
Setelah memastikan keadaan Queen, Prince pun kembali ke kantor Emperor, tapi dia benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan wanita yang sudah mengusik hatinya itu. Prince melamun mengingat interaksi Queen dan Kaisar.
"Siapa lelaki itu? Mereka terlihat sangat akrab. Apa lelaki itu kekasihnya? Tapi bukankah dia menjalin hubungan dengan pegawainya itu?" Prince mencoba menerka-nerka. Karena terlalu sibuk melamun, Prince jadi tidak menyadari kedatangan Steven.
"Prince!" Suara Steven tiba-tiba mengagetkan Prince.
"Eh, Pak ... maaf. Saya tidak tahu kalau Bapak datang."
"Bagaimana kau bisa tahu jika kau terlalu fokus melamun?" Ledek Steven. "Memangnya kau sedang memikirkan apa? Ada masalah?" Tanya pemilik Emperor itu.
"Hmmm ... tidak ada, Pak. Semua baik-baik saja kok." Bantah Prince.
"Oh, atau masalah percintaan yang waktu itu ya?" Tebak Steven. Dia sudah menganggap Prince seperti anak sendiri, terkadang dia tak canggung untuk berbagi cerita dengan pegawainya itu.
"I-iya, Pak."
"Kenapa, apa kekasihmu ngambek?" Ledek Steven.
"Saya tidak punya kekasih, Pak."
"Kenapa? Bukankah kau sudah cukup umur, mapan dan juga tampan. Apa lagi yang kurang?"
"Sayangnya itu semua tak cukup, Pak." Sahut Prince dengan wajah yang menyedih.
"Apa ada seseorang yang kau cintai?"
"Wanita yang aku cintai, justru membenciku. Seolah kami terlahir untuk menjadi musuh bebuyutan." Balas Prince.
"Kenapa begitu? Memangnya kau tidak pernah bertanya kepada wanita itu, apa yang membuat dia membencimu?"
__ADS_1
Prince sontak terdiam canggung, dia tahu dengan sangat pasti apa yang membuat Queen sangat membencinya.
"Tidak, Pak. Saya rasa itu tidak perlu."
"Prince, kau harus tahu apa yang membuatnya membencimu, lalu minta maaf dan perbaiki. Antara cinta dan benci, suka dan tidak suka, negatif dan positif. Semuanya memang bertolak belakang, tapi ternyata saling berhubungan bahkan nyaris tanpa tembok pembatas. Jadi teruslah memperjuangkan cintamu, karena suatu saat rasa bencinya itu pasti akan berubah menjadi cinta." Steven menasihati pegawai kesayangannya itu.
Prince tertegun mendengar nasihat dari Steven. "Iya. Terimakasih ya, Pak!"
"Sama-sama. Kau harus bahagia agar kau bisa membahagiakan ibumu."
Prince hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman manis.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Tadinya aku hanya ingin memastikan Rafael ada disini atau tidak, tapi aku malah jadi menasihatimu." Ucap Steven.
"Memangnya dia tidak ada di ruangannya, Pak?" Prince menautkan kedua alisnya.
"Tidak ada. Anak itu hilang seperti ditelan bumi setelah kekasihnya membuat keributan tadi."
"Baiklah. Kau lanjutkan pekerjaanmu!"
"Iya, Pak."
Steven segera meninggalkan ruangan Prince dan melanjutkan mencari putranya itu.
***
Rafael sangat terpukul dan sedih, dia begitu percaya kepada Elsa dan mencintai wanita itu, dia selalu menuruti dan memberikan apapun yang Elsa inginkan. Tapi ini balasan yang dia dapat. Rafael yang terluka dan galau memutuskan mendatangi cafe Mitha setelah melampiaskan kesedihannya di bar sampai dia mabuk, untung saja dia bisa sampai di cafe dengan selamat walau beberapa kali mendapat makian dari pengendara lain karena dia mengendara dengan tidak baik.
Rafael masuk ke dalam cafe Mitha sambil berteriak-teriak memanggil gadis tomboi itu, dia meracau dan mengoceh dengan tidak jelas. Untung saja pelanggan sudah tidak ada, karena cafe akan segera tutup.
__ADS_1
Mitha yang melihatnya sedikit kaget mendapati lelaki itu sangat kacau, "Kenapa kau suka sekali datang disaat cafeku akan tutup?"
Tak ada respon dan jawaban dari Rafael, lelaki mabuk itu hanya melenggang melewati Mitha menuju salah satu kursi dan duduk disana. Melihat keadaan Rafael dia sedikit simpati dan berniat mengambil air minum, tapi Rafael menahannya.
"Jangan kemana-mana! Temani aku!"
"Tapi aku mau ambil minum untukmu." Ucap Mitha.
"Tidak usah! Aku tidak butuh minum, aku hanya butuh teman."
"Baiklah. Aku akan menemanimu."
Mitha pun mengalah dan duduk di hadapan Rafael.
"Kau benar. Aku sudah melihatnya sendiri." Rafael mulai mengoceh.
"Melihat apa?"
"Elsa memang selingkuh dengan manajer pemasaran Kingdom itu. Dia mengkhianati ku, dia menghancurkan hatiku." Rafael berbicara dengan nada penuh duka dan bergetar.
Mitha terdiam, ada perasaan kesal dihatinya, karena jika Rafael sudah tahu, dia tak bisa menukar informasi tentang Elsa lagi dengan pencurian di Emperor. Tapi sepertinya semesta sedang berpihak kepadanya, tanpa diduga-duga, Rafael malah membeberkan sendiri semuanya.
"Aku sudah memberikan yang dia inginkan, semua yang dia minta kau turuti. Termasuk memberikan informasi tentang Emperor, tapi yang aku dapatkan justru pengkhianatan."
Mitha tercengang mendengar pernyataan Rafael itu, seketika dia mendapat ide cemerlang. Mitha bergegas mengeluarkan ponselnya dan mulai mengintrogasi Rafael sambil merekam pengakuannya.
"Jadi kau memberikan informasi Emperor kepada Elsa? Untuk apa?" Tanya Mitha.
"Tentu saja untuk menghancurkan si berengsek.... Prince. Elsa mengatakan dia bisa membuat reputasi Prince rusak jika aku membantu Kingdom memenangkan tender, jadi aku membocorkan harga penawaran Emperor kepadanya dan dia memberikannya kepada manajer pemasaran Kingdom itu. Bodohnya aku! Ternyata dia memanfaatkan kebencian ku kepada Prince untuk menguntungkan selingkuhannya." Ungkap Rafael penuh sesal.
__ADS_1
Mitha terkesiap mendengarnya, dia tak menyangka jika Rafael membenci Prince. Tapi tentu saja dia tak perduli dengan hubungan mereka, sekarang yang terpenting dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan untuk membantu Queen terbebas dari tuduhan Prince.
***