Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 7


__ADS_3

Queen berjalan dengan anggun di samping Kenedy, semua mata tertuju kepada wanita berparas cantik itu. Wajah yang dipoles make up tipis dan tubuh molek di balut gaun seksi, membuat Queen begitu mempesona.


"Hai, Pak Kenedy Ravindra. Apa kabar?" Sapa seorang lelaki bertubuh tambun.


"Kabar saya baik, Pak Roni. Bapak sendiri apa kabar?"


"Saya juga baik. Siapa si cantik ini?" Tanya lelaki yang bernama Roni itu.


"Ini putriku. Dia yang akan membantuku di Kingdom." Jawab Kenedy bangga.


"Waow ... hebat sekali! Masih muda, cantik dan berbakat." Puji Roni. Kenedy dan Queen hanya membalasnya dengan senyuman.


"Wah ... ternyata Pak Steven juga datang bersama karyawan emasnya." Roni menunjuk dua orang lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Kenedy dan Queen sontak menoleh ke arah mereka, dan mata Queen membulat plus dengan mulut yang ternganga saat mengetahui siapa yang datang. Seketika kejadian buruk di hotel itu berputar dipikirannya.


"Dia ...?" Gumam Queen pelan.


Queen segera berbalik dan ingin kabur dari tempat itu, tapi Kenedy menahannya.


"Kau mau kemana?" Tanya Kenedy.


"Aku mau ke kamar mandi, Pa." Jawab Queen bohong. Tubuh wanita itu gemetar menahan emosi saat melihat orang yang telah merenggut kesuciannya.


"Baiklah, jangan lama-lama!"


"Iya, Pa." Queen segera berlari ke kamar mandi sebelum dan disaat bersamaan Prince menoleh kearahnya.


Steven dan Prince berjalan mendekati Kenedy yang terlihat tidak menyukai kehadiran mereka, untung saja Queen sudah pergi.


"Wah ... ternyata kau masih sehat setelah mengalami kekalahan waktu itu! Begitulah bisnis, yang kuat pasti akan bertahan dan menang." Ejek Steven dengan seringai khasnya.

__ADS_1


"Ada sebuah prinsip di dalam bisnis, yaitu kejujuran. Aku tidak akan bangga jika menang karena kecurangan." Balas Kenedy.


"Ciihh ... kejujuran dan kebodohan itu bedanya tipis." Nyinyir Steven.


"Kau ...!" Kenedy tersinggung.


"Sudah-sudah!!! Kita tidak sedang bersaing disini. Simpan argumen kalian untuk tender berikutnya." Roni menengahi kedua orang yang sudah tersulut emosi itu.


Sementara Prince hanya menghembuskan nafas melihat kelakuan atasannya jika sudah bertemu dengan rival bebuyutannya ini.


***


Queen memutuskan untuk meninggalkan acara itu, dan pergi ke cafe Mitha. Dia juga sudah menelepon Kenedy, dan mengatakan ingin pulang saja karena mendadak sakit perut. Untunglah sang Papa tidak curiga dan mempercayai nya.


"Silahkan diminum!" Mitha meletakkan secangkir cappucino dihadapan Queen, dan wanita itu meminumnya. "Sekarang katakan! Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis seperti ini?" Tanya Mitha penasaran.


"Tadi aku melihat dia di acara asosiasi wirausaha." Jawab Queen.


"Lelaki bajingan itu! Ternyata dia karyawan kepercayaannya Emperor, rival Kingdom. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" Sahut Queen sembari menyeka air matanya.


"Apaaaa ...?" Mitha memekik kaget. "Jadi dia sekutu rivalnya Kingdom? Ya ampun! Apa jangan-jangan dia sengaja melakukan semua itu kepadamu untuk menghancurkan Papamu dan juga Kingdom?" Mitha menerka-nerka.


"Haaaa ...!" Badan Queen mendadak lemas saat menyadari semua itu. "Benar-benar biadab!!! Dia melakukan cara kotor itu untuk menjatuhkan saingan atasannya. Aku akan membalasnya!" Queen yang emosi beranjak dari duduknya, tapi Mitha menahannya.


"Kau mau kemana?"


"Aku akan menemuinya dan membalas perbuatan menjijikkannya ini."


"Queen, tenanglah dulu! Kalau kau datang menemuinya, itu sama saja seperti kau mempermalukan dirimu sendiri. Orang licik seperti dia harus di balas dengan cara yang licik juga." Mitha mengingatkan Queen.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang setelah apa yang dia lakukan kepadaku." Ucap Queen sambil kembali duduk.

__ADS_1


"Kita harus mencari kelemahannya."


"Bagaimana caranya?" Tanya Queen bingung.


"Aku akan minta tolong seseorang untuk mencari tahu tentang dia, setelah kita mendapatkan informasi. Baru kita susun rencana." Ujar Mitha.


"Iya, aku serahkan semuanya kepadamu. Segera kabari aku jika kau mendapatkan informasi tentang iblis itu. Aku tidak sabar untuk membalas perbuatannya." Queen berbicara dengan sorot mata penuh kebencian.


Mitha segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang. Sebagai anak seorang pengacara sekaligus pengusaha terkenal, gadis tomboi itu memiliki koneksi dimana-mana.


***


Kenedy sudah pulang dari acara itu, wajah lelaki paruh baya itu terlihat masam. Dia benar-benar kesal karena selama di acara tadi, Steven selalu menyindir dan mengejeknya.


Kenedy dan Steven memang terkenal sebagai rival bebuyutan, dulu perusahaan Kenedy sempat merajai dunia bisnis saat Jovan baru saja bergabung di Kingdom. Tapi belakangan ini pencapaiannya dikalahkan oleh perusahaan milik Steven sejak Prince masuk ke Emperor.


"Kenapa Papa cemberut begitu?" Tanya Sandra lembut sembari menghidangkan segelas teh hangat di hadapan sang suami.


"Aku kesal sekali! Si berengsek Steven selalu saja meledekku karena aku kalah tender belakangan ini." Jawab Kenedy dengan wajah yang di tekuk.


"Sudahlah, tidak usah diambil pusing. Biarkan saja anjing menggonggong, kafilah berlalu. Lagipula bukan baru kali ini dia seperti itu, jadi abaikan saja." Sandra coba menenangkan Kenedy.


"Iya, tapi masalahnya dia meledek dan menjatuhkan aku di depan calon besan kita. Aku tidak ingin Frans meremehkan ku."


"Aku rasa Frans tidak akan sepicik itu." Sahut Sandra.


"Semoga saja! Pokoknya kali ini aku harus memenangkan tender itu, agar si berengsek Steven tidak besar kepala lagi." Ujar Kenedy.


Tanpa sepengetahuan Kenedy dan Sandra, ternyata Queen yang sudah pulang, menguping pembicaraan mereka itu.


***

__ADS_1


__ADS_2