Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 73.


__ADS_3

Queen dan Kenedy sudah tiba di rumah, selama di dalam mobil, Queen hanya diam merajuk, dia sama sekali tak ingin bicara dengan sang ayah. Kenedy yang mengetahui kekesalan hati putrinya itu berusaha mengajaknya bicara, tapi Queen hanya bergeming.


Tapi saat bertemu Sandra, Queen langsung menceritakan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi kepada sang Ibu. Kali ini Kenedy yang diam mendengarkan.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Mama sangat mengkhawatirkan mu. Mama tak menyangka Jovan berani melakukan semua ini." Sandra memeluk Queen dengan sayang.


"Semua ini berkat Prince, Ma. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini." sahut Queen sambil melirik Kenedy yang sedang fokus pada ponselnya.


"Kalau begitu kita harus berterima kasih kepada dia. Bagaimana kalau mengundangnya makan malam?"


"Tidak perlu, Ma! Jangan berlebihan!" sela Kenedy tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Kenapa, Pa? Apa salahnya sih?" protes Sandra dengan wajah yang cemberut. Sementara Queen hanya memutar bola matanya dengan malas seraya menghela nafas.


"Papa tidak suka!"


"Papa jangan egois dong! Jangan karena dia berada di pihak rival Papa, lantas membuat Papa menutup mata atas kebaikannya. Aku pikir Papa orang yang bijaksana, ternyata aku salah!" sungut Queen kesal.


Kenedy sontak memandang tajam putrinya itu. "Berani sekali kau berkata seperti itu dengan Papa? Apa dia sudah mencuci otakmu sampai kau jadi kurang ajar gini dengan Papa?"


"Dia tidak seburuk itu! Dia ...." kata-kata Queen terputus karena suara seseorang mengagetkan mereka.


"Selamat siang."


"Kaisar?"


"Eh, Kai. Mari silakan duduk!" Kenedy menyambutnya dengan ramah.


"Sepertinya lagi ngobrol serius?" Kaisar memandangi Kenedy dan Queen bergantian.

__ADS_1


"Tidak, hanya mengobrol ringan saja." sahut Kenedy.


"Begitu mendapat kabar kalau Queen sudah pulang, aku langsung ke sini." ucap Kaisar. Ternyata tadi Kenedy sempat mengirim pesan kepada Kaisar bahwa Queen sudah pulang ke rumah.


"Cepat sekali kau dapat kabar?" ledek Queen sembari melirik Kenedy.


"Bagaimana kabarmu?" Kaisar mengalihkan pembicaraan.


"Baik." jawab Queen singkat. Mood wanita itu benar-benar sedang tidak baik saat ini.


"Syukurlah." Kaisar menghela nafas lega. "Oh iya, Om. Tadi Papa dan Mama titip salam, katanya nanti malam mereka akan datang bersama Oma. Ada yang ingin mereka bicarakan." Kaisar beralih memandang Kenedy.


"Kalau boleh tahu, mau membicarakan tentang hal apa?" Kenedy menautkan alisnya.


"Pertunangan kami. Rencananya Mama dan Papa ingin mempercepat pertunangan kami menjadi Minggu ini."


"Apa?" Queen terperangah, dia terkejut setengah mati mendengar pernyataan Kaisar itu.


"Tidak, Pa! Aku tidak bisa bertunangan dan menikah dengan Kaisar!" Queen spontan berdiri dan menyalak. Aksinya itu membuat semua orang tercengang.


"Apa-apaan kau ini?" kesal Kenedy sembari beranjak dari duduknya.


"Queen, apa yang kau katakan?" Sandra memastikan jika dia tidak salah dengar.


"Apa belum jelas? Aku tidak bisa menerima pertunangan ini dan menikah dengan Kaisar!" Queen mengulang kembali ucapannya dengan tegas.


Kenedy berjalan mendekati Queen, dan ....


Plak ....

__ADS_1


Lelaki itu refleks melayangkan tangannya menampar pipi Queen, seketika pipi sang putri memerah. Kaisar hanya memandangi semua itu dengan perasaan geram, bahkan lelaki itu mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Pa, apa yang Papa lakukan?" bentak Sandra yang juga ikut berdiri.


"Anak ini sudah mulai membangkang, Ma! Dia harus diberi pelajaran agar tidak semakin kurang aja!"


"Meskipun Papa memukulku sampai mati, aku tetap tidak bisa menikah dengan Kaisar." tukas Queen sembari memegangi pipinya yang perih.


"Dasar anak kurang ajar!" Kenedy kembali mengangkat tangannya hendak menampar Queen, tapi kali ini tangan besarnya hanya tertahan di udara karena teriakan Kaisar.


"Om, jangan! Sebaiknya kita dengarkan dulu alasan Queen menolak menikah denganku." pinta Kaisar. Kenedy menurut dan menurunkan tangannya.


"Queen, kenapa kau menolak ku? Apa ada masalah? Atau ada sesuatu yang mengganggumu? Katakanlah! Kita bisa bicarakan baik-baik semuanya." tanya Kaisar lembut.


Queen terdiam, mendadak dia menjadi gagu. Sejujurnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya tentang Prince dan kehamilannya, tapi entah mengapa lidahnya terasa keluh?


"Queen, ayo katakan!" bujuk Kaisar.


Jantung Queen berdegup tak karuan, keberaniannya meluap entah ke mana. Dia hanya mampu tertunduk menyembunyikan wajahnya, sebab tak sanggup memandang semua orang yang sedang menatapnya dengan pandangan curiga.


"Kau memang tidak punya alasan untuk menolak, kau hanya ingin mempermalukan kami. Iya kan?" bentak Kenedy geram sebab sang putri tak kunjung bersuara.


"Sebaiknya sekarang kau masuk ke dalam kamar dan renungkan semua kesalahanmu!" Kenedy menarik lengan Queen dan menyeretnya menuju kamar.


"Pa, lepaskan!" Queen berusaha memberontak, tapi cengkeraman tangan Kenedy lebih kuat.


"Papa, jangan kasar dengan anak kita!" Sandra mengekor mereka dari belakang sembari memohon dengan air mata yang berlinang.


Sementara Kaisar hanya terpaku memandangi drama keluarga itu dengan perasaan geram dan jengah, dia tak menyangka Queen akan menolaknya begini. Meskipun dia tidak terlalu mencintai wanita itu, tapi ini tentang harga diri seorang lelaki. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasa dicampakkan.

__ADS_1


Dengan kesal, Kaisar memutuskan pergi dari kediaman Ravindra.


***


__ADS_2