Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 53


__ADS_3

Sedari tadi Prince terus mengelus kepala Queen dengan penuh kasih sayang hingga wanita itu kembali tertidur karena efek obat pereda nyeri dan penurun panas yang dia minum tadi, Prince memandang lekat wajah cantik Queen yang terlelap seperti bayi, terlihat damai sekali.


"Aku tak pernah menyangka pertemuan tak sengaja kita waktu itu akan berlanjut seperti ini, meskipun cara yang ku lakukan salah, tapi jauh di dasar hatiku, aku ingin terus bersamamu. Aku berharap setelah kau bangun nanti, Tuhan sudah melembutkan hatimu dan kau mau memberiku kesempatan untuk menebus semuanya." ucap Prince pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa sejak bertemu dengan Queen, dia berubah menjadi lelaki yang melankolis dan cengeng.


"Aku tahu salahku terlalu banyak kepadamu, kau pantas marah dan membenciku. Tapi demi anak itu, kumohon maafkan aku. Aku tak ingin anak kita merasakan apa yang aku alami, hidup tanpa ayah kandung." lanjut Prince yang kini beralih menggenggam erat tangan Queen dan menciumnya. Air matanya jatuh menetes.


"Makan dulu yuk, Kak!" Tiba-tiba suara Chandara menembus gendang telinga Prince, lelaki rupawan itu sontak menghapus jejak-jejak air matanya dan menoleh ke arah Chandara yang sedang berdiri memandanginya. Prince sedikit heran mendengar wanita bertubuh mungil itu memanggilnya "Kak". Tapi dia tak ambil pusing.


"Iya sebentar." sahut Prince sembari melirik arloji di pergelangan tangannya. "Kapan dia akan bangun?"


"Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi. Kenapa?" tanya Chandara.


"Dia belum makan." jawab Prince yang kembali memandangi wajah Queen.


"Oh, kalau begitu saat dia bangun nanti, segera beri dia makan. Jangan sampai dia kekurangan gizi karena kelaparan." pinta Chandara. "Sekarang Kakak makan dulu, aku sudah siapkan makanan." lanjut Chandara dan berbalik hendak kembali ke dapur, tapi suara Prince menghentikannya.


"Tunggu! Kenapa tiba-tiba kau memanggilku Kakak?" Prince mengerutkan keningnya, sapaan Chandara itu cukup mengganggunya, karena sebelumnya wanita itu tidak memanggilnya begitu.


Chandara tersenyum lebar. "Karena kau Kakakku." Wanita yang berprofesi sebagai bidan itu melanjutkan langkahnya ke dapur, meninggalkan Prince yang masih kebingungan.

__ADS_1


***


Prince sudah selesai makan, kini lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih bersih itu tengah duduk di ruang tamu sembari mengotak atik ponselnya, dia berulang kali mendengus kesal karena tidak ada sinyal sama sekali. Dia tak bisa menghubungi siapapun untuk memberi kabar.


Channa berjalan mendekati Prince sambil membawa sebuah album foto yang sudah usang, lalu tanpa permisi dia duduk di depan Prince, disusul oleh Chandara yang juga duduk disisi kirinya.


"Pak Channa." sapa Prince dengan senyum yang mengembang dan segera meletakkan ponselnya di atas meja.


"Prince, ada yang harus kau lihat."


"Apa, Pak?"


Prince membukanya, di lembar pertama ada dua buah foto berwarna hitam putih, yang satu foto bayi lelaki dan satu lagi foto bayi perempuan bertubuh gemuk, keduanya difoto dengan pose telungkup.


"Ini siapa, Pak?" tanya Prince.


"Itu fotoku dan adikku." jawab Channa jujur.


Prince tersenyum demi melihat wajah gemas bayi di dalam foto itu, lalu dia membuka lembar kedua yang kini ada beberapa foto bocah lelaki dan perempuan dengan berbagai pose bersama sepasang suami-istri.

__ADS_1


"Itu foto kami saat masih di Thailand. Dan kedua orang tua itu Ayah dan Ibuku." Channa kembali menjelaskan meski tanpa Prince minta.


Masih dengan senyum yang sama, Prince kembali membuka lembar demi lembar album foto itu dan Channa menjelaskan tiap momen di dalam foto yang dia pamerkan kepada Prince itu. Meski keheranan dengan sikap Channa yang menunjukkan foto-foto keluarganya, tapi Prince tak mau memprotes, dia tetap membuka tiap lembar album foto itu hingga sampai di lembar terakhir.


Kali ini senyum di wajah Prince menghilang berganti raut kebingungan saat melihat foto seorang gadis muda yang begitu familiar diingatan nya, Prince sontak memandang Channa dengan tatapan selidik.


"Foto ini?"


"Dia Chaiyya Rathanaporn." sahut Channa seolah memahami arti tatapan Prince.


"Ibu." ucap Prince dengan mata yang membulat.


"Iya, dia Ibumu."


"Jangan bilang kau itu ...." Prince tak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia sontak berdiri dan memandang tajam Channa dengan jantung yang berdetak tak karuan. Marah dan tak percaya ... itulah yang dia rasakan saat ini.


Channa menghembuskan nafas berat dan tertunduk penuh penyesalan, dia tahu Prince pasti akan marah atas semua yang telah terjadi. Begitupun Chandara, wanita muda itu hanya memegang erat lengan sang Ayahanda, berusaha menenangkannya.


***

__ADS_1


__ADS_2