Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 14


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Queen singgah ke cafe milik Mitha. Dia tak sabar ingin menceritakan pertemuannya dengan Prince tadi.


"Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk sering bertemu dengannya." 


"Aku harap tidak begitu!" Jawab Queen.


"Kau harus berhati-hati, Queen. Aku rasa seseorang yang bernama Prince itu bukan orang bodoh. Dia seperti api, dan kau sedang bermain api." Mitha memperingatkan sahabatnya itu.


"Iya, kau benar. Aku hanya akan menyusahkan diriku sendiri jika terus berurusan dengannya. Lelaki bajingan seperti dia yang hanya memandang wanita sebagai mainan tidak akan jera meskipun aku membalasnya seribu kali." Ujar Queen sinis.


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Mitha.


"Aku akan fokus kepada tugas dan rencana ku untuk menyingkirkan Jovan dari Kingdom. Aku juga akan move on dari pangeran iblis itu dan melupakan segalanya."


"Tapi apa orang yang bernama Prince itu akan tinggal diam?" Mitha memandang cemas sahabatnya itu.


"Entahlah. Tapi apa pun yang terjadi, aku akan menghadapinya." Jawab Queen.


"Aku senang kau menjadi semakin kuat dari sebelumnya." Mitha bangga kepada Queen.


"Hmmm ... tapi aku masih bingung, kira-kira siapa ya yang mencuri informasi dari lelaki itu? Apa ini ada hubungannya dengan Jovan? Karena setelah dua tahun, kali ini dia berhasil membuat Kingdom memenangkan tender. Padahal Papa tidak memintanya menangani semua itu." Queen menebak-nebak.


"Aku rasa juga begitu. Kalau dilihat-lihat, si berengsek Jovan itu tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku yakin dia terlibat dalam pencurian informasi dari Emperor." Mitha menimpali.


"Iya, aku juga berpikiran seperti itu. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan posisinya di Kingdom. Tapi aku akan segera membuat dia angkat kaki."

__ADS_1


"Berhati-hatilah, Queen. Sepertinya musuhmu semakin banyak dan semakin dekat. Jangan sampai kau ceroboh dan akhirnya malah menghancurkan dirimu sendiri." Mitha kembali memperingati sahabatnya itu.


"Iya, aku akan berhati-hati. Kalau begitu aku pulang dulu. Malam ini Kai dan keluarganya akan datang untuk makan malam."


"Jadi Kai sudah kembali dari Jerman?" Tanya Mitha heboh.


"Heemm ... mereka akan membicarakan pertunangan kami." Jawab Queen lesu.


"Ciiieee ... yang sebentar lagi tunangan." Ledek Mitha.


"Cckk ... sejujurnya aku tidak menginginkan perjodohan ini. Kau kan tahu aku tidak mencintai Kai, ditambah lagi kejadian malam itu. Aku merasa berat sekali." Queen mendadak muram.


"Aku tahu kau masih mencintai Jovan, tapi lelaki berengsek itu sudah mengkhianati dan menyakitimu, Queen. Jadi kau harus membuang rasa cintamu kepadanya dan belajar mencintai Kai. Kalau kejadian malam itu, nanti kita pikirkan cara mengatakannya kepada Kai. Aku rasa dia pasti mengerti." Mitha berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Iya, kau benar, Mit. Kalau begitu aku pulang dulu." Queen beranjak dari duduknya dan melangkah dengan malas.


***


Prince bersiap-siap untuk pergi ke Devil Club, tapi seorang wanita paruh baya yang bernama Chaiyya menghentikan langkahnya.


"Kau mau kemana, Prince?" Tanya Chaiyya


"Aku mau keluar sebentar, Bu." Jawab Prince.


"Setiap hari kau selalu keluyuran hingga larut malam, bahkan terkadang kau tidak pulang. Apa yang kau lakukan di luar sana, Prince?" Chaiyya memandang curiga putranya itu.

__ADS_1


"Aku hanya ngumpul dengan teman-teman ku, Bu."


"Kau tidak berbuat yang macam-macam? Atau kau membuat masalah?" Lanjut Chaiyya.


"Tidak. Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"


"Pak Steven menghubungi Ibu, dia mengatakan belakangan ini kau terlihat tidak bersemangat, kau juga melakukan kesalahan dan gagal memenangkan tender. Kau tidak begini sebelumnya, Prince." Chaiyya menyentuh tangan putranya itu.


"Sungguh, tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya terlalu lelah belakangan ini." Prince berusaha menenangkan satu-satunya orang tua yang dia miliki.


"Prince, hanya kau yang Ibu miliki di dunia ini. Ibu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu."


"Ibu tenang ya! Semua baik-baik saja kok!" Prince memeluk Ibunya itu dengan sayang. Dan Chaiyya membalas pelukan sang putra.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Bu." Prince pamitan setelah melepas pelukannya.


"Hati-hati ya, Sayang."


"Iya, Bu."


Chaiyya hanya memandangi kepergian putra semata wayangnya itu dengan perasaan sedih.


Selama ini dia membesarkan Prince seorang diri, tanpa keluarga dan sosok seorang suami.


Berkat bantuan Steven yang tak lain adalah mantan majikannya, wanita berdarah Thailand itu bisa melihat Prince sukses seperti saat ini.

__ADS_1


"Andai kau tahu jika putra kita sudah dewasa dan tampan sepertimu, akankah kau mau mengakuinya sebagai anak?" Ucap Chaiyya lirih dengan air mata yang jatuh menetes.


***


__ADS_2