu dan buktikan cintamu, sekeras apapun hatinya, pasti akan luluh." Channa menasihati Prince, dan lelaki rupawan itu hanya terdiam mencerna semua kata-kata nya.


"Dan ingat, jangan sekalipun kau lari dan semakin membuat dia terluka. Pikirkan perasaannya dan juga perasaan keluarganya, apapun resikonya nanti, kau harus menghadapinya secara jantan. Anak itu membutuhkan ayahnya, tidak akan ada yang bisa memutuskan hubungan ayah dan anak karena darah lebih kental dari air. Sampai kapanpun, anak itu tetap darah daging mu." lanjut Channa, wajah lelaki paruh baya itu berubah sedih, dia teringat seseorang yang sangat dia rindukan, yang sekarang entah berada dimana.


Dan kata-kata terakhirnya itu membuat Prince tersentak, dia teringat ucapan sang Ibu tempo hari.


"Prince, darah lebih kental daripada air. Sampai kapanpun kau tidak bisa memungkiri bahwa kau darah dagingnya."


"Bagaimanapun juga dia tetap Ayahmu."


"Ayah." gumam Prince pelan dengan tatapan yang kosong dan rahang yang mengeras.


"Apa?" Channa menautkan kedua alisnya dan memandang lekat wajah Prince, dia berusaha memastikan jika pria dihadapannya itu barusan bersuara.

__ADS_1


"Hmmm, tidak. Bukan apa-apa." sahut Prince gugup.


"Oh iya, aku sampai lupa. Kita sudah mengobrol sejauh ini, tapi kita belum berkenalan. Perkenalkan namaku Channandra, panggil saja Pak Channa. Kalau ini sahabatku, Danu. Kami berdua ini pemburu." ujar Channa sembari menunjuk kearah lelaki berkumis tebal yang kini tersenyum kepada Prince.


"Dan kalau yang itu anakku, namanya Chandara."


"Chandara? Tadi aku pikir namanya memang Nong?"


"Nong itu panggilan untuk anak perempuan Thailand." jawab Channa.


"Oh, jadi Bapak keturunan Thailand?" Prince memastikan.


"Iya, aku keturunan Thailand."


"Kalau begitu sama. Aku juga juga berdarah Thailand." sahut Prince dengan senyum yang mengembang, lalu kemudian melakukan wai, yaitu salam khas Thailand dengan cara mengatupkan kedua telapak tangannya setinggi dagu sembari menundukkan kepala. "Sawatdee khrap (hallo). Phom cheu Prince khrap (nama aku Prince)."


Channa membalasnya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Waw, Man pen reuxng bangxeiy khrap (wah, kebetulan sekali)."


Tapi kali ini Prince melongo karena dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Channa, sebab Chaiyya tak pernah mengajarinya itu.


"Maaf, aku tidak mengerti maksud Pak Channa. Karena aku tidak terlalu fasih berbahasa Thailand, Ibu hanya mengajarkan kalimat sederhana saja seperti memberikan salam dan memperkenalkan diri." Prince meringis malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tingkahnya itu sukses membuat semua orang tertawa.


"Oalah. Aku hanya mengatakan, kebetulan sekali." Channa menjelaskan arti ucapan itu. "Aku pikir kau bisa berbahasa Thailand dengan lancar. Apa Ayah dan Ibumu lancar berbahasa Thailand?" tanya Channa.

__ADS_1


"Ibu juga tidak terlalu fasih, tapi kalau Ayah ...." Prince menjeda ucapannya. "Aku tidak tahu, dia sudah lama mati." lanjutnya dengan rahang mengeras demi mengingat seseorang yang bahkan dia tak tahu wujudnya.


"Oh, maaf ... maaf, aku tidak tahu. Kalau begitu siapa nama belakang keluargamu?"


"Rathanaporn."


"Rathanaporn?" Channa terkejut mendengar nama belakang itu. Wajahnya melongo dengan mata yang melotot. Bahkan bukan hanya Channa, Danu dan Chandara juga menampilkan ekspresi yang sama, membuat Prince bingung dengan semua itu.


"Ada apa?" Prince memandangi Channa, Danu dan Chandara bergantian.


"Aduuuhh ...." tiba-tiba terdengar suara meringis dari dalam rumah. Semua orang terfokus kepada seseorang di dalam sana. Bahkan Prince sontak beranjak dan berjalan mendekati Queen yang sedang kesakitan akibat kakinya berdenyut-denyut karena efek obat penghilang rasa sakitnya habis.


Wanita yang bernama Chandara itu pun ikut menghampiri Queen yang masih tergolek dan terus menerus meringis, dia buru-buru memeriksa kaki Queen dan juga kening wanita yang sedang hamil muda itu.


"Kakinya semakin bengkak, dia juga demam." ujar Chandara.


"Apa itu berbahaya? Bagaimana nanti dengan anak didalam kandungannya?" Prince bertanya dengan raut wajah cemas.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Ini efek normal dari sengatan kalajengking, nanti juga bengkaknya mengempis dan demamnya akan turun. Aku akan memberinya obat pereda nyeri dan penurunan panas."


"Aduuuhh, sakit sekali." rengek Queen dengan mata yang terpejam.


Prince segera berjongkok disisi ranjang dan mengusap kepala Queen dengan penuh kasih sayang. "Bertahanlah, semua ini akan segera berlalu. Aku akan selalu menjagamu, tenanglah!"

__ADS_1


Chandara memandangi Prince dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sesuatu didalam hatinya dan dia masih berusaha mencerna keadaan ini.


***


__ADS_2