Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 88.


__ADS_3

Queen dan seluruh keluarga Mahaprana berjalan menuju ruang ICU, jelas semua orang terheran-heran karena wanita itu mengajak mereka ke sana. Sementara Kaisar terus menerka-nerka siapa yang akan mereka temui, Ibunya Prince atau justru Prince nya sendiri?


"Kenapa kesini?" karena terlalu penasaran, Frans akhirnya buka suara.


"Bukankah Om bertanya dimana mereka sekarang?" Queen membalasnya dengan pertanyaan juga. Dan Frans hanya mengangguk.


"Lihat wanita di sana!" Queen menunjuk Chaiyya yang berdiri membelakangi mereka, karena sedang memandangi Prince dari balik kaca pembatas ruang ICU. "Dialah Tante Chaiyya, Ibunya Prince."


Semua orang terkesiap mendengarnya, dengan langkah yang cepat, Frans berjalan menghampirinya. Sementara Kaisar hanya bisa terdiam dengan detak jantung semakin tak karuan.


"Kalau Ibunya ada disini, apa jangan-jangan Prince ...?" batin Kaisar. Hatinya mulai merasa cemas.


"Selamat pagi." Frans menyapa Chaiyya setelah jarak mereka sudah dekat.


"Selamat pagi." Chaiyya sontak berbalik, dia menyipitkan matanya untuk memperhatikan wajah Frans yang terasa tidak asing, tapi lupa pernah bertemu dimana? Karena usia yang bertambah, jelas memperbaharui bentuk wajah dan tubuh. Apalagi malam itu Chaiyya hanya melihat wajahnya samar-samar karena pandangannya kabur akibat mabuk dan saat dia bangun, Frans sudah tidak ada.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Chaiyya mengkerut. Dia masih berusaha mengingat.


"Aku ... aku orang yang ... malam itu ...." Frans tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, dia sudah lebih dulu tertunduk penuh penyesalan.


Tapi Chaiyya tahu betul maksudnya, mata wanita itu membulat sembari menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan.


"Maafkan aku." ucap Frans lirih.


"Kau sudah menghancurkan hidupku!"

__ADS_1


Frans mengangguk. "Iya, aku tahu."


"Apa kau juga tahu betapa menderitanya aku selama bertahun-tahun? Aku di usir dari kampung ku, orang tuaku meninggal karena menanggung malu dan aku harus hidup sendiri tanpa keluarga. Apa kau tahu itu?" Chaiyya berbicara pelan sambil menitihkan air matanya. Frans semakin tertunduk penuh penyesalan.


Queen, Rossana dan Laura juga tak kuasa menahan haru. Hati wanita mana yang tidak sedih jika melihat wanita lain menangis dan terluka dengan begitu dalam. Sementara Kaisar semakin gusar, dia benar-benar tak menduga semua akan jadi seperti ini.


Laura melangkah mendekati Chaiyya dan menggenggam tangannya. "Maafkan putraku. Aku sungguh menyesali perbuatannya. Sebagai seorang Ibu, aku merasa telah gagal mendidiknya. Aku mohon maaf."


Laura tertunduk dan menangis tersedu-sedu. Rossana pun ikut mendekat dan mengusap punggung Laura.


"Mbak, tolong maafkan suamiku. Selama bertahun-tahun dia menyimpan rasa bersalah, dia selalu berusaha mencari keberadaan Mbak agar bisa meminta maaf dan bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan di masa lalu." ujar Rossana sembari mengusap air matanya.


Chaiyya benar-benar tertegun melihat kebaikan hati Rossana, bagaimana bisa seorang istri mendukung suaminya untuk menebus kesalahan masa lalunya dengan begitu tulus? Tidak tersirat rasa cemburu sedikitpun dimatanya. Terbuat dari apa hati wanita itu?


"Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku itu?"


"Tidak ada. Tidak ada yang bisa kau lakukan lagi!"


"Kalau begitu beri tahu aku, dimana anak itu? Izinkan aku mengenalnya dan bertanggungjawab." Frans memandang dengan tatapan memohon.


Chaiyya sedikit terkejut mendengarnya, dari mana Frans bisa tahu tentang putranya? Tapi dia tak bertanya ataupun menjawabnya, dia hanya memutar kepalanya dan kembali memandangi Prince dari balik kaca. Frans pun mengikuti arah pandangnya dan terkesiap saat melihat seseorang yang terbaring lemah di dalam sana.


"Apa dia putraku?" tanya Frans dengan mata yang berkaca-kaca.


Chaiyya mengangguk. "Iya, dia Prince. Putramu."

__ADS_1


Semua orang tercengang, tak menyangka selama ini Prince begitu dekat sang ayah. Sementara Kaisar hanya bisa menelan ludah berkali-kali, lehernya seperti tercekik hingga dia merasa susah bernafas. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya, sungguh dia tak menyangka telah membuat saudaranya sendiri berada diambang kematian.


"Apa yang terjadi?" Frans beralih memandang Chaiyya.


Chaiyya menghela nafas berat, lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Prince. Frans mengepal tangannya dengan rahang yang mengeras, dia merasa marah atas apa yang menimpa sang putra.


"Aku akan mengejar pelakunya sampai ke ujung dunia sekalipun, dia harus membayar semua perbuatannya." ucap Frans bersungut-sungut. Kaisar semakin salah tingkah, jantungnya berdebar kencang. Queen memperhatikan raut tegang dan gelisah Kaisar itu.


"Kenapa tegang begitu?" tanya Queen dengan sorot mata menyelidik.


"Hem, ti-tidak ... tidak apa-apa." Kaisar gugup dan mencoba mengendalikan dirinya.


"Bukan karena kau baru tahu jika Prince itu saudaramu dan kau sudah berusaha menghabisinya?" sindir Queen.


Kaisar spontan memandang Queen. "Dari mana kau tahu?"


Dan pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah suatu kekeliruan besar, yang menandakan bahwa dia memang pelakunya.


"Dari mana aku tahu?" Queen mengernyit. "Itu berarti benar, kau pelakunya!" tuduh Queen tanpa tedeng aling-aling.


Mata Kaisar membulat karena menyadari kekeliruannya itu membuat dirinya tertangkap basah dan sialnya lagi disaat bersamaan Channa yang dari kantin datang dan mendengar obrolan mereka.


"Jadi kau pelakunya?" Channa menatap tajam Kaisar dengan rahang yang mengeras dan belum menyadari keberadaan Frans.


***

__ADS_1


__ADS_2