Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 58


__ADS_3

Pagi ini Queen terbangun dari tidurnya saat cahaya terang nan hangat masuk melalui jendela dan menyinari dirinya, menandakan sang Surya telah tinggi.


Dia meregangkan otot-otot tubuhnya, matanya masih terasa mengantuk sebab tadi malam dia kesulitan untuk tidur.


Queen kembali teringat kejadian tadi malam, dimana hatinya tersentuh melihat sikap manis seseorang yang telah berhasil merusak hidupnya.


**


Meskipun sudah menutup telinganya dengan bantal, tapi tetap saja suara-suara dari luar masih tertangkap oleh pendengarannya. Dia berbalik ke sana ke mari, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman dan mengabaikan segalanya, sampai tiba-tiba suara langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Queen pun memutuskan untuk memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.


Ternyata Prince yang datang, dia ingin mengecek kondisi wanita itu.


Prince meletakkan punggung tangannya di dahi Queen. "Syukurlah, demamnya sudah turun."


Kemudian lelaki itu menyelimuti tubuh Queen sampai sebatas pinggang lalu tanpa diduga-duga, dia mencium kepala Queen dengan lembut.


"Tidurlah, mimpi yang indah. Aku akan selalu menjaga dan melindungi mu, meskipun kau membenciku." bisik Prince.

__ADS_1


Dia lalu beralih ke bawah dan mengecup perut Queen yang masih rata. "Hai, anak Ayah. Baik-baik di sana, ya! Jangan menyusahkan Ibumu! Kita pasti akan bertemu dan hidup bersama."


Queen terkesiap mendapatkan perlakuan tak terduga bertubi-tubi dari lelaki yang memiliki sejuta pesona itu, gelanyar aneh seketika membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ada apa dengan hatinya, mendadak dia merasa terharu mendengar ucapan ayah dari anaknya itu.


Setelah selesai dengan aksinya, Prince pun segera keluar dari kamar, meninggalkan Queen yang masih mencoba menguasai dirinya. Dia terus terbayang perlakuan manis Prince itu dengan jantung yang berdebar.


**


Queen menghela napas, dia menundukkan kepala dan mengelus perut ratanya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin membiarkan anak ini lahir. Tapi kenapa aku juga merasa tak tega untuk melenyapkannya?"


"Pasti akan jadi masalah besar jika semua orang tahu kehamilan ku. Papa dan Mama, lalu Kai dan keluarganya, mereka pasti kecewa kepadaku. Apa yang harus aku lakukan?" Queen mengoceh sendiri dengan frustasi.


"Iya, baru aja bangun."


"Mbak, mau sarapan dulu atau mandi dulu?" tanya Chandara yang berjalan mendekat.


"Mandi aja dulu deh, dari kemarin belum mandi soalnya." jawab Queen.

__ADS_1


"Ya sudah Mbak mandi, biar aku siapin sarapan."


"Terima kasih ya."


"Sama-sama, Mbak." balas Chandara dengan senyum yang tersungging. "Kalau begitu, sini aku bantu ke kamar mandi."


"Tidak usah! Aku bisa kok berjalan sendiri, lagian kakiku sudah tidak terlalu sakit."


"Mbak, yakin?"


Queen hanya mengangguk.


"Ya sudah, kalau begitu aku ke dapur dulu ya, Mbak." Chandara beranjak dan keluar dari kamar.


Queen pun menjuntai kan kakinya ke lantai, dengan perlahan dia bangkit dan berjalan terpincang-pincang menuju kamar mandi di belakang rumah, tubuhnya benar-benar merasa gerah dan lengket, sepertinya mandi akan membuatmu lebih segar. Kaki Queen memang masih sakit saat dipijakkan tapi sudah lebih baik dari sebelumnya, lagipula dia tak ingin manja dan terus-terusan bergantung pada orang-orang di rumah ini.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi sederhana itu, Queen langsung melepaskan pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air yang sangat sejuk namun terasa segar.

__ADS_1


***


__ADS_2